Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXXII. Parfume in The Basement


__ADS_3

Elina Agustin membuka kotak rias, mengambil sebuah cermin kecil, dan mematut diri. Sebuah polesan lembut mendarat di bibirnya, agar tak terlihat pucat. Ia juga merapikan tatanan rambut yang sedikit berantakan karena serangan angin. Sekali lagi dilihatnya bayangan diri yang terpantul di cermin. Ia tampak mempesona, dengan garis wajah yang begitu sempurna. Hidungnya mancung, bak artis India, dengan mata bulat berbulu lentik.


Selain cantik, sosok Elina juga meraih kesuksesan di usianya yang belia. Keahliannya di bidang fotografi membuat ia segera direkrut sebuah majalah wanita yang cukup terkenal. Tak heran gaya hidupnya begitu akrab dengan dunia model, make up dan fashion. Busananya, walau tak ber-branded mahal, tetap sangat serasi dengan bentuk tubuhnya yang semampai.


Aldo Riyanda memasuki ruang tamu, menemui Elina Agustin. Bukan rasa bahagia seperti yang diharapkan Elina, tetapi Aldo malah menunjukkan ekspresi kecemasan yang begitu kentara di parasnya, seolah tak begitu suka dengan kehadiran Elina.


“Mau apa kamu ke sini?” bisik Aldo dengan gugup.


Elina terkejut dengan perilaku kekasihnya. Tak biasanya Aldo seperti ini. Ia bisa menangkap sesuatu yang tidak beres pasti telah terjadi padanya.


“Aldo! Puluhan kilometer aku ke sini hanya untuk bertemu denganmu, dan aku telah bela-belain cuti dari pekerjaan. Mengapa kamu tidak terlihat gembira? Kamu tahu aku sangat mengkhawatirkanmu. Sepekan kamu tidak ada kabar setelah kamu bilang mendapat undangan ulang tahun dari Anggara Laksono. Aku mengecek apartemenmu, dan tak kutemukan siapa pun di sana. Sekarang aku sudah berdiri di sini, dan kamu bilang untuk aku di sini?” cecar Elina.


“Maafkan aku, Elina! Tapi kupikir bukanlah alasan yang baik kamu datang ke kastil ini. Kamu tahu, aku hampir gila gara-gara bertahan di sini. Aku ingin pulang tetapi nggak bisa. Sekarang, kamu malah ke sini! Ini semakin membebani pikiranku!” terang Aldo.


“Tenang Aldo! Rileks. Bicaralah dengan pelan. Kamu terlihat panik. Aku jadi semakin khawatir dengan apa yang telah terjadi denganmu. Sekarang ceritakan padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi,” ujar Elina sambil memegang bahu Aldo, berusaha menenangkan pikirannya.


“Ini rumit sekali, Elin. Aku nggak bisa cerita sekarang. Kehadiranmu di sini sangat berbahaya. Masalah di sini begitu rumit, dan nggak bisa dibilang sederhana. ”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” desak Elina.


Aldo menggeleng, dengan tatapan kosong ia merenung, seolah ada yang mengganggu pikiran. Tiba-tiba Hans dengan tatapan dingin masuk ke ruang tamu dari pintu depan.


“Kekasihmu adalah seorang tersangka pembunuhan, Elin. Semua yang ada di sini adalah tersangka pembunuhan. Anggara Laksana ditemukan tewas terbunuh di hari ulang tahunnya. Ternyata pembunuhan itu disusul dengan dua pembunuhan lain. Kini kami tak bisa pergi kemana-mana karena kami adalah tersangka.” Hans menjelaskan dengan antusias, membuat Elena terlihat kaget. Ditatapnya wajah Aldo seakan tak percaya. Pria muda itu hanya diam seribu bahasa.

__ADS_1


“Benarkah itu, Aldo?” tanya Elina meminta penjelasan.


Aldo hanya mengangguk perlahan.


“Omong kosong macam apa ini!” desis Elina.


“Untuk itulah aku nggak berharap kamu ada di tempat ini. Situasi sungguh kacau. Sekarang belum terlambat, kamu bisa tinggalkan kastil ini. Jangan khawatirkan keadaanku, karena aku akan kembali secepatnya setelah kegilaan ini berakhir!” ujar Aldo Riyanda.


“Sudah terlambat! Tak ada lagi kendaraan yang mengantar ke kota. Taksi tak bisa dipanggil dari tempat ini. Jalan satu-satunya adalah memakai mobil Anggara yang bobrok itu. Jadi tak ada yang bisa kuucapkan selain ucapan selamat datang di kastil ini, Elina. Ah, akhirnya aku tahu juga namamu,” seringai Hans.


