
Setelah menaruh perlengkapan pribadi dan tas di kamar yang sudah disediakan oleh Helen, Elina Agustin beranjak keluar kastil, untuk melihat-lihat kondisi sekitar. Suasana yang hening, dan pemandangan yang hijau menghampar menarik perhatiannya. Hasrat untuk mengambil gambar tak tertahankan. Berbekal kamera DSLR, ia berjalan mengitari bagian samping kastil yang didominasi tanaman hias yang kurang terawat.
Ia sempat mengambil beberapa gambar bunga sepatu yang merah merekah, seekor burung jalak hitam yang meloncat-loncat di rumput mencari serangga, dan gambar atap kastil yang begitu artistik. Ia masih kagum dengan desain bangunan tua yang menurutnya luar biasa ini. Tak salah, Anggara Laksono menjadikan kastil ini sebagai tempat persembunyian dari hiruk-pikuk dunia luar.
Sementara di saat yang sama, berpuluh meter di puncak kastil, Rania masih berdiri terpaku di loteng yang gelap dan pengap. Perhatiannya terpecah dengan sesuatu yang berputar dan mengeluarkan suatu nada yang dinamis. Sebuah kotak musik , dengan boneka gadis penari balet berputar-putar melantunkan nada-nada indah. Kotak musik itu diletakkan begitu saja di depan jendela kaca.
Rania sedikit bingung. Siapa yang menaruh kotak musik mungil di loteng ini? Perlahan ia mendekat, kemudian memungutnya. Sebuah kotak musik berbentuk lingkaran, dengan hiasan penari balet di atasnya, berdenting-denting memainkan sebuah lagu. Segera ia mematikannya. Perasaan tak enak seketika merayap. Tak mungkin kotak musik ini terputar sendiri. Itu berarti ada orang lain di loteng ini.
Ia berdiri di depan jendela kaca, melihat jauh ke bawah , arah taman samping tempat Elina Agustin mengambil gambar-gambar dengan kamera. Pikirannya mulai berkecamuk tak tenang. Terdengar suara langkah kaki di belakangnya. Secara reflek, Rania membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang. Sayangnya tak ada siapa pun.
“Siapa di sana?” tanya Rania sambil mengarahkan senter ke segala arah, dan kotak musik yang masih ia genggam di tangan kiri.
Ia berusaha menajamkan pandangan ke segala arah, sayangnya hanya kegelapan yang ia lihat, tak ada siapa-siapa.
Kecemasan tiba-tiba mengusik hatinya. Ia hendak kembali turun, saat sebuah bayangan hitam medorongnya tiba-tiba. Bayangan hitam itu seolah muncul begitu saja dari balik tumpukan kardus. Dorongan itu begitu kuat. Rania terkejut, hingga senternya terlempar. Demikian juga kotak musik di tangannya juga terjatuh.
Praaang!
Tubuhnya limbung ke belakang, menabrak kaca jendela di belakangnya hingga pecah. Tak ayal lagi, tubuh Rania terlempar keluar jendela, terjun dari ketinggian puluhan meter dalam keadaan terlentang. Rania berusaha menggapai apa saja, namun ia hanya menemukan udara kosong. Tak ada yang dapat dilakukan kecuali pasrah. Sekilas berkelebat bayangan wajah Yoga di pikirannya. Tubuh wanita malang itu mendarat dengan benturan keras di pavement block samping kastil.
“Praaak!
Kerasnya benturan itu menimbulkan suara begitu jelas. Batok kepala Rania terbentur pecah dengan darah terpercik di sekitarnya. Wanita muda itu meregang nyawa dalam kondisi mengenaskan.
__ADS_1
Elina Agustin yang sedang mengambil gambar di sekitar tempat itu terperangah. Tubuh Rania jatuh tepat di hadapannya. Kondisi yang mengerikan ini membuat Elina tak dapat melakukan apa-apa kecuali menjerit lantang, mengagetkan semua penghuni kastil.
“Aaahhh!”
Tubuh wanita muda tergeletak bersimbah darah di bagian kepala, membuat jiwa Elina terguncang. Pemandangan ini baru pertama kali ia lihat dalam hidupnya. Bibirnya bergetar, seluruh tubuhnya juga menggigil seketika. Ia hanya diam terpaku, tak tahu harus berbuat apa.
Dalam waktu tak terlalu lama, semua penghuni segera berkerumun melihat apa yang baru saja terjadi di halaman samping. Semua terperanjat melihat pemandangan itu. Aldo Riyanda segera memeluk Elina yang sedang terguncang, kemudian menutup mata gadis belia itu dengan tangannya.
