
Kedatangan Ammar segera disambut dengan antusias oleh penghuni kastil. Ia segera dibopong ke dalam kamar untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Aldo segera memeriksa kondisi tubuh Ammar, sementara para penghuni lain menunggu di ruang tengah dengan perasaan gelisah. Mereka tak menyangka kalau Ammar ternyata keluar diam-diam dari kastil. Nyatanya, Ammar tak pernah sampai ke tempat tujuan.
Selepas mengantar Ammar, para anak muda kembali melanjutkan perjalanan untuk berkemah di sekitar kastil. Untuk itu, mereka sengaja menitipkan mobil di kastil, selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kehadiran para anak muda itu disambut baik karena telah menyelamatkan nyawa Ammar dari kecelakaan yang dialaminya.
“Kalau kalian ada apa-apa, silakan datang saja kemari. Helen mempunyai persediaan makanan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan. Pastikan kalian cukup perbekalan dan ingat satu hal...” pesan Hans.
“Apa itu?” tanya Antony.
“Berusahalah agar tetap selamat. Kita tidak tahu apa yang ada di sekitar sini. Kadang suatu kecantikan, menyimpan suatu bahaya yang nggak pernah kita bayangkan!” kata Hans.
“Terima kasih sarannya, Kak Hans! Kami akan bersenang-senang mungkin dua atau tiga hari di sekitar sini,” ucap Antony.
Hans kemudian berbisik di telinga Antony,”Sonya sangat menarik. Kalau boleh, izinkan aku untuk mendekatinya.”
Antony tertawa mendengar perkataan Hans.
“Dia agak sulit didapatkan, Kak. Tapi tentu dia akan sangat senang mendapat perhatian dari idolanya sendiri. Well, good luck, Kak!”
“Aku akan mengunjungi kalian. Aku juga penasaran dengan air terjun yang kau bicarakan itu,” sambung Hans.
“Silakan Kak. Kami senang menerima kehadiranmu,” ucap Antony.
Hans melepas kepergian rombongan anak muda itu dengan senang. Matanya tak lepas menatap cara berjalan Sonya yang menurutnya begitu seksi. Otak kotornya mulai bekerja, meracuni jalan pikiran. Setelah puas berfantasi, ia kembali ke ruang tengah, bergabung dengan penghuni lain.
Aldo keluar dari kamar Ammar menuju ruang tengah, menemui beberapa penghuni yang sedang duduk-duduk di sana. Cornellio yang paling merasa cemas segera menghambur dan memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan. Ia cemas, karena kondisi Ammar yang lemah akan sangat berbahaya. Pembunuh bisa saja mengincar keselamatan polisi itu kapan saja.
“Bagaimana keadaannya, Aldo?” tanya Cornellio.
“Sudah lumayan membaik. Ia sudah bisa diajak berbicara. Ada beberapa luka memar di tubuhnya karena benturan, kukira kakinya juga mengalami patah tulang. Sebenarnya kita membutuhkan peralatan medis yang lumayan lengkap, sayang kita tidak mempunyai itu,” ucap Aldo.
__ADS_1
“Kalau begitu biar aku yang ke kota untuk berbelanja alat medis yang dibutuhkan. Aku bukan lagi tersangka, jadi aku bebas pergi ke kota kan? Mumpung ada mobil yang bisa kupakai. Mobil anak-anak muda itu dititipkan ke kastil ini, jadi kita bisa pakai,” ucap Cornellio.
Aldo terdiam, kemudian melempar pandangan ke penghuni kastil yang lain. Mereka semua terdiam, tak berpendapat apa pun. Mereka lebih cemas memikirkan nasib mereka dalam kastil. Rasa bosan dan khawatir bagai kanker yang mulai menggerogoti pelan-pelan.
“Kalau kamu butuh pendamping, aku siap mendampingimu, Cornell,” tawar Maira.
“Tidak Maira! Tidak seorang pun yang keluar dari kastil dalam kondisi seperti ini. Kita akan temukan si pembunuh itu dulu, baru kita pikirkan untuk meninggalkan kastil ini!” ucap Cornellio tegas.
“Aku sudah hampir gila di berada di sini. Kumohon, berilah kesempatan satu hari saja untuk menjernihkan pikiran. Lama-lama aku bisa gila berada di tempat ini!” keluh Maira.
“Jangan khawatir, Maira. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan di sekitar sini. Kudengar ada air terjun yang keren di belakang sana,” ucap Hans.
“Kamu serius! Wow! Sudah pasti aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Kita akan bersenang-senang di sana nanti!” ucap Maira dengan mata berbinar.