“Aku memutuskan untuk tetap tinggal di kastil ini walau kamu melarangnya, Aldo!” kata Elina.


“Kamu gila! Ini bukan main-main. Pembunuhnya bisa saja salah satu dari kita. Di sini nggak aman!” Aldo Riyanda berusaha meyakinkan kekasihnya.


Sayangnya usaha Aldo Riyanda tak membuahkan hasil. Elina tetap bersikeras untuk tetap tinggal di kastil bersama kekasihnya. Lagipula, Helen juga tak ada masalah dengan itu, dengan satu syarat mereka tak boleh tidur dalam kamar yang sang sama. Elina menyanggupi hal itu.


***


“Aku senang kamu datang cepat. Aku juga belum mendengar kabar terbaru dari Mariah, karena aku yakin istriku sibuk mengurusi pemakaman pamannya. Kita harus bergerak cepat mengungkap kasus ini. Kuharap kita bisa segera ke uang bawah tanah untuk memeriksa kondisi potongan kepala Yoga.”


“Hmm. Jadi potongan kepala itu telah ditemukan?”


“Bukan ditemukan.Tetapi pembunuhnya sengaja meletakkan di kamar Tiara, entah apa tujuannya. Menurut dugaanku, si pembunuh sengaja menyebar teror kepada penghuni kastil yang lain. Kemarin Maira juga dikabarkan dari lolos dari upaya pembunuhan di ruang baca, walau tak ada bukti kuat karena pelakunya menghilang begitu saja,” ungkap Ammar.

__ADS_1


“Ya, aku juga menduga kondisi psikologis para penghuni kastil ini memburuk. Mungkin mereka mulai cemas, takut, dan jenuh. Kalau kondisi ini dibiarkan akan memicu stres. Mungkin mereka akan melakukan hal buruk agar bisa lepas dari kastil. Hal inilah yang diharapkan oleh si pembunuh. Kondisi lengah dan stres akan membuat mereka mudah diperdaya,” terang dr.Dwi.


“Aku sudah meminta Helen menyediakan makanan sehat selama penyidikan ini agar kondisi tubuh tetap fit. Harusnya hari ini ia berbelanja ke kota karena stok makanan telah menipis. Hal-hal kecil tak boleh dilupakan dalam penyelidikan kasus ini.”


Tanpa membuang banyak waktu, hal pertama yang mereka lakukan adalah memeriksa ruang bawah tanah untuk melihat kondisi potongan kepala Yoga. Sudah barang tentu, hal ini membutuhkan kekuatan mental yang luar biasa. Tak sembarang orang sanggup melakukan tugas ini, mengingat kondisi yang sungguh mengenaskan.


Ammar dan dr. Dwi sudah siap dengan sarung tangan dan masker sebelum masuk ke dalam ruang bawah tanah. Seperangkat peralatan medis juga telah disiapkan untuk keperluan penyelidikan.


“Ini bukan hal yang bagus. Memeriksa potongan kepala bukan kegiatan favoritku,” desah dr. Dwi sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Tentu saja. Ini bukan potongan kepala pertama buatmu kan?” tanya Ammar.


“Bukan. Aku pernah memeriksa potongan kepala seorang wanita yang dimutilasi suaminya sendiri beberapa tahun lalu. Tetap saja ini membuatku gugup, tapi akan kulakukan yang terbaik!”


Keduanya segera membuka tingkap, untuk memeriksa kondisi ruangan bawah tanah yang pengap. Lampu temaram menyinari beberapa bagian ruangan, dan sebagian lagi masih dalam kegelapan. Suasana hening dan menegangkan.


“Kamu mencium aroma mayat?” tanya Ammar.


“Tidak sama sekali. Ini agak mengherankan. Seharusnya potongan kepala itu sudah membusuk dan menimbulkan aroma tak sedap. Ini bukan aroma mayat, tapi aroma ....” dr. Dwi menghentikan perkataannya, sembari berusaha mengidentifikasi aroma yang menyergap hidung.


“Ini aroma parfum! Tak diragukan lagi!” ucap Ammar.


“Bagaimana mungkin ada parfum di ruang bawah tanah ini?”

__ADS_1


Mereka segera mengecek ke bilik tempat potongan kepala di simpan. Tetapi sungguh di luar dugaan, potongan kepala yang disimpan tak lagi berada di tempat!


***


__ADS_2