Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
267. Data Pemilik Rumah


__ADS_3

Dimas memasuki kantor pengelola perumahan yang didesain secara minimalis itu. Di ruang yang tak seberapa besar itu ada satu set sofa berwarna merah marun, dan sebuah meja penerima tamu. Di sudut ruangan terdapat sebuah akurium berukuran sedang, berisi ikan-ikan air laut yang berwarna-warni, sehingga ruangan itu berkesan lebih nyaman.


Di belakang meja kerja, tampak seorang gadis muda dengan dandanan yang agak berlebih tampak tak acuh melihat kedatangan Dimas. Bahkan parasnya terihat ditekuk, seperti sedang menghadapi masalah pelik. Ia asyik menatap layar komputer, sambil mengunyah permen karet.


"Selamat sore," sapa Dimas.


"Ada apa ya. Pak? Ini sudah hampir tutup. Kalau mau menawarkan barang mending ke sekuriti dulu untuk dapat izin. Kalau mau ketemu dengan direktur mending bikin janji dulu. Itu pun kalau Bapak dapat izin, " ucap gadis itu sambil terus mengetik di depan layar komputer, tanpa peduli kehadiran Dimas.


Sebenarnya Dimas merasa gemas mendapat perlakuan seperti itu. Padahal ia sudah berpenampilan rapi, dan tak ada sedikit pun kesan sebagai seorang sales. Ia ingin marah, tetapi ia segera memaklumi, mungkin gadis seperti ini berpendidikan lebih rendah, sehingga tak paham tatakrama, atau mungkin sedang ada masalah pribadi. Memang, seharusnya gadis seperti ini tak dipekerjakan di bidang pelayanan.


"Aku ingin bertanya beberapa hal," ucap Dimas kemudian.


Si gadis menghentikan aktivitasnya, kemudian beralih menatap Dimas dengan curiga. Ia heran, mengapa gaya orang terlihat santai dan dingin. Dimas terlihat diam tanpa senyum, berjalan mondar-mandir melihat isi ruangan itu.


"Bapak ini siapa?" tanya si gadis dengan mengernyitkan dahi.


Dimas tak ingin banyak bicara. Ia hanya mengeluarkan tanda anggota kepolisiaannya. kemudia meletakkan di meja di hadapan gadis itu. Awalnya si gadis hanya melirik, tetapi kemudian dibaca dengan teliti nama di kartu itu. Parasnya berubah memucat. Ia baru sadar kalau saja sedang berbicara dengan salah seorang polisi terkenal di kota.


"Oh, maaf ... maaf. Saya nggak tahu kalau Bapak ini adalah Pak Dimas. Maaf ya, Pak. Silakan duduk. Ada yang bisa dibantu, Pak?"


Mendadak gadis berpenampilan semarak itu berubah sikap. Senyumnya mulai mengembang, walau sedikit dipaksakan. Ia berdiri dari tempat duduknya, sedikit canggung, bingung apa yang yang harus ia lakukan.


"Santai saja. Tak usah banyak basa-basi seperti itu. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang penghuni perumahan ini. Seperti berita yang sedang beredar akhir-akhir ini seputar pembunuhan beberapa artis, termasuk Renita Martin yang tinggal di perumahan ini. Aku ingin mengecek semua data yang berkaitan dengan penghuni seluruh perumahan ini," ucap Dimas sambil menghempaskan diri di sebuah sofa.


Agak lama gadis itu mencerna ucapan Dimas. Selama ini jarang mengikuti perkembangan berita, hanya tertarik dengan berita artis Korea, sehingga ia tidak begitu peduli dengan kasus ini. Parasnya tampak memerah karena malu.


"Maksud Bapak data pemilik rumah-rumah yang ada di sini?" tanya gadis itu lagi.


"Ya, apakah kamu punya itu?" tanya Dimas lagi.


"Ya, kami punya data siapa-siapa pemilik rumah di sini, beserta nomor telepon dan alamat rumahnya. Kalau Bapak mau saya bisa print-kan," kata gadis itu.


"Ya baik. Saya minta diprint-kan data itu," ucap Dimas.


"Baik Pak!"


Gadis itu segera bertindak cepat, mencetak data yang diminta Dimas. Sambil menunggu, Dimas mengamati foto-foto yang terpajang di dinding ruangan. Kebanyakan foto-foto rumah yang ada di lingkungan perumahan. Semua mewah dan berkelas. Dimas menduga, harga sebuah rumah bisa mencapai milyaran. Tak heran, kalau penghuni di kawasan ini adalah orang-orang kelas atas.

__ADS_1


Si gadis telah selesai mencetak data yang diminta, kemudian menyerahkan sekitar sepuluh lembar kertas kepada Dimas. Cukup banyak ternyata, dan tulisan yang ada di dalam kertas itu lumayan kecil, sehingga membutuhkan ketelitian untuk memeriksa nama-nama yang tertera dalam lembaran itu.


"Nama yang ada di daftar itu sudah disusun berdasarkan alfabet, Pak. Jadi lebih mudah kalau untuk mencari seseorang," ucap gadis itu.


