Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXIV. The Cars


__ADS_3

Semua kembali ke kamar masing-masing dengan perasaan risau. Peristiwa yang baru saja terjadi sangat menggetarkan hati. Sementara jasad Cornellio masih tergeletak bersimbah darah di kamarnya. Michael mengunci kamar tersebut, kemudian membuka kamar Ammar dengan lunglai, seolah tanpa tenaga.


Ammar menatap kehadiran Michael dengan penuh tanya. Ia penasaran dengan suara letusan yang terjadi di kamar Cornellio. Sayangnya, ia tak dapat keluar dari kamar. Selain kamar terkunci, kondisi kakinya juga tak memungkinkan untuk bergerak kemana-mana.


“Apa yang terjadi? Ceritakan padaku!” desak Ammar.


Michael hanya menghela napas. Ia sebenarnya tak ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi, tetapi ia harus lakukan. Ia tak dapat menangani ini sendiri, jadi harus meminta petunjuk dari Ammar.


“Maafkan aku,” gumam Michael. Wajahnya tertunduk lesu, tak berani menatap mata Ammar.


“Katakan apa yang terjadi!” desak Ammar.


“Cornellio tidak selamat ... aku gagal menyelamatkannya,” desah Michael.


Ammar tercekat, tak mempercayai dengan apa yang dikatakan Michael barusan. Padahal selama ini, ia sudah mengeluarkan Cornellio dari daftar tersangka. Itu artinya Cornellio dapat meninggalkan kastil kapan pun dia mau. Sungguh, yang baru saja terjadi membuat Ammar terdiam. Wajahnya memucat.


“Ini ... ini gila! Bagaimana mungkin ini terjadi?” gumam Ammar.


“Maafkan aku, Ammar. Aku tak bisa melindunginya. Dia kembali dari kota dengan peralatan medis, kemudian kembali ke kamar untuk berkemas. Ia akan meninggalkan kastil ini. Sayangnya sebelum ia pergi, pembunuh itu telah menunggu di kamarnya. Kali ini ia tidak beruntung,” ucap Michael sambil menggelengkan kepala.


“Kurang ajar! Aku akan tangkap pembunuh itu dengan tanganku sendiri!” Ammar terlihat emosional. Rahangnya terkatup saling menghimpit menahan amarah yang meledak di dada.


“Bersabarlah. Kita tidak tahu siapa pembunuh itu. Banyak yang menghilang di kastil ini. Dokter Dwi belum ditemukan, sekarang Tiara juga menghilang. Aku merasa tertekan sekali dengan keadaan di sini. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Michael.


Ammar terdiam sejenak. Tatapannya menerawang. Dalam hati, ia menyesali keadaan luka di kakinya, hingga ia tak bisa bergerak dengan leluasa. Pikirannya kalut. Ia tak dapat memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Di sisi lain, ia masih belum percaya dengan Michael. Ia merasa serba salah.

__ADS_1


“Yang harus kamu lakukan adalah menunggu,” ucap Ammar datar.


“Menunggu apa? Menunggu kita semua tewas?” tanya Michael sedikit geram.


“Tunggulah sampai besok pagi. Kita membutuhkan petugas medis untuk mengangkut jenazah Cornellio, dan tentu saja polisi lain. Kalau saja ada mobil, tentu dapat dipakai ke kota untuk meminta bantuan,” terang Ammar.


“Baik! Ada mobil. Kamu mau berapa? Ada dua mobil tidak dipakai untuk saat ini. Yang pertama adalah mobil anak-anak muda yang dipinjam Cornellio tadi siang, dan ada mobil lain yang masih diparkir di depan. Mobil teman Cornellio, dia masih menunggu. Aku bisa menumpang ke kota bersamanya!” ucap Michael.


Ammar menatap tajam mata Michael, seperti tak percaya. Ia menggelengkan kepala.


“Kurasa bukan harus kamu yang pergi ke kota. Ingat! Peristiwa pembunuhan yang ada di kastil ini sangat mirip dengan skenario yang kamu buat di novelmu. Aku tak bisa mempercayaimu begitu saja!” ujar Ammar.


“Astaga! Ini gila! Bahkan di saat genting seperti ini kamu masih berpikir bahwa aku adalah dalang dari semua kekacauan ini! Ayolah, Ammar! Apakah aku bertampang seperti pembunuh? ” Michael mulai gusar.


