
Mobil yang dikendarai Niken perlahan mendekati bangunan kastil yang terlihat megah. Malam itu sangat senyap dan gelap, karena tak ada cahaya yang menerangi jalan. Pun bulan pun tidak nampak malam ini. Satu-satunya cahaya berasal dari sorot cahaya lampu dari mobil Niken. Polisi wanita itu melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Pukul 23.34. Sebentar lagi tengah malam, dan aku sudah sampai di kastil. Semoga aku mendapat sambutan yang baik," gumam Niken.
Ia memarkir mobil ke dalam halaman kastil, di bawah sebuah pohon besar. Gerbang kastil yang lebar dan besar terlihat terbuka tanpa penjagaan. Hal ini memang sudah biasa karena gerbang itu memang tak pernah dikunci, hingga siapa pun bisa keluar masuk ke kastil dengan leluasa. Setelah turun dari mobil, Niken melihat bangunan kastil itu dengan takjub. Sebelumnya, ia pernah hampir masuk, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Dimas. Kini, ia sudah membekali diri dengan surat tugas resmi dari kepolisian. Tak ada lagi yang akan menolaknya.
Sayangnya, ia datang terlalu malam. Suasana kastil sudah hening dan senyap, sehingga Niken merasa bingung hendak masuk lewat mana. Tidak mungkin lewat pintu depan, karena pasti sudah dikunci. Pintu samping juga begitu. Semua pintu seolah tertutup. Terpaksa ia berjalan ke arah belakang kastil yang terhubung dengan kolam renang. Niken berjalan sambil menyeret ranselnya melalui jalan paving blok yang membelah taman. Sebenarnya ia merasa lelah dan ingin beristirahat, tetapi ia tak dapat masuk ke kastil untuk saat ini. Bayangannya untuk bisa segera menikmati ranjang empuk, perlahan buyar.
Untuk melepas rasa penatnya, Niken duduk di gazebo dekat kolam renang. Mungkin kalau ia tidak bisa masuk ke dalam kastil, ia akan tidur di gazebo ini sampai menjelang pagi. Cuaca di luar cukup dingin, belum lagi puluhan nyamuk bertebaran mencari celah untuk menghisap darahnya. Namun, Niken tidak peduli. Ia hanya ingin merebahkan punggungnya yang terasa kaku karena terlalu lama mengendarai mobil.
Baru saja ia hendak merebahkan diri, tiba-tiba dalam kegelapan malam ia melihat sesosok bayangan yang mengendap keluar dari arah beranda belakang menuju ke area gudang. Pada awalnya, Niken ingin memanggil sosok itu, tetapi ia mengurungkan niat karena sosok yang dilihatnya tampak mencurigakan. Niken merasa ini bukan sesuatu hal yang baik. Pasti semua orang akan berpikiran yang sama, ketika melihat ada orang dengan gerak-gerik mencurigakan menjelang tengah malam buta begini. Niken tergerak untuk mengikuti sosok yang mencurigakan itu.
Ia berjalan berjingkat dengan penuh hati-hati, agar sosok yang ia ikuti itu tidak memergokinya. Sosok itu juga berjalan mengendap di sepanjang dinding, menuju bangunan gudang di belakang kastil. Bangunan gudang itu tampak besar dan luas, seperti habis direnovasi. Dahulu gudang itu sempat terbakar akibat peristiwa tragis sebelumnya. Tampaknya, tujuan sosok itu adalah gudang. Ia berusaha membuka pintu gudang dengan gerak-gerik mencurigakan, tetapi sepertinya dalam kesulitan.
"Tak mungkin kalau itu pencuri," gumam Niken.
Niken berpikiran, kalau memang sosok itu adalah seorang pencuri, maka tak mungkin ia membobol gudang yang hanya berisi barang bekas. Lagipula, buat apa pencuri menyatroni kastil yang letaknya terpencil seperti ini? Niken mengawasi gerak-gerik sosok misterius itu dari balik dinding. Namun, tiba-tiba hal aneh terjadi. Sosok itu menghilang secara cepat, entah sudah masuk ke dalam gudang atau beralih ke tempat lain. Niken tidak begitu jelas melihat, karena gelap. Lampu di belakang kastil terbilang tidak memadai, sehingga menyulitkan penglihatannya.
