
Malam akhirnya tiba menyelimuti kastil dan sekitarnya. Bangunan itu tampak menjulang di antara rimbunnya perkebunan yang sunyi. Suara burung hantu terdengar di ranting pohon yang banyak tumbuh di sekitar kastil. Gelap dan senyap menjadi perpaduan sempurna untuk para pelaku kejahatan yang ingin beraksi. Para penghuni kastil sudah bersiap di meja makan untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji di meja. Mereka harus mengikuti ritual makan malam itu, walau penghuni kastil tidak lengkap. Kali ini, Lily mendapat giliran memasak hidangan untuk makan malam para penghuni kastil.
Ammar duduk berdampingan dengan Mariah, tak berbicara sepatah kata pun. Walaupun kelihatan diam, sebenarnya Ammar tengah merekam gerakan-gerakan kecil para penghuni kastil dalam otaknya. Di samping Ammar ada Reno yang terlihat dingin, tanpa ekspresi, didampingi oleh Juned. Mereka tengah berpikir dan mengamati para penghuni lain yang juga terlihat gelisah.
Sementara di seberang para polisi itu ada pasangan Rosita dan Edwin. Mereka terlihat lebih cerah dan gembira, berusaha melupakan apa yang menimpa Edwin siang tadi. Mereka telah siap untuk makan malam dengan menebar senyum dan perasaan antusias.
"Kau baik saja kan, Edwin?" tanya Reno kemudian.
"Semua baik-baik saja. Terima kasih sudah menemani Rosita pagi ini mencari keberadaanku di sekitar kebun." ucap Edwin sambil tersenyum.
Sementara, di dekat pasangan itu ada Nadine. Perempuan muda itu terlihat tidak tenang, berkali-kali melongok ke arah pintu yang menghubungkan dengan halaman samping. Ia seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Parasnya menggambarkan kecemasan dan keputusasaan.
"Kurasa ... kurasa aku tidak bisa ikut makan malam ini. Aku nggak bisa makan tanpa Ryan," ucap Nadine dengan nada sedih.
"Kamu harus makan, Nadine. Ryan akan kami cari besok. Kamu harus makan agar tetap sehat. Kalian semua harus menjaga stamina dan kesehatan di tempat ini. Kalau fisik dan mental kalian lemah, maka akan mudah diperdaya oleh pelaku kekacauan itu," saran Reno.
Nadine hanya mengangguk lemah, tak berkata apa pun. Ia merasa tak tertarik untuk makan apa pun malam ini. Ia meremas serbet makan yang di depannya. Lily yang duduk di sampingnya memegang pundak Nadine seraya berbisik,"Semua akan baik-baik saja, Din."
"Siapa yang kita tunggu? Mari kita makan!" ucap Jeremy sambil melihat ke arah semua yang hadir di situ.
__ADS_1
Ia sudah membuka piring, menyiapkan sendok dan garpu, bersiap menyantap hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
"Mana Maya? Kok aku nggak lihat Maya?" tanya Lily tiba-tiba.
Perkataan Lily segera mendapat respons. Mereka saling berpandangan, berusaha mencari tahu. Tiba-tiba dari arah dalam, muncul orang yang dicari-cari. Ia melangkah tergesa, segera mengambil tempat duduk dengan tanpa berkata apa-apa.
"Kamu dari mana?" tanya Jeremy.
Maya hanya menggelengkan kepalanya. Ia enggan membagikan cerita kepada yang lain. Parasnya tampak sedikit canggung, kemudian ia melirik ke arah Nadine sekilas. Yang dilirik tidak terlalu memperhatikan, karena ia sedang cemas menunggu suaminya. Maya kembali membuang muka ke arah lain.
Mereka tak mau menunggu waktu lebih lama lagi. Acara makan malam dimulai dengan doa, kemudian mereka menikmati hidangan yang tersaji. Masing-masing dari mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing, nyaris tak ada obrolan. Ammar kembali melihat satu-persatu paras penghuni kastil yang tersisa.
