
Ferdy mengendap mendekati suara aneh yang ada di dapur. Perasaannya dicekam rasa takut. Ia mengambil sebuah tongkat pemukul kasti yang ada di dekat pintu. Paling tidak kalau ada apa-apa, ia bisa melindungi diri dengan tongkat itu.
“Mas, tolong ya minyak kayu putih satu!”
Tiba-tiba terdengar suara mengagetkan. Ia membalikkan badan. Rupanya ada seorang pengunjung apotek di depan. Seorang bapak berjaket hijau seragam dari ojek online sedang berdiri di sana. Ferdy segera menghela napas lega. Ia melupakan suara mencurgakan di dapur, beranjak untuk melayani bapak tersebut.
Setelah selesai, ia kembali duduk, tetapi tetap waspada dengan segala kemungkinan. Suara-suara aneh di belakang telah menghilang. Sebuah pesan dari Adinda masuk ke ponselnya.
Fer, aku takut nih di kost sendirian.
Ferdy menghela napas. Setelah pertemuan di pesta tahun baru itu, wajah Adinda mulai menarik perhatiannya. Sepertinya, Adinda juga mulai tertarik padanya. Walau jarang bertemu karena kesibukan, mereka sering berkomunikasi lewat ponsel.
Ferdy sadar bahwa parasnya yang tampan adalah daya tarik tersendiri bagi para gadis. Ia sudah sering menjalin hubungan dengan para gadis di masa lalu, tetapi selalu berakhir dengan kekecewaan. Ia berharap kali ini hubungannya dengan Adinda berjalan dengan mulus.
Ferdy membalas pesan Adinda.
Apa perlu aku temani kamu ke situ?
Di malam yang sepi seperti ini, hiburan satu-satunya adalah ponsel. Kadang ia tersenyum-senyum sendiri sambil memelototi ponsel.
Jangan dong. Nanti dikira kita ngapa-ngapain. Bisa digerebek sama Pak RT.
Adinda membalas pesan tersebut. Ferdy tersenyum. Sebenarnya ia ingin sekali-kali mengajak Adinda jalan-jalan, sekedar min di cafe atau nonton bioskop. Sayang, kadang ia sibuk dengan pekerjaan jadi tak sempat.
Bagaimana kalau besok malam kita makan di luar?
Ferdy memberanikan diri mengirim pesan itu kepada Adinda. Ia berharap ajakannya berbalas. Tanpa menunggu lama, Adinda sudah membalas pesan itu.
Wah, habis gajian ya? Aku dengan senang hati menerima ajakanmu!
“Yess!” Tanpa sadar Ferdy terpekik gembira.
Harapannya untuk mengajak Adinda jalan akhirnya terlaksana. Siapa tahu ajakan itu adalah lampu hijau buat Ferdy untuk bisa memasuki kehidupan Adinda lebih dalam. Hilang sudah segala kekhawatiran. Ia jadi lebih bersemangat bekerja malam itu, tak peduli lagi dengan suara-suara aneh di belakang.
***
__ADS_1
Rudi memasuki kantor polisi dengan ragu-ragu. Ia langsung menuju ruang interogasi, di mana Reno dan Dimas sudah menunggu. Perasaan Rudi tak karuan, jantung terasa berdegup kencang. Ia duduk takut-takut, tetapi segera ia nerusaha mengendalikan emosi. Ia sadar, semakin terlihat gugup, maka polisi akan semakin curiga kalau dia bersalah.
“Selamat siang Mas Rudi Septian. Santai saja ya. Sesuai dengan surat panggilan yang kami kirim, tentu kamu tahu ya tujuan dipanggil. Kami hendak menanyakan beberapa pertanyaan terkait terbunuhnya Jenny Veronica. Kamu kenal kan dengan korban?” tanya Reno.
“Oh iya, Pak. Saya kenal dengan Jenny. Dia adalah teman satu kampus,”jawab Rudi berusaha tenang.
“Seberapa dekat kamu kenal dia?” tanya Reno lagi.
“Cukup dekat sih. Awalnya cuma teman biasa saja, tetapi kami akhirnya pacaran Pak. Belum lama.
“Malam tahun baru kemarin, Pak. Waktu itu dia sengaja saya ajak ke pesta tahun baru di rumah teman. Terus sekitar pukul 02.00 gitu dia suruh saya antar pulang, cuma karena saya sibuk dengan teman lain, saya suruh nunggu di lantai atas. Sampai di situ saya tidak ketemu dia lagi, Pak.”
Rudi bercerita, walau sebenarnya ia ingin jujur, tetapi sepertinya belum berani. Ia sedikit memodifikasi cerita agar tidak disalahkan karena membuang mayat Jenny ke danau.
“Apa kamu mabuk malam itu?” Dimas mulai bertanya.
