Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
229. Gosip Pagi


__ADS_3

Mendung sudah menggantung sejak pagi menyelimuti kota. Cuaca menjadi agak dingin, sementara angin berembus agak kencang. Henry Tobing gelisah karena mendapat laporan kepolisian bahwa telah terjadi percobaan pembunuhan di villa yang ia miliki. Ia dipanggil untuk dimintai keterangan akan hal ini.


Menjelang pukul delapan, ia tiba di kantor polisi bersama Rianti dengan agak tergesa. Mereka langsung menemui Reno di ruangannya. Polisi itu rupanya sudah menunggu kedatangan suami-istri itu. Segera Reno mepersilakan keduanya untuk duduk.


"Tentunya kalian tahu maksud pemanggilan ini .... "


Reno membuka percakapan sembari menyodorkan selembar foto Ollan kepada Henry. Aktor itu tampak bingung melihat foto Ollan. Demikian juga Rianti. wanita itu tampak terkejut.


"Bagaimana keadaan Ollan, Pak?" tanya Henry.


"Saat ini keadaan Ollan baik-baik saja, hanya sedikit syok karena kejadian tadi malam. Nah, kami ingin tahu bagaimana bisa Ollan berada di villa milik kalian?" tanya Reno.


Henry menggeleng cepat. Ia tampak takut mendengar pertanyaan Reno.


"Kami juga tidak tahu, Pak. Bahkan kami baru tahu kalau ada kejadian itu tadi pagi. Memang, selama ini kami menitipkan kunci villa pada Ollan. Jadi, kalaupun dia beritirahat di sana, kami pasti izinkan. Karena Ollan sudah kami anggap keluarga sendiri. Hanya saja, kejadian ini memang sungguh mengejutkan, ketika seseorang menyusup ke dalam villa dan berusaha membunuh Ollan," ucap Henry.


"Apa ada orang lain yang tahu keberadaan villa itu selain kalian?" tanya Reno lagi.


"Tentu ... tentu. Sebenarnya banyak teman yang tahu kalau kami punya villa di sana. Kadang kami mengadakan pesta di sana, dan kadang ... Rianti juga pernah mengakdakan arisan di sana."


Henry berkata sambil menoleh ke arah Rianti. Wanita itu segera mengangguk, membenarkan. Sebagai selebriti dengan aktivitas yang padat, kadang Henry mengundang teman-teman sesama selebriti untuk kumpul-kumpul di villa yang dimilikinya.


"Hmm, jadi villa itu memang sesuatu yang asing, bukan?" tanya Reno.


"Aku rasa bukan, Pak. semua orang dapat mengakses villa dengan mudah, karena tak ada pagar khusus untuk membatasinya. Hanya saja, aku tidak menyangka kalau akan ada kejadian ini,"  kata Henry.


"Kalau boleh tahu, di mana Ollan sekarang Pak? Apakah dia dalam keadaan baik? Kami sangat mengkhawatirkan keadaannya? Apakah boleh kami menengoknya?" tanya Rianti membabi-buta.

__ADS_1


"Maaf, Bu Rianti. Saat ini kami terpaksa tidak bisa memberitahu posisi Ollan kepada siapa pun. Bukan kami tidak percaya dengan kalian, tetapi kami menjaga segala kemungkinan. Karena, siapa tahu kalian lupa kemudian tidak sengaja memberi tahu orang lain tentang keberadaan Ollan. Ini akan sangat fatal akibatnya. Kami yakin, si pembunuh itu tidak akan tinggal diam melihat Ollan masih dalam keadaan hidup. Pasti dia akan tetap berusaha untuk memburunya," terang Reno.


Rianti mengangguk tanda mengerti. Setelah beberapa lama bercakap-cakap, suami-istri itu diizinkan untuk pulang oleh Reno. Polisi itu masih belum punya gambaran siapa sebenarnya yang menyusup ke dalam villa itu. Sebelumnya ia telah menhubungi Dian, sahabat Ollan yang mengetahui keberadaan Ollan dalam villa. Dian mengatakan bahwa saat Ollan menginformasikan bahwa dia sedang berada di villa, ia juga tengah berkumpul dengan teman-teman lain. Ia bercerita kepada kawan-kawannya, tanpa ada maksud apa pun. Ia juga sama sekali tidak menyangka kalau informasi yang bawa itu berakibat fatal terhadap keselamatan Ollan.


Reno juga sudah melacak siapa saja yang mungkin tahu bahwa Ollan berada dalam villa, tetapi tak ada petunjuk berarti, Kebanyakan mereka tidak menyangka kalau Ollan dalam bahaya. Percobaan pembunuhan Ollan dalam villa milik Henry segera menjadi hangat di kalangan artis. Demikian juga di kalangan media. Bahkan ada salah satu media yang sengaja mengunjungi villa Henry untuk mengadakan liputan khusus.


