Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXIV. A Pink Underwear


__ADS_3

Ketika Ammar berkutat dengan buku biografi Anggara Laksono di ruang baca, di kamar lain Michael Smith Artenton juga sibuk mempelajari buku harian tua berinisial AP, yang ditemukan Karina di ruang bawah tanah.


Walaupun identitas si penulis buku harian itu masih misterius, Michael tergelitik untuk mengorek informasi yang tertulis di situ. Lembar-lembar sudah sebagian lepas, tetapi tak mengurangi hasrat Michael membacanya.


Siapakah AP?


Michael berusaha memecahkan inisial nama penulis berdasar rangkaian cerita yang tertulis dalam buku. Di satu halaman, terdapat kalimat yang cukup menyita perhatian.


“Di dalam sangkar emas ini, aku hanya duduk sepanjang hari dalam peraduan hingga malam menjelang. Kadang kudengar langkah-langkah asing di mana-mana, menghantui pikiran. Apakah aku mulai gila? Jeritan-jeritan dari dalam tanah, seolah lolongan serigala di malam buta. Kukira aku memang benar gila. Karena tak kuperoleh jawaban dari siapa pun. Mereka sengaja membiarkanku membusuk dalam sangkar ini.”


Sangkar emas? Michael menerjemahkan sangkar emas sebagai kastil dengan segala fasilitasnya. Ia berkesimpulan bahwa penulis buku harian ini sedang tertekan, walau berpura-pura bahagia. Besar kemungkinan, ia juga merasakan keanehan-keanehan di dalam kastil sehingga membuatnya hampir gila.


Siapakah penulis buku harian ini sebenarnya?


Apakah dia salah seorang yang pernah tinggal di kastil ini dalam waktu lama? Di manakah keberadaannya?


Kemudian ia berlanjut membuka lembar-lembar buku harian tua itu. Kalimat-kalimat yang disusun dengan gaya bahasa indah itu semakin menarik perhatian.


“Aku melihat paras-paras asing dijamu dengan aneka hidangan, kemudian tak kutemui lagi esok hari. Mereka menghilang menyisakan jasad-jasad beku. Sesuatu yang jahat menyeret mereka dalam kegelapan. Ketika aku tersesat, hanya rasa takut yang memuncak. Dalam belenggu, aku mencoba mengungkap rahasia-rahasia yang tersemat.”


Paras-paras asing?


Michael mengernyitkan kening. Siapa yang dimaksud dengan paras-paras asing? Menghilang ke mana mereka?


Keingintahuan menyeretnya ke ruang baca untuk mencari sesuatu yang berkaitan dengan isi buku harian. Ammar Marutami baru saja meninggalkan ruang baca, ketika Michael masuk.


“Belum tidur?” sapa Ammar.


“Aku membutuhkan bacaan yang membuatku mengantuk!” jawab Michael.


“Kusarankan kamu membaca novel karya Karina Ivanova, dan rasakan sensasi dongengnya. Membacanya novel itu akan membuatmu terasa seperti berpetualang dalam negeri fantasi. Sayangnya penulis itu mati dengan cara yang amat tragis,” tutur Ammar.

__ADS_1


“Terima kasih!”


Setelah Ammar berlalu, Michael menelusuri tiap lorong rak buku yang menjulang, membaca tiap punggung buku yang beraneka ragam. Ia berharap akan menemukan suatu referensi yang bisa digunakan sebagai pedoman, seperti latar belakang pendirian kastil atau seluk-beluk di dalamnya.


Sayangnya, nihil.


Sebelum keluar dari ruang baca, ia tertarik dengan sebuah kliping berisi tempelan-tempelan guntingan berita koran yang sudah lama terbit. Ternyata, guntingan-guntingan koran itu berisi tentang berita-berita kesuksesan Anggara Laksana di masa lalu. Suatu fakta terkuak, Anggara Laksono sering diliput oleh media. Ini terbukti dengan berita dalam guntingan-guntingan koran yang berkaitan dengan sepak-terjang beliau di dunia nyata.


Sebuah berita cukup menarik perhatiannya. Guntingan berita itu tertanggal 21 Oktober sepuluh tahun silam. Judulnya ditulis cukup besar, menarik perhatian pembaca.


‘Polisi Selidiki Hilangnya Beberapa Penulis di Kastil Milik Anggara Laksono’


Astaga!


Menurutnya ini adalah sebuah berita penting. Fakta baru ia catat dalam bukunya, bahwa sepuluh tahun silam, beberapa penulis juga menghilang. Adakah hubungannya dengan kematian Karina? Apa pula hubungannya dengan kematian Yoga? Michael tak mampu menarik benang merah yang menghubungkan peristiwa-peristiwa itu. Kalau saja berita benar, tentu kehadiran para penulis di kastil ini tak ubahnya sebuah deja vu. Misteri masih menyelimuti. Michael membawa guntingan koran itu untuk dipelajari. Tak akan ia bagi berita penting itu pada siapa pun.


***


“Kamu baik-baik saja, Tiara?” tegur Ammar.


