
Sore kembali menyapa, dengan mendung yang menghampar merata di seluruh penjuru langit. Angin berhembus lebih kuat, menerbangakan debu dan dedaunan kering. Penghuni rumah isolasi yang tadinya berkumpul di teras depan sambil minum teh, memutuskan untuk masuk kamar masing-masing atau beraktivitas di dalam rumah. Namun, dalam hati mereka tersimpan rasa was-was, karena beberapa peristiwa membuktikan bahwa kamar bukan tempat paling aman. Seseorang yang berniat jahat bisa saja menyusup dan melakukan hal-hal tak terduga.
Setelah kejadian yang menimpa Widya, para penghuni wanita menjadi cemas. Apalagi yang tersisa hanya Laura dan Rianti. Mereka tidak mempunyai kecocokan satu sama lain, seolah sedang melancarkan perang dingin. Bahkan untuk naik ke kamar, mereka harus saling menunggu, siapa yang harus naik tunggu duluan. Pada akhirnya, Laura yang harus mengalah. ia bergegas naik ke tangga, tanpa mempedulikan Rianti yang masih di bawah.
Sementara para pria berniat bermain billyar di ruang tengah, sedangkan Ollan memutuskan untuk kembali ke kamar. Di dalam ruang billyar, Ammar sedang duduk di sebuah kursi santai sambil menikmati teh. Dia penggemar permainan billyar juga, tetapi saat ini kondisi masih belum terlalu memungkinkan.
"Kalau saja aku sehat seperti kalian, aku akan bergabung, dan membuktikan bahwa aku pemain billyar yang hebat!" ucap Ammar.
Para pria itu tak meragukan kemampuan Ammar. Mereka merasa tertantang dengan ucapan Ammar, sehingga dengan senang hati mereka mempersilakan Ammar untuk menjadi juri yang adil dalam permainan billyar kecil-kecilan yang mereka gelar, untuk membunuh rasa bosan. Mereka sedang menyiapkan permainan, ketika udara di luar makin dingin. Angin menderu tak bersahabat, sehingga Bu Mariyati harus menutup jendela-jendela. Beberapa lembar daun kering sampai masuk ke dalam rumah karena terbawa angin.
Di bagian lain, Ollan juga segera masuk ke dalam kamar. Ia tak tertarik bergabung bermain billyar. Ia lebih tertarik untuk berbaring sambil membuka-buka majalah tentang kosmetik dan kecantikan. Ia ingin menjelajah majalah yang memuat katalog produk kosmetik terpopuler di tahun ini. Namun, sebelum ia membaringkan diri di ranjang, ia melihat sebuah amplop putih di lantai. Sepertinya ada seseorang yang memasukkan amplop itu ke kamar melalui lubang di bawah pintu. Ollan penasaran, apa isi amplop itu?
Ollan segera memungut amplop. Isinya adalah selembar kertas kecil berisi tulisan tangan yang sedikit berantakan karena ditulis secara serampangan. Alat tulis yang digunakan jelas bukan pensil atau bolpoin seperti biasanya, tetapi sepertinya tulisan itu ditulis menggunakan pensil alis.
Selamat datang, Ollan! Urusan kita belum selesai. Mari kita selesaikan malam ini!
Deg!
Dada Ollan langsung berdegup kencang setelah membaca isi kertas itu. Ia sadar, bahwa saat ini nyawanya belum benar-benar aman, karena si pembunuh masih menginginkan kematiannya. Segera saja ia menuju ke arah pintu dan menguncinya. Kemudian ia melangkah perlahan ke arah ranjang, menengok di bawah kolong, kalau-kalau ada seseorang yang menyelinap di sana. Untunglah, kolong ranjang dalam keadaan aman. Ia juga memeriksa bagian-bagian kamar, ternyata semua aman.
__ADS_1
Ia meraih ponsel dari dalam saku baju. Dari semua penghuni yang ada di rumah isolasi. hanya dirinya satu-satunya yang diizinkan membawa ponsel, sedangkan yang lain tak diizinkan. Ia segera menelepon Reno. Ia berharap agar polisi itu segera mengamankannya.
Panggilan dari Ollan segera direspon oleh Reno yang sedang berada di kamarnya. Ia segera menuju ke kamar Ollan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ollan terlihat panik. Ia menyerahkan lembaran kertas itu kepada Reno.
"Aku menemukan di dalam amplop di bawah pintu," ucap Ollan.
"Tenang Ollan, kamu nggak perlu panik. Kami akan lindungi kamu malam ini. Jadi kamu nggak perlu panik ya!"
