
Sreeet!
Dokter Dwi termangu dalam ketakjubannya, ketika melihat dua buah rak buku besar yang tertempel di dinding tiba-tiba bergerak saling menjauh. Tuas yang ia tarik ternyata adalah sebuah tuas rahasia untuk membuka sesuatu di balik rak. Terlihat sebuah pintu kayu di belakang rak. Dokter Dwi penasaran, pintu itu seperti menghubungkan ruang lain di balik tembok.
Perlahan, ia mendekat berusaha membuka pegangan pintu. Ternyata tak dikunci. Di hadapannya, membentang sebuah lorong sempit dan gelap. Kemanakah lorong ini akan berujung? Dokter Dwi makin penasaran. Setelah ia kumpulkan segenap keberanian, ia melangkahkan kaki ke dalam lorong gelap. Pengap menyergap seketika, tetapi rasa penasaran menuntun untuk melangkah lebih dalam.
Terowongan begitu gelap, tanpa pencahayaan. Dokter Dwi menajamkan pandangan, tetapi hanya pekat yang ada di hadapannya. Ia merayap menyusuri dinding, semakin masuk ke dalam. Tiba-tiba ia berhenti, saat ia melihat sebuah tangga menuju ke bawah. Ia menduga, lorong ini terhubung dengan ruangan bawah tanah. Gelap sekali di bawah sana, nyaris tak terlihat apa-apa.
Kali ini ia tidak mau mengambil risiko. Ia tidak tahu apa yang sedang menunggu di bawah tangga sana. Segera ia putuskan untuk kembali ke ruang baca, dan memberitahu Ammar tentang keberadaan lorong rahasia ini. Ia sangat yakin, ini ada hubungannya dengan menghilangnya sosok penyerang Maira di ruang baca tempo hari.
Sayangnya, ia dikejutkan dengan hal lain. Pintu yang tadi ia lewati ternyata tertutup! Jadi bagaimana ia harus keluar? Ia merasa terperangkap. Ia berusaha membuka pintu, tetapi tak bisa. Kecemasan melanda seketika. Dalam hati, ia merasa sangat ceroboh karena gegabah masuk sembarangan. Kini ia harus membayar mahal akibat kecerobohannya.
Sial! Aku terperangkap! Pintu ini terkunci begitu saja? Bagaimana aku bisa keluar? gumamnya.
Belum lagi ia menemukan jalan keluar dari dalam lorong, tiba-tiba ia merasakan benda keras menghantam kepalanya.
Duuuk!
Seketika tubuhnya limbung kehilangan kesadaran. Dalam kegelapan, ia melihat sesosok bayangan hitam tegak berdiri. Sayang, ia tak mengenali. Pemandangan menjadi kabur, menjadi kabut kelam. Dalam waktu sepersekian detik, semuanya menjadi hitam. Ia tak dapat merasakan apa-apa lagi.
***
Suasana makan malam diliputi kesenyapan. Seperti biasa, para penghuni memilih bungkam. Hidangan Helen seolah tak membangkitkan selera. Ammar sendiri menatap paras para penghuni kastil satu-persatu, berusaha menggali apa yang mereka sembunyikan dalam pikiran. Sayangnya, tak dapat ia membaca paras-paras itu. Semua terlihat sama.
“Makan malam pertama tanpa Rania. Mungkin akan berlanjut dengan makan malam yang sepi. Sekarang Rania, dan mungkin pula aku akan makan malam sendirian. Satu-persatu, orang yang ada disamping atau hadapan kalian akan menghilang, tinggal menunggu waktu. Salah satu dari kalian adalah pembunuh keji yang sedang menyamar dalam topengnya,” ucap Ammar dengan suara bergetar.
__ADS_1
Semua terdiam, meresapi perkataan Ammar yang menebar rasa takut. Apa yang dikatakan memang benar. Kini mereka seperti terperangkap dalam permainan dengan nyawa sebagai taruhannya. Kecemasan merayap cepat, bagai api yang membakar ranting kering.
“Hey! Mengapa kalian semua diam? Mari kita hadapi semua ini dengan keberanian! Jangan terpengaruh dengan keadaan. Si pembunuh itu akan gembira kalau kalian terpuruk seperti ini! Mengapa kita tidak menjalani hidup secara normal? Mari kita bersenang-senang malam ini!” celetuk Hans.
Semua masih terdiam, memandang Hans dengan tatapan aneh. Rasa cemas masih menghantui pikiran, khawatir dengan kejadian yang akan terjadi dengan tiba-tiba. Bagaimana mungkin Hans bisa menafikkannya?
“Apa kalian tidak melihat kita telah kehadiran penghuni baru yang cantik? Ketakutan kalian telah membutakan. Dari awal, kita kesini untuk bersenang-senang. Lupakan semua ketakutan kalian. Jangan mau suasana ini dirusak oleh si pembunuh itu!” lanjut Hans.