"Loh, kok dia tiba-tiba menghilang? Kemana ya?"
Niken celingukan. Ia melangkah maju, mendekati pintu gudang untuk mengecek, apakah pintu gudang masih terkunci atau malah sudah terbuka. Ternyata pintu gudang masih terkunci. Jadi kemana perginya sosok misterius itu? Niken merasa bingung. Sejenak kemudian, ia merasa seperti sedang dijebak, seolah dipancing untuk mengikuti sosok yang tiba-tiba menghilang. Menyadari yang telah terjadi, Niken buru-buru mengambil langkah seribu meninggalkan tempat yang dirasa tidak aman itu.
Sayangnya, baru beberapa langkah, ia merasakan mulutnya dibekap oleh kain, kemudian tubuhnya dihempas ke belakang. Tidak sampai di situ, belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, sebuah tongkat dari logam menghantam kepalanya hingga tak sadarkan diri!
Duuk!
Niken sudah tidak ingat apa-apa lagi ketika tubuhnya perlahan diseret memasuki kastil lewat pintu belakang. Lalu, perlahan-lahan, tubuh Niken yang lunglai itu, dipapah menuruni ruang bawah tanah. Kemudian menyusuri lorong gelap, menuju sebuah bilik yang letaknya agak tersembunyi. Pintu bilik dibuka, kemudian tubuh Niken dihempas ke dalam bilik yang lantainya lembap dan dingin.
Blaam!
Sosok itu kemudian mengunci pintu bilik, meninggalkan Niken sendirian di dalam bilik. Sementara, Niken masih tak sadarkan diri. Ia belum menyadari hal buruk yang tengah terjadi pada dirinya.
***
Rosita terjaga dari tidurnya, mendapati suaminya tak berada di tempat. Ia merasa takut sendiri di ruang kamar itu. Apalagi suasana kamar begitu sepi dan dingin. Ia kebingungan, ingin bangun, tetapi merasa takut karena masih trauma dengan kejadian yang dialaminya. Lalu kemana perginya Edwin, gumam Rosita. Atau mungin dia keluar sejenak?
"Edwin, kamu di mana?" panggil Rosita.
__ADS_1
Dalam keadaan takut, Rosita bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berjalan ke arah pintu, untuk menguncinya. Ia tidak mau kejadian buruk berulang. Kondisinya masih belum stabil, ia tidak mau mengambil risiko apapun. Rosita mengambil sebuah sweater, mengenakannya dan kembali berjalan ke arah tempat tidur. Namun, baru duduk sebentar, tiba-tiba ia mendengar pintu kamar diketuk. Jantung Rosita seakan lepas mendengar ketukan itu. Ia begitu trauma dengan hal-hal kecil yang ada di kastil ini.
"Siapa?" tanya Rosita.
Tok ... tok ... tok!
Suara Rosita yang tak begitu nyaring, rupanya tak didengar oleh si pengetuk pintu. Malahan pintu diketuk dengan lebih keras. Rosita semakin gelisah. Ia benar-benar tidak mau membuka pintu kamarnya. Ia tidak mau berbuat ceroboh lagi.
"Ros! Mengapa pintunya dikunci? Buka pintunya! Ini aku!"
Tiba-tiba terdengar suara pria dari arah luar kamar. Awalnya, Rosita masih ragu dengan suara itu, karena terdengar agak sedikit berbeda dengan suara Edwin, suaminya.
"Ros! Buka pintunya! Kamu nggak apa-apa kan?"
"Edwin? Apakah itu dirimu?" tanya Rosita untuk meyakinkan.
"Iya Ros! Ini aku! Aku sedang mengambil makanan di dapur karena kelaparan. Aku juga bawakan untukmu, cepat buka pintunya!" ucap suara yang mengaku sebagai Edwin dari luar.