“Justru di saat genting ini orang akan melakukan apa saja untuk menutupi kebohongannya. Maaf, aku tidak mengizinkan kamu pergi. Lebih baik aku menyuruh Elina. Dia sama sekali tak ada sangkut paut dengan ini semua,” ucap Ammar.


***


Arvan tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Karena kelelahan ia tak sengaja tertidur di kursi depan mobilnya. Suara musik rancak masih terputar dari radio mobil. Ia panik sesaat, karena di sekitarnya begitu gelap. Ia melongok ke jendela, melihat ke arah kastil. Bangunan itu tampak berdiri kokoh, menyeramkan. Cornellio, orang yang ditunggu-tunggunya tak kunjung bersua.


Ia lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam lewat. Mengapa Cornellio tak kunjung keluar? Bukankah dia tadi sudah berjanji akan keluar secepatnya? Arvan merasa cemas karena hari mulai larut. Padahal mereka akan menempuh perjalanan panjang membelah perkebunan teh menuju kota.


Suasana sekitar kastil terlihat senyap. Suara jangkrik berderik secara ritmis berpadu dengan gemerisik dedaunan yang ditiup angin. Karena tidak sabar menunggu, ia keluar dari mobil, hendak menyusul ke dalam kastil. Segera dimatikannya radio mobil. Lampu tengah kastil tampak masih menyala. Ia menduga masih ada seseorang yang terjaga di dalam sana.


Baru beberapa langkah ia berjalan, tatapannya tertuju pada sesuatu yang aneh. Mobil yang dipinjam Cornellio tadi siang tampak tidak seperti biasanya. Ban depan dan belakang tampak kempes! Arvan bingung. Baru tadi siang mobil itu baik-baik saja, sekarang keempat ban sudah kempes tanpa alasan yang jelas. Ia memeriksa sejenak, sembari mengumpat.

__ADS_1


“Sial!”


Belum hilang rasa terkejutnya, ia melihat mobilnya sendiri juga mengalami hal yang sama. Keempat ban juga kempes. Rasa mencekam menyergap seketika. Ia merasa ada yang tak beres dengan kejadian ini. Ia kembali ke mobil untuk memeriksa ban mobilnya sendiri. Rasa cemas semakin menguat, ketika melihat ban terkoyak dengan sebuah benda tajam secara sengaja.


“Apa-apaan ini! Siapa yang melakukan hal gila ini?” gumamnya.


Ia merasa tegang, melihat sekeliling kastil yang gelap. Tak ada seorang pun bersua. Rasa takut memaksanya untuk kembali ke dalam mobil. Ia duduk dengan perasaan semakin tegang. Suasana mencekam. Degup jantung berdetak tak beraturan. Ia berharap agar pagi segera datang, dan ia bisa menumpang siapa saja yang kebetulan ke kota.


Ia ingin mengetuk pintu kastil, tetapi diurungkannya niat itu. Dikuncinya pintu mobil, terdiam seribu bahasa di kursi depan. Ia ingin menghidupkan mobil, tapi apa daya ban mobil telah kempes.


Tok-tok-tok!


Tiba-tiba ia mendengar kaca mobil bagian belakang diketuk perlahan. Ia mendesah lega, karena yang dipikirannya saat itu adalah Cornellio. Ia membuka pintu mobil, kemudian turun. Sayangnya tak ada siapa-siapa. Di belakang mobil ia melihat sosok hitam berdiri tenang tanpa suara.


“Cornellio? Apakah itu dirimu? Kenapa kamu lama sekali?” tanya Arvan sambil memicingkan mata.


Sosok itu diam tak menjawab, seperti menunggu Arvan. Hal ini membuat Arvan penasaran.


“Cornell! Apa kamu sedang bercanda? Aku sedang tak ingin bercanda. Lekas naik mobil dan kita segera pergi dari sini! Aku nggak peduli dengan ban kempes! Nanti kita cari tambal ban dan perbaiki ban sialan ini! ” perintah Arvan.


Sosok itu masih terdiam. Karena gelap, arvan tak dapat melihat jelas siapa yang sedang berdiri di belakang mobil. Kemudian ia mengangkat bahu.


“Terserah kau lah, Cornell!”


Arvan hendak kembali masuk ke mobil. Tiba-tiba dengan gerakan cepat ia merasa ada yang menyusul. Sosok itu tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya di kursi depan!

__ADS_1


***


__ADS_2