
Hari menjelang siang. Matahari beringsut merayap ke titik kulminasi. Cuaca tak begitu terik, karena beberapa gumpal awan kelabu berserak di langit. Beberapa kali awan itu menutupi matahari, sehingga suasana menjadi redup. Walaupun demikan, tidak ada tanda-tanda bahwa hari ini akan turun hujan.
Setelah berbincang dengan Rasty, Dimas memutuskan untuk menguburkan kucing itu secara diam-diam. Dia tidak ingin Bu Mariyati semakin terpukul melihat Agung tewas dalam kondisi mengenaskan. Ia mengambil cangkul dari gudang, kemudian menggali tanah di bawah pohon tempat Agung ditemukan mati. Rasty membantu proses penguburan itu. Baunya yang sudah busuk, membuat Rasty beberapa kali mau muntah.
Setelah proses penguburan selesai, Dimas dan Rasty kembali masuk ke dalam rumah. Para penghuni rumah isolasi sebagian berada di ruang tamu. Mereka masih terkejut dengan peristiwa yang terjadi pagi tadi, saat Rudi keracunan minuman yang dibawa oleh Lena. Sepertinya mereka harus waspada dengan kejadian serupa yang mungkin terjadi.
Di ruang tamu, terlihat Lena yang sedang merenung ditemani oleh Adinda. Tidak terlihat penghuni laki-laki di situ.
“Maaf, untuk siang dan malam ini kalian akan kami pesankan makanan dari luar karena kondisi Bu Mariyati sedang kurang baik. Mungkin besok semua akan normal kembali. Kalau kalian merasa lelah karena kerja bakti tadi pagi, kalian boleh beristirahat di kamar. Kita tidak akan ada kegiatan sampai menjelang malam. Hari ini kalian bisa bersantai, tetapi harus tetap waspada,” pesan Dimas.
Kedua gadis yang berada di ruang tamu itu hanya mengangguk. Mereka malas beraktivitas hari itu. Sementara para penghuni laki-laki, yang tersisa hanya Ferdy dan Alex. Mereka berada di ruang billyard, tetapi tidak bermain billyard. Mereka hanya bercakap-cakap sambil duduk menghadap ke arah meja billyard.
“Dugaanku benar. Satu-persatu dari kita akan dihabisi. Aku sungguh ingin segera keluar dari rumah ini,” kata Alex.
“Aku juga sangat kaget dengan kejadian yang menimpa Rudi. Tidak menyangka kalau dalam botol itu ada minuman beracun. Siapa yang telah berbuat senekat itu?” ucap Ferdy sambil mengembuskan napas.
“Aku pun tak tahu. Perasaanku makin tidak enak. Aku juga tak habis pikir bagaimana bisa si pembunuh itu mendapatkan bubuk racun. Biasanya kan racun hanya didapat oleh seorang ... astaga!”
Tiba-tiba Alex menoleh tajam ke arah Ferdy. Tatapannya itu begitu menohok, seolah mempersalahkan Ferdy. Tentu, Ferdy paham kalau Alex tengah menuduhnya karena bubuk racun itu.
“Kamu menuduhku?” tanya Ferdy cepat.
“Kamu bekerja di apotek Fer. Tentunya kamu juga tahu tentang obat-obatan. Rasanya bukan hal yang tidak mungkin kalau dirimu .... “
Alex menghentikan kalimatnya sembari terus menatap Ferdy dengan tatapan curiga. Ferdy segera menggeleng cepat.
“Lex, aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku memang seorang apoteker yang bekerja di apotek. Setiap hari aku menhadapi obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit seseorang. Tapi kalau racun? Aku tidak tahu. Kamu jangan menuduh sembarangan!”
Ferdy mengelak segera dari tuduhan Alex. Keduanya bertatapan saling curiga. Alex pada akhirnya hanya menggeleng.
“Maaf ... maaf, Fer. Aku mungkin telah berprasangka buruk kepadamu. Aku hanya mulai tertekan dengan keadaan. Teman-temanku satu persatu mati, dan aku seolah masuk dalam pusaran permainan ini. Bukan nggak mungkin aku yang akan mati berikutnya. Jadi wajar aku mencurigai orang yang mempunyai alibi di sini,” ucap Alex dengan gugup.
“Jangan terlalu berlebihan, Lex. Bagaimana kalau aku bilang kalau dirimu juga punya alibi dengan kematian mereka?” balas Ferdy.
“Aku? Jangan bercanda, Fer! Buat apa aku menginginkan kematian mereka?”
