Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
168. Jenuh


__ADS_3

Reno baru saja merebahkan diri ke ranjang busanya yang empuk saat ponselnya bergetar. Sebenarnya ia merasa malas, ingin meregangkan otot barang sejenak. Pekerjaan yang dihadapi belakangan cukup melelahkan fisik dan mental. Ia hanya ingin merebahkan diri sambil menikmati musik klasik kegemarannya. Sayangnya, ada tugas yang harus ia tunaikan. Sebagai seorang polisi yang mempunyai reputasi baik, ia harus berusaha keras menuntaskan kasus ini. Mau tidak mau, ia mengangkat panggilan telepon itu.


Ternyata dugaannya benar. Panggilan itu datang dari kepolisian. Ia berharap agar mendengar kabar baik berkenaan dengan kasus yang saat ini tengah ia hadapi.


“Maaf Pak Reno, kami sudah mengetahui identitas pemilik mobil putih yang jatuh ke jurang itu,” ujar suara di seberang.


Rupanya telepon itu berasal dari bagian lalu lintas. Mereka mempunyai data lengkap yang bisa dicek kapan saja terkait dengan data kendaraan yang hilang atau kecelakaan. Reno merasa sangat senang menerima telepon itu.


“Wah bagus, bagus. Jadi siapa pemilik mobil itu sebenarnya?” tanya Reno penasaran.


“Mobil itu keluaran tahun 2015, Honda Civic putih, pemiliknya bernama Andika Andrianto. Alamatnya juga sudah kami dapatkan Pak. Jadi kalau Bapak mau langsung selidiki, kami akan segera kirim alamatnya ke Bapak,” ucap petugas polisi di seberang.


“Oh iya. Kirimkan saja! Nanti sore baru saya akan meluncur ke tempat yang bersangkutan,” kata Reno.


Reno merasa sangat penasaran dengan pemilik mobil putih yang selama ini ia buru. Ia akan menyelidiki siapa pemilik sebenarnya, tetapi ia memutuskan untuk beristirahat dulu. Mungkin sore ia akan bergerak untuk mencari alamat si pemilik mobil. Ia ingin menghabiskan waktu di rumah, sembari menikmati saat-saat sendirian seperti ini.


Sejenak kemudian, ia beranjak keluar kamar, mencari sesuatu yang bisa dimakan di dalam kulkas. Perutnya melilit minta diisi, karena sedari tadi malam ia kurang berselera makan. Sejenak pandangannya tertuju pada sebuah foto yang berada di atas meja hias. Di sana terdapat sebuah pigura foto seorang wanita muda berwajah manis sedang tersenyum. Reno meraih foto itu, sembari melihatnya dengan saksama.


“Silvia ... “ gumamnya sambil tersenyum kecil.


Silvia, wanita muda berwajah manis itu telah dinikahinya sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya sampai saat ini mereka belum dikaruniai momongan. Hubungan mereka sedikit retak akhir-akhir ini karena kesibukan Reno yang luar biasa. Ia bahkan sering tidak ada di rumah, sehingga membuat Silvia terkadang kesal. Wanita muda itu memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya, meninggalkan Reno di dalam rumahnya yang cukup megah.


Reno sendiri tak punya pilihan. Di satu sisi, ia tak ingin Silvia pergi, tetapi di sisi lain ia mempunyai pekerjaan yang mempertaruhkan reputasinya. Ia juga tak ingin menuntut Silvia untuk memahami karirnya sebagai seorang polisi. Yang bisa ia lakukan hanyalah membiarkan Silvia melakukan apapun yang ia suka.


“Aku rindu kamu, Silvia,” gumam Reno sambil menghela napas.


Ia letakkan kembali pigura foto itu, berusaha mengempaskan perasaan melankolisnya. Ia menuju ruang makan untuk memeriksa isi kulkas. Hanya ada daging beku, telur, dan susu kotak. Ia malas apabila harus mengolah makanan terlebih dahulu. Bukan karena ia tidak bisa, tetapi karena hasil masakannya selalu kurang memuaskan. Ada saja rasa yang kurang dalam masakannya. Untuk itulah, ia lebih suka memesan makanan di luar daripada harus berhadapan dengan kompor.


