
Reno bergerak cepat, meminta bantuan para personel polisi lain untuk mengantar surat-surat panggilan kepada orang-orang yang rencananya akan diisolasi mulai besok. Saat ini ia tengah berkoordinasi dengan Pak Paiman dan Bu Mariyati terkait tempat isolasi. Reno sengaja kembali memilih rumah peninggalan Belanda itu, karena memang terbukti efektif untuk mengungkap pelaku pembunuhan sebelumnya.
Rumah itu masih sangat relevan untuk untuk menampung penghuni baru. Mungkin hanya perlu pembenahan sedikit. Pak Paiman dan Bu Mariyati juga sudah setuju dengan rencana itu, tinggal mendatangkan tamu-tamu untuk mengisi rumah.
Selain harus memberikan panggilan surat kepada para calon tersangka, Reno juga berkoordinasi dengan orang-orang yang terlibat dengan pekerjaan para artis itu. Dia sengaja mengirim surat resmi, agar mereka memaklumi bahwa untuk urusan penyelidikan kasus, mereka membutuhkan beberapa orang ini selama beberapa hati. Surat resmi ditujukan kepada beberapa produser film, agar memaklumi pemanggilan itu.
Di studio film, kembali Widya buru-buru menjumpai Guntur untuk memberikan surat panggilan dari polisi itu secara pribadi. Namun, sebelum bertemu Guntur di ruangannya, tiba-tiba ia mendapati Riky yang tengah duduk di sebuah kursi, sedang mengobrol dengan salah seorang kru film. Widya terkejut, karena beberapa hari ini Riky tidak terlihat, kini tahu-tahu muncul begitu saja, bak jelangkung yang datang tak dijemput, pulang tak diantar.
"Riky?" sapa Widya.
"Hei, Widya! Lama kita nggak jumpa rupanya!"balas Riky sambil tersenyum.
Kru film itu menyingkir ketika Widya datang. Widya duduk di hadapan Riky, menatap pria itu dengan takjub.
"Kemana aja sih?" tanya Widya.
"Biasa lah urusan kerjaan, Wid. Kamu kan enak ada proyek film yang harus diselesaikan. Aku, kan masih mencari-cari proyek. Jadi ya gini lah! Luntang-luntung," kata Riky sambil tertawa.
"Tapi sudah dapat kan sekarang?" tanya Widya.
"Iya, kemarin aku sudah deal dengan salah satu sutradara baru. Tapi aku nggak mau sebut namanya dulu. Biar nanti jadi kejutan. Kebetulan dia lagi ada proyek film baru. Doakan aja semua lancar ya Wid. Proyek film kamu gimana? Apakah berhenti? Kan si Renita udah meninggal," ucap Riky.
"Wah semoga lancar semua ya Rik! Proyek film sih masih tetep jalan, tapi ini lagi menunggu pemeran pengganti Renita. Sudah ada sih. Mungkin hari ini akan datang kesini. Kamu tahu kan siapa pengganti Renita?" tanya Widya.
"Tahulah pasti. Gosip di dunia hiburan begini kan cepat. Pasti lah si Laura. Kan diam-diam dia memang mengincar jadi peran utama," cibir Riky.
Widya hanya tersenyum kecil tak mau menanggapi lebih jauh.
"Kasihan Bang Faishal ya," gumam Widya kemudian.
"Kasihan? Kenapa memangnya?" tanya Riky.
"Loh, kamu belum tahu kalau pacarnya dibunuh? Kamu tahu kan kalau Melani Idris itu pacar Faishal. Dia ditemukan tewas di villa milik Bang Henry. Beritanya sudah viral loh, masa kamu nggak tahu sih?"
"Oh, itu. Iya denger sih. Eh, ngomong-omong Guntur mana kok nggak keliatan? Sibuk ya dia?"
Terlihat sekali Riky mengalihkan pembicaraan, dia sedikit gugup. Widya merasa perilaku Riky sedikit aneh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
"Aku juga mau ketemu Guntur sih," kata Widya.
"Ya udah yuk!"
