
Ringo mendapati Sonya yang gelisah di dekat kolam renang. Gadis itu mondar-mandir, sambil melayangkan pandangan ke arah kastil. Ia tak sabar menanti Melly yang tak kunjung kembali dari toilet. Ia merasa lega saat melihat kehadiran Ringo.
“Ringo, untung kamu cepat datang! Mana Tony?” tanya Sonya.
“Tony masuk ke dalam kastil untuk bicara dengan Kak Hans. Mana Melly?” tanya Ringo.
“Melly tadi minta izin untuk buang air kecil sebentar, tetapi kok belum kembali ya? Jangan-jangan dia tersesat dalam kastil itu,” ucap Sonya.
“Kuharap dia nggak kenapa-kenapa.”
“Ringo, kok lehermu berdarah?” tanya Sonya.
“Nah, ini ada hubungannya dengan sesuatu yang hendak kukatakan dengan kalian. Sepertinya ada kejadian buruk di tempat ini. Leherku dijerat oleh sesosok orang yang tidak dikenal. Bahkan dia menyekapku dalam sebuah peti mati!” ucap Ringo.
“Astaga! Kamu nggak lagi nakutin aku kan?”
“Nakutin kamu? Apa untungnya buat aku? Ini serius! Kamu nggak lihat ban mobil kita di depan kempes semua. Pasti ada yang sesuatu yang buruk terjadi di sini. Makanya Antony masuk ke kastil intuk mengingatkan siapa saja yang ada di dalam,” terang Ringo.
“Jadi apa yang di alami Melly itu benar?”
“Iya, tentu saja! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana sosok itu mengambil barang-barang milik Melly. Ia juga banyak memasang jebakan di hutan. Sungguh mengerikan sekali,” kata Ringo.
“Tiba-tiba aku mengkhawatirkan Melly,” cemas Sonya.
“Apa kita cari ke dalam saja ya?” usul Ringo.
“Oke. Tadi aku juga mau cari ke dalam. Tapi aku takut sendirian masuk ke dalam, karena aku kan orang asing. Salah-salah nanti dikira aku penyusup.”
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Ben yang memanggil dari arah belakang. Mereka memalingkan muka, melihat Ben yang mendekat dengan wajah cemas.
“Kalian sudah datang rupanya. Mana yang lain? Ayo kita pergi dari tempat ini!” ajak Ben.
__ADS_1
“Sepertinya rencana kepulangan kita sedikit tertunda. Mobil yang rencananya akan kita pakai pulang sedang bermasalah. Tony sedang mencari solusi untuk itu, sekaligus mengingatkan bahwa di sekitar ini ada hal buruk,” urai Ringo.
“Tepat seperti dugaanku! Aku juga merasa begitu. Ada yang nggak beres di tempat ini. Makanya dari tadi aku mencari polisi yang katanya ada di kastil ini. Tapi perempuan aneh itu tak mengizinkan,” gerutu Ben.
“Perempuan aneh? Siapa?” tanya Sonya.
“Helen. Dia wanita paruh baya yang mengurusi kastil ini. Tetapi aku mencium gelagat aneh darinya. Makanya aku nggak mau lama-lama di sini. Saat tidur malam, kadang aku merasa nggak aman. Bahkan ada suara jeritan perempuan yang entah datang dari mana. Pokoknya sangat menyeramkan!”
“Ya udah, kita cari Melly ke dalam yuk! Perasaanku nggak enak nih!” ajak Sonya.
“Emang kemana Melly?” tanya Ben.
“Dia mencari toilet ke dalam, tapi belum kembali juga. Aku khawatir banget,” jawab Sonya.
“Baik. Kita cari ke dalam ya, sekalian mencari Antony juga.”
Mereka bertiga setuju, kemudian masuk ke dalam kastil dari pintu belakang yang menghubungkan langsung dengan dapur. Mereka terlihat bingung karena banyak lorong dan ruangan dalam kastil, sehingga bingung hendak kemana.
Untunglah, di saat yang sama mereka bertemu dengan Reno dan Maira yang sepertinya juga berkeliling di sekitar tempat itu. Polisi itu kaget melihat kehadiran sekelompok anak muda di dapur. Maira yang sudah pernah bertemu tentu tidak terlalu heran. Ia langsung menyapa mereka.
“Kak Maira? Iya Kak, kami berencana pulang ke kota sore ini, tetapi mobil sepertinya lagi ada masalah jadi kami bingung. Kami juga sedang mencari teman kami yang pergi ke toilet dari tadi, tapi tak kunjung kembali.”
