
Mobil Reno dan Dimas menembus kegelapan hutan, dibantu dua mobil lain dari unit kepolisian. Jalan masih beraspal mulus, hanya saja suasana sangat gelap. Apalagi cuaca juga dingin, sisa hujan yang mengguyur sebelumnya. Pohon-pohon mengepung di kanan kiri jalan, berdiri menjulang.
“Semoga sedan putih itu memang melaju ke hutan!” gumam Dimas.
“Ya, walaupun mobil itu ke hutan, belum tentu kita bisa menemukan. Hutan ini cukup luas, ia bisa pergi kemana saja,” ucap Reno.
Jalan aspal telah habis. Di depan, jalan sudah tidak bisa dilewati lagi, karena tertutup oleh palang pintu terbuat dari kayu. Jalan di depan adalah jalan tanah yang sempit dan becek akibat hujan. Segera tiga mobil itu berhenti. Reno memalingkan pandangan ke sekeliling.
“Tak ada tanda-tanda mobil itu datang ke sini,” gumam Reno.
“Kurang ajar! Rupanya dia telah berhasil mengecoh kita! Dia sengaja membuat jejak palsu agar kita datang ke hutan ini!” Dimas mulai gemas.
“Ya benar. Kurasa saat ini dia sedang berada di tempat lain, dan sengaja mengarahkan kita menuju ke hutan agar dia leluasa melancarkan aksinya. Kalau dia pergi ke hutan, tentu mobilnya akan diparkir di pinggir jalan, tak mungkin menerobos ke dalam hutan yang penuh semak.”
“Sial! Jadi bagaimana langkah kita selanjutnya? Apakah menunggu sampai pagi hingga kita menemukan mayat baru?” tanya Dimas.
“Tunggu, Dim! Aku masih cari cara. Tukang ojek itu yakin mobil berbelok ke kanan ke arah hutan. Ada dua kemungkinan sebenarnya. Kalau tidak ke hutan ya ke kompleks pergudangan tua itu. Tetapi mungkin juga mobil itu berbalik arah lalu menuju ke arah kota. Bagaimana menurutmu?” Reno meminta pendapat.
“Kurasa tak ada salahnya kita menyisir kompleks gudang. Kita harus mencoba segala kemungkinan, karena ini menyangkut nyawa manusia. Tapi sebaiknya kita berdua saja, biarkan unit lain kembali ke markas atau patroli di wilayah kota,” usul Dimas.
“Baiklah. Kita sisir wilayah kompleks pergudangan. Di sana sangat luas, dan mobil dengan mudah masuk. Agak sulit untuk mencari jejak di sana, tetapi tak ada salahnya kita coba!”
Reno memerintahkan dua unit mobil yang mengikuti untuk kembali ke arah kota, sementara ia dan Dimas akan menyisir wilayah pergudangan. Namun, belum sempat mereka kembali ke arah gudang, sebuah mobil van putih mendekat dari kejauhan.
“Sial!” umpat Reno.
Mereka segera mengenali mobil van putih yang baru datang itu. Ya, itu adalah mobil operasional milik Channel-9. Sudah dapat dipastikan bahwa Gilda Anwar ada di dalam mobil itu untuk memburu berita.
__ADS_1
“Bagaimana dia tahu berita ini? Bukankah hilangnya gadis itu masih belum dibuka untuk publik?” tanya Dimas.
“Ini jelas permainan orang dalam lagi. Siapa lagi kalau bukan Fani yang membocorkan berita ini? Padahal dia sudah ditegur dengan keras. Aku yakin, kalau ini benar-benar perbuatan Fani, maka dia akan diskors dari kepolisian,” ucap Reno.
“Jadi bagaimana ini? Kita nggak mungkin menyisir gudang kalau Gilda mengikuti kita.”
“Aku akan usir dia! Aku punya hak karena aku seorang polisi!”
Reno segera turun dari mobil, menghampiri mobil van putih yang juga berhenti tak jauh dari mobil Reno dan Dimas. Dari dalam mobil, keluar seorang wanita muda berpakaian rapi, dilengkapi dengan perlengkapan siaran.
“Halo Pak Reno! Kita ketemu lagi. Bukankah ini suatu kebetulan? Aku mendengar berita bahwa seorang gadis hilang sepulang berbelanja malam ini. Aku mempunyai inisiatif untuk melakukan siaran langsung pencarian gadis yang hilang itu, tentu akan menjadi berita paling panas malam ini,” ucap Gilda dengan tersenyum, tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
“Maaf Gilda! Kami tidak akan membagi informasi apa pun kali ini. Aku nggak tahu kamu dengar berita yang belum tentu benar itu dari siapa. Jadi sekarang silakan kalian tinggalkan tempat ini, dan jangan coba-coba mengikuti kami. Ini adalah tugas kepolisian yang nggak boleh dipublikasikan. Jadi silakan tinggalkan tempat ini, atau aku akan mendakwamu dengan tuduhan tindakan ilegal,” ancam Reno.