Adrianna terpekik sambil menutup mulut, Maira juga melihat pemandangan mengerikan itu jantung berdegup kencang. Tiara Laksmi terlihat gugup, tak berani memandang ke arah jasad Rania. Para pria juga terlihat kaget, bahkan Cornellio membuang muka sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Helen datang agak terlambat, parasnya memucat melihat jasad Rania tergeletak dengan kepala hancur!
Ammar dan dr. Dwi segera memberi isyarat agar tak ada yang mendekat lokasi kejadian. Ammar memalingkan muka ke atas, ke arah jendela loteng berusaha mencari petunjuk.
“Gadis ini mungkin depresi dengan kematian Yoga, Ia memilih mengakhiri hidupnya dengan menerjunkan diri dari loteng,” kata dr.Dwi.
“Besok akan kuperiksa apakah ada luka atau bekas penganiayaan di tubuhnya.”
“Baiklah. Mari kita amankan dahulu tempat ini.”
Kematian Rania yang begitu tragis menyebar rasa cemas di antara penghuni kastil yang lain. Mereka benar-benar terguncang dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tak ada yang berbicara, mereka memilih untuk diam dalam kamar masing-masing. Terutama Elina, si penghuni baru. Kejadian yang baru dialami sepanjang hidupnya, menimbulkan kesan kengerian yang melekat dalam otak. Ia merenung, sementara Aldo Riyanda berusaha untuk menenangkan.
Tiara Laksmi juga memilih berdiam di kamar, malas untuk berinteraksi dengan siapa pun. Para pria juga terlihat begitu stres. Mereka berkumpul di ruang tengah, duduk dengan pandangan kosong.
“Hari ini Rania. Besok lagi siapa?” gumam Michael.
__ADS_1
“Aku sudah hampir gila dengan semua ini. Pembunuh itu mengincar kita, menghabisi satu-persatu. Ini harus dihentikan. Polisi itu menyelidiki terlalu lama. Berpikirlah, Michael! Berpikirlah! Kali ini aku benar-benar mendukungmu!” ucap Cornellio.
“Aku juga buntu Cornellio! Ini tak semudah yang kamu kira. Tapi sesungguhnya aku menyesal dengan semua ini. Sungguh. Harusnya aku bisa mencegah semua ini terjadi. Pembunuhan Rania sangat mirip dengan pembunuhan kelima dalam novelku. Si pembunuh sengaja meloncat dari pembunuhan keempat yang gagal kemarin. Kini kita harus waspada dengan alur pembunuhan selanjutnya!” kata Michael.
“Astaga! Bagaimana mungkin kamu merahasiakan semua ini dari kami! Kamu ingin kita semua mati di sini atau bagaimana? Atau jangan-jangan, kamu yang merancang semua ini!”
Hans tak dapat lagi mengendalikan emosinya. Ia mencengkeram kerah leher Michael. Matanya memerah, deru napasnya naik turun. Otaknya mulai buntu.
“Tenanglah, Hans! Berpikirlah dengan kepala dingin,” ucap Michael.
Perlahan, Hans melepas cengkeramannya. Ia pukulkan tangan ke tembok, sambil berteriak.
“Aku tak mau mati di sini! Aku tak mau!” kata Hans.
“Tak ada seorang pun yang mau, Hans. Maaf, segala sandiwara tak berhasil di sini. Jadi bersikaplah tenang. Aku tak mau percaya siapa pun. Bahkan pada diriku sendiri, aku juga tak mau percaya. Bisa jadi kekuatan setan menguasaiku, kemudian mempengaruhi pikiran untuk membunuh. Karena semua ini sungguh di luar nalarku!” ucap Michael.
“Kamu benar! Pembunuhnya bisa jadi satu di antara kita!” tambah Cornellio.
“Ya. Jangan kamu percayai aku, Cornellio. Pertama Anggara tewas, kemudian Karina, Yoga dan sekarang Rania. Giliran kalian juga pasti akan tiba. Lebih baik kita mempersiapkan diri masing-masing. Kunci saja kamar kalian di malam hari, dan jangan menyendiri!” gumam Michael putus asa.
“Kamu membuatku semakin takut!” timpal Cornellio.
“Maaf. Tapi itu fakta yang sebenarnya. Tak hanya dirimu, tapi seluruh penghuni kastil ini. Mereka semua dicengkeram rasa takut, menunggu giliran kematian. Dapat kupastikan, si pembunuh sekarang sedang tertawa- dalam hati menertawakan kebodohan kita!”
Mereka semua terdiam. Paras berubah memucat, karena kematian semakin mendekat, tanpa tahu siapa yang akan menjadi giliran selanjutnya.
__ADS_1
***