Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
312. Melacak Nadine


__ADS_3

Rombongan Lily dan kawan-kawan sampai ke simpang empat, tetapi mereka tak menemukan siapa pun di situ. Suasana terlihat senyap, hanya suara burung berkeciap di dahan pohon. Suara desir angin, menggoyang-goyangkan dahan pohon yang banyak tumbuh menjulang di sekitar tempat itu. Lily melayangkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari kalau teman-temannya bersua di tempat lain, namun tak ada siapa pun yang ia lihat.


"Pada ke mana mereka? Masa belum kembali?" dengkus Lily.


"Jangan-jangan mereka sudah menemukan tanpa mengajak kita. Gimana kalau kita cari saja mereka!" usul Maya.


"Ini sudah 15 menit, dan harusnya mereka udah pada ngumpul di sini. Tapi di sini malah sepi, nggak ada siapa-siapa. Firasatku kok jadi nggak enak ya?" kata Lily.


"Mm, gini aja deh, biar aku yang mencari mereka ke ruas jalan kiri, sementara Maya ke kanan, dan Lily tinggal di sini. Bagaimana?" tawar Farrel.


Lily menimbang-nimbang sebentar usulan Farrel. Harus diakuinya, ia tidak mempunyai usulan yang lebih baik daripada usulan Farrel. Untuk saat ini, ia merasa semua menjadi kacau, karena semua teman-temannya dalam keadaan berpencar-pencar. Tentunya ia tidak ingin membuat semua menjadi lebih kacau lagi. Ia segera mengangguk untuk menyetujui usulan dari Farrel.


Tak lama, Farrel segera menyusur ruas jalan sebelah kiri, sedangkan Maya menyusur jalan sebelah kanan. Farrel mempercepat langkah, menerobos semak yang banyak tumbuh di jalan setapak itu. Tak berapa lama, ia mendapati beberapa orang berdiri di pinggir lereng dengan paras cemas. Ia segera mengenali sosok-sosok itu sebagai teman-temannya.


Setengah berlari Farrel menemui Aditya, Ryan, Edwin, dan Rosita yang berdiri di pinggir lereng yang cukup terjal. Farrel segera bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.


"Nadine menghilang!" ucap Aditya.


"Astaga! Menghilang bagaimana?" tanya Farrel dengan paras bingung.


"Nanti saja aku ceritakan. Kami sedang menunggu Ramdhan. salah seorang polisi yang mencari keberadaan Nadine di dasar lereng," ucap Aditya sambil menunjuk arak bawah, ke dasar lereng yang rimbun, banyak ditumbuhi pepohonan.


Tak lama, Ramdhan muncul dengan susah-payah mencapai bagian atas lereng. Napasnya terengah-engah, sementara peluh mengucuri kening. Mengetahui kemunculan Ramdhan, Ryan segera menghambur untuk mengajukan beberapa pertanyaan terkait keberadaan Nadine. Sayangnya, Ramdhan hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Aku minta maaf ... aku minta maaf," ucap Ramdhan.


"Apa maksudmu minta maaf? Katakan apa yang terjadi? Apa kamu melihat Nadine di bawah sana?" tanya Ryan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ryan. Aku sama sekali tak menemukan keberadaan Nadine di sana. Semoga ia dalam keadaan baik-baik saja. Aku belum sempat menelusuri lebih jauh, karena mungkin agak berbahaya di bawah sana. Mungkin setelah ini Juned dan aku akan mencari lebih jauh. Kita tunggu dulu instruksi dulu dari Pak Reno," ucap Ramdhan.


"Astaga! Mengapa harus menunggu instruksi? Nyawa istriku dalam bahaya, dan aku nggak bisa berdiam diri begitu saja. Kalau kalian nggak sanggup, biar aku saja yang turun sendiri untuk mencari Nadine!" ucap Ryan dengan panik.


Namun, sebelum niat Ryan terlaksana, Edwin segera mencegah kepergiannya. Pria itu dengan sigap memegang lengan Ryan yang sedang dikuasai emosi. Ryan hendak mengibaskan pegangan Edwin, tetapi pegangan itu makin menguat.


"Tenangkan hatimu, Ryan! Kita berdoa saja semga Nadine baik-baik saja. Aku yakin dia baik-baik saja, jadi kamu ngak perlu khawatir berlebihan seperti itu!"


Edwin berusaha menenangkan.


"Kalau dia baik-baik saja, dia pasti masih berada di bawah sana. Tapi mengapa dia nggak ada? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ryan.


