Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
185. Identik


__ADS_3

Gilda bergidik. Tak jauh dari tempatnya jatuh, di antara rumpun semak yang tumbuh lebat, dia melihat seonggok bangkai kucing yang sudah mulai berbau busuk. Mata kucing itu membelalak mengerikan, seolah menatap tajam ke arahnya. Sementara bagian perut kucing itu sudah mulai membusuk. Gilda merasa ingin muntah melihat itu. Setengah berlari ia menuju ke dalam rumah, melalui halaman samping, karena kondisi bajunya yang kotor terkena tanah berlumpur. Ia langsung menuju kamar mandi belakang untuk membersihkan baju dari bekas tanah basah.


Di halaman belakang, suasana sudah terlihat sepi. Seperti biasa, lampu terlihat redup dan sedikit gelap. Rupanya para penghuni sudah berada di kamar masing-masing. Gilda adalah seseorang yang rasional, segala sesuatu harus masuk akal dan dapat dicerna dengan otak. Ia tak begitu percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Jadi, situasi yang agak menyeramkan tak begitu berpengaruh bagi dirinya.


Ia langsung masuk kamar mandi, melepas pakaian yang kotor, kemudian membasahi bagian yang kotor dengan air. Ia menguceknya sedikit, agar tanah yang menempel di baju bisa terbilas. Ia merasa kesal, menyalahkan diri sendiri karena kurang hati-hati. Tiba-tiba, dari dalam kamar mandi ia mendengar langkah kaki dari luar. Gilda tak terlalu curiga, tetapi ia merasa langkah kaki itu berhenti di depan kamar mandi.


Tok ... tok ... tok!


Suara ketukan terdengar di pintu kamar mandi. Gilda mendengkus. Ia tidak suka terburu-buru dalam melakukan pekerjaan.


“Ntar ya! Nanggung nih!” ucap Gilda dari kamar mandi.


Namun, suara Gilda tak mendapat sahutan. Gilda sebenarnya agak heran juga mengapa perkataannya tak direspon. Ia mengangkat bahu, kemudian melanjutkan membersihkan bajunya yang kotor. Setelah dirasa bajunya bersih, ia kembali memerasnya hingga agak kering, kemudian memakainya kembali. Ia membuka kamar mandi, tak enak berlama-lama di dalam kalau ada orang lain menunggu di luar.


Gilda terkejut. Di luar kamar mandi terlihat sepi, tak ada seorang pun di sana. Padahal ia tadi jelas mendengar ada yang mengetuk pintu. Mungkin karena bosan menunggu dirinya, sosok yang mengetuk pintu itu pergi. Gilda hanya bisa mengangkat bahu sekali lagi. Ia merasa tak bersalah dan tak mau ambil pusing memikirkan itu.


Ia masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur, kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah masuk ke dalam dapur, tak lupa ia mengunci pintu dapur. Dari jendela dapur, ia bisa melihat halaman belakang yang gelap, apalagi di sekitar area jemuran. Tempat itu selalu menyeramkan.


Mata Gilda menangkap sebuah bayangan hitam berdiri di bawah pohon, diam tak bergerak. Gilda menajamkan pandangan agar bisa melihat lebih jelas siapa sebenarnya sosok bayangan hitam di bawah pohon itu. Namun, ia hanya berpikir bahwa bayangan hitam itu adalah Pak Paiman, jadi ia memilih untuk tak ambil pusing.


Tiba-tiba, ia merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Gilda terlonjak karena kaget. Ia segera memalingkan badan ke belakang, melihat Reno yang sekonyong-konyong berada di belakangnya. Polisi itu tersenyum dingin dan aneh, tak seperti biasanya.


“Pak Reno mengagetkan saya!” ucap Gilda.


“Apa yang kamu lihat? Kok sepertinya serius banget?” tanya Reno.


“Saya tadi melihat bayangan hitam di sana!” ucap Gilda sambil menunjuk arah bawah pohon. Sayangnya, tak ada apa pun di sana. Memang di sana terlihat sepi, tak ada seorang pun di sana.


“Bayangan apa?” tanya Pak Reno.


“Tadi saya melihat ada bayangan hitam di bawah pohon, tapi sekarang sudah menghilang entah kemana. Apa aku yang salah lihat ya?” ucap Gilda.


