Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
196. Persiapan


__ADS_3

Rumah kecil yang terletak di sebuah gang di Kampung Hitam itu memang selalu lengang. Walau pagi hari, ketika banyak warga memulai aktivitas, pintu rumah tetap tertutup seolah pertanda bahwa penghuninya tidak ingin menerima kunjungan dari siapa pun. Gang di depan rumah dilewati beberapa orang yang hendak pergi mencari nafkah, tetapi mereka melupakan keberadaan rumah kecil itu. Bangunan itu hanya diingat ketika seorang wanita muda tewas ditikam di dalam sana.


Di dalam rumah itu, Raymond mondar-mandir di ruang depan, seraya gelisah melongokkan kepala ke jendela. Pikirannya tidak tenang, karena belum ada kabar dari Badi. Sementara di situ, ada pula Arland yang juga terlihat ikut gelisah. Ia sudah menjelaskan kondisi rumah isolasi yang diburu Badi kepada Raymond.


“Mengapa belum ada kabar dari Badi sejauh ini? Biasanya kalau ada apa-apa dia segera menghubungi aku. Kamu yakin rumah itu memang benar rumah yang digunakan untuk mengisolasi para tersangka itu, Arland?” tanya Raymond.


“Iya, Bang! Dilihat dari bentuk bangunannya memang rumah itu cocok untuk tempat isolasi. Kami mengikuti polisi itu, dan sepertinya dia masuk ke dalam rumah itu. Sayangnya gerbang dalam keadaan terkunci, jadi kami membobolnya. Badi menyuruh aku untuk kembali agar tak menimbulkan kecurigaan. Dia bilang dia akan menyelidik rumah itu sendirian. Kata Badi, dia akan menghubungi kalau ada apa-apa, atau minta dijemput pulang. Gitu Bang!” terang Arland.


“Tetapi mengapa belum ada kabar sejauh ini, Arland?” tanya Raymond.


“Nah itu aku juga tidak tahu. Mungkin Badi sedang sibuk atau bagaimana aku juga kurang tahu. Abang sudah hubungi nomornya?” tanya Arland.


“Ratusan kali aku menghubungi nomor dia tetapi tidak aktif. Ini membuatku semakin bingung dan khawatir. Jangan sampai Badi menjadi bulan-bulanan di sana. Pokoknya kalau sampai nanti malam belum ada kabar dari dia, maka aku akan susul dia ke sana!” geram Raymond.


“Iya, Bang! Sepertinya Abang memang harus ke sana untuk mengecek sendiri. Aku sarankan sih malam, Bang. Sebab kalau malam kan gelap, jadi kita bisa menyusup ke dalam tanpa diketahui,” saran Arland.


Raymond hanya manggut-manggut mendengar keterangan Arland. Tiba-tiba ia merasa ponsel yang sedang dikantonginya bergetar. Ia segera mengecek dengan cepat. Ia tampak antusias melihat layar ponselnya.


“Astaga, pesan dari Badi!” ucap Raymond cepat.


“Apa katanya, Bang?” tanya Arland penasaran.


“Sebentar .... “

__ADS_1


Raymond segera membuka beberapa pesan yang dikirim dari nomor ponsel Badi. Namun, alangkah terkejut dirinya karena bukan pesan yang ia lihat, melainkan beberapa foto yang membuatnya tercengang.


Dari beberapa foto itu terlihat Badi dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Terlihat Badi dalam keadaan tak berdaya seperti pingsan. Sementara terlihat pula sosok wanita muda yang tak lain adalah Gilda juga terikat bersama Badi. Wanita itu juga dalam keadaan nyaris sama dengan Badi, lemah tak berdaya.


“Bangs*att!!” umpat Raymond seketika.


“Ada apa, Bang?”


Arland ikut kaget melihat Raymond berubah naik pitam seperti itu.


“Antar aku ke rumah isolasi itu sekarang juga. Cepat!” perintah Raymond.


“Ada apa, Bang? Apa Badi baik-baik saja?” tanya Arland.


Raymond tak dapat menahan amarah. Ia berkata sambil mondar-mandir tidak tenang. Arland juga ikut terkejut mendengar itu. Ia tidak menyangka kalau Badi akan tertangkap di dalam rumah isolasi. Parahnya, bukan polisi yang menangkap, tetapi sosok pembunuh yang sedang mereka buru.


