Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
326. Sosok Tergantung


__ADS_3

Ammar dan Juned segera masuk ke dalam bilik yang gelap itu, untuk memeriksa siapa yang tergantung di sana. Dalam gelapnya ruangam, mereka tak dapat melihat dengan jelas. Memang, di sana ada sesosok tergantung, bergoyang-goyang dan meronta. Tiba-tiba, para pria itu kemudian dikejutkan dengan suara batuk dari sosok tergantung. Sepertinya, dia baru saja digantung, karena ia masih dalam keadaan hidup. Mungin terlambat sedikit, sosok itu sudah meregang nyawa.


"Uhuk ... uhuk!"


"Dia masih hidup! Cepat tolong!" kata Juned cepat.


Secara reflek mereka bertiga segera menahan kaki yang tergantung itu, agar tali tidak semakin kuat mencengkeram leher. Juned menarik sebuah kursi tua yang ada di bilik itu, kemudian melepas tali yang mengikat leher sosok tergantung itu. Sosok itu terlihat lemas, memegang lehernya yang terasa nyeri. Mereka meletakkan sosok tergantung itu di atas lantai yang lembap.


Juned mengarahkan lampu senter ke paras sosok yang tadi tergantung itu, dan mereka baru tahu kalau sosok itu adalah sosok perempuan muda yang selama ini mereka cari. Ammar menghela napas lega, karena ia menemukan wanita ini dalam keadaan hidup.


"Kau tak apa-apa, Nadine?" tanya Ammar.


Sosok wanita muda yang ternyata adalah Nadine itu terlihat pucat dan lemah. Matanya terlihat sayu, dengan bibir yang kering. Ia hanya menggeleng, tak mengucapkan kata apa pun. Ammar menghela napas. Ia tak berniat bertanya lebih jauh lagi, mengingat kondisi Nadine yang belum stabil. Ia mungkin masih terpukul dengan kondisi ini. Untunglah, ia segera ditemukan. Kalau tidak, mungkin hanya tinggal nama saja.


"Mana Rosita? Apa kamu melihat dia?" tanya Edwin cepat.


"Nanti saja, Win!" tegur Juned.


Nadine hanya menggeleng lemah. Wanita itu mencoba berdiri, dipapah oleh Juned dan Edwin, karena kondisinya masih lemah. Mungkin ia belum makan atau minum sejak kemarin. Ammar memandu mereka berjalan menyusur lorong, kembali ke atas. Tak ada pembicaraan apa-apa, walaupun banyak pertanyaan dalam pikiran Ammar. Ia masih ingin tahu, bagaimana bisa Nadine tiba-tiba berada di ruang bawah tanah, padahal saat ini Reno sedang mencari ke hutan dekat air terjun.


Setelah sedikit bersusah-payah, Nadine berhasil dibawa ke atas menuju dapur. Di dapur, mereka bertemu dengan Dimas dan Mariah yang hendak turun ke ruang bawah tanah. Dimas terkejut melihat keberadaan Nadine yang terlihat lemah, sedang dipapah oleh Juned dan Edwin.


" Kok kalian bisa temukan dia?" tanya Dimas.


"Nanti saja, Dimas. Ia membutuhkan pertolongan segera!" jawab Ammar.


Mereka segera membawa Nadine ke kamar untuk mendapat pertolongan pertama. Mereka membaringkan Nadine ke atas ranjang, agar merasa nyaman. Ammar memeriksa leher Nadine, tampak membekas merah karena jeratan tali. Ia tiba-tiba teringa kasus terdahulu saat leher Maira Susanti yang juga dijerat oleh tali, tetapi beruntung ia masih hidup. Apakah ini ada kaitannya dengan itu?

__ADS_1


Sementara, Mariah segera memberitahukan penemuan Nadine ini kepada Ryan, suaminya, yang masih duduk-duduk di meja makan bersama Jeremy. Mendengar informasi dari Mariah, Ryan tampak gembira, sedangkan Jeremy masih merasa galau karena Mariah tak mengabarkan pula tentang Stella. Sudah barang tentu, Stella belum ditemukan. Ryan tak mau menunggu lama lagi, ia segera menyusul Nadine di kamar tempat ia dirawat.


Penemuan Nadine ini juga telah didengar oleh Lily dan Maya. Kedua wnita ini sedang mengobrol di balkon atas. Segera mereka turun untuk menengok Nadine yang terlihat masih terlihat lelah dan kacau. Wanita itu masih terbaring di atas ranjang, sementara lehernya diolesi obat oleh Mariah. Semua penghuni tampak berkerumun di sisi ranjang, tak sabar mendengar penuturan Nadine.


"Biarkan ia istirahat dulu. Jangan bertanya dulu padanya. Kalian harus paham itu. Kuminta kalian yang tidak berkepantingan, agar segera keluar. Biar Mariah yang memeriksa luka Nadine. Ryan, kamu jaga istrimu baik-baik!" perintah Ammar.