“Tetap waspada! Jangan sampai lengah! Pembunuh berkeliaran di sekitar kita dan sedang mengawasi apapun yang kita lakukan. Kusarankan kita tetap bersama dan tidak terpencar-pencar,” saran Cornellio.
“Kami tidak sebodoh dirimu, Cornellio. Kamu mungkin bodoh karena berhasil diperdaya pembunuh sampai dua kali, tetapi kami tidak sepertimu,” cibir Hans.
“Besok pagi-pagi, aku akan ke kota!”
***
Detektif Reno Atmaja turun dari mobil, diikuti Dimas. Dua pria gagah itu berjalan menuju samping rumah, di mana seorang wanita paruh baya sedang menjemur pakaian. Wanita itu menatap kedatangan Reno dan Dimas dengan waspada. Ia menaruh baju yang hendak dijemurnya pada sebuah ember.
“Permisi Bu, kami dari kepolisian. Kami ingin mewawancarai ibu sebentar seputar meninggalnya anak Ibu beberapa waktu lalu,” ucap Reno Atmaja.
“Maaf. Saya sudah membuat pernyataan lengkap di kantor polisi. Saya tidak ingin membicarakan ini lagi!” ucap wanita itu tegas.
“Sebenarnya ada sedikit yang tertinggal, Bu. Mohon maaf, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mengungkap kasus ini. Untuk itu, kami berharap ibu mau bekerja sama dan memberikan sedikit keterangan. Kami mohon, Bu. Karena ini penting,” Dimas menambahkan dengan bahasa yang lebih sopan.
__ADS_1
Wanita itu secara berganti-ganti menatap Reno dan Dimas, kemudian mengangguk perlahan. Ia bergegas masuk ke rumah, memberi isyarat pada dua polisi itu untuk mengikuti.
Reno dan Dimas melangkah masuk ke dalam sebuah ruang tamu kecil yang tertata rapi. Padahal dari luar, rumah kecil di tengah padang rumput itu jauh dari kesan mewah. Penataan interior yang rapi, membuat kesan nyaman pada siapa pun yang berkunjung ke sana.
Reno dan Dimas duduk di sebuah sofa usang berwarna merah marun, senada dengan warna dinding yang ditutup dengan wallpaper berwana senada. Banyak foto tergantung di dinding, berpadu dengan interior yang unik. Dua cangkir teh manis dihidangkan khusus oleh tuan rumah.
“Informasi apa lagi yang ingin Anda ketahui, Bapak-bapak?” tanya wanita itu.
“Begini ibu Farida, menurut kami ada satu bagian keping puzzle yang terlewat. Yaitu tentang latar belakang anak Ibu. Ini sedikit membingungkan, karena menemukan fakta bahwa anak Ibu mempunyai saudara kembar. Itu benar?” tanya Reno.
Mata wanita yang bernama Farida itu menerawang, seolah menembus dinding. Ia berusaha mengumpulkan serpih-serpih ingatan yang berserakan. Ia menarik napas dalam, sebelum ia berbicara.
“Anakku, itu bukan anak kandung. Aku mengadopsinya dari sebuah panti. Dua orang bayi, bukan hanya seorang. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang baik, lucu dan sehat. Mereka begitu serupa, susah dibedakan. Sayangnya, aku sudah merasa ada hal yang tak baik di antara mereka,” terang Farida lirih.
“Hal yang tak baik?” tanya Dimas.
“Persaingan kuat. Di antara mereka tak ada yang mau kalah. Salah seorang dari mereka menjadi seorang penulis, sehingga memicu kebencian saudara lainnya. Entahlah. Aku tak bisa mencegah kecemburuan itu. Mereka kadang terlihat rukun, tetapi aku merasakan ada api dendam yang disimpan. Aku khawatir, dendam itu meledak ....” ucapan Farida terputus.
“Menurut Ibu, apakah saudara kembarnya terlibat kasus pembunuhan ini?” pancing Reno.
“Entahlah. Aku tak berani membayangkan itu. Saudara kembarnya juga menghilang beberapa pekan ini setelah mendapat sebuah undangan dari seseorang yang misterius. Aku tak dapat menghubunginya juga.”
“Undangan misterius?” Reno semakin penasaran.
“Maaf, aku juga tidak bisa menerangkan lebih lanjut. Kepala saya tiba-tiba pusing. Maaf saya harus istirahat,” ucap Farida sambil memegang kepalanya.
“Tunggu Bu Farida! Dapatkah Ibu memberi kami alamat panti tempat ibu mengadopsi si kembar?”
Farida mengangguk.
__ADS_1
***