“Entahlah. Siapa di sini yang tahu masa lalumu? Nggak ada kan? Siapa yang menjamin bahwa kamu pernah punya dendam dengan mereka di masa lalu? Siapa yang menduga kalau kamu menyembunyikan kecerdasanmu dibalik topeng keluguanmu?” cecar Ferdy.
Mendengar itu, Alex meradang. Rupanya ia tak terima dengan cecaran dari Ferdy. Ia berusaha menahan emosi sambil menghirup napas dalam-dalam.
“Ada lagi yang ingin kau tuduhkan kepadaku?” tanya Alex.
“Itu saja, Lex. Maaf, aku berpikir demikian karena juga berpikir buruk kepadaku soal racun itu. Jadi pelajaran hari ini adalah, jangan menuduh orang sembarangan, apabila tidak ingin dituduh. Itu saja. Semoga malam ini kita selamat sampai pagi!”
Ferdy beranjak dari tempat duduknya. Ia mengakhiri pembicaraan dengan perasaan gusar. Ia hendak melangkah menuju kamar, tetapi tiba-tiba ia berbalik.
“Oya, hampir lupa. Malam ini kan kamu bermain catur melawan Pak Dimas. Kalahkan dia! Agar kita bisa bertemu di babak final!”
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Ferdy melanjutkan melangkah menuju kamarnya. Alex hanya bergeming, tak terlalu merespon perkataan Ferdy. Ia masih memikirkan segala ucapan pria itu.
***
Acara makan siang tetap dilaksanakan di meja makan, dengan hidangan berupa nasi kotak berisi ayam bakar yang dipesan di salah satu warung makan terkenal di kota. Mereka menikmati makan siang dengan tanpa berkata apa pun. Sajian masakan itu memang terkenal lezat, jadi mereka begitu menikmati. Selain itu, sebenarnya mereka masih was-was dengan kejadian yang terjadi berikutnya. Mereka makan dengan nikmat, kecuali Gilda. Wanita muda itu tidak ikut makan, hanya duduk sambil memperhatikan penghuni lain yang sedang makan.
“Kamu nggak makan, Gilda?” tanya Dimas.
“Aku ... aku sedang tidak berselera,” jawab Gilda cepat.
“Mau kupesankan makanan lain?” tanya Dimas lagi.
“Oh, tidak usah. Aku makan nanti saja. Akan kubawa kotak makananku ke kamar. Aku akan makan di kamar saja nanti,” ucap Gilda.
Dimas hanya manggut-manggut, sedangkan penghuni lain tidak ada yang pedulu. Wanita muda itu mengambil sekotak nasi, kemudian naik menuju kamarnya. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Ia sengaja mengambil kotak makanannya ke dalam kamar, karena ia akan memberikannya pada Badi.
“Malam ini kuharap kalian meningkatkan kewaspdaan. Setelah kejadian yang menimpa Rudi, bukan tidak mungkin pembunuh itu makin menggila. Aku punya kejutan, tapi sebaiknya kusampaikan besok selepas makan pagi. Kuharap kalian besok bisa berkumpul di ruang tamu. Ada yang hendak kusampaikan,” kata Dimas sambil mengelap mulut dengan tisu katering yang berada dalam kotak makanan.
Semua penghuni lain rupanya juga telah selesai makan, tetapi tidak meninggalkan meja makan terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang disampaikan oleh Dimas.
“Mengenai apa itu?” tanya Adinda penasaran.
“Kalau kusampaikan sekarang, pasti bukan kejutan namanya. Jadi lebih baik besok saja. Oya, Alex, Ferdy, malam ini lebih baik kita batalkan permainan catur kita, karena hari ini aku tidak bisa fokus karena kejadian yang menimpa Rudi. Dan tadi Bu Mariyati memergoki orang asing masuk ke dalam rumah ini. Jadi kuharap kalian tetap waspada dan selalu mengunci pintu. Kalau ada yang mengetuk pintu lewat jam sepuluh malam, tidak usah pedulikan. Oke?” pesan Dimas.
Semua yang ada di ruang makan manggut-manggut. Tiba-tiba Dimas mengambil selembar poster yang sudah disiapkan. Ia membentangkan poster itu di hadapan para penghuni rumah isolasi. Mereka melihat poster yang dibentangkan Dimas dengan saksama, tak tahu apa tujuan Dimas membentangkan poster itu.
“Ada yang kenal dengan orang yang ada di poster ini?” tanya Dimas.
“Kurasa semua orang kenal dia. Dia kan orang terkenal banget. Walau dia adalah artis angkatan 60-an, tetapi namanya tetap dikenal hingga sekarang,” tambah Alex.
“Dia adalah artis favoritku. Aku banyak mengkoleksi poster-poster Marilyn Monroe di rumah. Aku sangat mengagumi kepribadiannya,”kata Rasty.