Tanpa menunggu waktu lama, Arland segera menyiapkan sebuah mobil untuk mengantar Raymond ke rumah isolasi. Raymond dalam keadaan marah melihat Badi diperlakukan seperti itu. Hal ini seolah melecehkan reputasi Raymond Brothers. Bagaimanapun, prinsip Raymond Brothers sudah jelas. Mereka mengikrarkan persaudaraan. Kalau salah satu disakiti, maka yang lain akan bergerak untuk membalas. Amarahnya semakin menggebu-gebu. Ia akan menyusup ke dalam rumah isolasi hari itu juga.


***


Reno datang ke rumah isolasi tepat selepas sarapan pagi. Kedatangannya sudah disambut hangat oleh para penghuni rumah isolasi. Seperti yang dijanjikan sebelumnya, Reno dan Dimas akan mengadakan pertemuan dengan para penghuni untuk melakukan analisis dan pengungkapan pelaku dari peristiwa pembunuhan itu.


Yang pertama ia temui tentu saja Dimas, sementara penghuni lain sudah diminta berkumpul di ruang tamu, termasuk Pak Paiman dan Bu Mariyati. Mereka menunggu diskusi antara Reno dan Dimas di dalam kamar secara pribadi sebelum mengungkap semua fakta kepada mereka. Pak Paiman sudah mengunci semua pintu dan segala akses keluar, untuk menghindari segala kemungkinan yang terjadi.

__ADS_1


Reno mengusap dagunya sambil tersenyum.


“Dia tidak akan bisa mengelak. Aku membawa seorang tamu isitimewa tanpa sepengetahuan mereka. Nanti dia akan muncul di saat yang tepat. Kita akan segera membekuknya tanpa perlawanan. Aku yakin itu!” ucap Reno.


“Bagus! Kita akan beberkan fakta-fakta yang sudah kita kumpulkan. Kita tahu bahwa sosok pembunuh ini bukanlah orang biasa-biasa, tetapi mempunyai kelicikan dan kecerdasan. Tetapi tak ada kejahatan yang sempurna kan?” tanya Dimas.


“Benar. Oya, kemarin aku menyempatkan mampir ke rumah sakit tempat Rudi dirawat. Patugas medis di sana sudah memberiku data tentang jenis racun yang digunakan untuk meracuni air minum. Rudi beruntung bisa tetap hidup. Jenis racun yang ia pakai cukup berbahaya dan tidak beredar bebas di pasaran,” kata Reno.


“Syukurlah kalau Rudi masih hidup. Kami juga kehilangan Gilda tadi malam dan sampai saat ini belum jelas kabarnya. Aku dan Pak Paiman sudah menyusur ke segala penjuru rumah, tetapi tak menemukan keberadaannya. Hanya gudang yang yang belum kami periksa. Mungkin setelah pengungkapan bisa kita periksa gudang,” kata Dimas.


“Gilda? Pembunuh itu mulai mencari korban secara random. Apa hubungan Gilda dengan semua ini? Apakah kamu berpikir bahwa Gilda ditangkap oleh pembunuh itu, atau dia sengaja menghilang hanya untuk mencari perhatianmu saja?” tanya Reno sambil tersenyum mencibir ke arah Dimas


“Mencari perhatianku? Yang benar saja, Ren! Kalau benar dia hanya mencari perhatianku maka aku akan biarkan saja dia. Kurasa agak aneh ketika aku menemukan bungkus rokok di kamarnya. Firasatku mengatakan ada orang lain di rumah ini. Wandi dan Bu Mariyati mengatakan memang ada penyusup yang menyatroni mereka. Entahlah, sampai saat ini penyusup itu juga belum ketemu,” kata Dimas.


“Penyusup? Wah, rupanya rumah isolasi ini menarik pihak luar untuk ikut bergabung ke sini. Baiklah, kita abaikan dulu hal itu. Kita akan fokus dulu ke pengungkapan fakta-fakta ini. Aku yakin, pembunuh itu tidak bisa tidur sejak tadi malam. Dia tidak akan mengelak lagi, karena bukti yang kita bawa ini sangat kuat!”


“Bagus, Ren! Usaha kita tidak sia-sia. Kalau begitu mari kita temui mereka sekarang di ruang tamu. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama. Mari kita lihat, siapa yang parasnya paling gelisah di antara mereka!” ajak Dimas seraya bangkit dari tempat duduknya.


“Aku pastika si pembunuh itu tidak akan gugup atau gelisah. Ia tidak punya hati, jadi yang kita hadapi sekarang ini adalah seorang pembunuh beradarah dingin yang tidak punya perasaan,” kata Reno.


“Baiklah! Mari kita mulai pertunjukan ini dan kita akhiri drama ini sesegera mungkin!”


***

__ADS_1


__ADS_2