"Setelah makan malam ini kuharap kalian segera kembali ke kamar masing-masing, tak ada yang keluar. Kalau aku melihat kalian di atas jam sembilan, maka aku tak akan segan-segan mendakwa bahwa kalian lah pengacau yang selama ini kami cari. Ingat, kami sudah mengantongi beberapa nama yang merupakan tersangka kuat dalam kasus ini. Aku tidak akan menyebutkan nama-nama itu, tetapi aku akan melakukan pengawasan lebih ketat," ucap Reno.
Seusai makan malam, semua kembali ke kamar masing-masing. Lily menawarkan Nadine untuk tidur di kamarnya, tetapi sepertinya Nadine menolak sembari menggeleng.
"Kamu boleh tidur sama aku malam ini, Nadine. Kamu kelihatan kurang enak badan," ujar Lily.
"Aku menunggu suamiku, Lily. Maaf," ucap Nadine sambil berlalu begitu saja.
__ADS_1
Lily mengerti alasan Nadine. Ia membiarkan wanita muda itu masuk ke dalam kamarnya. Lily hanya mengangkat bahu, kemudian ia sendiri juga segera masuk ke kamar untuk beristirahat.
***
Ryan terbangun. Ia membuka mata. Ia merasakan udara dingin yang menusuk kulitnya. Suasana di sekitarnya begitu gelap, bahkan ia nyaris tak bisa melihat telapak tangannya sendiri. Ia menyadari bahwa malam telah datang, membawa kegelapan yang menakutkan. Ryan berusaha untuk tenang, karena paling tidak ia berada dalam sebuah ruang tertutup. Tentu, ancaman dari serangan binatang liar dari hutan tak perlu dikhawatirkan. Justru yang ia khawatirkan malam ini, bagaimana kalau sosok misterius itu muncul kembali?
Ryan bangkit dari duduknya kemudian merayap sepanjang dinding mendekati arah pintu yang masih tertutup rapat. Sekali lagi ia mencoba pintu, tetapi tak bisa. Dalam hatinya merasa was-was karena ia mulai merasa tidak nyaman. Kegelapan yang berada di sekitanya membuatnya takut. Apalagi dia berada di dalam sebuah pondok kosong di tengah hutan. Tak ada siapa pun di tempat itu. Bahkan rasanya, serangga pun enggan bertandang ke dalam pondok.
Dari luar bilik, ia dapat mendengar suara ketukan-ketukan aneh, bahkan langkah kaki. Ryan hanya bisa terduduk di sudut ruangan, menunggu pagi tiba. Kegelapan malam membuat nyalinya menciut. Ia tak terlalu percaya hal-hal yang bersifat mistis, tetapi toh jantungnya tetap berdebar kencang. Suara ketukan aneh di luar ruangan makin intens, bahkan ia bisa merasakan suara itu sangat dekat dengan telinganya. Ryan hanya berdoa sambil memejamkan mata.
Braak!
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu bilik seperti digebrak dari luar. Ryan terhenyak, padahal ia baru saja bisa memejamkan mata. Ia sudah mulai tak peduli dengan bunyi-bunyu aneh di sekitarnya. Tetapi sayang, suara gebrakan pintu sangat mengejutkannya, hingga ia langsung terjaga. Dadanya berdegup kencang. Ia khawatir kalau-kalau sosok misterius itu datang kembali ke pondok untuk mengeksekusinya.
Sejenak setelah suara gebrakan itu, suasana kembali hening. Ryan merasa semakin khawatir. Ia meringkuk di sudut ruang dengan harap-harap cemas. Ia kembali meraih potongan kayu di dekatnya. Ia akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup malam ini. Ia tidak mau mati begitu saja.
Belum hilang rasa cemasnya. ia mendengar suara langkah kaki mendekati bilik tempatnya disekap, kemudian suara langkah kaki itu berhenti di depan pintu. Ryan menelan ludah. Otaknya terus berputar agar ia tidak mati malam itu. Ia berencana menghantam orang yang berusaha masuk bilik itu dengan kayu sekuat tenaga.
Krieet!
__ADS_1
Pintu bilik benar-benar terbuka. Ryan masih meringkuk di sudut dinding, tetapi ia sudah waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi. Ia melihat bayangan hitam berdiri di depan pintu. Ryan hanya menunggu dengan pasrah ketika sosok itu melangkah mendekati tempat persembunyiannya.
***