
Malam ini terasa lain dengan malam-malam sebelumnya. Cornellio merasa gelisah, karena perasaan tak aman dalam dirinya. Sepeninggal Ammar Marutami ia merasa memanggul beban berat tak terperikan. Apalagi tak dapat dipungkiri, ia berada dalam satu atap dengan si pembunuh berantai yang sampai saat ini belum terungkap identitasnya. Sungguh, ia susah memejamkan mata. Rasanya kamar begitu gerah, memaksanya untuk melongok ke arah jendela.
Di luar terlihat gelap. Suara burung hantu di kejauhan menambah suasana kian mencekam. Firasatnya mengatakan bahwa hal buruk akan terjadi, sama dengan firasat yang pernah ia rasakan sebelum Karina tewas di kebun teh. Ternyata menempati kamar Ammar tak membuatnya merasa lebih aman. Ia buka lemari, melihat beberapa pucuk senjata api. Hatinya berdesir. Ia tak pernah sekalipun memegang senjata api dalam hidupnya. Bagaimana bisa ia menggunakan apabila dalam bahaya?
Untuk mengurangi rasa gundah, ia berniat membuat secangkir teh di dapur. Suasana dalam kastil terasa senyap, karena semua penghuni memilih untuk berdiam dalam kamar. Lorong-lorong kasti memancarkan aura mencekam. Lukisan-lukisan kuno terasa bagai sosok-sosok makhluk dari masa lampau yang mengawasi segala gerak-geriknya. Ya, ia adalah penulis cerita horror, tetapi ia tidak pernah merasa setakut ini. Kadang kekuatan manusia yang menggila bisa mengalahkan kekuatan mistis. Cornellio bisa merasakan itu.
Krieet!
Ia membuka pintu, mendapati dapur yang sudah rapi karena Helen sudah membereskannya selepas makan malam. Ia mengambil toples gula yang ada di lemari gantung, tetapi sebuah hal yang tak wajar cukup menarik perhatiannya. Tingkap yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah terbuka!
“Siapa di larut malam begini yang membuka tingkap ruang bawah tanah?” gumamnya.
Rasa penasaran membuatnya melongok ke bawah. Ruangan bawah tanah terlihat sepi dan gelap. Rasa ingin tahu semakin tak tertahan. Ia letakkan kembali toples gula, kemudian ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah. Rasa pengap menyergap seketika, tetapi ia beranikan diri untuk terus melangkah.
Aroma kengerian langsung terasa. Ia melewati bilik-bilik kosong yang menyeramkan. Dalam kepalanya seolah terngiang lengkingan-lengkingan kesakitan di masa lalu. Ia makin masuk ke dalam ruang bawah tanah, tetapi ia melihat di depan hanya ada sebuah lorong buntu. Di ujung lorong, ada sebuah bilik yang biasanya terkunci, kini terbuka.
Ada yang membuka bilik itu rupanya. Bisiknya dalam hati.
Ia memasuki bilik sempit tersebut. Ternyata bukan sebuah bilik, melainkan sebuah lorong lain yang cukup panjang. Ada beberapa bilik lain di sepanjang lorong. Cornellio makin penasaran. Ternyata di bawah kastil ini menyimpan misteri. Entah apa gunanya bilik-bilik kosong ini. Ia menduga, bilik ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, ketika kastil baru pertama kali dibangun.
__ADS_1
Di sebuah bilik yang ia lewati, ternyata pintunya berjeruji, seperti di penjara. Hal itu membuatnya penasaran untuk mengintip sesuatu di dalamnya. Walaupun suasana agak temaram, ia bisa melihat dengan jelas apa yang ada dalam ruangan terkunci itu dari balik jeruji. Pemandangan itu membuatnya kaget. Seorang wanita muda tergeletak di lantai tak berdaya. Tak jelas apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Ia berdesis pelan.
“Astaga! Mariah....”