Reno mencoba menenangkan Ollan yang tak dapat menutupi rasa takutnya. Sayangnya, Ollan masih belum bisa menghilangkan rasa cemasnya. Ia menggeleng cepat.
"Aku nggak mau di sini, Pak! Antar saja aku pulang!" paksa Ollan.
"Ma-maksud Bapak, aku akan jadi umpan?"
"Kamu jangan panik Ollan. Aku akan jamin keselamatanmu. Kamu tidak akan kenapa-kenapa, karena aku sudah menyiapkan sebuah rencana. Tapi kau jangan bilang ke siapa-siapa. Untuk saat ini kamu tetap saja di dalam kamar dalam keadaan terkunci, dan jangan izinkan siapa pun masuk kecuali aku. Aku akan ke sini untuk memantaumu. Oke? Ingat jangan pernah keluar dan jangan tinggalkan kamar! Nanti aku yang akan mengantar makan malam buat kamu. Kamu nggak usah khawatir!" pesan Reno.
"Aku ... aku trauma dengan kejadian di villa kemarin, Pak!"
"Kondisinya berbeda Ollan. Di villa kemarin kamu benar-benar sendirian tanpa ada yang menjagamu. Di sini, ada aku dan beberapa polisi lain. Hanya orang yang punya nyali tinggi yang akan berbuat bodoh dan nekat. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Kalaupun pesan itu hanya jebakan, yang penting kamu aman. Kami akan meningkatkan kewaspadaan malam ini!"
__ADS_1
Reno berusaha meyakinkan Ollan yang masih merasa cemas. Pada akhirnya ia mengangguk perlahan. Ia berusaha mempercayakan semua pada Reno.
"Jadi nanti rencananya gimana Pak?" tanya Ollan.
"Begini Ollan, aku tak tahu pesan yang kamu terima itu serius atau hanya gertakan semata. Yang jelas, antisipasi harus tetap dilakukan. Nah, setelah ini kita akan bertukar kamar, tetapi jangan pernah bilang siapa pun. Kita lakukan dengan diam-diam, tanpa diketahui siapa pun. Bahkan aku juga tak akan memberitahu Ammar, Pak Paiman, atau yang lain. Ini rahasia kita berdua. Malam ini, kamu tidur di kamarku dan aku akan tidur di sini. Walaupun begitu, kamu harus tetap waspada di sana. Jangan lengah dan jangan sampai membuka pintu, dengan alasan apa pun. Kau paham?" tegas Reno.
Ollan hanya mengangguk. Namun dia khawatir rencana itu bocor. Kalau saja pembunuh itu tahu dia bertukar kamar, maka rencana itu akan sia-sia. Si pembunuh akan tetap memburunya di kamar Reno. Tentu kondisinya akan lebih berbahaya, karena kamar Reno justru tak dijaga dengan ketat.
"Aku tahu kau masih tetap ragu, Lan. Kalau kau masih ragu biar kusuruh seorang polisi menemanimu di kamar. Tapi jangan kau apa-apakan dia ya!" canda Reno.
"Ah, Bapak ini!" Ollan terlihat manyun mendengar candaan itu.
"Oke, jadi begitu teknisnya. Aku akan tidur di ranjangmu, pura-pura menggunakan selimut. Pintu tidak akan kukunci, jadi aku malah akan memancing si pembunuh itu masuk. Aku akan benar-benar menyergapnya ketika dia mulai mendekat. Sedangkan dirimu, tak perlu melakukan apa-apa, hanya perlu waspada saja. Atau kau perlu senjata atau apa untuk perlindungan diri?" tanya Reno.
"Ah, Pak Reno ngeledek aja sih! Aku takut pegang pistol. Biasanya kan aku pegang lipstik, Pak!"
Reno tertawa mendengar perkataan Ollan. Ia tidak ingin berdebat lagi. Setelah meyakinkan Ollan, ia keluar dari kamar Ollan. Sebelum keluar, tentu ia memeriksa keadaan dengan hati-hati, jangan sampai ada yang melihat ia masuk ke dalam kamar pria kemayu itu. Setelah dirasa aman, ia melangkah pergi meninggalkan kamar Ollan.
Rencananya, Ollan akan dipindah ke kamarnya sebelum makan malam, saat penghuni lain masih di dalam kamar mereka masing-masing. Ia berharap agar rencana itu bisa berhasil malam ini, dan tidak bocor ke penghuni lain.
__ADS_1
***