Keduanya beranjak dari tempat duduk, menemui Guntur yang seperti biasa sudah sibuk dalam ruangannya, di depan layar komputer sambil mengetik. Ia sama sekali tak mempedulikan kehadiran Riky dan Widya. Matanya tak lepas dari layar, sementara secangkir kopi dan sepiring gorengan berada di atas meja. Widya merasa tidak enak berada di ruangan itu, tetapi Riky tak peduli.
__ADS_1
"Hey, Gun! Sibuk banget. Emang ada kerjaan apa?" tanya Riky langsung duduk begitu saja di hadapan Guntur.
"Ah! Kalian ini datang-datang udah pada bikin ribut. Aku lagi fokus mengedit skenario film nih!" ucap Guntur.
"Oya, bener-bener orang sibuk ya! Kapan nih kita ngopi bareng. Lama loh kita nggak ngobrol-ngobrol. Kalau ngurusin kerjaan terus nggak ada habisnya. Sekali-kali lah kita bersantai di luar. Bisa gila kalau ngurusin kerjaan," kata Riky.
"Kayaknya kita nggak bisa ngopi dalam waktu dekat ini," celetuk Widya tiba-tiba.
"Kenapa emang?"
Widya menunjukkan selembar kertas berisi surat pemanggilan isolasi dari kepolisian. Riky dan Guntur mengamati surat yang dibentangkan oleh Widya dengan serius. Riky rupanya tak senang. Ia mendengkus kesal, sedangkan Guntur hampir tak bereaksi. Ia melanjutkan mengetik naskah.
"Kalian tak dapat itu emang?" tanya Widya.
"Aku dapat!" jawab Guntur, sembari terus mengetik.
"Aku juga dapat, tapi sepertinya aku akan abaikan saja. Bayangkan saja, isolasi itu nggak hanya memakan waktu sehari dua hari. Bisa-bisa sebulan kita akan dikurung dalam rumah isolasi. Padahal aku sudah punya rencana terkait pekerjaan. Bisa-bisa aku diputus kontrak sepihak oleh produser film," dengkus Riky.
"Kita nggak bisa mengelak atas semua ini. Faktanya adalah semua yang terlibat di pembunuhan Pak Daniel, satu-persatu tewas dengan cara mengenaskan. Mungkin dari isolasi itu kita malah bisa dilindungi, jadi kupikir ada untungnya juga sih," ucap Widya.
"Menurutmu gimana, Gun?" tanya Riky sambil memalingkan muka ke arah Guntur.
Guntur menghentikan ketikannya sejenak, kemudian mengangkat bahu.
Riky manggut-manggut. Perkataan Guntur ada benarnya. Tugas ini langsung datang dari kepolisian, tentunya semua mempunyai akibat kalau ia tak melaksanakan.
Sementara di luar ruangan Guntur, tampak Laura Carmellita ditemani Henry Tobing masuk ke studio film. Wanita muda itu tampak anggun dan cantik, seperti biasa menebar senyum ramah. Salah satu daya tarik Laura adalah keramahannya. ia selalu menyapa siapa pun,. dan tidak gampang jutek. Oleh karena itu dia cukup populer, walau hanya sebagai bintang drama televisi.
Kali ini, karena ada kesempatan untuk membintangi sebuah film, dan mendapat peran utama menggantikan Renita Martin, Laura segera mengambil peran itu. Ia tahu mungkin banyak yang mencibir dan meragukan aktingnya, ia tetap tak mundur dari semua itu. Genre horor adalah genre pertama yang akan ia taklukkan. Ia ingin membuktikan kepada semua orang yang meragukannya bahwa ia dapat berakting dengan baik.
"Mbak Laura sudah ditunggu Pak Sutradara di ruangannya" ucap salah seorang kru.
"Aku akan tunggu di sini saja," bisik Henry.
Laura mengangguk dengan anggun, kemudian berjalan menuju ruang sutradara. Sementara Henry hanya duduk di ruangan tengah sambil mengamati para kru film yang berlalu-lalang. Ia tidak pernah mengunjungi tempat ini lagi semenjak Pak Daniel tewas. Tempat ini memang tak pernah ia lupakan saat menjelang dini hari, tubuh Daniel Prawira terbaring di lantai kamar mandi yang dingin, dalam keadaan terjerat lehernya.