Elina Agustin terdiam. Dia telah melihat banyak kegilaan di kastil ini. Tak ada yang dikenal secara baik, kecuali Aldo dan Helen. Semuanya penghuninya tampak asing, seolah enggan berbicara dengannya. Elina tak menyalahkan, mungkin kondisi psikologis membuat mereka benar-benar frustasi. Ia baru sehari tinggal, tetapi mampu merasakan kengerian yang merayap.
“Aku tidak melihat dr.Dwi. Di mana dia?” tanya Ammar ketika menyadari bahwa dokter itu tidak bersama mereka. Biasanya dokter itu tidak pernah melewatkan makan malam.
“Aku terakhir bertemu dia di ruang baca,” ucap Michael.
“Dia tidak biasa begini. Perasaanku tidak enak. Kalian lanjutkan makan malam! Aku akan ke ruang baca!”
Setelah meneguk air putihnya, Ammar bergegas menuju ruang baca. Seperti biasa, suasana ruang baca hening dan sedikit menyeramkan. Ammar berkeliling dari rak satu ke rak yang lain, mencari keberadaan dokter itu. Sayangnya, ia tak menemukannya. Perhatiannya tertuju pada tumpukan buku yang masih tersusun rapi di meja. Sejumlah buku tentang kesehatan dan kedokteran, bahan bacaan yang lazim dibaca si dokter. Ammar berpikir bahwa dr.Dwi belum menyentuh buku yang hendak dibacanya.
Jadi kemana dia menghilang?
Setelah dari ruang baca, Ammar bergegas menuju kamar si dokter. Diawali dengan ketukan beberapa kali yang tak terjawab, Ammar memutuskan untuk membuka kamar secara paksa. Nyatanya, sosok dr.Dwi juga tak ada di sana. Kekhawatiran semakin merayap. Bagaimanapun, dr.Dwi sangat dibutuhkan untuk kelanjutan pemecahan kasus ini. Ia tak dapat membayangkan apabila dokter itu jatuh pula ke tangan si pembunuh.
Acara makan malam telah selesai. Kehilangan dr. Dwi juga menimbulkan keresahan di antara penghuni lain. Mereka sepakat untuk segera kembali ke kamar dan mengunci diri. Mereka tak mau kemana pun, karena tiap sudut kastil seolah tak aman. Pembunuh bisa mengincar kapan saja.
Maira, Tiara Laksmi, Adrianna dan Elina naik ke lantai dua dan masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sementara para pria membantu Ammar berkeliling kastil untuk menemukan sosok dr.Dwi yang menghilang begitu saja. Michael dan Hans bahkan sampai ke halaman belakang, di sekitar area gudang.
__ADS_1
Malam semakin mencekam. Bulan sabit menggantung, sesekali bersembunyi di balik awan. Halaman belakang cukup luas. Bangunan gudang tua tampak angker, berdiri di antara pepohonan besar. Suara serangga malam bersahut-sahutan, membuat suasana semakin menakutkan.
“Tempat ini sangat menyeramkan!” keluh Hans.
“Apakah kamu berani memasuki gudang itu?” tanya Michael.
“Hanya orang gila yang mau masuk ke tempat asing seperti itu. Dari luar saja sudah terlihat gudang itu tak pernah dimasuki siapa pun. Aku tak mau bertindak bodoh. Bisa jadi gudang itu adalah tempat persembunyian sang pembunuh,” jawab Hans.
“Kamu salah! Pembunuh itu tidak memilih tempat gelap seperti ini. Ia malah memilih berbaur bersama kita, berbincang dengan kita, dan tertawa-tawa bersama seolah tak terjadi apa-apa. Dia benar-benar menggunakan kedok secara sempurna!” kata Michael.
“Menurut instingmu, di mana dr.Dwi berada? Apakah ia bernasib sama dengan korban yang lain?” tanya Hans.
“Entahlah. Kastil ini luas. Ia bisa berada di mana saja. Bahkan di kebun teh. Kamu ingat, mayat Karina baru ditemukan berhari-hari kemudian. Aku berharap dia baik-baik saja, tapi entahlah!”
“Apakah kamu percaya kalau kukatakan bahwa aku adalah pembunuhnya?” tanya Hans, sambil memandang tajam ke arah Michael.
Penulis cerita detektif itu tertegun melihat wajah beku Hans. Dalam keremangan malam, ia melihat paras Hans terlihat menakutkan, mirip drakula dalam film-film yang pernah ia tonton.
“Kamu pembunuhnya? Apakah kamu akan membunuhku sekarang?”
Michael menatap dalam-dalam paras Hans yang nyaris tanpa senyum. Pikirannya tak karuan, mencoba menerka apa yang diucapkan oleh Hans.
“Mungkin iya!”
***
__ADS_1