"Dia akan baik-baik saja. Lebih baik kita percayakan semua ini pada para polisi. Kami yakin, Nadine akan segera ditemukan dalam keadaan selamat," lanjut Edwin.


"Aku setuju Ryan. Lebih baik kita tunggu saja kedatangan Juned untuk memeriksa keadaan di bawah lebih lanjut," timpal Aditya.


***


Juned tergesa memasuki halaman depan kastil, menemui Reno yang tengah duduk di beranda depan, bersiap menikmati kopi. Polisi itu tampak terkejut melihat kedatangan Juned yang terburu-buru. Ia letakkan kembali cangkir kopinya, segera bangkit dari tempat duduk, menyambut kedatangan Juned.


"Ada apa, Jun?" tanya Reno.


"Sesuatu telah terjadi, Pak. Sesuatu ... sesuatu ... "


Juned terdengar terbata-bata mengucapkan kalimat, sembari mengatur napas yang naik-turun. Maklumlah, ia kembali ke kastil dengan setengah berlari. Ia masih berusaha mengkondisikan dirinya sendiri.


"Sesuatu apa, Jun? Tenangkan dirimu dulu. Tarik napas!" perintah Reno.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Juned terlihat lebih tenang. Reno menyuruh duduk di kursi di sebelahnya. Setelah menarik napas dalam, Juned mulai bercerita bahwa salahs eorang anggota rombongan yang bernama Nadien tiba-tiba saja menghilang setelah izin untuk buang air kecil. Dugaan sementara, wanita muda itu terperosok ke dalam jurang, sehingga saat ini Ramdhan tengah memeriksa.


"Astaga! Baik, kita harus kembali ke tempat itu, Juned. Kamu tunjukkan jalan ke sana. Biar Dimas dan Pak Ammar yang ada di kastil, kita harus segera memeriksa keadaan di sana!" kata Reno cepat.


Setelah mempersiapkan diri, Reno dan Juned segera kembali ke tempat kejadian menghilangnya Nadine. Sebenarnya Juned merasa sangat lelah, karena harus bolak-balik ke tempat itu lagi, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ia mempunyai kewajiban untuk turut serta melindungi para petualang yang awalnya hendak menjelajah ke air terjun.


Sepertinya rencana Lily untuk menikmati pemandangan di sekitar air terjun harus tertunda sejenak, karena kehilangan Nadine membuat beberapa orang segera melupakan rencana itu. Saat ini Lily juga tengah gelisah di persimpangan jalan menuju air terjun. Ia menunggu Farrel yang tak kunjung kembali, demikian juga Maya. Ia merutuk dalam hati, karena rencana yang ia sudah siapkan jauh hari sebelumnya terancam berantakan.


Suasana persimpangan itu terasa berbeda, karena ia berdiri sendirian di tempat itu. Suasana sedikit mnyeramkan.


Sayup-sayup ia mendengar suara orang bercakap tak jauh dari tempatnya berdiri. Lily menajamkan pendengarannya. Ia mendengar suara dua orang laki-laki sedang bercakap. Tak lama, ia menyadari kalau suara itu adalah suara milik Juned dan Pak Reno yang telah tiba di persimpangan. Lily menghela napas lega, sekaligus merasa risau. Mengapa pula Juned membawa Pak Reno ke lokasi ini?


"Lily?" sapa Pak Reno.


"Iya Pak. Ada apa ya, Pak?" tanya Lily dengan heran melihat kehadiran polisi itu.


"Loh, kamu belum tahu?"


Lily hanya menggeleng. Juned tak ada waktu untuk menjelaskan permasalahan. Ia hanya memberi isyarat pada Lily untuk mengikuti langkah mereka menuju ruas jalan kiri. Lily tak banyak bertanya. Ia segera mengikuti langkah ke dua polisi itu. Tak ada lagi waktu untuk menjelaskan, karena kehadiran kedua polisi itu sudah ditungu, terkait langkah-langkah yang harus diambil. Apalagi Ramdhan tak dapat menemukan keberadaan Nadine di dasar lereng.


Sebenarnya Ramdhan menemukan beberapa tanda-tanda yang mencurigakan, tetapi ia sengaja tak menceritakan kepada yang lain, agar tak menimbulkan kepanikan. Ia hanya akan menceritakan kepada rekan sesama polisi. Ia berniat menceritakan apa yang ia lihat pada Pak Reno.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2