Reno masih berdiri sambil tersenyum aneh, seperti menggoda. Polisi itu menatap Gilda lekat-lekat. Tentu saja, Gilda menjadi salah tingkah karena ulah Reno tersebut. Ia buru-buru membuang muka. Ia memilih untuk menghindari tatapan tajam itu.

__ADS_1


“Ma-maaf Pak. Saya harus kembali ke kamar ..."


Gilda kembali melangkah ke kamarnya dengan sedikit terburu-buru. Ia tak habis pikir, apa arti tatapan Reno yang aneh itu. Tak seperti biasanya Reno bersikap seperti itu padanya. Biasanya ia kelihatan tegas dan berwibawa, tetapi malam ini ia kelihatan berbeda.


Gilda segera naik ke kamarnya melewati tangga. Karena terburu-buru, hampir saja ia menabrak seseorang yang baru saja turun dari tangga. Rupanya Reno juga baru saja turun dari tangga.


“P-Pak Reno?” ucap Gilda.


Wanita muda itu terkejut setengah mati melihat polisi itu tiba-tiba sudah berada di tangga. Padahal beberapa menit lalu ia melihat Reno berada di dapur. Jadi bagaimana bisa ia secepat itu berada di sini?


“Kenapa Gilda? Kok kamu kaget seperti itu? Kamu belum tidur?” tanya Reno.


“P-Pak Reno dari mana?” tanya Gilda terbata-bata.


“Aku dari lantai atas, hanya mengecek keadaan di sana. Lebih baik kamu segera tidur Gilda. Tak baik berada di luar kamar malam-malam begini,” saran Pak Reno.


“Loh bukannya Pak Reno tadi di dapur?”


Gilda masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin Reno bisa ke lantai atas secepat itu?


“Ta-tapi ... tapi kok bisa sih?”


“Bisa apa? Sudahlah. Mending kamu tidur!” perintah Reno.


Seketika Gilda merasa merinding. Kali ini yang ia lihat benar-benar di luar nalar. Bagaimana satu orang yang sama bisa berada di tempat yang sama dalam waktu bersamaan. Ini agak mengherankan dan nyaris tak bisa diterima akal. Kalau benar yang berada di tangga ini Reno, lalu siapa Reno yang berada di dapur?


***


Malam itu terasa lengang dan dingin. Sepertinya semua penghuni rumah isolasi sudah berada di peraduannya masing-masing. Reno masih mengecek sekitar rumah isolasi untuk memastikan kondisi rumah aman. Ia sadar, bahwa kali ini ia tidak boleh lengah. Kematian Miranti terjadi karena kelengahannya, yakni tertidur saat jam patroli sehingga pembunuh lebih leluasa untuk berkeliaran.


Ia juga berusaha lebih teliti lagi, tak boleh ceroboh. Ia bertanggungjawab terhadap keselamatan masing-masing penghuni rumah. Kalau sampai ada kejadian lagi, maka rasa bersalah akan menghantuinya seumur hidup.


Ia bergerak menuju ke ruang tengah. Sesampai di sana, ia melihat TV menyala tanpa ada yang menonton. Volume TV memang disetel hingga minimal sehingga tak ada suara, tetapi layar tetap menampilkan sebuah film musikal klasik.

__ADS_1


“Siapa yang memasang film tapi tidak ditonton larut malam begini?” gumam Reno.


Ia hendak mematikan film itu, tetapi tiba-tiba ia tertarik dengan film musikal klasik yang sedang diputar itu. Film hitam-putih itu dibintangi oleh Marilyn Monroe. Sekilas ia ingat dengan ucapan Dimas, bahwa pembunuh itu sempat menuliskan kata Marilyn Monroe dan Albert Einstein dalam secarik kertas. Kini, film Marilyn Monroe sengaja diputar, tetapi tak ada yang menonton.


Reno bersikap waspada. Ia mengecek dari mana sumber film itu. Ternyata, film itu diputar dari sebuah CD bajakan, sehingga tak heran kualitas gambar yang dihasilkan berkualitas rendah. Seingatnya, polisi tak memberikan film seperti ini, jadi siapa yang membawa CD berkualitas rendah ini?


