
Hari sudah mulai gelap ketika langkah kaki Ryan sudah mulai memasuki kawasan ait terjun. Suara air yang bergemuruh mulai terdengar jelas. Perasaan Ryan kembali berdebar karena senang. Melihat air terjun itu, ia seolah mendapat durian runtuh. Itu artinya, ia bisa kembali ke kastil lagi. Namun, sejenak ia menghentikan langkahnya, sambil menengadah ke atas.
"Hari sudah mulai gelap dan aku nggak bawa penerangan. Pasti aku akan sampai di kastil saat malam. Gimana ya? Lanjut atau gimana nih?" gumam Ryan.
Sejenak ia merasa bimbang sambil berpikir. Ia berdiri di pinggir sungai yang mengalir, sambil sesekali mengarahkan pandangan ke air terjun. Lalu ia mengalihkan pandangan ke arah hutan yang makin gelap. Berjalan di hutan tanpa alat penerangan tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi semua tempat terlihat sama. Jalan setapak menuju kastil juga mempunyai beberapa percabangan, sehingga Ryan mulai merasa ragu apakah ia bisa sampai ke kasti atau tidak. Kalau pun ia memutuskan untuk tidak kembali ke kastil, ia juga tidak tahu harus pergi ke mana.
"Masa kembali ke pondok sih?" ucap Ryan
Setelah berpikir-pikir, ia memutuskan untuk kembali ke kastil walaupun gelap. Ia berpikir bahwa pondok juga sama saja sangat menyeramkan kalau malam tiba. Lagipula, ia merasa pondok juga bukan tempat yang aman. Ia masih merasa trauma ketika seseorang menyekapnya ke dalam bilik di pondok, kemudian dibawa lagi ke tenda darurat. Sampai saat ini pun, ia masih belum mengetahui siapa sebenarnya yang membawanya ke tenda darurat. Namun ia sudah mempunyai dugaan tersendiri, karena ia mengenali foto yang ada di kalung berliontin hati, yang ia temukan di dalam tenda darurat.
Setelah membulatkan tekad, ia mulai melangkah menyusur jalan setapak yang pernah ia lewati. Ia merasa agak merinding melawati jalan setapak yang mulai gelap. Burung-burung hutan mulai beterbangan, dan serangga juga mulai berderik-derik. Ryan menguatkan hati agar tidak takut melewati jalan setapak di depannya. Pohon-pohon yang mengepung di samping kiri dan kanannya membuat ia semakin khawatir. Dalam pikirannya mulai berpikir aneh-aneh. Kali ini bukan hanya binatang liar yang membuatnya takut, tetapi juga makhluk halus yang sering ia lihat dalam film horror.
"Ah, persetan dengan semua itu!" rutuknya.
Dalam pikirannya, ia hanya ingin segera sampai ke kastil, dan mengurung diri di kamar. Ia sama sekali tak mau terlibat dalam kasus ini lebih jauh, walau ia mengetahui banyak informasi terkait semuanya. Ia memutuskan untuk menarik diri, dengan menyembunyikan hal-hal yang ia tahu.
Ia terus melangkah, sampai pada akhirnya ia merasa bingung. Ia tidak yakin dengan jalan setapak yang ia lewati karena suasana makin gelap. Ia merasa sudah salah jalan, karena ia tidak bisa melihat dengan jelas sekelilingnya. Harusnya ia sudah sampai di simpang empat sebelum air tejun, tetapi mengapa seolah ia malah ke jalan yang sama sekali belum pernah ia lewati?
"Aku tidak boleh panik ... tidak. Aku harus cari jalan lain agar sampai ke kastil!" gumam Ryan.
Senja beranjak menuju malam yang makin pekat. Ryan seperti terjebak dalam jantung hutan yang sunyi. Ia masih berpikir keras bagaimana caranya agar bisa keluar dari hutan secepatnya. Dalam kekalutan pikiran , ia terus menerobos semak yang lebat, tanpa tahu kemana lagi harus melangkah.
***
Suara teriakan kesakitan di ruang bawah tanah itu berasal dari sebuah bilik tempat Jeremy dan Mariah disekap. Jeremy baru saja tersadar dari pingsannya, tetapi kondisinya masih lemah. Ia mendapati rasa nyeri luar biasa di punggungnya, dengan darah yang terus mengucur. Ketika ia mencoba bergerak, ia merasakan rasa sakit luar biasa, sehingga ia berteriak untuk melampiaskan rasa sakit di pungungnya.
Semua tulang-belulangnya serasa dilucuti, kepalanya pusing dan berkunang-kunang, tetapi ia paksakan untuk berdiri dengan berpegangan di tembok. Walau pandangannya terlihat agak kabur, ia masih bisa melihat sosok wanita yang diikat di sebuah kursi dengan mulut yang ditutup plester. Ia ingin menolong, tetapi rasanya ia sangat susah untuk berdiri. Ia terkejut ketika paras wanita yang diikat itu sangat ia kenali.