"Baik. Saya akan periksa nanti di kantor saja. Terima kasih atas bantuannya, Mbak .... "


"Leila. Panggil saja saya Leila, Pak!"


Gadis itu tersenyum manis, berbeda sekali dengan saat pertama kali melihat kedatangan Dimas.


"Leila, baik terima kasih atas bantuanmu Leila!"


Dimas segera membawa data itu ke sebuah cafe. Ia ingin rehat sejenak sembari menikmati kopi. Seharian ini merasa lelah, karena banyak yang harus ia urus. Ia mencari di titik yang agak sepi, agar bisa mengamati data-data yang baru ia dapat dari Leila. Ia butuh suasana sedikit tenang agar tak melewatkan sesuatu yang ia amati.


Pesanannya. secangkir kopi favorit, ditemani beberapa keping donat bertabur gula dan keju juga tersaji. Ia hanya ingin mengganjal rasa lapar di perut dengan makanan itu. Ia tidak berselera makan nasi. Kadang kesibukan yang luar biasa bahkan mematikan selera makan. Ia hanya ingin kasus ini cepat selesai.


Sambil mengunyah donat, ditelusuri nama-nama penghuni perumahan itu mulai dari abjad A. Banyak nama yang dikenalnya, terutama nama artis-artis terkenal, olahragawan, hingga para penjabat. Ia berhenti di beberapa nama, kemudian menandai beberapa nama dengan stabilo kuning. Ternyata, ada beberapa orang tersangka yang mempunyai aset atau rumah di dalam kawasan perumahan elit itu. Pantas saja, mereka bisa keluar masuk tanpa menimbulkan kecurigaan, karena nama merea tercatat sebagai penghuni.


***


Di sebuah taman kota yang terletak di bantaran sungai, seorang pria duduk di sebuah kursi roda sammbil menatap aliran sungai yang bergerak lambat. Sore sudah mulai merapat menuju malam. Angin mulai bertiup menggigit kulit. Pria itu memakai topi lebar, dengan syal melingkar di leher, menikmati suasana sore yang sedikit dingin. Langit sudah berubah menjadi merah, sebentar lagi malam akan menjelang.


"Aku rindu memecahkan kasus lagi," ucap pria itu perlahan.


"Aku paham. Tapi kakimu belum sepenuhnya pulih semenjak kecelakaan di dalam jurang itu. Pihak kepolisian memberikan waktu tak terbatas untukmu memulihkan kondisi sampai kamu benar-benar sehat. Tak masalah kalau kau berada di rumah. Lagipula ada Reno dan Dimas yang menggantikanmu," ucap perempuan itu menenangkan.


Ammar Marutami, seorang polisi senior yang banyak berperan besar dalam memecahkan kasus, kini harus duduk di kursi roda semenjak peristiwa kecelakaan di kastil tua. Sebenarnya ia sudah hampir pulih, tetapi kadang ia merasakan rasa nyeri pada kaki. Dokter Dwi kadang mengunjungi untuk memeriksa kakinya. Dokter Dwi menyarankan untuk beristirahat sementara waktu.


"Aku tidak bisa berdiam diri terus-terusan seperti ini, Mariah! Banyak kasus pembunuhan berantai terjadi akhir-akhir ini, dan aku hanya melihat semua itu melalui TV. Hampir setiap minggu kulihat ada seseorang yang tewas terbunuh. Aku sangat sedih melihat kondisi ini. Aku bisa berjalan dan memegang senjata. Aku bisa!"


Tiba-tiba Ammar berdiri cepat dari tempat duduknya. Ia berdiri tegak, melangkah ke arah bantaran sungai dengan percaya diri, walau sedikit tertatih, sementara Mariah menatap suaminya dengan rasa iba.


"Kau lihat Mariah! Aku sehat! Aku bukan orang cacat yang duduk di kursi roda seharian. Ini akan membuatku semakin sakit. Aku bisa bekerja, menyelidiki kasus dan .... aah!"


Ammar terjatuh, sehingga Mariah segera menolongnya. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya. Ia berusaha menolong Ammar untuk bangkit. Sayangnya sang suami mengibaskan tangan Mariah, seolah tak memerlukan pertolongan istrinya.


"Jangan perlakukan seperti orang cacat! Aku bisa ! Aku bisa berdiri sendiri!"

__ADS_1


Perlahan, akhirnya Ammar bisa berdiri tegak kembali. Lalu dengan langkah tertatih ia kembali berjalan di sekitar kursi rodanya. Mariah hanya melihat kejadian itu dengan sedih. Ia paham apa yang dirasakan sang suami.


"Aku bukan orang cacat!" kata Ammar.


"Tidak ada seorang pun yang berkata kamu orang cacat, Ammar. Semua mencintaimu dan tak ingin kamu sakit. Itulah yang sebenarnya," ucap Mariah.


"Besok ... besok, antarkan aku ke kantor polisi. Aku akan bicara dengan Reno!"


***


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2