
Dimas duduk di hadapan Reno dengan penasaran, ketika Reno memberikan sebuah botol plastik kecil berisi kertas teka-teki. Dimas segera membuka tutup botol, mengeluarkan gulungan kertas di dalamnya.Sesobek kertas berisi tulisan ketikan yang mulai pudar.
Zeus, Bintang Kesayangan, Hermaphrodite, Ratu Kegelapan Romeo dan Juliet, melangkah menuju lubang yang sama. Bukan akhir kisah. Semua menunggu waktu yang tak pasti. Ratu Pesolek yang jelita berdiri di tepi lubang. Dalam beku malam tanpa bintang, tenggelam dalam aroma khas surga.
Dimas membaca teka-teki itu dengan saksama, kemudian menatap paras Reno. Sepertinya dalam pikirannya sudah terlintas sebuah nama yang mungkin dimaksud dalam teka-teki itu. Namun, ia tidak mau menyimpulkan terlalu dini.
"Kamu sudah bisa memecahkan teka-teki itu?" tanya Reno penasaran.
"Mungkin," ucap Dimas.
"Bagaimana analisismu?"
"Dalam kertas teka-teki ini ditulis bahwa seseorang akan terbunuh lagi. Ratu Pesolek? Kamu tahu siapa dia? Sayangnya tidak dituliskan kapan dia akan dibunuh. Hanya tertulis menunggu waktu yang tak pasti," papar Dimas.
"Ratu Pesolek? Sepertinya aku tahu siapa dia. Sore ini juga kita jemput semua semua yang terlibat, untuk selanjutnya kita bawa ke rumah isolasi. Aku ingin semua rencana si pembunuh itu berantakan. Aku harus memutus mata rantai pembunuhan itu. agar tak ada lagi korban jatuh. Pergerakan kita harus lebih cepat daripada pembunuh itu. Sebelum dia melancarkan aksinya, kita akan mengamankan semua yang mungkin terancam," ucap Reno.
"Baik, aku mendukungmu Ren. Tapi maaf mungkin aku tak banyak membantu. Aku harus segera temukan Niken dan Rani. Kedua perempuan itu harus segera ditemukan. Aku mempunyai firasat kuat bahwa diua perempuan itu berada tak jauh dari lokasi pembunuhan. Aku akan menyusur lagi sekitar kawasan perumahan itu," kata Dimas.
"Sebenarnya aku agak repot menangani kasus ini sendirian, karena Niken juga tidak ada. Tapi baiklah, mungkin kamu fokus dulu untuk menemukan Niken, karena masalah itu juga penting. Oya, kabar gembira hari ini adalah pesan dari Raymond pagi tadi, bahwa saat ini Ollan sudah kembali berada di Kampung Hitam. Ini akan mengurangi sedikit beban kita," ucap Reno sambil tersenyum.
Dimas hanya manggut-manggut. Sebenarnya ia sama sekali tidak mengkhawatirkan Ollan, ia jutsru khawatir dengan keberadaan Faishal. Ia yakin, si pembunuh tidak akan melepasnya begitu saja.
"Lalu bagaimana dengan Faishal? Apakah dia akan ditinggal begitu saja di apartemen tanpa pengawasan?"
"Untuk sementara iya, karena toh pelakunya secepatnya akan kita isolasi. Jadi mungkin posisi Faishal tetap aman. Hanya saja, aku sudah menyuruh ebberapa personel untuk tetap melakukan pengamatan di apartemennya. Sore ini aku akan ke sana pula untuk menyampaikan kondisi Melani sebenarnya. Kuharap dia bisa kuat menghadapi kenyataan yang sesungguhnya," kata Reno.
"Ya, memang kondisi yang berat, tapi kuharap Faishal bisa menerima kenyataan yang terjadi," sambung Dimas.
Hari itu juga, mereka melaksanakan tugas masing-masing.Dimas bergerak menuju kawasan perumahan elite tempat Renita Martin tinggal. Setelah berkoordinasi dengan sekuriti di gerbang utama, Dimas masuk ke dalam kawasan perumahan. Ia ingin menyelidiki lebih jauh kondisi lingkungan perumahan lebih dalam.
__ADS_1
Kawasan itu sungguh tertata rapi, dengan jalan mulus dan lebar, serta rumah-rumah mewah yang berderet di sekelilingnya. Pohon-pohon rindang sengaja ditanam di tepi jalan, menjadikan suasana menjadi teduh. Suara keciap burung di pepohonan, menambah damai suasana. Sama sekali tak terpikirkan bahwa lingkungan tenang seperti itu akan menjadi lokasi pembunuhan.
Dimas sengaja tidak menggunakan mobil untuk berkeliling lingkungan perumahan. Ia berjalan menyusuri trotoar di depan rumah-rumah mewah itu sambil mengulum permen karet. Matanya menatap berkeliling, mencari-cari sesuatu yang tak lazim. Namun, sepertinya semua berjalan normal. Sedikit sekali penghuni rumah-rumah itu yang menampakkan diri. Ada yang sedang mencuci mobil, ada pula beberapa anak kecil yang bermain sepeda. Semua terlihat sangat normal.