"Ma-Ma ... Mariah?"
__ADS_1
Ucapan Jeremy begitu lemah, karena tenaganya seolah terkuras habis. Mariah hanya bisa menangis melihat keadaan Jeremy seperti itu. ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berharap Jeremy bisa bangkit dan melepas ikatan di tangan dan kakinya. Namun, ia sadar bahwa kondisi Jeremy sangat tidak memungkinkan.
"A-aku ... aku akan menolongmu, Ma-Mariah!"
Jeremy melangkah dengan susah payah sambil berpegangan dinding. Kakinya seolah terpaku di atas tanah, berat sekali untuk digerakkan. Mariah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah melarang Jeremy agar jangan banyak bergerak. Namun, isyarat dari Mariah itu diabaikan oleh Jeremy. Pria itu terus mendekati Mariah walau dalam keadaan susah payah.
Setelah cukup dekat, Jeremy berpegangan pada kursi Mariah, sambil terengah-engah. Ia berharap agar masih bisa bertahan hidup walau kehilangan banyak darah. Tangan Jeremy segera menarik plester yang menutup mulut Mariah, agar wanita itu bisa bersuara. Begitu dibuka, Mariah segera berbicara.
"Jer .. Jer, kamu tidak boleh banyak bergerak! Kamu akan kehilangan banyak darah. Kamu duduk saja dan kita tunggu pertolongan. Kita akan tetap hidup. Aku janji. Aku tahu siapa yang melakukan ini semua. Aku tahu!" ucap Mariah dengan suara pelan.
"Si-siapa pun pelakunya aku ... aku nggak peduli, Mariah. Aku ... aku hanya ingin mencari keberadaan Stella," ucap Jeremy dengan napas terengah-engah.
"Sudah Jer, kamu nggak usah bicara dulu. Kamu harus simpan energimu baik-baik. Aku yakin akan ada yang menolong kita. Perempuan itu tak akan bertahan dengan kejahatannya. Aku yakin akan segera terungkap," ucap Mariah.
Jeremy menjatuhkan dirinya ke lantai, karena ia merasakan kepalanya makin berat, dan pandangannya makin kabur. Sambil menahan nyeri, ia berusaha agar tetap sadar. Mariah benar, ia harus menyimpan energi karena mereka tidak bisa memastikan sampai berapa lama mereka akan berada di bilik itu.
"Bertahanlah, Jer! Jangan mati, kumohon. Kita akan ungkap kasus ini. Kita adalah kunci kasus ini. Bertahanlah! Kita akan hentikan kejahatan perempuan itu," bisik Mariah sambil terus menatap Jeremy yang kodisinya makin lemah.
"Cukup Jer! Jangan bicara yang bukan-bukan. Kamu istirahat saja. Aku akan mencoba berteriak .... "
Mariah menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk berteriak minta tolong. Sayangnya, suara yang keluar seolah tertahan di tenggorokan. Mariah hanya bisa menyesali sambil menangis. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang lemah dan tak berdaya.
"Tidak ... tidak! Kumohon!"
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekati bilik mereka. Mariah langsung menutup mulutnya. Ia merasa was-was, jangan-jangan sosok hitam itu kembali lagi untuk memeriksa. Degup jantung Mariah berdetak kencang. Langkah kaki itu semakin dekat, dan terdengar mulai berusaha membuka pintu yang tergembok. Setelah beberapa lama, sosok itu pergi, dan kembali lagi, membuka paksa pintu yang tergembok.
Klang!
Pintu bilik terbuka. Mata Mariah membelalak. Sosok hitam berdiri di depan pintu bilik. Mariah hanya bisa berdoa dalam hati agar tak terjadi hal buruk pada dirinya dan Jeremy. namun, ia hanya bisa pasrah, karena memberontak pun akan sia-sia. Sosok itu masih berdiri tegak, menatap tajam ke arah Mariah dan kemudian menatap ke arah Jeremy. Ia bergerak mendekati Jeremy.
__ADS_1
"Kumohon jangan bunuh dia! Kumohon!" pinta Mariah.
Sosok itu hanya menatap Jeremy tanpa bersuara apa pun, kemudian melangkah keluar lagi dari bilik, entah kemana.
***
Maaf ya temen2 kalau akhir-akhir ini up nya agak lambat karena ada pekerjaan di dunia nyata yang membutuhkan konsentrasi. Saya usahakan untuk tetap up kok sehari sekali. Sabar ya hehe
Bonus Visual
Dimas Prasetya
Reno Atmaja
Ammar Marutami
Mariah Alray
Niken
__ADS_1
Gilda Anwar