Dimas menutup poster itu. Ia mencatat sesuatiu dalam otaknya. Rasty adalah penggemar Marilyn Monroe. Ia hanya ingin memastikan siapa-siapa yang mungkin diincar oleh si pembunuh untuk dijadikan target selanjutnya. Rupanya Rasty mengidolakan artis lawas tersebut.
“Kunci pintu kamarmu malam ini rapat-rapat, Ras!” ucap Dimas.
“Pak Dimas membuatku takut ....”
Dimas hanya tersenyum. Kemudian ia membuka poster kedua, dan membentangkan kembali ke hadapan para penghuni rumah isolasi.
“Kalau ini?” tanya Dimas lagi.
“Albert Einstein?” kata Adinda lagi.
“Yup! Ada yang mengidolakannya?” tanya Dimas.
“Mengidolakan sih tidak terlalu. Aku suka membaca teori-teorinya saja, terutama tentang teori relativitas itu. Dulu waktu SMA aku dipanggil Mister Einstein. Panggilan konyol sih, aku nggak terlalu suka. Aku nggak bisa dibandingkan dengan orang jenius macam dia!”
__ADS_1
Alex bercerita. Dimas menutup kembali poster itu. Ia kini sudah mendapatkan gambaran tentang Marilyn Monroe dan Albert Einstein. Ia hanya manggut-manggut.
“Kunci juga kamarmu, Lex!” perintah Dimas.
“Ada apa sih sebenarnya, Pak? Kok aku jadi penasaran?” tanya Adinda.
“Nggak apa-apa, kok. Kalau kalian sudah selesai makan siang, boleh istirahat atau melakukan apa yang kalian suka. Jika kalian butuh apa-apa, aku ada di kamar kok,” kata Dimas sambil bangkit dari tempat duduknya.
Semua mengangguk, kemudian satu-persatu membubarkan diri dari ruang makan.
***
Gilda memasuki kamarnya dengan perlahan. Ia membuka pintu kemudian menguncinya kembali. Ia mendapati Badi yang sedang berdiri di depan jendela melihat pemandangan di bawah sana. Sementara tangannya memegang rokok, kemudian mengisapnya perlahan.
“Astaga! Kamu merokok? Uhuk ... uhuk!” protes Gilda sambil terbatuk –batuk.
Badi memalingkan badan ke belakang. Ia tersenyum menyeringai, kemudian melemparkn puntung rokok keluar jendela.
“Maaf, Gilda! Rokok adalah sebagian dari hidupku. Aku nggak bisa lepas darinya. Maafkan aku!” ucap Badi.
“Baunya memenuhi kamar. Kalau ada orang kesini tentu akan curiga. Mungkin dikiranya aku merokok atau gimana!” gerutu Gilda.
“Memangnya ada orang yang akan kemari?” tanya Badi
“Semoga saja tidak. Kamu makanlah dulu, aku bawakan nasi kotak dari bawah. Itu jatahku, tetapi makan saja!” perintah Gilda.
“Kamu tidak makan?” tanya Badi.
“Aku gampang. Aku bisa ke dapur untuk mencari makanan di kulkas. Kamu kan nggak bisa kemana-mana, jadi mending kamu makan aja jatah nasi punyaku,” ucap Gilda.
“Astaga! Kamu baik banget Gilda!”
“Udahlah! Nggak usah banyak basa-basi. Aku tadi ikut makan siang di ruang makan, dan menurut pengamatanku, Dimas sudah tahu siapa pelaku pembunuhan berantai ini,” kata Gilda cepat.
“Mengapa kamu menyimpulkan begitu?”
“Aku lihat dari mata Dimas. Berulang kali dia melihat ke arah si pembunuh itu. Dan dia tadi berkata bahwa besok dia akan ungkap siapa sebenarnya. Dia menunggu Reno terlebih dahulu.”
“Astaga Gilda! Aku nggak mau kalau polisi itu mengungkap pelau pembunuh adikku itu. Kita harus bergerak cepat. Malam ini harus kamu dapatkan dia. Bagaimana? Kamu bisa kan?”
“Malam ini? Aduh, kok mendadak sekali?”
“Pokoknya aku nggak mau tahu caranya. Malam ini kamu harus dapatkan si pembunuh itu!”
“Aduuh! Terus gimana caranya?”
“Sepertinya kamu harus membujuknya. Bukankah kamu sudah sangat ahli dalam hal satu itu?” seringai Badi.
__ADS_1
“Sialan! Nggak juga lah! Baiklah, malam ini aku akan bergerak. Semoga saja membuahkan hasil!”
***