Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
206. Produser


__ADS_3

Matahari baru saja menyingsing di ufuk timur. Kota yang padat itu mulai menggeliat. Para warganya mulai beraktivitas, mulai mengawali hari. Cuaca cerah, dengan hamparan langit tanpa awan, bersaput kemerahan ditimpa cahaya matahari. Cuaca seperti ini sangat cocok untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Beberapa warga kota menyempatkan untuk berolahraga pagi di taman kota atau ruang terbuka hijau lainnya.


Di sebuah rumah di kawasan pemukiman, tercium aroma kopi Toraja mengepul di meja teras, bersanding dengan roti berlapis keju dan sayur untuk sarapan. Dimas menghirup napas dalam-dalam menyambut pagi yang hangat. Kicauan burung-burung di dahan membuatnya lebih bersemangat. Ia merapatkan cardigan rajutnya, kemudian mengambil beberapa butir vitamin dari sebuah botol kecil. Ia menenggak butiran vitamin itu sekaligus.


Hidungnya masih terlihat merah dan berair. Sejak semalam ia bersin-bersin, dan kondisi tubuhnya terasa tidak fit. Ia memilih untuk tidak pergi ke kantor hari ini, untuk memulihkan kondisinya. Paling tidak, pikiran-pikiran berat tidak membebani, sehingga ia benar-benar merasakan bersantai tanpa gangguan pekerjaan.


Sebuah mobil berhenti di luar pagar rumahnya. Seorang pria gagah melempar senyum padanya, kemudian masuk ke dalam halaman depan.


“Kudengan kamu sakit Dim. Makanya aku kesini,” ucap pria berkacamata hitam itu.


Dimas tersenyum. Ia tidak menyangka kalau Reno, rekan sekerjanya akan mengunjungi sepagi ini. Ia segera mempersilakan Reno duduk di kursi teras.


“Aku sedikit kurang badan, Ren. Entahlah, mungkin terlalu lelah akibat kasus kemarin. Kamu kesini pasti ingin mengecek bahwa aku sakit betulan atau nggak kan? Aku sakit beneran,” ucap Dimas sambil tertawa.


Reno tertawa mendengar itu. Ya, sebenarnya ia memang ingin melihat kondisi Dimas. Pada awalnya ia berpikir bahwa Dimas berpura-pura sakit. Namun, setelah melihat kondisinya. Reno dapat memaklumi kalau rekan kerjanya itu memang benar-benar tidak enak badan.


“Oya, kudengar ada pembunuhan ya tadi malam?” tanya Dimas.


“Ya, itu juga salah satu sebab aku menemuimu hari ini. Daniel Prawira, sutradara terkenal itu terbunuh du gedung studio film-nya. Sejauh ini masih kita selidiki apa motif serta kronologis kejadiannya. Belum ada tersangka atau pun saksi yang kita wawancarai. Namun, firasatku mengatakan ini akan menjadi kasus baru yang panjang,” terang Reno.


“Maksudmu ... ini semacam pembunuhan berantai lagi?” tanya Dimas penasaran.

__ADS_1


“Ya, aku melihat ada sepuluh orang terlibat dalam hal ini. Mereka terdiri dari artis dan kru film. Salah satunya sempat kulihat ada Laura Carmellita, artis favoritmu. Sepuluh orang ini lah yang terakhir bersama Daniel. Rencanaku aku akan mewawancarai mereka satu-persatu. Namun, aku masih mengumpulkan bukti-bukti di lapangan terlebih dahulu,” kata Reno.


“Wah, semoga bukan dia pelaku pembunuhan ini. Lalu, kamu sudah mengumpulkan bukti-bukti itu?” tanya Dimas.


“Aku sudah mendapatkan beberapa bukti yang terlihat secara fisik. Namun, belum mendalaminya lebih detail. Nah, karena itu aku kesini untuk meminta bantuanmu lagi. Aku nggak mungkin menyelidiki ini sendirian. Tapi, kalau kamu kurang sehat begini, ya ... mungkin aku harus menunggu sampai kamu bener-bener sehat,” ucap Reno.


“Sepertinya kasus menarik, Ren. Kok aku tertarik untuk ikut menyelidiki ya? Tapi tunggu aku baikan yah. Aku akan bantu kamu menangani kasus ini. Apalagi ini melibatkan beberapa artis. Pasti seru. Kuharap mereka hanya pandai berakting di adegan film, bukan di kehidupan nyata!”


Dimas berkata dengan bersemangat. Reno hanya mengangguk-angguk, kemudian ia mengambil kopi milik Dimas dan segera meminumnya.


“Loh, itu kan kopiku!” protes Dimas.