Lagi-lagi, ia teringat akan Silvia. Wanita muda itu cukup piawai mengolah makanan, dan rasanya juga tidak pernah mengecewakan. Untuk mengatasi rasa lapar yang semakin meronta, ia memesan makanan melalui aplikasi di ponselnya. Sementara ia kembali merebahkan diri ke atas ranjang, sambil merencanakan langkah apa yang harus ia ambil setelah ini. Ia berharap mendapat titik terang dari penyelidikan ke pemilik mobil. Sebab, mobil putih itu adalah salah satu kunci dari kasus pembunuhan yang berlarut-larut ini.


***

__ADS_1


Dimas sedang menyeruput teh yang tidak terlalu manis terasa di lidah. Teh buatan Bu Mariyati tadi pagi sudah agak dingin, tetapi tetap saja nikmat saat membasahi kerongkongan. Ia sedang memeriksa beberapa pesan-pesan yang masuk di ponselnya di ruang tamu, ketika Lena dan Adinda masuk ke dalam ruang itu.


Dimas meletakkan ponselnya, seraya dilihatnya kedua gadis itu.


“Maaf Pak, apakah Anda sedang sibuk?” tanya Lena.


“Tidak juga. Ada yang ingin kalian sampaikan?” tanya Dimas.


Lena dan Adinda mengambil tempat di sofa panjang di hadapan Dimas. Setelah berbasa-basi sedikit, Lena mulai angkat bicara.


“Mmm-Begini, Pak. Ini berkaitan dengan apa yang kami rasakan setelah dua hari ini kami tinggal di rumah isolasi ini. Sebenarnya bukan hal yang penting banget, tetapi tetap perlu kami sampaikan karena ini menyangkut kenyamanan di tempat ini,” papar Lena.


“Kalian merasa nggak nyaman gitu maksudnya?” tebak Dimas.


“Maksudnya gini sih Pak. Untuk urusan pelayanan, kami salut karena semua kebutuhan kami dilayani dengan baik oleh Pak Paiman dan Bu Mariyati. Kami mendapat kamar layak dan makanan juga enak-enak. Namun, bukan layanan mereka yang hendak kami sampaikan. Ini lebih ke rasa bosan yang melanda. Bapak juga tahu, ini bukan hunian di tengah kota, tetapi rumah tua di tengah kebun. Bapak pasti juga merasakan suasana yang begitu sepi, dan kami tak ada apa-apa yang bisa kami kerjakan. Ponsel kami juga tidak pegang. Otomatis kami merasa sangat jenuh .... “


Lena berhenti sejenak, kemudin menoleh ke arah Adinda. Ia berharap gadis itu bisa menguatkan pendapatnya. Adinda hanya mengangguk-angguk mendengar penuturan Lena.


“Jadwal? Jadi nanti kami akan dibuatkan jadwal?” tanya Lena antusias.


“Iya, jadi kalian tidak bingung mau ngapain karena akan ada jadwal jelas daripada kalian hanya berdiam dir, tak tahu apa yang harus dilakukan,” terang Dimas.


Lena terdiam, menatap sekilas ke arah Adinda. Gadis itu pun juga diam. Sebenarnya Lena ingin tahu lebih jauh tentang jadwal yang disusun oleh Dimas, tetapi ia urungkan niat itu. Ia hanya membayangkan, mungkin suasananya akan seperti di Lembaga Permasyarakatan, karena segala sesuatu akan dilakukan berdasar jadwal.


“Tapi jangan khawatir, jadwal ini bersikap fleksibel kok. Jadi nggak mengikat. Jangan berpikir akan dihukum kalau kalian tidak melaksanakan. Aku rasa tidak seperti itu juga. Jadwal ini semata-mata dibuat agar kalian tidak bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Jadi santai saja ya!”


Dimas tersenyum ketika melihat perubahan paras Lena yang mulai waspada dan cemas. Namun, setelah mendengar penjelasan Dimas secara rinci, Lena tersenyum kecil dan mengangguk.


“Ngomong-ngomong kalian kenal dekat dengan Miranti?” tanya Dimas.


“Lumayan dekat sih Pak, karena kan kami teman kuliah. Jadi ya hampir tiap hari ketemu gitu. Selama ini Miranti kan anak baik, lugu, gampang gugup gitu, jadi sering kami jadikan bahan candaan aja,” terang Lena.

