Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
217. Cokelat


__ADS_3

Berita kematian artis Anita Wijaya, walau ditutup-tutupi ternyata tetap tercium juga oleh pihak media. Suara sirene di malam buta membuat orang bertanya-tanya, ada apa gerangan yang terjadi? Ketenangan kota sedikit terusik. Mereka khawatir akan ada kejadian buruk terulang kembali. Pihak media langsung tanggap dengan hal ini. Ini terbukti saat Gilda dan Wandi tiba di pinggir jalan raya dekat perkebunan, mereka telah melihat dua orang jurnalis dari stasiun TV lain. Sayangnya kedua jurnalis itu tidak bisa masuk karena dihalangi oleh polisi yang berjaga di situ.


“Lihat Wan! Kita terlambat. Sudah ada dua jurnalis dari TV lain!”


Gilda menunjuk ke arah dua jurnalis laki-laki yang berusaha masuk ke lokasi kejadian. Tiga orang petugas polisi ditugaskan untuk mengamankan pintu masuk perkebunan agar orang yang tak berkepentingan tidak masuk sembarangan.


“Iya, tapi sepertinya mereka nggak bisa masuk, Mbak!” sahut Wandi.


“Mereka memang jurnalis kurang pintar. Kalau aku yang ke situ pasti akan diperbolehkan masuk!” ucap Gilda.


“Oya? Mari kita coba, apakah yang Mbak katakan itu benar!”


Wandi memarkir mobil di pinggir jalan, kemudian keduanya turun. Gilda turun dengan gaya sok angkuh, kemudian berjalan mendekati para polisi yang sedang berjaga. Wandi menguntit di belakangnya, dengan kamera dan perlengkapan untuk siaran langsung.


Gilda siap berakting di depan kedua polisi tersebut. Ia terlihat terburu-buru, seperti orang kebingungan. Sementara Wandi hanya mengikuti saja langkah wanita muda itu, tanpa banyak membantah. Ia tahu sifat Gilda. Wanita miuda itu kadang terlihat baik, tetapi kadang jutek kalau bersentuhan dengan pekerjaan.


“Maaf Pak, saya ingin bertemu dengan Pak Reno,” ucap Gilda pada salah seorang opsir polisi yang berdiri di situ.


Dua jurnalis lain yang mengetahui kehadiran Gilda, langsung mendengkus kesal. Mereka tahu, Gilda pasti akan menyerobot pekerjaan mereka dengan cara-cara yang tak wajar. Mereka ingin tahu, apa yang akan Gilda lakukan pada polisi itu.


“Oh ini pasti Gilda Anwar dari Channel-9. Mohon maaf Mbak, Pak Reno sedang bertugas, jadi tidak bisa ditemui,” kata opsir polisi itu.


Para polisi masih berusaha sopan dan profesional dalam bekerja, walau mereka tahu Gilda sudah dikenal mempunyai reputasi buruk di kepolisian. Ia sering mencari-cari berita dengan cara tidak benar, seperti bekerja sama dengan orang dalam di kepolisian. Ia pernah bekerja sama dengan Fani, sebelum polisi wanita itu tewas dibunuh Ferdy dalam kasus sebelumnya.


“Loh, tapi kami sudah membuat janji Pak. Kami sudah berbicara di telepon sepuluh menit yang lalu dan Pak Reno bilang kalau saya dipersilakan langsung masuk saja ke perkebunan,” ucap Gilda.


“Maaf Mbak, kalau memang Pak Reno berkata seperti itu, tentu dia menyampaikan pada kami. Kami tidak bisa memasukkan orang sembarangan tanpa izin dari beliau. Maaf ya Mbak!” tolak polisi tersebut.


“Aduh gimana sih, Pak. Pak Reno sudah nunggu di sana karena ada informasi penting yang ingin saya sampaikan ke beliau. Jangan sampai info penting ini gagal tersampaikan gara-gara bapak-bapak mempersulitnya!” Gilda beralasan.


Walau Gilda berbicara dengan nada kesal, para polisi tetap tidak terpancing. Mereka tetap fokus menjalan tugas mereka.


