Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
237. Laci


__ADS_3

Pagi mulai menyapa kota yang sedang terlelap itu. Sinar matahari yang keemasan mulai menyusup di balik selimut-selimut warga kota yang sedang terlelap, membangunkan untuk segera beraktivitas. Niken terhenyak karena bunyi deringan alarm pagi dari jam digital di dekat meja. Rupanya hampir jam tujuh pagi. Tadi malam, ia tidak bisa tidur karena memikirkan tugas berat yang harus ia laksanakan. Secara tiba-tiba, Reno melimpahkan kasus pembunuhan ini kepadanya.


Sebenarnya ini bukan lah kasus pembunuhan pertama yang ia tangani. Namun, tentu saja berbeda karena ini adalah kasus pembunuhan berantai pertama yang harus ia selesaikan. Ia gugup, karena khawatir tidak bisa menyelesaikan semua ini dengan baik. Apalagi, ia harus berkejaran dengan waktu agar tidak terlambat. Kalau hari ini ia tidak segera bertindak, maka korban baru akan kembali jatuh.


Seperti biasa, sebelum berangkat bekerja, ia melakukan aktivitas harian yaitu membersihka diri dan menyiapkan sarapan. Selain untuk dirinya sendiri, ia juga menyiapkan sarapan untuk neneknya. Wanita tua itu telah tinggal bersamanya selama bertahun-tahun, karena Niken adalah cucu yang paling disayanginya. Niken menyiapkan sarapan sederhana untuk sang nenek, sebelum ia berangkat ke kantor.


Di dalam mobil, Niken memutuskan untuk tidak pergi ke kantor terlebih dahulu, melainkan pergi ke studio film tempat Renita Martin melakukan syuting film terbarunya. Rencananya ia akan memberi peringatan pada aktris itu terkait ancaman pembunuhan yang mungkin ia ditujukan padanya. Sejujurnya, ia merasa agak bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Timbul penyesalan karena ia mengambil kertas teka-teki itu dari rumah Reno untuk memenuhi ambisi pribadinya.


Namun, ia ingin segera membuktikan bahwa ia juga bisa menangani kasus ini dengan baik. Segera ia membanting setir ke arah pusat kota tempat studio film. Ia berharap semua bisa berjalan lancar hari ini. Gedung itu masih erlihat sepi karena hari memang masih pagi. Ia segera naik ke lantai 15, tetapi ia hanya melihat beberapa kru film yang menyiapkan set untuk syuting. Ia tidak melihat keberadaan Renita atau seseorang yang dikenalnya. Ia hanya berjalan sambil melihat-lihat suasana sekitar studio dengan tatapan aneh.


Seorang wanita muda berkacamata mendekatinya sambil tersenyum.


"Maaf Mbak, mencari siapa?" tanya wanita muda berkaca mata.


"Oh, saya sedang mencari Renita Martin. Apakah ada?" tanya Niken dengan nada dingin, seperti biasa.


"Oh Renita Martin mungkin akan datang agak siang, Mbak. Rencana hari ini kami juga akan mengadakan syuting outdoor jadi mungkin hanya sebentar saja di sini. Maaf, Mbak sudah bikin janji sebelumnya dengan Renita Martin?" tanya wanita itu lagi.


"Oh gitu. Kurasa aku nggak perlu bikin janji dengan Renita. Kau tak lihat kalau aku polisi?  Ada sesuatu yang serius yang harus aku bicarakan dengannya. Paham?" ucap Niken dengan nada agak menyombong.


"Oh, maaf. Saya tidak tahu kalo Ibu ini polisi, sebab ibu tak berseragam seperti polisi. Maaf, silakan duduk dulu Bu.Saya Widya, yang bertanggungjawab dengan urusan make up artis. Saya akan hubungi Renita Martin agar segera ke sini. Mohon maaf!"


Wanita muda yang tak lain adalah Widya merasa gak canggung karena tak menyangka bahwa perempuan cantik itu adalah seorang polisi. Ia sendiri agak heran, mengapa sepagi ini ada polisi mencari Renita Martin? Jangan-jangan ini masih ada kaitannya dengan pembunuhan Daniel dan Anita?


Niken menunggu di ruang lobi dengan gelisah karena Renita Martin tak kunjung datang. Para kru dan artis lain juga mulai berdatangan. Sementara Widya juga sibuk mempersiapkan pekerjaannya. Setelah Widya selesai menyiapkan peralatan riasnya, ia kembali menemui Niken di ruang lobby.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Sepertinya Renita Martin akan menuju langsung ke lokasi outdoor, jadi tidak ke studio ini. Saya baru menghubunginya via telepon dan mengatakan bahwa jadwal hari ini sangat padat, sehingga dia langsung ke lokasi syuting outdoor," kata Widya.


"Baiklah, boleh saya minta alamat lokasi syuting outdoor-nya?"


"Tentu, Bu!"


Widya menuliskan alamat lokasi syuting pada secarik kertas, kemudian menyerahkan pada Niken. Polisi wanita itu menerima, kemudian segera berlalu dengan langkah tergesa. Bahkan dia mengucapkan rasa terima kasih apda Widya. Tentu saja. Widya mengernyitkan dahi, ada apa sebenarnya dengan Renita Martin? Rasa ingin tahunya menggeliat. Kemudian ia kembali masuk ke dalam ruang rias, mencoba menelepon Renita Martin.