Mereka mematuhi apa yang diperintahkan oleh Ammar. Ia memang benar, saat ini Nadine membutuhkan banyak istirahat. Satu-persatu, para penghuni meninggalkan kamar Nadine. Yang tinggal di sana hanya Dimas, Ammar, Ryan, dan Mariah. Mereka menjaga Nadine agar kondisinya stabil terlebih dahulu.


Sementara, di luar kamar, Edwin segera dikerubuti oleh rekan-rekannya, karena penasaran. Edwin hanya diam, menggeleng, tak bersuara, enggan memaparkan apa yang ia lihat di ruang bawah tanah tadi. Ia memang sudah diwanti-wanti untuk tidak menceritakan apa saja yang ia lihat selama di sana, agar tidak menimbukan kepanikan.


"Apa kamu nggak ketemu dengan Stella? Masa cuma Nadine yang ketemu!" semprot Jeremy.


"Aku nggak tahu, Jer! Jangan paksa aku untuk bercerita! Kau pikir kamu saja yang merasa kehilangan istrimu! Ingat! Istri kita semua di sini menghilang! Aditya kehilangan Lidya, Ryan kehilangan Nadine, dan aku sekarang kehilangan Rosita! Jadi jangan merasa seolah-olah kamu saja yang kehilangan istri!"


Edwin mulai meledak, karena ia tidak tahan dengan cecaran pertanyaan yang ditujukan padanya. Ia bersiap untuk masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Jeremy hanya mengangguk mendengar itu, berusaha memahami bahwa Edwin memang sedang tidak baik suasana hatinya, sehingga emosinya meninggi. Edwin masuk ke dalam kamar, tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan rekan-rekannya yang lain.


"Aku masih kepikiran Stella. Semoga dia ditemukan dalam keadaan selamat," gumam Jeremy.


***


Siang itu pula, Dimas akan pergi ke kota untuk mencari data sekaligus meminta tim medis agar segera bergerak menuju kastil, mengingat ada dua mayat yang mereka temukan pagi ini. Yang pertama adalah jasad tanpa kepala di pondok tengah hutan, dan yang kedua adalah jasad Kara yang saat ini tengah diamankan di ruang bawah tanah. Ia harus bergerak cepat, berkejaran dengan waktu, agar tak ada lagi korban jatuh.


Kini kondisi di kastil hanya tersisa Juned dan Ammar, mengingat Reno masih di hutan untuk mengamankan jasad tanpa kepala itu. tak mungkin ditinggal sendirian di sana. Sementara kondisi Nadine juga mulai stabil, dan ia bisa sudah bisa tidur. Ryan meyelimuti tubuh istrinya itu. Rasa khawatir masih ada di hatinya.


"Aku akan menungguinya," kata Ryan.


"Sebentar lagi waktu makan siang. Aku pikir tak apa kalau Nadine ditinggal sejenak, agar ia bisa beristirahat dengan lebih baik, dan kamu juga harus makan siang untuk memulihkan tenagamu. Aku akan memasak makan siang seadanya dulu," ucap Mariah.

__ADS_1


"Tak apa. Aku menyusul saja makan siangnya. Biar aku tunggui saja Nadine di sini. Aku nggak mau kejadian buruk berulang lagi, gara-gara aku lalai, nanti malah terjadi hal-hal buruk. Lebih baik kamu fokus saja melayani yang lain, Mariah. Terima kasih atas kebaikanmu, biar aku saja yang mengurus Nadine," pinta Ryan.


"Nanti kalau kamu butuh apa-apa, biar digantikan yang lain untuk mengantikanmu," ucap Mariah.


"Aku nggak percaya yang lain!" potong Ryan.


Mariah tak ingin mengajak berdebat lagi, hanya mengangguk, berusaha memahami apa yang dikatakan Ryan. Hal itu wajar, karena siapa pun pasti akan bersikap protektif saat ini, berusaha untuk melindungi orang yang disayangi, dan tidak percaya dengan orang-orang di sekitar.


Mariah keluar dari kamar Nadine, membiarkan Ryan menunggui istrinya seorang diri. Ia berniat ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Mungkin ia hanya melanjutkan apa yang dimasak Rosita tadi pagi, karena bahan makanan yang sedianya dimasak oleh Rosita, masih terlihat berserak di atas meja.  Wanita itu juga menghilang tiba-tiba. Namun, sebelum ia melanjutkan memasak, ia mendengar suara berisik dari arah loteng. Ia berpikir, memang kadang ada tikus yang bersarang di sana. Di loteng bayak tumpukan kardus dan barang tak terpakai. Biasanya tikus suka bersarang di sana.


Suara itu makin berisik, mengusik rsa ingin tahunya. Tiba-tiba, ia kembali teringat Rosita. Ia menduga, bahwa ada yang menarik perhatian Rosita, sehingga meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Perlahan ia melangkah ke arah loteng untuk memeriksa. Namun, ia terkejut karena tingkap loteng tampak tergantung dalam keadaan rusak! Seseorang telah membuka paksa tingkap loteng.


Mariah semakin penasaran. Siapa yang melakukan ini? Apakah ini ada hubungannya dengan hilangnya Rosita?


***


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2