Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
224. Melacak Ollan


__ADS_3

Reno dan Dimas segera melajukan mobil menuju apartemen Ollan untuk segera bertemu dengannya.


Apartemen yang tak terlalu bagus itu berdiri di antara kekumuhan kota. Mereka segera naik menggunakan tangga, karena lift dalam keadaan rusak. Alhasil, mereka sangat lelah karena ada beberapa lantai yang harus mereka lewati. Segera mereka mengetuk pintu apartemen, namun beberapa kali mereka mengetuk tak dibuka. Reno menoleh ke arah Dimas.


“Sepertinya dia tak ada di dalam,” ucap Reno.


“Lalu kemana dia? Sedang ada pekerjaan atau ...?” tanya Dimas.


“Aku akan konfirmasi ke Henry. Dia kan manajernya Henry Tobing!”


Reno segera menghubungi Henry menggunakan telepon. Namun, Henry mengatakan bahwa saat ini dia tidak sedang bersama Ollan. Bahkan Henry mengatakan bahwa posisi Ollan saat ini bukan lagi manajer Henry. Hal ini membuat Reno mengernyitkan dahi.


“Ollan bukan lagi manajer Henry,” ucap Reno kepada Dimas.


“Hmm, sepertinya ada masalah dengan mereka. Jadi bagaimana kita melacak keberadan Ollan. Aku sudah menghubungi nomornya ternyata malah dimatikan. Dia nggak sadar kalau bahaya sedang mengintai. Aduh, gimana ya?” ucap Dimas.


“Oke ... oke! Nggak usah panik. Ini masih hari kedua sejak kematian Anita. Itu artinya kita masih punya waktu sehari untuk melacak keberadaan Ollan. Kalau lewat waktu itu, maka kita akan kehilangan dia. Kita harus cepat. Aku akan menelusuri teman-teman Ollan, siapa tahu ada yang tahu keberadaannya,” ucap Reno.


“Ya, kita harus bergerak cepat!”


***


Ollan, yang dirundung rasa sedih berkepanjangan, tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia ingin mengakhiri hidup, seperti yang pernah ia lakukan di masa lalu, tetapi ia urungkan niat itu. Ia menyetir sendiri mobilnya, menyusuri kota yang tak seberapa ramai. Ponsel sengaja ia matikan karena ia tak ingin berbicara dengan siapa pun hari ini. Ia merasa semua di dunia ini tak ada yang berpihak padanya.


Tiba-tiba ia teringat bahwa ia membawa kunci villa milik Henry Tobing. Ya, Henry Tobing mempunyai sebuah villa kosong di kawasan perbukitan yang sepi. Ollan pernah diajak beberapa kali ke tempat itu, bersama Henry dan Rianti. Henry menitipkan kunci villa itu padanya, karena ia tidak mempercayai Rianti. Ollan berpikir, tentu tempat itu bisa untuk sekadar menenangkan pikirannya yang kacau.


Ia melajukan mobil menuju arah luar kota tempat villa itu berada. Dari pusat kota, villa itu berjarak satu jam perjalanan. Namun, Ollan ingin segera sampai ke sana. Sebelum ia kesana, ia membeli segala perbekalan di sebuah supermarket, seperti bahan makanan dan segala perlengkapan. Ia berencana tinggal di villa itu selama beberapa hari ke depan.


Sebelum bertolak ke villa, ia sempat menghubungi seorang teman dan mengirimkan pesan kepadanya.


Saya akan tinggal di Villa Bang Henry selama beberapa hari.

__ADS_1


Setelah pesan itu terkirim, ia matikan kembali ponselnya, dan segera menuju ke arah villa. Paling


tidak, keheningan akan kembali memulihkan keresahan hati yang melanda.


***


Tiga hari sejak pembunuhan Anita, semua berjalan kembali normal. Semua tenggelam dalam urusan masing-masing yang padat. Sebagai publik figur, tentu mereka punya kesibukan yang beragam. Di sela-sela kesibukannya syuting iklan, Faishal Hadibrata masih menyempatkan untuk minum kopi kegemarannya di sebuah kedai kopi di dekat studio. Seperti biasa, kadang ada saja fans yang tertarik untuk meminta tanda tangan. Faishal yang berpembawaan angkuh melayani permintaan tanda tangan itu, tetapi dengan paras nyaris tanpa senyum.


Hari ini, ia sedang menunggu kekasih barunya, Melani. Entah gadis keberapa yang berhasil mencuri perhatian Faishal, yang jelas pria itu seperti tak benar-benar serius. Ia masih suka berkelana ke pesta-pesta, bak kumbang yang hinggap dari bunga satu ke bunga yang lain, untuk menghisap nektarnya.


Tak lama, Melani datang dengan berbalut busana seksi. Akhir-akhir ini ia sering merajuk agar Faishal segera menikahinya, padahal mereka baru beberapa bulan menjalin hubungan. Namun, keluarga Melani mendesak agar mereka segera meresmikan hubungan yang baru seumur jagung itu.