“Aku sangat tertarik minum kopi ini gara-gara mencium aromanya. Tapi nunggu kamu nawarin ternyata nggak ditawar-tawarin,” ucap Reno dengan tanpa rasa bersalah meminum kopi milik Dimas.


***


Kini, studio film tempat lokasi pembunuhan, untuk sementara ditutup karena masih digunakan untuk penyelidikan polisi. Kegiatan operasional dialihkan ke lantai 8, karena ada banyak ruang kosong di sana.


Pagi itu, Riky merapikan tempat kerjanya yang baru. Banyak yang harus ia pindahkan, terutama berkas-berkas yang menumpuk. Beberapa pegawai juga turut membantu memindahkan barang-barang. Atas perintah Reno, mereka tidak boleh menyentuh barang-barang yanga da di ruangan Daniel, karena masih digunakan untuk kepentingan penyelidikan.


Tiba-tiba, Riky mendengar suara orang mengomel di ruang depan. Dalam hati, ia bertanya-tanya siapa yang mengomel pagi-pagi begini? Ia beranjak ke depan untuk melihat siapa yang datang. Ternyata ada seorang pria gendut beretnis India, berkepala botak, berpakaian rapi sedang mengomel dihadapan Guntur Dirgantara, si penulis skrip film. Sebenarnya ia tidak ingin turut campur urusan mereka, tetapi Riky tetap bisa mendengar omelan-omelan itu. Bukan hanya Riky, tetapi semua orang yang ada di sana bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Apapun alasannya aku mau proyek film ini terus berjalan! Kematian Daniel bukan berarti proyek film ini juga berhenti. Nanti aku carikan sutradara yang lebih hebat. Pihak sponsor tak mau rugi. Kita harus lanjutkan proyek ini segera! Jangan jadikan penyelidikan polisi menjadi penghambat. Urusan kalian diperiksa polisi itu adalah urusan kalian. Ini urusannya adalah duit banyak. Kalau sampai terhenti, matilah kita semua. Perusahaan film ini akan mendapat reputasi buruk dan terancam gulung tikar. Paham kamu?” ucap pria berapi-api, di hadapan Guntur.


Pria itu adalah Govind Punjabi, produser film yang sedang dibuat oleh Daniel dan kawan-kawan. Tentu saja, penundaan penayangan film berarti kerugian besar buatnya.


“Iya, Pak. Namun saya rasa kita tidak bisa mulai dalam jangka waktu satu atau dua bulan ini. Karena kita menyiapkan semua dari awal. Mencari sutradara baru tidak segampang itu, apalagi sutradara bagus. Mereka semua sudah mempunyai jadwal film sendiri-sendiri. Jadi kurasa, kita perlu menunda proyek ini sampai benar-benar matang, agar kualitas film yang dihasilkan juga bagus,” terang Guntur.


“Kamu bicara seperti itu karena kamu tidak keluar duit! Pokoknya aku nggak mau tahu, aku nggak mau rugi. Nanti malam, kita bicarakan ini. Aku mau semua artis dan kru yang terlibat bisa berkumpul. Film ini harus tayang di akhir tahun menjelang tahun baru. Publik sudah menantikan film ini karena ini adalah season kedua. Jangan sampai terlambat tayang!”


“Saya paham, Pak!” jawab Guntur.


“Riky mana! Aku mau bicara sama dia. Dia kan asisten sutradara. Dia juga harus ikut bertanggungjawab dengan film ini. Jangan hanya diam dan menunggu. Sia-sia saja kalian dibayar kalau tidak punya inisiatif!”


Riky yang mendengar namanya disebut, segera menampakkan diri. Govind Punjabi masih terlihat gusar, parasnya masih menunjukkan kemarahan.


“Iya Pak. Maaf saya lagi beres-beres di dalam .... “ Riky berkata takut-takut.


“Nanti malam siapkan tempat! Kita akan membicarakan kelanjutan film ini. Kalau sampai diundur, maka kupastikan kalian semua akan dipecat dan digantikan orang baru. Jangan dikira aku main-main! Kalau perlu aku juga bisa mengganti para artis yang terlibat!”


“Ba-baik, Pak. Bapak mau mengadakan pertemuan di mana?”


“Sewa salah satu resto yang ada di kota ini, kita akan mengadakan rapat sekaligus makan malam di sana!” perintah Govid Punjabi.

__ADS_1


Riky tak punya alasan untuk menolak sabda produser itu, Bagiamanapun, produser adalah penyandang dana. Tanpa seorang produser, mungkin proyek film ini tak pernah berjalan. Ia melupakan ruangan yang berantakan, bersegera melaksanakan apa yang diperintahkan sang produser.


***


__ADS_2