
Semua sudah menunggu kehadiran Reno dan Dimas di ruang tamu dengan perasaan bercampur-aduk. Adinda duduk di sebelah Ferdy, dengan perasaan tegang. Ia meremas-remas jari-jari tangannya untuk mengurangi rasa tegang. Sementara Ferdy yang duduk di sebelahnya spontan menggenggam jemari Adinda, seraya tersenyum kepada gadis itu.
“Semua akan baik-baik saja,” bisik Ferdy.
Adinda tersenyum kecil. Di bagian lain, Rasty juga menunggu dengan paras penasaran. Ia bersyukur, karena namanya telah dicoret dari daftar para tersangka. Namun, ia benar-benar menantikan momen kali ini. Ia penasaran, siapa sebenarnya dalang di balik segala kekacauan ini?
Di sebelah Rasty, ada Lena yang parasnya tak kalah tegang. Ia mengusap wajah cantiknya dengan selembar tisu. Bulir keringat mulai membasahi kening. Di saat tegang seperti ini, ia merasa hendak buang air kecil. Namun, ditahannya rasa itu. Ia menunggu kehadiran para polisi itu dengan rasa cemas.
Sementara di sisi lain ada Alex tampak tak terlalu tegang, tetapi tak pula dikatakan santai. Ia hanya diam sambil mengernyitkan dahi, seolah ada sesuatu yang berat membebani pikirannya. Ia berkali-kali mengusap janggutnya, sembari menghela napas.
Pak Paiman dan Bu Mariyati duduk agak terpisah dengan para tersangka, demikian juga Wandi. Walau mereka tak ada keterlibatan dengan kasus ini, mereka sangat antusias untuk mendengarkan penjelasan dua polisi untuk mengungkap kasus yang meresahkan warga kota ini.
Reno dan Dimas mengambil tempat di sebuah sofa panjang yang memang sudah disiapkan untuk mereka. Sebelum mereka mengungkap fakta-fakta, mereka tersenyum terlebih dahulu. Para penghuni semakin tegang.
“Maaf kalau kami membuat kalian menunggu. Seperti yang sudah kami janjikan kemarin, bahwa hari ini kita akan berusaha memecahkan teka-teki yang selama ini kita cari jawabannya. Aku tahu, kalian semua sedang tak sabar menunggu ini. Ya, kami pun tak sabar memberitahu kalian siapa sebenarnya si pelaku ini. Namun, kami sengaja mengulur waktu untuk menguatkan bukti-bukti yang kami punya, agar pelaku itu tak dapat mengelak saat kami dakwa. Terus terang, menurut kami kasus ini cukup menyita waktu dan tenaga. Namun, biar bagaimanapun juga, kita harus tuntaskan ini,” terang Reno.
“Ya benar. Saat ini memang sudah ada beberapa korban berjatuhan. Semoga jiwa mereka tenang, karena saat ini nama pembunuh mereka sudah kami kantongi. Kami akan mengungkap fakta-fakta mulai dari awal bergulir sampai dengan detik ini. Silakan, mungkin Pak Reno bisa sampaikan?” tawar Dimas.
“Kurasa kamu saja yang sampaikan, Dim. Nanti aku akan menambahkan,” kata Reno.
“Baik. Saya akan menyampaikan fakta awal terlebih dahulu. Seperti yang kita tahu, kasus ini berawal dari penemuan mayat seorang gadis bernama Jenny Veronica oleh dua orang pemancing di sebuah danau. Jasad Jenny ini sudah rusak, karena penemuannya sudah agak lama dari waktu kejadian pembunuhan. Kami sudah mengindentifikasi jasad, dan kami pastikan Jenny meninggal dalam keadaan tidak sadar karena kami menemukan senyawa racun dalam lambungnya. Dan dapat dipastikan pula bahwa Jenny ini dalam keadaan hamil. Awalnya kami kira motif pembunuhan ini adalah dendam dan asmara. Ternyata seiring berjalannya waktu, motif kasus ini tak hanya sekedar asmara, tetapi ada motif tersendiri yang memang dipendam oleh pelakunya,” ucap Dimas seraya menghela napas.
__ADS_1
Semua penghuni masih mendengarkan dengan antusias, tanpa bersuara. Mereka sungguh tak sabar mendengar penjelasan Dimas. Paras-paras mereka sudah terlihat gelisah.
“Saya lanjutkan kembali. Ada air putih?” tanya Dimas.
Bu Mariyati segera mengembilkan segelas air putih untuk Dimas. Sebelum polisi itu meminumnya, ia melihat air itu dengan saksama, seraya tersenyum.
“Aman dari racun kan, Bu?” tanya Dimas.
“Oh, past aman, Pak! Saya sendiri yang menuangnya,” ucap Bu Mariyati.
Setelah Dimas meminum air, ia kembali melanjutkan penjelasannya.
“Kasus pembunuhan kedua adalah Alma. Gadis ini tewas karena kepalanya dibenturkan di mobil di tempat parkir bawah tanah rumah sakit saat dia mengantar ibunya berobat. Saya membayangkan, betapa keji pembunuh ini. Ia melakukan setiap pembunuhan dengan tanpa perasaan. Bahkan dia bisa saja membunuh orang lain yang tak ada sangkut-paut dengan dirinya. Kami mengkonfirmasi bahwa Tari, seorang wanita yang tewas di Kampung Hitam dibunuh juga oleh orang yang sama. Keterangan dari saksi mata, bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam rumah itu sebelum wanita ini tewas.