"Mbak Renita, tadi baru saja ada polisi wanita mencarimu," kata Widya melalui telepon.


"Aduh aku lagi sibuk di sini, Wid! Mengapa pula ada polisi wanita nyariin aku?" ucap Renita di seberang.


"Nggak tau juga, Mbak. Sepertinya penting. Kuharap nggak ada apa-apa ya!"


"Oke, makasih ya, Wid. Kemungkinan aku juga nggak akan temui polisi itu karena jadwal syuting cukup padat hari ini. Nanti kamu juga akan kesini kan?" tanya Renita lagi.


"Udahlah, nggak usah ungkit masalah itu lagi. Kan sekarang ada sutradara baru, jadi yang lalu ya biarlah berlalu. Mending kita melihat ke depan, nggak usah lihat ke belakang lagi. Udah ah, aku sibuk! Sampai nanti ya, Wid!"


Pembicaraannya dengan Renita terputus. Widya beranjak ke ruangan Guntur, karena ia ingin pergi ke tempat syuting bareng dengan Guntur. Ia membuka ruangan Guntur, tetapi ia melihat ruangan itu gelap. Rupanya Guntur tak ada di tempat, padahal tadinya ia berpikir bahwa Guntur sudah datang.


"Bukannya tadi sudah datang ya?" gumam Widya.


Widya menyalakan lampu untuk mengecek ruangan kerja Guntur. Siapa tahu sudah ada tas Guntur di tempat itu. Ia mencari di samping meja kerjanya, memang ada tas Guntur tergeletak. Namun, tiba-tiba mata Widya tertarik dengan sesuatu yang terlihat  di laci meja Guntur. Kebetulan laci itu terbuka sedikit. Sebenarnya, Widya tidak ingin tahu lebih jauh, tetapi ia tergelitik untuk membuka laci meja kerja Guntur.


Dalam laci meja Guntur, ia melihat barang-barang kecil yang berantakan, dan sebuah borgol. Widya mengenyitkan dahi, untuk apa Guntur mempunyai borgol seperti ini? Kemudia rasa ingin tahunya semakin menggelitik. Ia memeriksa barang-barang di laci itu, kemudian menemukan sepasang anting wanita. Widya semakin bingung. Ia menemukan sebuah kartu ucapan kecil berwarna biru muda yang bertuliskan.

__ADS_1


Aku tak pernah mencintaimu.


***


Reno melangkah memasuki kantor sambil bersiul-siul, sehingga Dimas yang melihatnya menjadi agak heran. Ia segera mendekati rekan kerjanya itu karena penasaran.


"Kamu kelihatan senang pagi ini," ucap Dimas.


"Ya, aku hanya ingin bebas dari rutinitas gila ini. Kamu tahu nggak, Niken telah mengambil kertas yang bertuliskan teka-teki pembunuhan di rumahku. Nggak ngerti aku dengan pola pikir gadis itu. Jadi sekarang aku mau lepas dia, dan aku akan biarkan dia mengatasi sendiri kasus pembunuhan ini!" ucap Reno sambil duduk di belakang meja kerjanya.


"Astaga! Itu tindakan gegabah, Ren! Kamu nggak bisa ngelakuin itu. Melepas Niken sendirian untuk mengatasi kasus ini jelas bukanlah sesuatu yang bijak. Ini sama saja melepaskan seekor itik ke dalam sarang buaya. Ini terlalu berbahaya. Korban akan jatuh kalau caranya begini," cemas Dimas.


"Sekali-kali aku ingin memberi pelajaran kepada gadis itu, bahwa semua itu memerlukan proses yang nggak mudah. Itung-itung, biarlah dia tahu bagaimana rasanya memecahkan satu kasus pembunuhan berantai. Aku mulai muak dengan caranya merajuk, bahkan menggunakan cara licik untuk mengambil kertas itu. Jadi yah ... kita lihat saja dia sejauh mana dia berhasil menangani kasus ini!" terang Reno.


"Kamu yakin akan membiarkan dia menangani ini sendirian?"


"Tenti tidak Dimas. Aku akan mengamati Niken secara diam-diam. Aku khawatir, akan ada hal buruk terjadi padanya. Kamu tahu kan, aku masih trauma dengan terbunuhnya Fani. Jadi aku berusaha untuk mengawasi dia sejeli mungkin," ucap Reno.


"Memang kamu tahu di mana Niken sekarang?" tanya Dimas.


"Aku akan cari tahu. Kau mau ikut?" tawar Reno.


"Siap!"


Tak lama, Reno dan Dimas sudah berda dalam mobil, siap untuk melacak keberadaan Niken. Bagaimanapun, Niken adalah rekan kerja mereka, dan mereka sebenarnya tergabung dalam satu tim. Reno sebenarnya hanya menggertak dan ingin memberikan pelajaran pada Niken. Ia tetap akan mengawasi Niken dari kejauhan, melihat sejauh mana ia bisa menangani kasus ini.

__ADS_1


***


__ADS_2