Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
159. Sumur Tua


__ADS_3

Nayya kembali memasuki sebuah rumah sederhana di sebuah gang padat di Kampung Hitam. Angannya melayang pada peristiwa yang telah dilaluinya di masa lampau. Saat itu, ia tengah berusaha meloloskan diri dari kejaran sosok misterius. Sayangnya, pengejaran itu berujung petaka. Bukan dia yang tewas, tetapi seorang wanita muda bernama Tari. Wanita itu tewas karena melindunginya. Sesaat dadanya merasa sesak. Matanya berkaca-kaca. Ada rasa bersalah di hatinya.


“Istirahatlah dulu. Sepertinya kamu dalam keadaan tertekan. Kami sudah menyiapkan kamar untukmu untuk tinggal sementara. Kami akan terus memburu pembunuh Tari. Ke ujung dunia pun dia nggak akan bisa sembunyi. Untuk sementara kamu aman di sini,” ucap Badi pada Nayya.


Kehadiran Nayya disambut cukup baik oleh anggota Raymond Brothers yang lain. Mereka terkejut melihat kondisi Nayya yang lemah, sama sekali tak menyangka kalau gadis itu adalah tawanan dari sosok misterius yang selama ini mereka kejar.


Nayya yang merasa lelah, segera masuk ke dalam kamar. Salah seorang anggota Raymond Brothers memberikan sebotol air mineral dan makanan untuknya. Nayya merasa terharu. Ia tidak menduga, di balik kegarangan anggota ini tenyata tersimpan kebaikan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Gadis itu ssgera masuk kamar yang disediakan untuknya.


“Gadis itu disekap beberapa hari dalam apartemen. Kondisinya agak lemah, tetapi masih bisa berkomunikasi. Kurasa ia kelaparan dan dehidrasi. Semoga kondisinya membaik setelah di sini,” ucap Badi kepada Raymond, pimpinan kelompok.


“Kuharap keputusanmu untuk membawa gadis itu kesini bukan keputusan yang salah. Saat ini gadis ini tengah dicari-cari keluarganya. Semoga tidak ada masalah dengan itu,” timpal Raymond.


“Kurasa ia akan lebih aman di sini daripada di rumahnya sendiri. Pembunuh itu tentu tidak akan menyangka kalau dia ada di sini. Tetapi kalaupun pembunuh itu tahu bahwa kita yang membawanya, itu akan lebih bagus. Gadis itu bisa menjadi pancingan agar pembunuh itu ke sini, sehingga kita nggak perlu repot-repot mencarinya,” kata Badi.


“Jadi di mana informasi terakhir pembunuh itu sekarang?” tanya Raymond.


Pria berwajah garang itu menyeruput kopi yang tinggal setengah di atas meja. Badi hanya menggeleng mendengar pertanyaan Raymond


“Sampai saat ini kami masih kehilangan jejak. Apartemen dalam keadaan kosong, demikian juga tempat tinggalnya. Aku akan segera melacak keberadaannya, barangkali ada yang melihat dia berkeliaran di kota ini."

__ADS_1


“Dia memang licin bagai belut. Kalau sudah tertangkap, ingin rasanya mengulitinya hidup-hidup!” geram Raymond.


“Kita hanya perlu bersabar beberapa waktu, Bos! Dia nggak akan lari jauh-jauh dari kota ini, karena akan sangat mencurigakan. Aku yakin polisi juga tengah memburunya. Jangan sampai polisi mendahului mendapatkan dia. Kalaupun dia dipenjara, aku akan culik dia dan akan kuhukum dengan caraku sendiri. Dia berani menantang Raymond Brothers, berarti dia telah mengundang malapetaka untuk dirinya sendiri.”


Setelah mengobrol beberapa lama, Badi beranjak menuju kamar yang ditempati Nayya. Ia membuka pintu, mengintip sekilas. Dilihatnya Nayya yang tengah tertidur karena lelah. Badi menutup kembali pintu, tanpa berniat mengganggu. Ia teringat akan Tari. Rasa sedih menyeruak dalam hati. Kehadiran Nayya membuat ingatannya kembali pada masa silam. Ia sangat menyayangi Tari.


***


Miranti menyusur jalan setapak kecil yang kanan-kirinya ditumbuhi rumput ilalang. Angin sore bertiup lembut menyisir rambutnya. Ia menoleh ke sekitar, hanya ada pepohonan dan semak yang tumbuh jarang. Ia tertarik dengan bunga-bunga warna ungu yang tumbuh di pinggir jalan setapak. Dipetiknya beberapa, kemudian ia sematkan di rambut. Untuk sesaat, ia merasa bagai seorang ratu tercantik di jagad raya.