Kegelisahan yang tergambar di wajahnya terbaca oleh Ammar, walau ia berusaha menyembunyikan. Ia mengangguk pelan, memanggapi pertanyaan Ammar. Maira menyunggingkan senyum di ujung bibir. Seolah mengejek.


Rania, yang datang agak terlambat segera mencari tempat duduk di ujung. Matanya masih sembab, tertutup riasan tipis. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan, tetapi sayangnya kurang berhasil. Bahkan rambut indahnya tampak belum tersisir rapi. Wanita itu mengenakan setelan blazer warna coklat, terlihat serasi dengan warna kulitnya yang kuning langsat.


“Maaf aku mengundang kalian lagi. Karena penyelidikan ini harus segera dituntaskan. Seperti yang kalian ketahui, telah terjadi tiga pembunuhan di kastil ini, dan sampai sekarang pembunuh itu masih belum ditemukan. Bisa jadi, dia sedang duduk bersama kita saat ini, menikmati permainan yang ia mainkan. Atau bisa jadi benar-benar orang di luar yang melakukan ini. Kita tak tahu pasti.


Tadi malam, aku sempat memeriksa beberapa tempat untuk menemukan beberapa petunjuk. Aku sudah mencatatnya. Di kamar Yoga, aku menemukan sesuatu yang menarik perhatian. Aku hanya ingin tahu, siapa pemilik dari benda ini?”


Ammar megeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil di atas meja, kemudian mengangkat tinggi-tinggi. Sebuah celana dalam wanita dengan hiasan renda berwarna merah jambu terbentang di hadapan para penulis. Berbagai reaksi ditunjukkan oleh para penulis.


Adrianna hanya mengulum senyum kecil, sedangkan Tiara tak bereaksi apa pun. Ia hanya diam terpaku melihat celana dalam itu.

__ADS_1


Sementara Maira tak dapat menahan tawa sembari berkata,” Celana dalam berenda jelas bukan seleraku. Itu terlalu murahan bagi seorang Maira. Lagipula aku lebih suka tidak memakai apapun.”


Sementara para penulis pria juga tersenyum melihat penampakan benda rahasia yang biasanya tersembunyi dalam area sensitif para wanita.


“Jelas bukan itu punya Yoga!” celetuk Cornellio.


“Aku sering melihat celana dalam seperti itu. Seperempat wanita yang kukencani memakai model yang sama, dengan warna berbeda. Aku seperti tak asing!” celoteh Hans.


Di sudut lain, Rania tampak gelisah. Kegundahan memuncak, memaksanya untuk bangkit dengan gusar. Direbutnya celana dalam itu dari tangan Ammar.


“Ya! Ini celana dalam punyaku! Aku tak sengaja meninggalkan di kamar Yoga. Berhentilah untuk mempermalukanku! Apakah setelah ini kamu akan menangkapku karena urusan celana dalam ini? Apakah celana dalam ini membuat diriku menjadi tersangka atas kematian Yoga?”


Rania tampak emosional. Bibirnya bergetar saat mengucapkan itu. Parasnya yang cantik tampak merah-padam terbakar api amarah.


“Tenanglah Rania! Tak ada seorang pun yang menuduhmu atas pembunuhan Yoga. Aku hanya ingin memastikan pemilik celana dalam ini untuk keperluan penyelidikan. Dengan demikian, aku mengerti bahwa kamu dan Yoga ada hubungan khusus. Tapi tentu saja tak akan kubahas di sini. Nanti kita akan mengobrol lebih lanjut secara pribadi!”


Rania kembali duduk dengan perasaan gusar.


Ammar meneguk air putih sebelum melanjutkan penyelidikannya. Kembali matanya menyapu ke para penulis yang duduk dengan perasaan tegang.


“Setelah ini, aku akan memanggil kalian satu-persatu untuk menceritakan riwayat keluarga kalian!”


“Tunggu! Apa pentingnya hal ini dengan penyelidikan pembunuhan? Jelas ini tidak ada korelasinya. Aku menolak ini!” protes Hans.


“Tenanglah, Hans! Aku berhak menanyakan hal apapun pada kalian, dan kalian harus menjawab pertanyaan dengan jujur. Aku bisa mendeteksi secuil kebohongan pun yang kalian simpan. Aku tahu, ini mungkin tak ada hubungannya dengan kematian Karina atau Yoga, tetapi ini sangat bekaitan dengan kematian Anggara.


Aku sudah tahu sedikit sepak terjang kalian di dunia menulis. Kalian memakai nama-nama pena yang palsu, untuk menutupi identitas kalian yang sebenarnya. Bahkan kalian sengaja memakai topeng di balik ketenaran kalian untuk menarik simpati pembaca. Maka, aku akan buka topeng kalian satu-persatu. Jadi percuma saja kalian berpura-pura di depanku. Pada akhirnya, aku akan menelanjangi kalian!”


Kecemasan semakin merebak di antara para penulis itu. Ya, polisi itu benar. Beberapa penulis memakai nama pena yang unik untuk menarik penggemar. Para penulis sengaja menutup kehidupan pribadi masing-masing, kemudian mengenakan topeng untuk berpura-pura jadi orang lain.


Sebuah dunia yang penuh kemunafikan.

__ADS_1


***


__ADS_2