Kedua jurnalis dari televisi lain yang melihat percakapan itu hanya tersenyum mencibir. Mereka tahu Gilda sedang menjalankan akal bulusnya agar bisa masuk ke dalam perkebunan itu. Salah seorang polisi itu berinisiatif menghubungi Reno lewat telepon, tetapi tentu saja tidak direspon karena saat ini Reno tengah sibuk memburu si pelaku pembunuhan.

__ADS_1


“Maaf kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk ke dalam perkebunan!” ucap opsir polisi itu tegas.


“Oh begitu ya. Baik! Padahal saya sedang membawa info penting yang saat ini dibutuhkan oleh Pak Reno. Tetapi karena bapak-bapak melarang saya masuk, infonya jadi tertunda. Nanti lihat akibatnya ya!” ucap Gilda mengancam.


Sayangnya para opsir polisi yang berdiri di situ tetap bergeming mendengar alasan Gilda. Mereka tidak mau mengambil risiko apapun. Gilda kelihatan kesal karena tidak diizinkan masuk, kemudian menyingkir menjauh. Sementara dua jurnalis lain yang melihat itu menertawakan kegagalan Gilda masuk ke dalam kebun itu.


***


Reno dan dua orang polisi berhasil menyeberangi sungai yang ternyata dangkal itu. Kini mereka masuk dalam area hutan yang makin rapat akan pepohonan. Situasi sekitar sangat gelap, nyaris tak terlihat apapun. Mereka berjalan dengan bantuan lampu senter, menerobos semak belukar. Suara binatang hutan menjerit-jerit, terdengar di kejauhan.


“Pak, yakin kalau pembunuh itu masuk sini? Hutan ini sangat luas. Sepertinya akan sangat sulit mencari seseorang dalam hutan seluas ini, apalagi kondisi gelap. Apa tidak sebaiknya kita balik saja?” ucap salah seorang personel polisi yang ikut menjelajah. Rupanya ia mulai menyerah.


“Tidak. Aku yakin pembunuh itu tidak keluar dari jalan setapak, karena medan hutan ini sangat sulit, ia tidak mungkin keluar jalur. Kamu lihat jalan setapak ini ada bekas tetesan air. Pasti pembunuh itu berhasil menyebrangi sungai dan berniat menuju jalan raya. Aku yakin itu!” ucap Reno.


Personel polisi itu tak lagi membantah. Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang membelah hutan. Cuaca mendung, dengan sesekali kilat berkelebat. Mereka berharap agar hujan tak turun malam ini.


“Tunggu!”


Tiba-tiba Reno memungut sesuatu yang tergeletak di jalan setapak itu. Sebuah bungkus bekas cokelat merk Silver King dan sebuah botol plastik bekas air mineral. Bungkus cokelat itu terlihat masih baru. Ia mengernyitkan dahi. Bungkus cokelat yang sama juga ia temukan di pondok tempat jasad Anita ditemukan.


Ia semakin bersemangat meneruskan langkah menuju arah jalan raya. Jalan setapak itu berupa tanah yang sedikit berlumpur, sehingga sepatu mereka menjadi kotor. Terlihat pula jejak sepatu lain, walau tidak begitu tercetak jelas di permukaan tanah. Reno yakin, bahwa mereka sudah berada di arah yang benar. Pembunuh itu pasti sedang mencari jalan keluar dari hutan secepat mungkin.


***


Rianti Tobing masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, kemudian meletakkan barang belanjaan di kursi ruang tamu, agar tak membangunkan suaminya. Rumah begitu lengang dan sepi. Biasanya suaminya sedang tidur di jam seperti ini. Ia beranjak menuju kamar tidurnya yang gelap, namun ia terkejut karena tak menjumpai suaminya di tempat tidur.


Suasana hatinya langsung berubah tidak enak. Ia kesal dan langsung berpikiran negatif pada suaminya. Pernikahannya yang lebih dari sepuluh tahun bersama Henry Tobing seolah hanya sandiwara, karena suaminya memang diam-diam suka memerhatikan wanita lain yang lebih muda. Sampai saat ini pun mereka belum dikarunia anak, sehingga membuat suasana rumah tangga menjadi lebih hambar.


Rianti melihat sebatang cokelat yang tak dihabiskan di meja ruang tengah di depan TV. Cokelat itu tinggal separuh, sehingga sisanya dikerubuti semut. Ia menghela napas.