Miranti merasa sore ini begitu cerah. Sudah lama ia tak menikmati ketenangan di alam terbuka seperti ini. Hari-harinya disibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Dua tempat yang begitu akrab dalam hidupnya adalah rumah dan kampus. Alam terbuka seperti ini membuat dirinya merasa sangat bahagia. Semua penat terasa sirna. Demikian juga dengan pesan-pesan ancaman yang ditujukan padanya, serasa menguap begitu saja.


Rasa penasaran menuntunnya terus menyusur ujung jalan yang berujung pada sebuah lahan pemakaman yang terbengkalai. Batu-batu nisannya sebagian ambruk, bahkan berserak tak karuan. Ada beberapa makam yang bahkan tanahnya tampak berlubang. Areal makam itu ditumbuhi semak-semak yang tinggi tak terawat, di sela-sela pohon kamboja yang mulai mengering.


Ia teringat dengan perkataan Bu Mariyati bahwa di sekitar makam ada sumur-sumur tua yang tak tertutup. Ia benar-benar berhati-hati dan memperhatikan langkahnya, jangan sampai ia terperosok. Perasaannya mendadak tak enak. Suasana yang agak gelap, menjadikan ia bingung, jalan mana yang ia telah lewati tadi.


“Aduh, lewat mana ya tadi?” gumamnya.


Rasa cemas mulai muncul. Ia menengadah menatap langit. Matahari mulai tenggelam, meninggalkan rona kemerahan di langit. Miranti semakin cemas. Ia menoleh ke belakang. Namun, betapa terkejutnya ia melihat sesosok manusia berpakaian serba hitam dan bertopeng berdiri tak jauh di belakangnya. Di tangannya tergenggam sebuah martil.

__ADS_1


“Oh, Tuhan! Aku nggak mau mati,” gumamnya ketakutan.


Setengah berlari ia meninggalkan jalan setapak, entah kemana arah yang ia tuju. Sosok bertopeng itu terus mengikuti dengan langkah cepat. Sayangnya, Miranti tak dapat berlari cepat. Kakinya masih terasa sakit akibat terkilir saat berjalan menuju tempat isolasi tadi pagi.


Saat itulah, dia teringat dengan pesan-pesan ancaman yang ditujukan kepadanya. Miranti merasa semakin takut. Ia telah keluar dari jalan setapak, menuju rerumputan yang tinggi dan penuh semak. Duri yang menusuk-nusuk kaki dan pahanya tak dipedulikan.


“Tolooong!”


Ia mencoba berteriak, tetapi suaranya terdengar parau, seolah kalah dengan rasa takut yang mencengkeram. Suaranya terdengar hanya menyumbat di kerongkongan. Ia tak lagi harus ke mana, yang penting ia berlari menjauhi. Tiba-tiba, Miranti berhenti mendadak. Ia melihat sebuah lubang menganga, hanya beberapa jengkal dari kakinya.


“Oh, sumur tua!” pekiknya.


Ia menoleh ke belakang, khawatir kalau-kalau sosok itu sudah menyusul. Namun, ia hanya melihat kesunyian. Ia ragu, jangan-jangan berhalusinasi. Sosok itu menghilang. Miranti sedikit bingung, tetapi tetap waspada. Bisa jadi, sosok itu sengaja membiarkan dirinya merasa bingung, kemudian menyergap tiba-tiba. Setidaknya itulah yang pernah ia lihat dalam film-film horor.


Perlahan, Miranti berjingkat untuk meninggalkan tempat dekat sumur tua itu. Ia menerobos semak berduri yang banyak menempel di kakinya. Ia tak pedulikan rasa sakit. Ia hanya ingin segera pergi sejauh mungkin dari situ.


Samar-samar di belakangnya dilihat sesosok hitam muncul dari balik semak. Hampir ia berteriak, tetapi segera mempercepat langkahnya dengan menahan sakit. Benar dugaannya, bahwa sosok itu ternyata masih mengintai, dan akan beraksi saat ia lengah. Miranti berusaha melawan rasa takut yang semakin menghebat. Entah tak tau lagi kemana ia harus berlari.


“Aaaahh!”

__ADS_1


Tiba-tiba, ia merasakan tanah yang dipijaknya merosot ke bawah. Tubuhnya limbung! Ia terperosok ke dalam sebuah lubang gelap. Miranti hanya melihat sekitarnya gelap.


***


__ADS_2