Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
210. Acara Amal


__ADS_3

Wanita muda bertubuh langsing itu mematut diri di depan cermin riasnya, kemudian memoles bibir dengan lipstik berwarna merah menyala. Ia ingin tampil menarik hari ini, karena ia mendapat undangan acara amal para artis wanita dan sosialita. Sejatinya, kegiatan amal itu hanyalah kegiatan basa-basi saja, karena yang tepenting dari itu, ia bisa memamarken tas keluaran Hermes keluaran terbaru, atau sepatu yang memang ia beli langsung dari Perancis.


Setelah memastikan tampilannya, wanita itu keluar kamar, mendapati seorang gadis belasan tahun bercelana pendek dan berkaos oblong sedang menonton drama Korea di ruang tengah yang luas. Gadis bercelana pendek itu terlihat cuek, sedang fokus dengan tayangan yang ada di layar TV raksasa.


“Rani, nanti aku pulang malam. Kalau kamu lapar, kamu pesan makanan onlen saja ya?” ucap wanita muda itu seraya meraih kacamata hitam yang ia taruh di lemari.


“Iya Kak! Nanti jangan lupa pulang belikan aku martabak yang dekat rumah sakit itu ya! Mendadak pengen martabak nih!” ucap gadis belia bernama Rani itu cepat.


“Yakin kamu mau makan martabak malam-malam? Aku pulang hampir tengah malam loh! Hari ini aku mendapat undangan dinner dari produser, jadi mungkin pulangnya malam banget,” kata wanita muda itu.


Wanita muda itu, Renita Martin, pemeran film horror terkenal di seantero negeri. Ia sering mendapat peran penting yang diselingi adegan panas karena kemolekan tubuhnya. Ia tinggal di sebuah rumah mewah bersama adik semata wayangnya, Maharani.


“Kalau aku sedah tidur, berarti ya kumakan besok pagi,” ucap Rani.


Renita mengangguk. Ia segera keluar dari rumah bergaya Mediterranian itu, menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Sebuah mobil mewah berharga milyaran berwarna merah menyala, warna favoritnya. Ia masuk ke dalam menyalakan musik rancak dari Katy Perry, kemudian meluncur ke jalan raya yang padat siang itu.


Acara amal itu diselenggarakan di sebuah ballroom hotel bintang lima terkenal di kota itu. Di sana sudah berkumpul para artis berbagai kalangan, mulai dari artis film, sinetron, penyanyi, dan istri para aktor. Mereka berdandan mencolok, saling memamerkan harta yang tertempel di tubuh mereka, kerlip-kerlip berlian di telinga atau perhiasan yang menggantung di leher. Mereka mengobrol berkelompok sambil menggenggam gelas-gelas piala berisi cocktail. Beberapa di antaranya ada yang merokok, sambil tertawa melengking, seolah melepaskan diri dari rutinitas yang membosankan.


Renita menyapa beberapa artis yang ia kenal, tetapi tidak berniat mengobrol. Ia langsung duduk di sebuah sofa di sisi lain ruangan. Seorang wanita berpenampilan menor menghampiri sambil menawarkan segelas minuman kepadanya. Wanita itu kelihatan lebih tua daripada dirinya, hanya saja dandanannya sangat mencolok, untuk menutupi usia sebenarnya.


“Kamu tampak resah hari ini, Ren!” ucap wanita itu sembari duduk di samping Renita.


“Yah, aku agak lelah akhir-akhir ini. Untunglah syuting film Pak Daniel lagi vakum sementara ini, jadi bisa tarik napas sebentar."


Renita menghela napas. Perempuan di sampingnya hanya tersenyum, sambari meneguk minuman di tangannya.


“Kamu hadir kan di undangan Pak Govind Punjabi malam ini?” tanya perempuan itu.


“Iya aku datang lah. Masalahnya dia produser. Aku nggak mau didepak dari proyek film itu, karena nilai kontraknya lumayan. Ini adalah nilai kontrak terbesar yang pernah aku jalani. Di film horor nggak seberapa, hanya cukup untuk beli bedak Swedia saja,” ucap Renita.


Perempuan yang tak lain adalah Rianti Tobing itu tertawa mendengar ucapan Renita. Walau Rianti Tobing bukan artis, dia sudah sangat dikenal di kalangan artis karena dia aktif di komunitas-komunitas sosialita. Selain itu, ia dikenal sebagai wanita pencemburu, karena ia selalu mengikuti kemana pun suaminya pergi.