“Tidak Pak. Itu adalah pesta rumahan, dan sama sekai nggak ada minuman beralkohol. Malam itu kami hanya makan dan minum seperti biasa, tetapi pas saya mau pulang, saya nggak bisa temukan Jenny. Saya kira dia sudah pulang duluan naik taksi atau bagaimana, jadi saya tak terlalu khawatir. Besoknya, dia juga belum menghubungi, sampai seminggu juga belum ada kabar, nah, di situ saya khawatir, Pak,” ungkap Rudi.
“Tunggu! Kamu bilang nggak khawatir dengan Jenny? Kalian pacaran kan? Kamu yang ajak dia ke pesta itu, tentunya kamu harus bertanggungjwab dengan keselamatan Jenny. Terus kamu bilang apa ke nenek Jenny?” cecar Dimas.
“Saya ... saya bilang ke beliau kalau Jenny ....”
Rudi tak meneruskan kalimatnya, membuat Dimas mengernyitkan kening.
“Kalau apa?”
“Jenny pergi keluar kota.” Rio menjawab takut-takut.
“Hmm. Kamu sadar nggak yang kamu katakan itu adalah suatu kebohongan, dan itu bisa membuatmu berada dalam masalah di kemudian hari. Apa motivasimu berbohong seperti itu? Atau jangan-jangan kamu maumenutupi kejahatanmu?” cecar Reno.
“Bu-bukan ... bukan seperti itu, Pak. Sungguh, saya tidak tahu-menahu dengan pembunuhan Jenny. Saya pun juga terpukul dengan terbunuhnya Jenny. Saya mengatakan itu pada nenek Jenny hanya untuk menenangkan beliau. Saya juga nggak tahu kemana Jenny menghilang. Itu membuat saya panik, jadi saya terpaksa mengatakan itu pada nenek Jenny,” papar Rudi.
“Itu salah! Kami bisa saja mendakwamu kamu telah membunuh Jenny, kemudian menceburkan mayat ke danau, tinggal pembuktiannya saja. Maaf, kami tidak percaya begitu saja dengan penjelasanmu. Kami akan kumpulkan bukti dan saksi-saksi lain. “ Reno sedikit membentak
Rudi menunduk karena takut. Saat ini nasibnya ada di ujung tanduk, karena untuk saat ini jelas ia adalah tersangka paling kuat. Jenny menghilang setelah menghadiri pesta bersamanya.
__ADS_1
“Kau katakan tadi bahwa Jenny ke istirahat ke lantai atas sekitar pukul 02.00 dini hari. Benar?” sambung Dimas.
“Saya tidak begitu ingat, tapi saya rasa memang pukul dua,” jawab Rudi.
“Lalu apa yang kamu lakukan selama pukul 02.00 sampai kamu pulang?” tanya Dimas lagi.
“Saya ... saya hanya mengobrol dengan teman saja,” jawab Rudi.
“Hmm. Berarti ada saksi ya. Bisa kami tahu identitas temanmu itu?”
“Tentu Pak. Ada cukup banyak saksi di pesta itu, tetapi saya akan menginformasikan beberapa di antaranya kalau kalian tidak keberatan,” ucap Rudi.
“Baik. Setelah ini tuliskan saja nama mereka. Apa mereka teman satu kampusmu?”
“Iya Pak. Mereka berkuliah di kampus yang sama dengan saya, tetapi berbeda jurusan. Anda bisa tanya mereka semua tentang kronologis hilangnya Jenny di pesta itu.”
Rudi berusaha menjelaskan.
Dimas dan Reno manggut-manggut. Mereka menatap paras Rudi dengan tajam, hingga anak muda itu gugup dan membuang muka.
“Mungkin setelah pemeriksaan ini selesai, kamu dilarang untuk keluar kota, karena kami masih belum selesai denganmu. Paham?” ucap Reno.
Rudi mengangguk pelan. Reno menyodori kertas untuk menulis siapa-siapa saja yang menyaksikan kehadiran Rudi di pesta tahun baru itu. Rudi menerima, langsung ia tulis semua nama teman-temannya di atas kertas. Dia tidak mau menanggung beban ini sendiri. Oleh karena itu ia menulis semua nama teman-temannya yang ada di sana dimulai pukul 02.00.
“Oya, kamu dengar juga pembunuhan tentang Alma? Dia adalah salah satu mahasiswi populer di kampusmu yang dibunuh di ruang bawah tanah sebuah rumah sakit,” ucap Dimas.
“Iya Pak. Saya juga dengar tentang itu.”
“Kamu kenal dengan Alma juga?”
“Tak terlalu akrab, tapi ya, aku kenal!” jawab Rudi.
“Bagus! Nanti kami akan tanya sedikit tentang ini!”
***
__ADS_1