
Setelah gagal melewati penjagaan di gerbang depan, Gilda dan Wandi bergerak ke belakang rumah bergaya Belanda itu, hendak menerobos lewat pintu belakang. Namun, tentu saja hal itu tak mudah, karena pintu belakang juga dalam keadaan terkunci. Gilda tampak kesal melihat itu sehingga menendang pintu yang menghubungkan beranda belakang.
"Gimana dong!" kata Gilda.
"Lebih baik kita pulang saja, Mbak. Sepertinya memang tak bisa ditembus rumah ini. Kalau kita nekat nanti malah melanggar hukum. Lagian kan berita nggak harus dari kasus ini saja. nanti saja kita liput kalau kasus ini sudah bener-bener beres," saran Wandi.
"Kamu enak sekali ngomong kayak gitu, Wan. Kalau nanti-nanti meliputnya, ya sudah basi beritanya. Ini berita paling aktual sekarang ini. aku harus bisa mengambil gambar di dalam rumah ini atau paling enggak tahu siapa-siapa saja yang berada di dalam," omel Gilda.
Wandi hanya bisa terdiam, ia tidak berani membantah lagi. Ia sadar kalau Gilda sudah punya keinginan, susah untuk diubah lagi. Jalan paling aman saat ini adalah diam, dan mengikuti apa saja keinginan jurnalis ambisius itu. Gilda masih mondar-mandir, berpikir bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam rumah.
"Ahaa!"
Tiba-tiba Gilda tersenyum lebar sambil menjentikkan jarinya yang lentik. Wandi tak berani berkomentar, karena ia yakin pasti ada ide gila yang ada di otak Gilda sekarang. Belum-belum, Wandi sudah merasa khawatir duluan.
"Wan, kamu lihat tembok itu kan?"
Gilda menunjuk tembok pembatas yang berdiri mengelilingi rumah besar itu. tembok itu membentang setinggi dua meter, membatasi halaman belakang dengan kebun. Wandi segera tahu apa yang bercokol di pikiran Gilda. Sontak Wandi menggelengkan kepalanya.
"Apa-apaan sih kamu, Wan? Belum apa-apa udah nyerah aja! Emang kamu tahu rencanaku?" tanya Gilda.
"Mbak Gilda mau meloncati tembok itu kan?" tebak Wandi.
Gilda mengangguk sambil tersenyum. Wandi merasa bingung, karena di sekitar situ tak ada tangga atau apa pun yang bisa dipakai untuk meloncat. Padahal tembok itu lumayan tinggi. Firasatnya menjadi buruk seketika.
"Pa-pakai apa Mbak loncatnya? Nggak ada apa-apa loh di sekitar sini," tanya Wandi.
"Lalu apa gunanya aku ngajakin kamu, Wan! Aku akan naik ke atas pungungmu, lalu kamu angkat aku sampai ke tembok. Nanti aku akan berdiri di pundakmu. Bukankah itu ide bagus?" ucap Gilda.
"Astaga!"
Firasatnya jelas terbukti. Wandi tak bisa menolak ide gila itu. Apalagi Gilda dalam keadaan gusar seperti itu. ia segera membungkuk, menyediakan punggungnya untuk dinaiki Gilda. Perempuan itu melepas sepatunya, kemudian menaiki punggung Wandi dengan hati-hati.
"Awas jangan gerak-gerak!" ucap Gilda.
__ADS_1
Setelah Gilda naik di punggung, perlahan Wandi mengangkat badannya. Kali ini, Gilda akan menginjak pundaknya. Wandi meringis, bukan karena terlalu berat, tetapi ia menahan rasa pegal di pundak . Gilda kini bisa melongok untuk melihat situasi dalam rumah besar itu.
"Aman! Aku akan meloncat sekarang!"
Gilda menaikkan satu kakinya ke tembok, lalu disusul kaki lainnya. Kini ia berada di atas tembok, tetapi bukan berarti masalah selesai. Pasalnya, jarak tanah untuk turun masih cukup tinggi, dan Gilda tak mau melompat ke bawah karena takut kakinya terkilir.
"Gimana Mbak?" tanya Wandi.
"Aku lagi mencari jalan untuk turun nih!" kata Gilda.
Mata Gilda tertumbuk pada tumpukan-tumpukan barang bekas yang disandarkan pada tembok. Ia tersnyum lagi melihat itu.
"Kamu tunggu di bawah situ saja ya, Wan. Aku sudah dapat jalan turun. nanti kalau sudah aman aku akan segera keluar kok. Aku hanya ingin tahu situasi dalam rumah ini saja," ucap Gilda.
Wandi hanya bisa mengangguk pasrah. Walau ia merasa was-was, dibiarkannya saja Gilda melakukan apa yang ia mau. Sungguh, dalam hati Wandi berharap agar Gilda terkena batunya, akibat aksi nekat yang telah dilakukan.