“Maaf Pak Reno. Aku adalah pemburu berita yang dilindungi undang-undang. Anda tak berhak menutup-nutupi suatu fakta kepada masyarakat. Mereka harus tahu kebenaran. Anda tidak bisa mengusir kami!” Gilda bersikukuh untuk tetap meliput berita.
“Kepolisian tidak ada maksud untuk menyembunyikan fakta, tetapi tentu tidak semua menjadi konsumsi publik sebelum semua jelas terbongkar, karena beberapa alasan yang mungkin nggak kamu mengerti. Jadi, biarkan kami bekerja. Pulanglah, Gilda!” perintah Reno.
Reno mulai geram melihat tingkah Gilda yang keras kepala. Melihat itu, Dimas menarik tangan Gilda agak menjauh. Mereka kemudian berdiskusi serius, entah apa yang dibicarakan di tempat yang agak gelap. Tak lama, kemudian keduanya kembali dengan paras gusar. Gilda langsung masuk ke dalam mobil.
“Ayo Wandi, kita kembali ke kantor!” perintah Gilda dengan paras kesal.
“Loh, bukannya kita belum meliput apa pun, Mbak?” tanya Wandi dengan heran.
Gilda tak menjawab. Wandi tak ingin bertanya lebih jauh. Mobil van putih itu segera meninggalkan kawasan hutan, menuju arah kota. Reno menghela napas lega.
“Apa yang kamu katakan pada perempuan keras kepala itu? Mengapa dia langsung berubah pikiran?” tanya Reno.
__ADS_1
“Aku hanya membujuknya saja, Ren. Aku kenal Gilda itu seperti apa,” ucap Dimas.
Reno terkejut mendengar perkataan Dimas. Keningnya berkerut.
“Kalian ... kalian saling kenal sebelumnya?” tanya Reno dengan heran.
“Maaf, aku tidak pernah bercerita. Ya, kami pernah pacaran tiga tahun yang lalu. Cuma selama ini kami sembunyikan untuk menjaga profesionalitas,” ucap Dimas.
Reno masih terkesima mendengar pengakuan Dimas. Dunia yang begitu sempit. Sepertinya orang-orang di kota saling berkaitan satu sama lain.
***
Nayya membuka matanya perlahan. Kedua tangannya terikat, dan mulutnya tersumpal kain sehingga ia tidak bisa berteriak atau berkata apa pun. Ia berada di sebuah ruangan yang kotor, pengap, dan agak gelap. Di sekitarnya terdapat tumpukan-tumpukan boks kayu yang bertumpuk-tumpuk, entah apa isinya. Suasananya sangat sepi. Ia berusaha menggerakan tangannya, tetapi ikatan sangat erat, ia tidak bisa bergerak.
Sesosok manusia berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia tak dapat mengenali karena gelap. Nayya merasa putus asa. Mungkin hari ini adalah hari terakhir dalam hidupnya. Tak terasa air matanya menitik karena takut. Ia merasa tak pernah berurusan atau mempunyai musuh dengan siapa pun, tetapi mengapa kini ada seseorang yang memperlakukan seperti ini?
Sosok itu tiba-tiba mendekat sambil berkata,” Tenanglah! Kamu belum akan mati malam ini. Biar saja polisi seisi kota yang bodoh itu kebingungan mencari dirimu. Aku masih ingin bermain-main dengan mereka, sebelum akhirnya aku benar-benar membunumu!”
Nayya menggelengkan kepalanya dengan panik. Ia ingin memaki-maki sosok itu, tetapi apa daya mulutnya tersumpal kain. Yang hanya bisa ia lakukan adalah mengekspresikan wajahnya yang terlihat takut.
“Aku tahu kamu takut, Nayya. Aku bahkan dapat merasakan ketakutanmu. Ini sungguh bertolak-belakang saat kamu berdiri dengan angkuh di atas panggung karena terpilih menjadi Miss Campus. Aku tahu semuanya, Nayya. Kamu memang populer, tetapi bodoh. Mengapa aku menangkapmu? Karena aku ingin melihatmu menderita. Sama seperti Jenny dan Alma. Mereka berdua tak pantas hidup lebih lama!” tandas sosok misterius itu.
“Mmmh ... mmmh!”
Hanya suara itu yang terlontar dari mulut Nayya. Perasaannya tak menentu, antara rasa ingin marah, kesal, dan takut.
“Kamu akan tetap di sini, Nayya. Malam ini aku banyak urusan. Aku akan menghilangkan jejak mobil agar polisi itu tak dapat mengendus keberadaan kita. Kamu tak perlu banyak bergerak, karena sia-sia saja. Lebih baik kamu tidur, karena esok pagi kita akan jalan-jalan lagi!” ucap sosok misterius.
__ADS_1
Ia melangkah meninggalkan Nayya sendirian, membuka pintu, kemudian melenggang pergi. Sosoknya hilang ditelan kegelapan. Nayya tak dapat menyembunyikan emosinya. Rasa takut menyergap. Ia hanya bisa menangis.
***