__ADS_1


“Apa dia tidak memberitahu sesuatu hal sebelum ia terbunuh? Misalnya tentang ancaman atau apa. Atau ada perubahan aneh dengan sikapnya akhir-akhir ini?”


“Nggak ada sih Pak. Miranti kan agak tertutup orangnya. Dia sama sekali nggak bilang apa-apa kepada saya. Sikapnya juga biasa-biasa saja. Nggak ada yang aneh menurut saya. Kalo sama kamu gimana Din?” tanya Lena.


“Eh, nggak! Miranti juga tidak bilang apa pun kepadaku. Dia normal-normal aja sih,” jawab Adinda cepat.


“Baiklah kalau begitu. Kalian perlu tahu bahwa saat ini kepolisian sedang bekerja keras untuk mengungkap kasus pembunuhan Jenny, Alma, dan Miranti, sebelum korban lain berjatuhan. Kerja sama kalian sangat dibutuhkan agar kita segera tahu dalang dari segala kekakacauan ini. Pelakunya bisa jadi salah satu teman kalian atau bahkan mungkin kalian sendiri. Yang jelas, bukti-bukti awal sudah kami kumpulkan. Saranku, kalian tetap waspada tetapi tidak juga terlalu tegang menghadapi ini. Kami mengawasi setiap perubahan emosi kalian. Semua sudah terbaca. Jadi tunggu saja tanggal mainnya!” terang Dimas.


“Kami akan siap membantu apabila dibutuhkan, Pak!” kata Lena dengan yakin.


“Kami akan memanggil kalian apabila diperlukan. Aku yakin, pembunuh itu akan segera tertangkap. Dia memang licin, tetapi tak ada yang tidak mungkin. Apalagi kita sekarang sedang berada di satu lokasi. Jadi hanya tinggal menangkap saja sebetulnya. Hanya perlu bukti-bukti yang menguatkan saja,” ucap Dimas.


Lena dan Adinda mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan dari Dimas. Dalam hati, mereka sebenarnya khawatir juga.


“Kalian suka nonton?” tanya Dimas tiba-tiba.


“Nonton suka sih, Pak. Tergantung film-nya saja,” jawab Lena.


“Mungkin besok tim kepolisian akan menyiapkan sebuah home-theater dan pemutar musik, agar bisa mengurangi rasa bosan kalian. Kalian bisa nonton film, mendengar musik sambil bersantai, dan melihat berita televisi dari situ. Aku paham, semua dalam kondisi tertekan untuk saat ini. Kuharap bisa sedikit membantu mengatasi kebosanan kalian,” ucap Dimas.


“Wah, terima kasih, Pak! Tentu saja itu akan sangat membantu. Karena sejujurnya selama ini kami bingung mau ngapain. Keluar juga nggak boleh kan? Jadi ide untuk mendatangkan sarana hiburan di rumah ini adalah ide yang menarik,” ucap Lena dengan mata berbinar.


“Itulah upaya yang kami bisa lakukan, dan semoga nggak ada keluhan lagi. Namun yang terpenting sebenarnya adalah keselamatan kalian. Kami akan bertanggungjawab dengan keselamatan kalian. Kematian Miranti kami akan mengakui adalah kesalahan kami karena sistem keamanan yang salah. Setelah ini kami berjanji tak ada pembunuhan-pembunuhan lagi, dan kalian bisa tetap nyaman melaksanakan aktivitas,” ucap Dimas.


“Terima kasih, Pak. Semoga sukses untuk meringkus dalang dari segala kekacauan ini,” ucap Lena.


Kedua gadis itu mengakhiri percakapan dengan Dimas, seraya kembali ke kamar masing-masing. Lena memutuskan untuk istirahat di kamarnya sendiri, sedangkan Adinda juga memilih hal yang sama.


Waktu makan siang hanya tinggal dalam hitungan jam. Bu Mariyati terlihat sibuk di dapur menyiapkan segala sesuatunya. Semua terlihat normal, tak ada yang janggal. Namun, Pak Paiman masih saja gusar dengan kehilangan sarung tangan dan beberapa barang di gudang. Ia hanya bisa berharap agar barang-barang itu tidak digunakan untuk sesuatu yang tidak benar.


***

__ADS_1


__ADS_2