***
Dimas segera bertindak cepat begitu mengetahui fakta baru tentang foto kamar tidur yang ditempati Daniel Prawira. Namun, ia tidak boleh gegabah begitu saja. Ia ingin lebih dalam lagi mencari info mengenai ini. Ia sudah tidak mengkhawatirkan Niken dan Rani. karena dua wanita itu sudah ada yang mengurus. Kini ia akan lebih fokus menemukan fakta baru mengenai kasus pembunuhan ini.
Ia membuka-buka arsip data tentang Anita Wijaya yang dibunuh dengan cara digantung di kebun durian milik Daniel, selepas gadis belia itu pulang menghadiri makan malam di sebuah restoran. Tak ada saksi mata, tetapi laporan menyebutkan bahwa ia diculik dalam mobilnya sendiri. Ini berarti, Anita mengenal pelaku dengan baik, sehingga mengizinkan si pelaku untuk masuk ke mobil. Tak ada petunjuk apa pun di lokasi kejadian, tetapi di sekitar kebun durian ditemukan bungkus cokelat yang tak asing lagi. Ia pernah melihat beberapa artis makan cokelat itu.
Terkait motif, ia menduga bahwa motif pembunuhan Daniel dan Anita ini dilatarbelakangi harta, mengingat Niken berhasil memecahkan misteri nama Margareth Prawira. ahli waris yang ditulis dalam polis asuransi bernilai milyaran rupiah. Gadis belia ini sengaja dihabisi karena mungkin si pelaku tidak ingin harta jatuh ke tangan Anita. Namun pertanyaannya, apa hubungan pelaku ini dengan Daniel Prawira? Mengapa ia sangat berambisi mendapatkan harta Daniel kalau taka da hubungan apa-apa? Dimas belum bisa memecahkan ini.
Lalu ia beralih pada percobaan pembunuhan terhadap Ollah. Dimas juga tak habis pikir, mengapa pelaku ini juga menyasar ke Ollan? Apa hubungan Ollan dengan Pak Daniel? Atau mungkin ada motif tambahan? Dimas juga masih belum berpikir ke arah itu. Lalu bagaimana hubungan antara pelaku dengan Renita? Mengapa aktris horor itu dihabisi juga?Jelas ada sesuatu yang belum bisa ia pecahkan, entah itu apa. Lalu apa hubungan semua ini dengan Faishal Hadibrata dan Melani? Sepertinya semua ini saling berkait, membentuk sebuah pola yang rumit. Dimas belum bisa memecahkan semua teka-teki ini.
Kembali ia mengamati foto kamar yang dipakai Daniel untuk tidur. Kalau pemilik kamar itu adalah pelakunya, sepertinya tidak mungkin, pasti ada motil lain yang tersembunyi.
"Aku pasti bisa pecahkan ini. Pasti bisa!" gumam Dimas.
***
Penghuni rumah isolasi sedang berkumpul di ruang depan, bersama Reno.Rupanya polisi sedang mengajak berbincang secara santai. Reno berpikir, mungkin dalam pembicaraan yang santai itu, ia bisa memperoleh informasi tersirat. Sementara Bu Mariyati menghidangkan sepiring gorengan dan teh manis untuk menemani perbincangan itu.
__ADS_1
"Mungkin masing-masing dari kita bisa menceritakan momen paling menyenangkan yang pernah kita alami. Kita bisa berbagi cerita di sini, dan kita akan persilakan yang lain untuk bertanya dan menanggapi. Siapa yang akan mulai duluan?" ucap Reno.
Semua yang ada di situ saling berpandangan. Rupanya mereka tak ingin bercerita pagi itu, atau merasa kurang nyaman dengan keadaan. Reno masih tetap menunggu, sambil menatap mereka satu-persatu.
"Laura? Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Reno.
Wanira cantik itu tersenyum canggung. Ia kelihatan bingung, tetapi sepertinya memang ada yang ingin disampaikannya, hanya saja ia merasa sedikit malu. Henry menatap Laura seolah tanpa berkedip.
"Momen menyenangkan? Apa ya? Aku sih senang kalau hasil karyaku bisa diterima khalayak luas. Jujur, pengalaman main film-ku masih sangat terbatas, tak sebanyak para artis senior yang ada di sini. Namun aku senang belajar hal-hal baru. Ini membuatku bersemangat dan senang. Apalagi kalau ada yang memberi semangat saat kita jatuh, pasti akan sangat menyenangkan," ucap Laura dengan mata berbinar.
"Tapi tanpa perlu merebut kebahagiaan orang lain kan?" cibir Rianti.
"Aku tidak pernah merebut kebahagiaan orang lain," ucap Laura,
"Oya?"
Kembali Rianti tersenyum sinis. Melihat gelagat kurang baik itu, Reno segera menengahi.
"Oke, oke. Sungguh menarik Laura. Ada yang memberi tanggapan lain?"
Semua masih terdiam, sampai tiba-tiba terdengar suara berat penuh wibawa memecah keheningan. Reno merasa tak asing dengan suara itu.
"Selamat pagi!"
***
__ADS_1