
Malam mulai larut. Kegelapan menyelimuti suasana sekitar rumah isolasi yang senyap meraja. Suara serangga berderik-derik tak beraturan, berpadu dengan deru angin malam yang membekukan tulang. Tak ada lagi yang ingin keluar dari kamar malam itu. Masing-masing penghuni ingin menikmati malam di kamarnya masing-masing. Toh mereka tak perlu khawatir, karena Reno menambah penjagaan di luar, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Di kamar ujung lantai dua, Gilda juga merasa lelah. Ia berbaring sambil memeriksa foto-foto yang telah ia ambil menggunakan ponselnya. Foto itu ia ambil saat petugas medis mengevakuasi tubuh Widya siang tadi, setelah gadis itu melakukan percobaan bunuh diri. Rencananya. foto itu akan menjadi pelengkap berita yang akan ia tayangkan setelah ia keluar dari rumah isolasi. Reno melarang dengan tegas agar tak memberitakan kejadian apa pun di dalam rumah isolasi, selama proses isolasi berlangsung, agar tak memancing kericuhan publik, atau memancing kehadiran publik di tempat ini. Gilda terpaksa mematuhi aturan dari Reno tesebut.
Gilda menguap beberapa kali. Rupanya matanya mulai diserang rasa kantuk luar biasa. Rasa lelah mendera tubuh. Waktunya untuk beristirahat malam ini. Suasana sangat hening dan mencekam. Ia masih ingat ketika terakhir berada di kamar ini, dan Badi menyelinap di kamarnya. Ia tersenyum sendiri mengingat itu. Sebenarnya ia merasa ingin buang air kecil, tetapi karena kamar mandi tidak berada di dalam kamar, ia berusaha menahan. Ia takut untuk keluar kamar malam itu.
Saat ia hendak memejamkan mata sebentar, tiba-tiba terdengar suara-suara aneh di pintu kamar. Karena ia terbiasa mematikan lampu kamar sebelum tidur, ia tidak bisa melihat siapa yang berusaha membuka pintu kamar. Ia hanya mendengar seperti orang yang sedang membuka paksa pintu. Seingatnya ia sudah mengunci pintu, jadi ia tak seberapa khawatir. Lagipula, ia merasa mengantuk, jadi tak ambil pusing. Ia kembali memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, ia merasa seperti ada orang yang menarik selimutnya. Sontak ia segera membuka mata. Antara sadar dan tidak, ia melihat sosok hitam di sampingnya. Sosok itu tak terlihat jelas karena ia menggunakan topeng dari kain untuk menutup muka. Gilda ingin berteriak, tetapi sosok itu mengacungkan benda tajam padanya. Ia langsung bungkam, menatap sosok itu dengan ketakutan.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Gilda.
Sosok hitam itu tak menjawab. Ia kemudian menarik dengan paksa Gilda dari tempat tidurnya, kemudian membekap mulutnya. Sosok itu menempelkan lakban hitam di mulut Gilda, sehingga ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Gilda hanya bisa merasa pasrah. Dalam hati, ia merasa sial sekali. Dua kali ia berada di rumah isolasi ini, dua kali pula ia disekap oleh penjahat.
"Nanti akan tiba giliranmu!"
Sosok itu berbisik di telinga Gilda, tetapi Gilda tak bisa berbuat apa-apa. Tubuh Gilda didorong menuju pintu, dipaksa untuk berjalan keluar kamar. Di belakang punggungnya, ia merasakan ada senjata tajam, jadi percuma saja ia memberontak. Gilda hanya menuruti saja perintah sosok hitam itu.
Mereka keluar kamar menyusuri lorong lantai dua yang gelap. Lampu rumah telah dimatikan, hanya lampu dapur yang menyala. Gilda berharap ada polisi yang memergoki, tetapi mengapa sepi sekali malam ini? Gilda merasa heran, karena tidak ada polisi berjaga. Dalam hati ia mengumpat dan mempertanyakan kinerja polisi. Namun, toh ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia tetap dipaksa untuk berjalan.
Mereka menuruni tangga menuju lantai satu yang juga hening dan sepi. Semua penghuni seolah terlelap. Sama halnya dengan lantai dua, tak ada penjaga pula di lantai ini. Gilda merasa kesal dengan keadaan itu. Gilda dituntun menuju dapur, kemudian menuju beranda belakang yang gelap. Mereka melewati areal pepohonan, sampai kemudian sosok itu membuka pintu belakang yang menghubungkan dengan kebun.