“Kebiasaan buruk,” gumamnya.


Ia mengambil sisa cokelat tadi lalu membuangnya di tempat sampah. Rianti berniat menghubungi Ollan. Mungkin dia tahu keberadaan suaminya. Namun, belum sempat ia menelepon Ollan, dari ruang tamu muncul sosok suaminya yang masih memakai pakaian yang sama dengan yang dipakai saat makan malam tadi.

__ADS_1


Henry Tobing sangat terkejut melihat istrinya yang ternyata berada di ruang tengah. Ia juga mengira istrinya sudah tidur, ternyata ia juga baru saja datang.


“Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?” tanya Rianti penuh selidik.


“Eh, aku ... aku tadi diajak minum kopi sama temanku,” jawab Henry pendek.


“Minum kopi? Sampai dini hari begini? Nggak usah banyak alasan, Hen. Aku sudah lelah mendengar alasanmu yang mengada-ada. Jangan kamu pikir aku ini wanita bodoh yang nggak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana!” cecar Rianti.


“Eh, kamu jangan sembarangan ya! Aku beneran minum kopi kok. Kalau kamu tidak percaya tanya saja sama Ollan. Memang Ollan tidak ikut, tetapi dia tahu aku berada di cafe mana. Lagian, dari mana juga kamu jam segini baru pulang?” Henry balik bertanya.


“Kan aku sudah bilang kalau tadi aku lagi belanja kebutuhan. Tuh! Kalau nggak percaya lihat barang belanjaan kutaruh di kursi ruang tamu. Kamu pikir mudah mencari angkutan di malam seperti ini. Aku menunggu hampir dua jam baru direspon oleh ojek online. Kapan-kapan kamu harus merasakan sendiri bagaimana susahnya tanpa mobil!” ucap Rianti.


“Oke ... oke terserah! Tapi aku tidak suka kamu selalu memata-mataiku, dan kamu selalu mengikutiku kemana pun aku pergi!” protes Henry.


“Karena aku tidak pernah percaya padamu, Hen! Tidak sekalipun. Sepuluh tahun lebih pernikahan ini seperti main-main belaka, karena aku tahu kamu main mata dengan wanita lain di belakangku. Dahulu kamu punya hubungan pula dengan Renita Martin, dan kalian mati-matian sembunyikan itu, tapi aku selalu tahu! Sekarang kamu melirik Laura Carmellita. Kamu pikir aku nggak tahu?” ucap Rianti.


Ia tak bisa meredam emosinya lagi. Ia menumpahkan segala kekesalan yang meluap di hatinya. Air mata mulai mengalir di pipinya.


“Ah, sudahlah! Lelah aku berdebat denganmu. Ucapanmu itu sama sekali tidak beralasan dan ngawur. Kecemburuanmu itu sangat keterlaluan. Aku bukan binatang peliharaanmu yang dengan mudah bisa kamu pasang rantai di leherku. Terserah kamu lah! Aku lelah!”


Henry juga mulai tersulut emosi. Nada bicaranya mulai meledak-ledak. Sesaat kemudian, ia melangkah lagi keluar rumah, sambil membanting pintu depan.


“Henry! Tunggu ... kamu mau kemana. Henry!”


“Aku lelah di rumah ini Rianti. Aku lelah!”


“Kamu mau kemana?”


“Tak tahu mau kemana! Jangan ikuti aku!”


“Henry, aku ikut! Kamu nggak bisa tinggalin aku sendiri. Aku ikut!”


Rianti berniat menyusul suaminya, tetapi pria itu tak menggubris ucapan Rianti. Ia menyalakan mobil, kemudian melajukan mobil keluar halaman dan pergi menghilang. Rianti makin gusar, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia marah dan kecewa saat melihat mobil itu keluar halaman rumahnya.

__ADS_1


Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Siapa yang dini hari ini menelepon? Ia tidak ingin mengangkatnya, karena suasana hati sedang kacau. Ia hanya nama si pemanggil yakni Renita Martin. Ia tidak mempedulikan panggilan itu, seraya masuk kembali ke dalam rumah.


***


__ADS_2