Sonya menerangkan, sementara yang lain mengiyakan. Sebelum Maira menanggapi, Reno sudah angkat bicara.
“Tunggu! Kalian anak-anak dari kota yang berwisata di sekitar tempat ini? Apakah mobil yang di depan itu mobil kalian?” tanya Reno.
“Iya Pak. Itu mobil kami, tetapi ban mobilnya ada yang sengaja membuat kempes, jadi nggak bisa pulang. Maaf, apakah Anda pemilik kastil ini?” Ringo balik bertanya penuh selidik.
“Oh, aku Reno. Polisi yang sedang menyelidiki sebuah kasus. Kurasa kalau kalian tidak ada kepentingan, sebaiknya segera meninggalkan tempat ini, karena mungkin akan berbahaya. Atau kalau memang tidak bisa hari ini, kalian bisa tinggal dalam satu tempat. Jangan berpencar!” Reno mengingatkan.
“Anda polisi? Wah kebetulan sekali. Aku sedang mencari seseorang untuk memberitahu tentang sesuatu yang kutemukan dalam hutan!” ucap Ben bersemangat.
__ADS_1
“Apa yang kamu temukan di hutan?” tanya Reno penasaran.
“Aku menemukan sebuah pondok tua yang misterius. Di dalam pondok itu ada benda-benda aneh, juga terdapat kerangka manusia. Aku juga menemukan sebuah identitas yang sudah rusak, dengan nama pemilik yang sudah buram. Tertulis nama MAD dalam identitas itu,” terang Ben.
“Pondok tua? Aku nggak tau lho kalau di sana ada pondok tua!” Maira menanggapi.
“Iya Kak! Sebuah pondok tua. Aku juga melihat itu. Bahkan aku melihat seseorang berjubah hitam yang hendak mencelakaiku. Dia mencuri barang-barang Melly serta menjerat leherku dengan benang tajam.”
Ringo memperlihatkan bagian lehernya yang terluka. Masih ada bercak darah di sana. Maira bergidik, karena ia kembali teringat saat lehernya juga dijerat oleh seseorang dalam ruang baca. Ben juga terkejut, karena tidak menyangka Ringo mengalami kejadian yang mengerikan dalam hutan.
“Nah kan! Ini sama persis yang pernah kualami, Reno! Pasti orangnya sama dengan yang menjerat leherku di ruang baca,” ucap Maira.
“Tunggu! Tunggu! Kalian buat aku takut beneran. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?” tanya Sonya makin cemas.
“Sekarang begini saja. Karena kondisi tidak bagus dan mungkin membahayakan. Kalian cari tempat yang aman malam ini. Lebih baik satu ruang saja, jangan terpisah. Maira, kamu bisa bantu aku mencarikan tempat buat mereka kan? Tapi jangan sampai bilang ke Helen. Aku nggak percaya wanita itu. Pastikan anak-anak ini aman!” kata Reno.
“Baik. Aku akan mencarikan tempat untuk kalian,” angguk Maira.
“Maaf, Pak. Bisakah kami para laki-laki membantu Anda? Sebab sampai saat ini Melly, salah satu teman kami masih belum muncul,” usul Ringo.
“Aku tidak bisa melibatkan kalian dalam situasi berbahaya ini. Kalau kalian ingin membantu, lebih baik kalian jaga teman perempuanmu, itu akan sangat membantu. Aku yang akan cari temanmu itu. Kalian nggak usah khawatir. Bila perlu apa-apa, hubungi saja Maira. Dan jangan pedulikan orang yang nggak kalian kenal, karena itu berbahaya!”
Ringo mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan Reno. Maira segera bertidak cepat, sementara Reno kembali ke dalam kastil. Maira mencari sebuah ruangan yang agak luas, dengan dua kamar tidur di dalamnya. Ruangan itu terletak di sayap kiri kastil agak ke belakang.
“Pakailah ruangan ini, dan jangan bicara dengan siapa pun, terutama Helen. Dia berbahaya. Kalau butuh apa-apa, kamu boleh cari aku,” saran Maira.
“Siapa sih Helen?” celetuk Sonya.
“Dia adalah pengurus kastil yang kusebut wanita aneh tadi. Aku udah tahu kok,” jawab Ben.
“Baik. Kutinggal dulu ya! Jaga diri baik-baik!” pesan Maira.
__ADS_1
Semuanya mengangguk, tetapi dalam hati merasa cemas juga karena Melly belum juga terlihat. Mereka khawatir sesuatu yang buruk terjadi, karena beberapa peristiwa kehilangan di hutan, mengarah pada barang-barang Melly.
***