Semua masih harap-harap cemas mendenger penuturan Dimas.
“Yang kami tahu, ternyata Alma memang berselingkuh dengan orang yang dekat dengan Gerry sendiri. Lalu kita akan beralih ke kasus penculikan Nayya. Kami juga menelusuri media sosial dan riwayat gadis ini. Ternyata Nayya dan pembunuh ini kenal sejak lama. Mereka terlibat hubungan bahkan sejak sebelum Nayya kuliah, tetapi Nayya tak terlalu menyukai si sosok yang katanya temperamen ini. Ia menolak sosok ini, dan setelah itu malah jadian sama Rudi. Hal ini memantik api dendam yang kembali berkobar. Itulah sebabnya Rudi menjadi salah satu target pembunuhan, demikian juga Nayya. Hanya sampai saat ini Nayya masih belum jelas keberadaannya, karena fakta terakhir yang kami dapatkan, Nayya disekap dalam sebuah apartemen. Kami sudah mengecek apartemen yang dimaksud, tetapi apartemen itu dalam keadaan kosong. Waktu kami mengecek nama penyewa apartemen itu, ternyata apartemen itu disewa atas nama Gerry, walau Gerry sendiri tidak tahu-menahu. Laporan menyebutkan bahwa jam tangan Gerry hilang, dan kami temukan jam tangan itu di lokasi kejadian tewasnya Alma,” terang Dimas.
“Kami kemudian juga berinisiatif untuk mengecek masa lalu kalian semua. Ada yang menarik di sini, yaitu kami menemukan fakta bahwa salah satu dari kalian adalah seorang yang bisa memotong daging dengan mudah. Mungkin warisan orang tua. Itulah sebabnya, ia bisa membantai seekor anjing dengan potongan-potongan yang rapi. Kami menemukan silsilah keluarga yang janggal. Mungkin bukan bukti kuat, tetapi tetap kami jadikan pertimbangan. Untuk pembunuhan Miranti, kami juga sadar bahwa Miranti dibunuh karena dia berada di tempat yang salah, sama halnya dengan Fani, rekan kami yang tewas terbunuh saat mengawal Gerry,” tambah Reno
“Kami juga mengungkap fakta bahwa sosok pembunuh ini mempunyai masa kecil yang tak begitu baik. Ia tidak ceria seperti anak-anak lain, berwajah murung, pendendam, dan suka menyiksa binatang. Kami mendapat keterangan itu dari guru kalian saat masih TK. Bu Delia, kalian masih ingat kan? Itulah sebabnya dia begitu tega membunuh anjing dan meracuni Agung, kucing Bu Mariyati,” lanjut Reno
__ADS_1
Bu Mariyati tampak berkaca-kaca mendengar penjelasan Reno. Ia memang begitu menyayangi kucing-kucingnya sepenuh hati.
“Lalu kami mencari fakta tentang mobil putih yang biasa digunakan sosok itu untuk berbuat jahat. Setelah kami telusuri, ternyata mobil putih itu adalah mobil sewaan. Ya, dia memperalat seorang gadis untuk menyewa mobil putih itu dengan menggunakan data palsu milik Jenny. Kami sudah mengantongi data gadis ini. Kami mengenali dari jaket yang ia kenakan ternyata adalah logo tempat dia bekerja. Wajahnya memang sedikit berbeda, karena ia menggunakan rambut palsu.
Lalu beralih ke racun yang digunakan untuk meracuni Rudi, ternyata jenis racun yang sama dengan racun yang ada di tubuh Jenny. Kami sudah telusuri racun itu, dan tentu saja bukan orang sembarangan yang bisa mendapatkan racun jenis itu. Kami sudah catat asal-muasal racun itu.”
Reno menghela napas sebentar, melihat perubahan paras dari semua penghuni yang ada di situ. Mereka seolah tak sabar menunggu penjelasan selanjutnya.
“Silakan lanjutkan, Dimas!” kata Reno.
“Baik. Sosok pelaku pembunuhan ini kami akui memang cerdas, pandai berkamuflase, dan tentu saja mempunyai daya tarik tinggi. Korban pertamanya adalah Jenny, yang meninggal dalam keadaan hamil, ternyata memang pernah punya hubungan dengannya. Lalu Alma juga, dan kemudian Nayya. Semua berakhir mengerikan. Ia bagai predator yang tak segan-segan menghabisi mangsanya,” ungkap Dimas.
“Maka merujuk dari hasil penyelidikan, keterangan saksi, dan fakta-fakta yang berlaku, maka kami pastikan pelaku dari semua ini adalah ....”
Reno menghentikan kalimatnya sejenak, karena Dimas motong pembicaraannya.
“Tunggu! Nanti kita akan berikan kesempatan pelaku ini untuk menyanggah tuduhan kami,” potong Dimas.
“Ya, tentu saja! Dia juga boleh menyanggah di pengadilan nanti,” ucap Reno.
Semua semakin penasaran, menunggu penjelasan dari kedua polisi ini, walau sebagana dari mereka juga telah menyimpulkan satu nama.
__ADS_1
***