Dimas tiba di depan kediaman Renita Martin yang masih sangat sepi. Rumah megah itu seolah menjadi saksi bisu kejadian mengerikan yang telah terjadi. Dimas menatap rumah itu, kemudian beralih ke lingkungan sekitar. Ia tertarik dengan sebuah rumah besar yang berdiri tepat di hadapan rumah Renita. Bangunan besar itu tampak terbengkalai dan menyeramkan. Sementara, rumput-rumput di halaman mulai menyemak dan meninggi. Kondisinya sungguh tak terawat. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada bungkus bekas cokelat Silver King yang berceceran. Bungkus cokelat itu mengingatkannya pada sesuatu.
***
Semenjak tinggal di kediaman Raymond, Ollan nyaris tak pernah keluar kamar. Ia merasa malas berinteraksi dengan penghuni lain, sehingga praktis Ollan merasa sangat kesepian. Ia hanya duduk merenung di atas kasur sambil memandang ke arah jendela. Ia sudah tak sabar, menghitung hari kapan dia bisa terbebas dari rumah itu.
Saat jam makan siang, Raymond masuk ke dalam kamar Ollan mengantar nasi bungkus untuknya. Raymond meletakkan nasi di atas meja. Sebenarnya ia iba kepada Ollan yang merasa kesepian seperti itu.
"Aku mengantar makan siangmu," ucap Raymond datar.
Ollan tak menjawab, hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Raymond. Pria berwajah garang itu hanya menghela napas.
"Kamu nggak mau makan?" tanya Raymond.
"Kamu merindukan suasana luar ya?" tanya Raymond lagi.
Ollan tak menjawab, hanya mengembuskan napas panjang. Raymond duduk di sebuah kursi kayu yang berada dalam kamar itu, sembari menatap Ollan.
"Kamu denger berita pagi ini? Sepasang artis mengalami percobaan pembunuhan di villa yang sama dengan villa tempatmu mengalami hal yang sama. Untungnya si pria berhasil selmat, sedangkan pacarnya tewas secara mengerikan," terang Raymond.
Ollan terkejut mendengar berita itu. Ia mulai bereraksi, sambil memalingkan muka ke arah Raymond. Ia sama sekali tidak menyangka kalau villa milik Henry Tobing itu lagi-lagi digunakan untuk sasaran pembunuhan. Ia menyangka kalau yang menjadi sasaran pembunuhan adalah pasangan Henry dan Rianti.
"Ma-maksud Bang Raymond artis yang mana? Apakah Bang Henry dan istrinya?" tanya Ollan.
"Bukan. Berita pagi tadi menyebutkan kalau aktor Faishal Hadibrata berhasil lolos dari pecobaan pembunuhan, sementara pacarnya yang tengah hamil tak selamat, tewas dalam keadaan mengenaskan dalam kamar mandi villa itu," kata Raymond.
__ADS_1
"Melani?"
Iya, Melani atau siapa namanay. Entahlah. Yang jelas wanita itu tewas terbunuh," kata Raymond.
"Ya Tuhan! Kok bisa Faishal berada di dalam villa itu? Sudah tahu villa itu nggak aman. Coba aja kalau ada aku, pasti bakalan kularang Faishal memakai villa itu. Aku saja sampai sekarang masih trauma kalau ingat villa itu. Pembunuh itu memang bangsa*t! Kalau aku tahu siapa dia, ingin rasanya kutampar-tampar tuh muka!" keluh Ollan.
Mendengar itu, Raymond hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau yakin mau tampar wajah si pembunuh itu?" tanya Raymond.
"Iya Bang! Jengkel aku dibuatnya!"
"Kamu melihat kecoa aja lari ketakutan, bagaimana mau tampar itu paras pembunuh. Belum sempat menampar kamu sudah terkecing-kencing duluan. Hahaha!" Raymond berkata sambil terkekeh.
Ollan mendengkus kesal. Ia kembali merengut sambil memandang ke arah jendela. ia benar-benar sudah muak dengan suasana rumah ini. Ia merasa terkucil dengan kondisi seperti ini.
"Kalau kamu memang merindukan suasana luar, kalau kau mau, aku akan mengantarmu. kau boleh keluar, tetapi tetap dalam pengawasanku," ucap Raymond.
"Abang serius?" tanya Ollan dengan mata berbinar.
Dalam pikirannya sudah terbayang sosok dirinya yang melenggang penuh gaya di sebuah mal, atau keluar dari salon, atau pusat perawatan tubuh. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti itu.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Raymond.
"Biasalah, Bang! Aku nggak bisa terkungkung di sini terus-terusan. Pengen juga aku bertemu teman-teman, nonton, berbelanja, ya begitulah!" ucap Ollan.
"Aku bisa mengantarmu!"
***
__ADS_1