Rosita merasa agak takut. Bukankah ini menjelang dini hari, mengapa Edwin repot-repot pula membawakan makanan untuk dirinya? Ia beranikan diri untuk kembali mendekati pintu, walau ia masih ragu kalau yang sedang memanggil dirinya itu adalah Edwin. Untuk memastikannya, Rosita berniat memberi pertanyaan-pertanyaan kepada sosok yang mengetuk pintu.
"13 September. waktu itu hari Kamis, kamu mengenakan gaun putih dengan hiasan mawar di sanggulmu. Kamu bilang waktu itu sepatumu kekecilan dan minta ganti. Benar kan?" jawab Edwin.
Rosita tersenyum kecil. Ia tidak menyangka kalau Edwin mengingat hal-hal kecil yang bahkan tak terpikirkan olehnya. Ia ingin mengetes suaminya lagi.
"Apa zodiak ku?" tanya Rosita.
"Libra, seorang yang penuh pertimbangan, agak keras kepala, tetapi bijaksana. Namun, kadang angkuh dan menyebalkan, sehingga bagi orang yang tidak mengenalmu secara baik, menganggap dirimu adalah sosok yang jutek. Padahal aslinya kamu adalah perempuan yang hangat, perhatian, dan ramah," jawab suara yang ada diseberang pintu.
Sekali lagi, Rosita tersenyum. Kini tidak ada alasan lagi untuk tidak membukakan pintu. Ia buka pintu kamar, mendapati suaminya tengah membawa dua potong donat dalam sebuah piring. Ia tersenyum melihat istrinya.
"Kita akan berpesta malam ini! Aku ingin merayakan kepulihanmu!" ucap Edwin.
"Tak usah terlalu berlebihan Edwin. Kamu tahu, donat mengandung banyak kalori dan tidak baik dimakan di malam hari. Lebih baik kita cepat beristirahat agar besok pagi kita bisa bangun dalam keadaan segar!" saran Rosita.
"Oh, ayolah Ros! Aku tidak mengantuk, lagipula ini sudah menjelang pagi. Kita nggak usah tidur lagi. Nanti akan kuambilkan minum di dapur. Kebetulan tadi aku melihat beberapa botol Cola di kulkas. Aku bawa ke sini ya?"
Rosita tak tega melihat usaha suaminya yang sedemikian rupa. Ia merasa kadang Edwin adalah sosok yang romantis, tetapi kadang juga ia cuek. Rosita tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, ia mengangguk menyetujui usulan itu. Paras Edwin tampak berbinar seketika. Ia segera keluar menuju dapur untuk mengambil cola yang berada di lemari es. Namun, belum sempat ia mengambil Cola, tiba-tiba telinganya mendengar suara aneh.
__ADS_1
"Seperti ada suara jeritan minta tolong. Suara siapa di dini hari begini?"
Edwin urung mengambil minuman berkarbonasi itu dari dalam kulkas, kemudian lebih menajamkan pendengaran, kalau-kalau ia salah dengar. Untuk sejenak. suasana terdengar hening. Edwin mengangkat bahu, sembari bergumam," Mungkin aku salah dengar. Itu hanya suara angin."
Namun baru ia membuka pintu kulkas, suara teriakan terdengar. Kali ini lebih jelas. Tentu saja, hal ini membuat bulu kuduknya meremang. Ia merasa tidak sedang mabuk atau berhalusinasi, Suara itu terdengar lebih jelas, membuatnya makin penasaran.
"Sepertinya dari ruang bawan tanah. Apakah aku harus memeriksanya?"
Sebenarnya, suara yang didengar Edwin bukanlah khayalan atau halusinasi. Itu adalah suara Niken dari ruang bawah tanah. Rupanya, Niken mulai tersadar. Ia mendapati dirinya di sebuah ruangan pengap dan gelap, tak ada seorang pun di tempat itu. Tentu saja, hal itu membuat dirinya sangat takut. Ia mencoba untuk berdiri, dan membuka pintu ruangan, tetapi ternyata terkunci.
Karena panik, Niken akhirnya berteriak minta tolong, sembari berharap agar ada orang yang mendengar teriakannya. Sayangnya, sampai serak suaranya, tidak ada seorang pun yang datang. Niken merasa kesal, kemudian memukul pintu yang terbuat dari baja sembari mengumpat.