“Aku juga akan datang malam ini,” gumam Rianti.


“Jadi satpam seperti biasa kan?” cibir Renita.


“Yah, Hendry harus diawasi. Aku tidak percaya dia. Aku melihat cara dia menatap Laura Carmellita. Artis kelas bawah tersebut rupanya cukup menarik perhatian suamiku,” gerutu Rianti.

__ADS_1


“Dia diundang juga kok di acara amal ini,” ucap Renita.


“Loh masa? Sejak tadi aku tak ketemu dia,” kata Rianti.


Renita menunjuk ke arah seorang wanita muda yang terlihat anggun, berdiri sambil mengobrol dengan artis wanita lain. Memang, wanita itu terlihat anggun, dengan dandanan tak berlebihan seperti artis wanita lain. Senyumnya merekah, penuh pesona.


“Awas saja, kalau dia benar-benar ada affair dengan suamiku, akan kuhabisi karirnya di dunia hiburan!” ucap Rianti.


Renita tersenyum mendengar ucapan Rianti. Berganti-ganti pasangan adalah hal yang normal di kalangan selebritas, jadi ia tak terlalu menanggapi ucapan Rianti. Karena alasan itulah, Renita sampai sekarang masih betah menyendiri. Ia hampir tak percaya dengan institusi perkawinan.


Acara amal pun dimulai. Para artis berlomba-lomba menyumbang dengan nilai tertinggi. Bahkan ada yang menyumbang seperangkat perhiasan berlian. Ada pula yang menyumbang dalam bentuk mata uang asing. Entah berapa miliar jumlah sumbangan yang berhasil dikumpulkan.


“Ngomong-omong, mau disumbangkan kemana sih hasil sumbangan ini?” bisik Renita kepada salah seorang artis wanita yang berdiri di sampingnya.


“Belum tahu. Yang penting duitnya terkumpul dulu!” jawabnya cepat.


***


Sepulang makan siang bersama Anita, Reno segera kembali ke kantor untuk kembali menyelesaikan penyelidikan kasus Daniel Prawira. Ia menyempatkan untuk melihat ruangan Niken yang tak jauh dari ruangannya. Tampaknya, beberapa pekerja sedang mendekorasi ruangan itu, dengan arahan langsung dari Niken Astuti.


“Aku mau cat ruangan ini baru laut saja ya. Terus aku juga mau nanti mejanya di sisi ini, jadi aku bisa lihat keluar. Lemari file bisa kalian letakkan di sana dan .... “


“Ruangan yang bagus,” puji Reno.


“Yah, paling tidak lebih bagus dari ruanganmu. Aku pikir, lebih baik aku mendapat ruangan sendiri daripada ruangan orang lain, jadi aku bisa mendesain sendiri sesuai seleraku,” ucap Niken.


“Good job lah! Ngomong-omong ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu. Bisa ke ruanganku sebentar?” ajak Reno.


“Oh, oke ... oke,” jawab Niken.


Keduanya beralih ke ruang kerja Reno. Mereka duduk berhadapan, kemudian Reno memberikan satu map berisi berkas salah seorang artis yang sedang diselidiki keterlibatannya dengan pembunuhan Daniel Prawira. Niken menerima map itu, kemudian membukanya.


“Anita Wijaya?” tanya Niken.


“Ya. Kamu pernah dengar nama artis itu? Dia artis baru sebenarnya tapi cukup berbakat dan sering main film. Kami baru saja mengobrol dan dia mengatakan bahwa saat ini dia sedang mendapat teror misterius dari seseorang yang tak dikenal. Sebenarnya aku belajar dari kasus Ferdy, bahwa teror seperti itu bisa saja hanya karangan pribadi dan pura-pura belaka, tetapi aku tidak mau mengambil risiko. Kematian Fani dan Miranti adalah pelajaran berharga bagiku. Jadi aku hendak meminta bantuanmu .... “


“Bantuan apa yang bisa kuberikan?” tanya Niken antusias.

__ADS_1


“Aku sudah memberi tahu Anita bahwa untuk sementara agar waspada. Namun, kurasa itu belum cukup. Aku mau kamu temani dia sementara, dalam artian kamu pastikan saja kalau dia aman. Tak perlu sampai 24 jam kamu awasi dia, karena mungkin dia juga tak nyaman kalau diawasi terus-terusan. Paling nggak dia merasa aman. Gitu aja sih,” kata Reno.