***
Faishal tak berniat kemana-mana. Ia hanya berdiam dalam apartemennya sambil merenungi nasib. Ia masih teringat bayangan Melani yang berputar-putar dalam otaknya. Ia berharap kekasihnya itu bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Ia belum bisa menerima kenyataan kalau saja hal buruk terjadi pada Melani.
Jam makan siang telah lewat, dan perutnya melilit minta diisi. Sementara di kulkas apartemennya ia tak bisa menemukan apa-apa untuk dimakan. Polisi mengatakan bahwa ia akan disuplai untuk kebutuhan makan. Namun mengapa belum datang juga suplai makanan untuknya? Ia ingin memesan makanan lewat aplikasi, tetapi tiba-tiba ia mendengar seseorang mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Faishal.
__ADS_1
Sejujurnya, suara ketukan pintu membuatnya trauma. Melani mengatakan sebelum tewas ia mendengar ketukan pintu beberapa kali, tetapi tak ada seorang pun yang mengetuk. Ia berharap ketukan itu bukan berarti apa-apa. Mungkin hanya polisi yang sedang mengecek keadaannya.
"Makanan!" jawab suara dari luar.
Faishal mendesah lega. Ini yang ia tunggu-tunggu, karena ia sudah merasa sangat lapar. Ia membuka pintu, mendapati seorang kurir tanpa seragam, dengan muka yang ditutup separuh menggunakan sapu tangan, membawa sebuah kotak berisi pizza.
"Ini apartemen Pak Faishal?" tanya kurir itu.
"Oh, iya Pak. Pasti kiriman makanan dari kepolisian ya, Pak!" ucap Faishal.
"Wah, saya kurang tahu juga, Pak. Saya hanya disuruh mengirim makanan ini saja, tak jelas siapa yang mengirim karena sudah terbungkus rapi seperti ini. Saya tinggal mengambil saja," ucap kurir itu.
"Oh, ya pasti dari polisi, Pak. Sudah dibayar kan?"
"Iya, Pak. Terima kasih, saya harus pergi," ucap kurir itu segera berlalu dari hadapan Faishal.
Sebenarnya Faishal merasa agak bingung sedikit, mengapa kepolisian mengirim makanan lewat kurir. Mengapa pula menu pizza di sore hari begini? Namun, karena Faishal merasa sangat lapar, ia langsung membuka kotak pizza itu, bersiap untuk melahapnya.
Sebentuk pizza berukuran medium, dengan taburan keju di atasnya dan potongan-potongan daging sapi, aromanya sangat menggelitik hidungnya. Ia sudah bersiap hendak memasukkan potongan pizza ke dalam mulut, ketika kembali pintu diketuk.
"Siapa sih? menganggu saja!" keluhnya.
Ia memasukkan pizza itu ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, ia berjalan ke arah pintu untuk untuk melihat siapa yang datang. Ia intip sedikit melalui lubang, ternyata yang datang adalah polisi berseragam. Ia segera membuka pintu.
"Iya Pak?" tanya Faishal.
"Kami datang untuk mengantar makanan untuk Anda! Mohon maaf sedikit terlambat karena banyak yang harus kami selesaikan"
Polisi itu membawa sebungkus plastik nasi berisi nasi kotak, lengkap dengan air mineral dalam botol kemasan satu liter. Faishal terperanjat. Ia menoleh ke arah pizza yang baru saja diterimanya.
"Bukannya tadi sudah ya, Pak?" tanya Faishal sambil mengernyitkan dahi.
"Oh, maksud Bapak ada anggota kepolisian yang sudah kemari dan mengantar makanan, begitu?" tanya polisi.
"Bukan ... bukan polisi. Tetapi lewat jasa kurir, saya juga tidak tahu, tetapi tadi barusan ada yang ...uhuk ... uhuk!"
Tiba-tiba Faishal merasa kerongkongannya terasa panas. ia terbatuk-batuk di depan polisi itu.
"Pak, Pak Faishal kenapa? Bapak baik-baik saja?" tanya polisi.
Faishal terus terbatuk-batuk. kepalanya mendadak pening dan berat. Ia ingin berkata, tetapi lidahnya terasa kelu. Ia merasakan lututnya sangat lemas, bahkan tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dalam hitungan detik, ia jatuh tersungkur di hadapan polisi itu!
***
__ADS_1