"Sial!"
Ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya, sebelum ia terperangkap dalam bilik ini. Ia teringat bahwa ia masih meniggalkan tas kopornya di gazebo dekat kolam renang, kemudian ia melihat sosok aneh yang mengendap di sekat kolam renang. Namun, rupanya ia malah dijebak dan dilumpuhkan oleh sosok yang sama sekali tak diketahui wujud atau pun identitasnya.
Niken benar-benar merasa kesal dan marah. Perlahan , ia teringat kembali saat ia disekap dalam rumah kosong bersama Rani, adik Renita Martin. Kini kondisinya tak lebih baik. Ia kini terperangkap dalam ruang gelap dan terisolasi, tak bisa melihat keadaan luar. Tentu, peluang untuk kabur akan jauh lebih sulit. Satu-satunya hal baik dari peristiwa penyekapan ini, mulutnya tidak ditempeli lakban seperti waktu itu. Namun, tetap saja ia merasa sangat tidak nyaman berada di tempat itu.
***
Jauh berkilo-kilo meter jaraknya dari kastil, Dimas masih belum pulang ke kediamannya. Ia masih berkutat dengan data-data yang ia bongkar dari kantor polisi sambil mencocokkan data yang ia temukan di internet. Ia mulai mendata satu-persatu siapa saja yang masih bertahan di kastil itu. Padahal hari sudah beranjak menuju pagi, tetapi Dimas tetap memaksakan diri untuk bekerja.
Nama pertama yang ia tulis adalah Aditya. Ia tak berhasil menemukan data apa pun di internet tentang pria ini, hanya saja ia menemukan data umum di data base kepolisian. Ia tidak pernah terlibat tindak kejahatan dan selalu tepat waktu dalam membayar pajak. Ia menikahi Lidya, belum dikaruniai anak. Mereka tinggal di sebuah rumah lumayan elit di pinggiran kota. Dimas mengamati data itu dengan saksama.
Lalu, ia beralih ke buku tahunan SMA yang diberikan oleh Mariah. Ia berhasil menemukan foto Aditya,beserta data-data pribadi. Selain itu, ia bisa melihat di buku tahunan itu, hobi Adit yakni olahraga sepak bola dan basket. Dimas masih dalam tahap mengumpulkan data, belum dalam tahap mengecek lebih dalam tentang masing-masing penghuni kastil.
Kemudian, Dimas beralih menelusuri data dari internet. Ia sangat tertarik dengan laman blog yang ditulis oleh Mariah. Blog itu berisi tulisan-tulisan tentang tips-tips dalam dunia asmara. Ia tidak menyangka kalau istri dari Ammar itu juga menyukai dunia tulis-menulis. Dalam salah satu artikelnya yang berjudul The Power of Friendship, Dimas menemukan sebuah foto yang cukup menarik karena tak pernah ia ketahui sebelumnya. Dimas menemukan sebuah foto para gadis SMA yang sedang berfoto bersama, dengan tulisan The Girl Squad di bawahnya. Dimas sedikit heran, karena ia berpikir bahwa gadis-gadis ini tidak berasal dari sekolah SMA yang sama, tetapi rupanya mereka sudah mengenal sejak lama.
Dalam foto yang diunggah beberapa tahun silam itu, terlihat foto para gadis yang masih imut, mengenakan baju seragam SMA dan beberapa lagi berpakaian biasa. Ia bisa mengenali Mariah yang begitu cantik saat duduk di bangku SMA. Rambutnya masih diponi, sedangkan yang lain bahkan ada yang rambutnya masih dikepang. Kemudian Dimas mendapati pula foto Lily, Rosita, Nadine, Stella, dan Maya!
"Astaga! Rupanya mereka telah bersahabat sejak lama!" gumam Dimas.
Dimas semakin penasaran. Ia melanjutkan membaca blog itu, sampai ia menemui tulisan dengan huruf cukup besar di akhir artikel.
WE ARE ONE TILL FOREVER!
***
__ADS_1