***


Riky berjalan tergesa menaiki lift, kemudian menemui Widya yang sedang merias seorang artis figuran di ruang rias. Hari ini studio film itu memulai kembali aktivitas untuk memproduksi sebuah film layar lebar dengan sutradara baru. Genre kali ini adalah film horror, dengan bintang utama Renita Martin. Tak heran, kini studio film terlihat lebih sibuk dari biasa.


Guntur juga dipercaya kembali menjadi penulis skenario. Ia terlihat sedang berdiskusi serius dengan beberapa kru dan sutradara baru yang rupanya masih muda. Seorang pria berumur 30-an, dengan tampilan necis. Namun, Riky menilai bahwa sutradara baru itu terlihat arogan. Ia bahkan enggan tersenyum dan menyapa. Riky merasa kurang nyaman, karena ia tidak ditunjuk lagi sebagai asisten sutradara. Ia segera mengalihkan pandangan pada Widya.


"Film baru ini jadi diproduksi?" tanya Riky.


 "Iya,Rik. Ini hari pertama. Makanya kan semua sibuk. Aku harus datang jam 6 pagi untuk merias para artis yang terlibat dalam film ini. Kamu kok datang sesiang ini?" tanya Widya.


"Aku kan bukan siapa-siapa. Beda lah sama kamu dan Guntur. Rencana setelah ini aku akan mengambil peluang di lain tempat. Aku lelah. Tadi malam, aku begadang sampai malam, nggak bisa tidur," ucap Riky.


 "Ya, biasalah! Aku keliling kota saja sambil menikmati udara malam. Pasti kamu udah tidur juga kan? Padahal mau kuajak jalan. Dan pagi ini ... kamu dengar berita seru nggak?" tanya Riky.


 "Berita seru? Berita apa?"


 "Percobaan pembunuhan terhadap Ollan. Denger-denger sih, dia habis ribut sama Henry Tobing, terus Ollan dipecat. Eh malamnya, Ollan mau dibunuh. Siapa pelakunya kalau bukan Henry Tobing, Pasti dia!" tuduh Riky.


"Jangan berprasangka dulu, Rik. Kok kamu seperti polisi aja. Lagian kan polisi juga belum mengklarifikasi apa pun tentang percobaan pembunuhan itu. Tapi, lama-lama aku kok khawatir ya. Pak Daniel, Anita, dan kini Ollan. aduh serem .... "


Tiba-tiba Renita masuk ke dalam ruang rias dalam paras kesal. Ia menghempaskan diri di atas sofa.

__ADS_1


"Udah syutingnya, Mbak?" tanya Widya.


"Aku lagi jengkel sama sutradara baru itu. Baru buat dua film aja sudah belagu banget. Sepertinya apa saja yang kulakukan salah melulu. Padahal aku sudah mengikuti apa yang tertulis dalam skenario loh. Anehnya, Guntur juga


ikut-ikutan membela sutradara baru itu!" keluh Renita.


 "Sabar aja, Mbak. Mungkin masih perlu adaptasi, kan dia orang baru," ucap Widya menenangkan.


 "Sudah dengar berita pagi ini?" celetuk Riky.


 "Masalah Ollan ya? Iya aku denger. Tapi males ngurusi. Cowok kemayu itu kan kalo ngomong kan memang sembarangan, jadi nggak heran kalau banyak yang nggak suka sama dia. Aku sendiri males kalau ngomong sama dia. Kalau saja bukan asisten si Henry, sudah kutampar dia di depan orang banyak!" gerutu Renita.


"Hmm, kok aku jadi takut sama kamu," canda Riky.


"Jangan takut lah! Aku nggak gigit kok kecuali digigit. Eh, tapi kalian dengan nggak gosip yang lebih panas. Kalian tau Laura Carmellita kan? Denger-denger, dia jadi orang ketiga dalam retaknya hubungan Henry dan Rianti. Nah makanya akhit-akhir ini Rianti sering marah-marah gara-gara Laura. Malahan Rianti sendiri cerita ke aku kalau dia nggak suka sama sekali sama Laura itu," ujar Renita.


"Pagi-pagi udah gosip saja. Pergi ah!"


Riky berlalu dari ruang rias itu, meniggalkan Renita yang bercerita tentang rumah tangga Henry-Rianti. Riky tak berminat mendengar berita yang belum tentu benar itu. Diam-diam ia pergi ke toilet, mengambil selembar foto dari sakunya. Ia amati kemudian ia cium dalam-dalam.


"Sungguh, aku tidak rela .... " gumamnya.


***


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2