Melani segera mengambil tempat di hadapan Faishal yang merasa gusar. Tak digubrisnya kedatangan Melani, ia malah asyik menikmati secangkir kopi yang di hadapannya. Tentu saja hal itu membuat Melani merasa jengkel.


“Jadi kita putus?” tanya Melani pelan.


Faishal hanya melirik sekilas mata Melani, sambil tersenyum dingin. Ia enggan berbicara hari itu,


karena proses syuting yang tak semulus ia kira. Suasana hatinya sedang tidak dalam kondisi bagus.


“Jadi mengapa kamu minta aku kesini? Hanya untuk melihat kemarahanmu dan merendahkan diriku di hadapan orang banyak?” rajuk Melani.


“Iya, Melani. Aku inginkamu tahu bahwa kamu tak bisa mendikteku dengan segala keinginan konyol keluargamu itu. Kita baru saja mengenal dalam hitungan bulan dan kamu minta aku untuk menikahimu. Padahal jelas-jelas kamu nggak hamil. Aku tidak bisa secepat itu. Kalau kamu memang tak sabar ingin merasakan sakitnya berumahtangga, cari lelaki lain yang siap. Karena aku belum!” tandas Faishal.


Melani terdiam. Kesedihan merayapi hati seketika. Pria angkuh itu terlihat seperti seorang diktator di hadapannya. Ia hanya membisu. Sebagai seorang wanita, ia tak kuat menahan perasaannya. Sebulir cairan bening luruh dari sudut mata.


Tak ada gunanya ia berlama-lama duduk di hadapan pria angkuh ini. Ia mengambil tas, kemudian beranjak dari tempat duduk, siap meninggalkan Faishal.


“Aku pergi!” kata Melani singkat.


“Ya, pergilah! Cari lelaki lain saja!”

__ADS_1


Mendengar perkataan Faishal itu, hancur-lebur perasaan Melani. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meninggalkan Faishal yang tetap sedingin es, minum kopi dengan santai, bagai pria yang perasaannya telah mati. Dalam hati. Melani menyesal mengapa harus bertemu dengan Faishal. Fatalnya, kini perasaan Melani ikut terseret ke dalamnya. Kini, Melani merasa bahwa ia harus punya sikap.


***


Di sebuah cafe yang lain, sebuah cafe yang berdesain mewah, Niken duduk menyilangkan kaki sambil menunggu seseorang. Ia telah membuat janji dengan seorang pria yang dikenal sebagai seorang pengacara top di kota itu. Pengacara itu adalah pengacara pribadi Daniel Prawira yang bernama Herman Sirait. Ia adalah pengacara yang sudah andal, menjadi langganan para artis dan kalangan orang terkenal di kota itu.


Pria berpenampilan eksotik itu memasuki cafe dengan senyum lebar, dan menebar sapa ke semua karyawan Cafe. Namanya memang sudah tidak asing di kalangan publik, sehingga kemana pun ia pergi, pasti mendapat sorotan. Ia memakai setelan jas warna hijau tua, dan sebuah topi, lengkap dengan kacamata hitam, serta sebuah tongkat.


Ia menghampiri tempat di mana Niken duduk dengan anggun, dengan segelas minuman ringan tersaji di meja. Polisi wanita itu tersenyum melihat kehadiran Herman Sirait, yang telah menjanjikan padanya akan memberikan sebuah informasi penting.


“Sudah lama menunggu, Ibu .... “ ucap Herman Sirait ragu-ragu.


“Tak usah tak teralu formal, Bang Her. Anda kan orang terkenal di kota ini. Jadi jujur saya merasa agak gugup bertemu dengan Anda,” ucap Niken berbasa-basi.


“Oh, saya sendiri tak menyangka akan bertemu dengan polisi wanita yang secantik Anda. Ini adalah hari yang menyenangkan bagi saya,” ucap Herman Sirait.


Mereka duduk berhadapan, sambil berbasa-basi sebentar sebelum mereka ke inti pembicaraan. Selama duduk. Mata Herman Sirait menatap tajam ke arah Niken. Wanita muda itu hanya bergeming. Ia tahu arti tatapan itu, tetapi ia berusaha untuk tetap profesional.


“Jadi kita mulai dari mana?” tanya Niken.


“Terserah Anda!” ucap Herman Sirait.


“Jadi berapa lama Anda mengenal Daniel Prawira?”


“Cukup lama. Sebenarnya kami adalah teman lama, dan Daniel sendiri banyak mempercayakan segala sesuatu kepadaku. Termasuk urusan pribadinya yang pelik, semua dia ceritakan. Tapi kurasa aku tak akan menceritakan hal-hal yang bersifat privasi,” ucap Herman Sirait.


“Aku paham itu, Bang. Namun kepolisian sangat membutuhkan data penting yang mungkin akan berkaitan dengan pelaku pembunuhan Daniel ini. Kuharap Bang Her bisa bekerjasama dengan kami dan bisa membagi cerita yang menurut kami penting,” ucap Niken.


“Oke, aku akan bekerjasama. Untung Anda yang menginterviu saya .... “


“Apa bedanya, Bang?”

__ADS_1


“Aku tidak akan terbuka dengan seorang polisi laki-laki!”


***


__ADS_2