“Hmm. Tugas ini terdengar mudah, tetapi sebenarnya nggak semudah yang kita bayangkan. Aku yakin tugas ini penuh risiko. Ya, aku mendengar kabar pula tentang terbunuhnya Fani. Dia terbunuh saat mengawal salah seorang yang nyawanya terancam. Kita perlu belajar dari peristiwa ini. Aku nggak mau mati konyol karena mengawal artis ini,” ucap Niken.


“Aku paham. Oleh karena itu, seperti yang kubilang tadi, kamu tak perlu mengawal penuh. Awasi saja dari jauh, tak perlu kelihatan terlalu mencolok kalau kau sedang mengawasi. Dan saranku, tak usah berseragam. Kamu kan polisi baru di kota ini. Kalau kamu tak berseragam, kemungkinan tak ada yang mengira kamu adalah seorang polisi. Kalau perlu menyamarlah menjadi orang lain.” Ucap Reno.


“Manyamar? Menurutmu aku harus menyamar menjadi siapa?”


Niken berkata sambil tertawa.


“Entahlah, kamu lebih ahli dalam hal menyamar kan? Aku membaca sekilas profilmu, dan ternyata kamu cukup ahli dalam bidang menyamar dan menyusup. Selain itu kamu juga menguasai teknik beladiri dengan baik, walau aku belum membuktikannya. Maka aku yakin kali ini kamu dapat melaksanakan tugasmu dengan baik,” ucap Reno.


“Oke ... oke! Karena kamu mempercayakan padaku, maka aku akan lakukan yang terbaik!”


“Selamat bertugas!”


***


Di gedung studio film, di lantai 14, kondisi menajadi sedikit lengang sejak peristiwa terbunuhnya Daniel Prawira. Namun, Riky tetap mondar-mandir mengkordinasi orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film. Ia juga diberi tugas oleh Govind Punjabi untuk mengurus segala persiapan untuk acara makan malam nanti malam.


“Jadi berapa orang yang kita undang? Kalau kamu perlu bantuan, bilang saja ya, Rik!” tanya Widya.


Wanita berkacamata itu rupanya ikut gusar melihat Riky yang mondar-mandir seperti kebingungan. Sebagai seorang rekan kerja, ia berinisiatif untuk membantu.


“Banyak yang harus kuselesaikan, Wid. Sungguh! Ternyata Pak Daniel meninggalkan banyak warisan urusan yang belum terselesaikan, dan konyolnya, aku yang harus menyelesaikan itu semua. Aku ingin mengambil berkas di ruang kantornya tetapi dikunci karena masih dalam pegawasan polisi. Aku hampir gila. Tiap setengah jam Pak Govind menelepon menanyakan progress. Mana hari ini aku harus cek lokasi restoran. Aku harus apa?”


Riky meluapkan kekesalan pada Widya. Wanita itu hanya bisa mengangguk-angguk. Ia juga bingung, bantuan apa yang bisa ia berikan pada Riky.


“Mm ... gini aja, Rik! Kamu selesaikan saja urusan di kantor. Biar aku saja yang cek lokasi restoran. Mumpung aku nggak ada kerjaan hari ini Gimana?” tawar Widya.


“Wah, serius kamu? Aku sangat berterima kasih kalau kamu mau bantu aku!”


“Beres lah! Nggak usah khawatir. Proyek film ini kan proyek kita bersama walau Pak Daniel nggak ada, Jadi kamu jangan pusing sendiri. Pasti aku bantu kok,” ucap Widya sambil tersenyum.


Riky tersenyum senang mendengar perkataan Widya.


“Eh, aku ikut kamu ya Wid! Nanti mampir di penjahit. Aku mau ambil jahitan sekalian!”

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah sebuah ruangan muncul Guntur. Pria itu berencana ikut Widya untuk cek lokasi resto tempat acara makan malam nanti. Widya segera mengiyakan, daripada ia harus berangkat sendiri. Riky merasa sedikit lega, paling tidak ia bisa fokus menyelesaikan urusan di dalam kantor, sedang urusan acara nanti malam ia mempercayakan pada Widya.


***


__ADS_2