Batin Gilda berontak, ingin menolak. Buat apa ia digiring ke kebun belakang? Ia merasa trauma di kebun itu, karena di situ ada sumur-sumur tua yang tak tertutup. Namun, segala pemberontakannya sia-sia belaka. Sosok itu tetap memaksa Gilda untuk tetap berjalan.
"Jangan khawatir Gilda! Nanti akan tiba giliranmu!"
__ADS_1
Gilda memucat. Ia menyusuri jalan setapak berumput, sesuai arahan sosok di belakangnya. Malam terasa amat dingin menggigit kulit. Apalagi Gilda hanya memakai setelan tanktop, pakaian yang biasa ia kenakan saat tidur. Sosok itu menuntun mendekati areal pemakaman, kemudian berbelok menuju area yang banyak sumur tua. Firasat Gilda tak enak, ia menjadi gelisah. Ia ingin lari begitu saja, tetapi itu artinya ia bunuh diri. Di areal ini banyak sumur yang menganga. Ia tak mau terjerumus ke dalam lubang-lubang maut itu.
Mereka tiba di depan sebuah lubang menganga yang gelap, tertutup oleh semak dan akar belukar. Tak bisa diperkirakan kedalaman lubang itu, yang jelas Gilda tak mau kalau harus masuk ke dalam lubang. Parasnya memancar ketakutan.Sosok itu membuka plester yang membekap mulut Gilda. Sontak perempuan itu berteriak, tetapi sia-sia. Suara Gilda hanyut terbawa angin malam.
"Percuma kau berteriak, Gilda! Nah, sekarang aku punya dua pilihan. Kau masuk lubang itu sendiri atau aku yang akan memasukanmu!" ucap sosok itu tegas, sambil menekan punggung Gilda dengan benda tajam.
"Aku tak mau masuk ke dalam sini! Gila kau! Lepaskan aku!"
"Semakin kau berontak, maka pisau ini akan dengan senang hati menembus kulitmu. Kau mau berakhir seperti itu? Atau kau ingin besok namamu akan terpampang di televisi, seorang jurnalis cantik tewas dengan isi perut terburai, kau mau seperti itu?" gertak si sosok bertopeng.
"Tidak! Jangan menggertakku!"
"Aku bisa melakukan apapun, Gilda! Bukan kamu yang mengendalikan, tetapi aku!"
"Aku hitung sampai tiga, kalau tidak maka aku akan mendorongmu ke dalam lubang itu!" perintah sosok bertopeng kain itu.
"Gila!" umpat Gilda.
"Satu!" Sosok itu mulai menghitung.
Gilda semakin cemas. Ia bingung harus berbuat apa. Tak ada yang bisa dilakukannya.
"Dua. Segera lah berpikir Gilda! Waktuku tak banyak!"
Gilda hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala, sambil menitikkan air mata. Bagaimana mungkin ia bisa masuk ek dalam lubang gelap dan pengap itu? Belum lagi dengan binatang-binatang yang ada di dalamnya. Gilda bergidik. Ia tetap tidak mau masuk ke dalam lubang.
__ADS_1
"Tiga! Waktumu habis Gilda! Selamat bersenang-senang!"
Tangan sosok itu mendorong tubuh Gilda masuk ke dalam lubang. Wanita itu hanya bisa menjerit pasrah. Tubuhnya limbung ke dalam lubang yang dalamnya sekitar dua meter setengah. Tanah di dalam lubang itu sedikit berlumpur sehinggan pakaian Gilda kotor saat mendarat. Gilda merasa nyeri pada tubuhnya, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Lubang itu sangat gelap. Ia mendongak ke atas, melihat langit malam yang menaungi. Sementara, di tepi lubang tampak sosok bertiopeng itu berdiri menatap dirinya.
"Kamu akan terima pembalasanku nanti!" teriak Gilda.
"Percuma Gilda! Kau akan membusuk di situ, menjadi santapan kalajengking dan kelabang!"
"Tidak!"
Sosok itu hanya tersenyum, kemudian ia melepas kain yang menutup wajahnya. Dalam keremangan malam, Gilda melihat dengan jelas siapa yang berada di balik topeng itu. Ia sangat terkejut, sehingga kehilangan kata-kata untuk bersuara.
"K-kau .... "
"Iya Gilda! Ini aku. Semoga kau menikmati rumah barumu!"
***
__ADS_1