Cornellio segera mengambil langkah seribu meninggalkan bilik. Ia ingin memberi tahu yang lain agar bisa menolong istri polisi itu. Otaknya terasa buntu, bingung apa yang harus ia lakukan. Kekhawatiran melanda, kalau-kalau si pembunuh mengetahui keberadaannya. Ia agak bingung kembali ke atas, karena tadi melewati banyak lorong. Semuanya terlihat sama.
“Apa yang harus kulakukan?” gumamnya.
Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki mendekat. Rasa khawatir semakin memuncak. Kalau ia bertahan di dalam lorong ini, pasti segera ketahuan. Segera ia menyelinap ke sebuah bilik kosong yang tak terkunci. Suara langkah kaki kian dekat. Dari lubang pintu, ia bisa melihat sosok berjubah hitam itu melewati tempatnya bersembunyi. Jantungnya berdegup kencang!
***
Di kanan-kiri jalan hanya terlihat tebing, dan sesekali jurang. Ia merasa terlempar ke sisi dunia yang lain. Perasaan tak enak mulai mengganggu. Ia takut membayangkan kalau-kalau mobil yang ia kendarai mengalami gangguan di tengah jalan. Mobil Anggara memang terlihat baik, tetapi karena kurangnya perawatan, bukan tidak mungkin mobil ini akan mogok, serupa dengan mobil lain yang biasa digunakan ke kota oleh Helen.
Untuk mengurangi rasa bosan, ia berusaha memutar radio. Sayangnya tak ada satu saluran radio yang tertangkap. Radio mobil itu hanya mengeluarkan mendesis. Ia memilih untuk mematikannya, sembari terus fokus dengan jalanan di depan. Jalan kian menanjak dan menurun. Ia harus menggunakan insting agar tetap berada di jalur yang aman. Untunglah, tak ada kendaraan lain yang melintas, sehingga ia bisa leluasa memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
Ketika jalanan menurun, ia segera menekan pedal rem dalam-dalam. Tiba-tiba semua berubah! Berkali-kali ia menekan pedal rem, seolah tak ada efek sama sekali. Mobil tetap melaju kencang.
“Astaga! Rem mobil ini blong!” pekiknya.
__ADS_1
Posisi mobil meluncur deras ke bawah siap menghantam tebing di sisi jalan! Untunglah secara sigap ia membanting stir ke kanan, sehingga ia lolos dari benturan yang mungkin akan membahayakan nyawanya. Namun bukan berarti ia telah sepenuhnya lolos. Mobil masih melaju dalam kecepatan tinggi tanpa kendali.
Ammar segera sigap mengatur kemudi, agar tak menghantam sisi jalan. Kondisi sisi kanan dan kiri jalan kian banyak tebing, dan di bagian lain bahkan berjurang-jurang. Ammar sekuat tenaga mengendalikan mobil yang tak ada rem itu. Keringat mulai menetes di kening. Kepanikan menyeruak dalam hati. Ia tak mau berakhir tragis malam ini.
Aku yakin ada seseorang yang menyabotase rem mobil sialan ini!
Kini jalanan menanjak. Ia mengatur kecepatan agar nanti mobil tak meluncur tajam setelah melewati tanjakan. Benar saja, selepas tanjakan mobil itu kembali meluncur tak terkendali. Kondisi gelap membuat kondisi semakin sulit. Karena kecepatan tinggi, Ammar sudah tak bisa mengendalikan keseimbangan mobil. Tanpa disadari, mobil oleng ke samping. Kali ini begitu deras, menabrak marka yang dipasang di tepian jalan.
Braaakk!
“Sialan!” pekiknya.
Tanpa bisa dicegah, mobil meluncur melewati pembatas, langsung menyusup ke sebuah jurang di sisi jalan. Ammar pasrah. Mobil menabrak semak rimbun tanpa ampun. Posisi jurang yang cukup curam juga tak menguntungkan. Mobil kian terperosok dalam, hampir puluhan meter dari jalan raya di atas sana. Kaca depan mulai pecah terbentur pohon.
Duuukk!
Ammar merasakan kepalanya terbentur setir mobil dengan cukup keras, hingga ia tak merasakan apa-apa!
***
__ADS_1