Reno mematikan film tersebut. Bisa jadi film itu diputar untuk menarik perhatiannya atau peringatan bahwa mungkin seseorang akan terancam keselamatannya malam ini. Lalu mengapa film Marilyn Monroe yang diputar? Siapa yang dilambangkan dengan wanita seksi dan sedikit binal itu?


Untuk memastikan semua gadis di rumah itu dalam keadaan aman, ia kembali menaiki tangga menuju lantai dua. Satu-persatu. Mulai dari kamar Adinda, ia cek keamanannya. Bahkan untuk memastikan, ia mengetuk pintu kamar gadis itu. Adinda membuka pintu kamar sedikit, melihat Reno yang sedang mengecek.


“Kunci saja pintunya malam ini, dan jangan biarkan siapa pun masuk!” pesan Reno.


Satu-persatu, Reno mengetuk kamar para gadis, kemudian memberikan pesan yang sama kepada mereka. Reno tak mau kecolongan lagi kali ini. Miranti tewas karena kecerobohnnya. Gadis itu membuka pintu pada dini hari, padahal ia belum tahu siapa yang ada di luar. Ia harus belajar dari pengalaman ini.


Sayangnya, saat mengetuk kamar Lena, gadis itu tak merespon. Pintu kamarnya terkunci. Mungkin dia sudah tidur, hingga tak mendengar saat Reno mengetuk. Reno tak lagi memaksa Lena untuk membuka, karena ia tidak mau mengganggu istirahatnya. Setelah semua gadis-kecuali Lena- telah ia beri pesan yang sama, ia mulai turun kembali ke lantai satu. Rasanya patroli ini cukup melelahkan, tetapi ia tidak mau mengeluh, karena memang sudah jadi kewajibannya untuk melindungi semua yang ada di dalam rumah isolasi.


Ia hendak masuk ke kamarnya, tetapi tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah poster yang tertempel di pintu kamarnya. Poster itu bergambar tokoh yang terkenal dengan rumus relativitasnya. Siapa lagi kalau bukan Albert Einstein, si perancang bom atom? Lagi-lagi, Reno tercekat. Sebelumnya ia dikejutkan dengan film yang dibintang Marilyn Monroe, kini poster Albert Einstein terpampang di pintu kamar. Apa maksud semua ini? Si pembunuh mengajak bermain-main?


Reno sedikit geram. Ia robek secara paksa gambar poster yang tertempel di pintu, kemudian ia cek lagi gambar itu, siapa tahu ada pesan tersembunyi di dalamnya. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Ia kembali memeriksa kamar semua penghuni pria di rumah itu. Kali ini ia tidak mengetuk satu-persatu, tetapi kelihatannya semua aman. Ya, ia berharap tak ada sesuatu yang terjadi malam ini.


Sampai jam pergantian piket patroli dengan Pak Paiman, Reno masih belum merasa ngantuk. Ia tak melihat apa pun yang janggal malam itu, kecuali gambar poster dan TV yang menyala di ruang tengah. Kini waktunya ia beristirahat, karena tugasnya akan digantikan oleh Pak Paiman.


Pria paruh baya itu sudah siap dengan atribut lengkapnya. Ia belajar dari peristiwa sebelumnya, bahwa pembunuh ini bisa muncul kapan saja. Jadi, ia akan meningkatkan kewaspadaan dalam berjaga.


“Fokus di kamar anak-anak saja, Pak. Nggak perlu sampai ke halaman depan atau belakang. Aku rasa kalau pun ada peristiwa, yang diincar adalah anak-anak itu, jadi lebih baik fokus di situ saja,” ucap Reno.


“Baik, Pak!”


Pak Paiman dengan khidmat memberi hormat kepada Reno. Ia siap bertugas malam ini, tetapi sebelumnya ia sudah minum segelas kopi hitam agar membantunya tetap terjaga sampai menjelang pagi. Ia mempersilakan Reno untuk istirahat, sementara dirinya memeriksa sekitar. Ya, Reno benar. Saat ini ia fokus dengan kondisi di dalam rumah, tak perlu sampai keluar. Kemanan anak-anak itu adalah suatu hal penting.


Sementara, di salah satu kamar, sosok pembunuh sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah.


“Sial! Mengapa orang tua itu tidak patroli di depan? Sepertinya eksekusi malam ini harus ditunda besok! Harus ada yang mati besok!” gumam sosok itu.

__ADS_1


***


__ADS_2