Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
205. Teka-teki


__ADS_3

Kedatangan Reno di gedung studio film itu disambut kerumunan para pencari berita, sehingga ia harus berkali-kali menyibakkan tangannya. Berbagai ragam pertanyaan dilontarkan oleh mereka, tetapi tak sedikit pun Reno menanggapi. Kali ini ia hanya fokus untuk memeriksa tempat kejadian peristiwa di lantai lima belas.


Gilda sudah mengantisipasi kehadiran Reno, bahkan dia sengaja menghadang jalan polisi itu. Wandi juga sudah siap sedia dengan kamera. Gilda sengaja menutup jalan Reno, sehingga polisi itu terhenti sebentar. Ia merasa kesal dengan kehadiran Gilda yang seolah memblokir jalannya. Rupanya wanita muda ini belum jera dengan kejadian di rumah isolasi kemarin.


“Maaf Pak Reno, bisakah memberi keterangan sedikit terkait kasus pembunuhan ini?” tanya Gilda tiba-tiba.


Reno menggeleng, kemudian mendorong tubuh Gilda ke samping dengan keras, sehingga jurnalis cantik itu hampir jatuh. Gilda tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Reno. Ia hendak mengejar, tetapi segera dihalangi oleh polisi lain yang mengawal Reno. Ia hanya bisa mendengkus kesal.


Setelah masuk ke dalam area gedung, Reno langsung naik lift ke lantai lima belas tempat pembunuhan terjadi. Di sana rupanya sudah ada beberapa polisi yang memeriksa dan mengamankan para artis dan kru film yang tersisa sebelum diketahui sutradara itu tewas.


“Mereka semua adalah orang terakhir yang ada di gedung Pak. Semuanya ada sepuluh orang, lima pria dan lima wanita. Kami sudah mengamankan mereka, mungkin Bapak akan memeriksa mereka.”


Seorang polisi bernama Benny memberi laporan kepada Reno. Segera saja Reno melayangkan pandangan ke arah sejumlah orang yang berkumpul di ruang tengah. Reno dapat merasakan kegelisahan orang-orang yang berada di sana. Namun, sepertinya ia akan fokus untuk melihat keadaan sekitar toilet, baru akan memeriksa mereka semua.


“Catat semua identitas lengkap mereka semua, kemudian suruh mereka pulang. Aku akan menyiapkan pemanggilan untuk mereka secara bertahap. Nggak mungkin kita menginterogasi dini hari begini. Di bawah sana banyak wartawan. Suruh mereka mencari tempat aman untuk keluar, langsung menggunakan mobil dan tidak usah pedulikan pertanyaan wartawan!”


Reno memeberi perintah pada polisi yang melapor itu. Polisi pria yang berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu segera mengangguk. Ia melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Reno.


Reno segera pergi ke toilet pria tempat ditemukannya Daniel Prawira dalam keadaan tewas terjerat. Ia memeriksa kalau-kalau ada bagian pintu yang rusak atau hal-hal yang mencurigakan lain. Sementara, jasad Daniel masih terbaring di lantai kamar mandi, di depan wastafel. Ia tewas dalam keadaan terbuka matanya, masih memakai pakaian lengkap. Seutas kabel aluminium melilit di lehernya. Rupanya sutradara ini tewas karena kehabisan napas akibat jeratan kawat di leher. Reno menghela napas.

__ADS_1


Ia berjongkok, kemudian memegang tubuh Daniel. Tubuhnya telah dingin. Ia telah mati beberapa jam lalu. Kemudian ia melayangkan pandangan ke sekitar toilet itu. Suara air menetes di keran wastafel terdengar ritmis. Ada sebuah kaca besar tertempel di dinding toilet.


Tiba-tiba, Reno mendapati tangan Daniel seperti menggenggam sesuatu. Reno segera mengambil sesuatu di genggaman tangan Reno yang tak lain adalah secarik kertas. Sepertinya kertas itu sengaja diselipkan di tangan Daniel dengan tujuan tertentu.


Reno merasa penasaran, kemudian membuka robekan kertas yang sepertinya berisi sebuah teka-teki yang mempunyai maksud tertentu. Ada gambar matahari dan bulan sabit dalam kertas itu, serta tulisan di bawahnya.


Apabila matahari dan bulan tak bisa bersatu, maka matahari akan padam. Satu bintang akan kembali padam. Bintang muda yang benderang. Bintang kesayangan sang matahari. Bintang pertama dari dua puluh enam bintang. Cahayanya meredup di kebun-kebun para raja. Terombang-ambing tertiup angin. Meronta meregang ajal.


“Apa maksud semua ini?” gumam Reno sambil mengernyitkan dahi.


Ia memasukkan kertas berisi teka-teki aneh tersebut ke dalam plastik. Ia tak menemukan sesuatu yang janggal di sekitar toilet. Ia memeriksa puntung rokok yang tak jauh dari situ, rupanya Daniel dibunuh saat ia sedang menghisap rokok kesayangannya.


Petugas paramedis telah tiba di tempat kejadian untuk membawa jenazah Daniel. Rencana, jenazah itu akan langsung di bawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut.


“Menurut keterangan saksi, Pak Daniel terakhir terlihat setelah proses syuting di adegan atap. Ia pergi ke toilet, setelah itu tak kembali. Kami telah memeriksa riwayat keluarganya. Pria ini seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal karena kanker uterus lima tahun lalu. Dia tinggal sendiri di sebuah rumah besar di sebuah kawasan elite. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang temperamental dan disiplin. Si samping itu ia juga perfeksionis,” kata Benny, salah seorang petugas polisi kepada Reno.


“Jadi dia tidak punya keluarga di kota ini?” tanya Reno.


“Ia mempunyai dua orang adik di luar kota dan sudah kami hubungi untuk mengurus jenazahnya. Mereka setuju jenazah Daniel diotopsi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya,” sambung Benny.

__ADS_1


“Oke, lakukan semua prosedur, Ben. Aku akan memeriksa kantor Pak Daniel. Siapa tahu aku menemukan petunjuk di dalam sana,” ucap Reno.


Ia memasuki kantor Daniel, memeriksa lemari-lemari yang berisi berkas dan dokumen. Dilihatnya kembali berkas-berkas yang terkait dengan sosok Daniel. Ia menemukan pula dalam lemari yang terkunci, sebuah polis asuransi bernilai ratusan juta. Dalam polis itu disebutkan bahwa pemegang warisan yang sah adalah Margareth Prawira.


Siapa Margareth Prawira? Bukankah Daniel tidak mempunyai anak? Lalu mengapa ia mewariskan asuransi itu pada Margareth? Apakah ini nama salah satu dari kedua adiknya?


Reno masih benar-benar gamang dengan kasus kematian Daniel ini. Semua informasi yang ia dapatkan masih acak dan tak jelas.


Kemudian ia memeriksa tumpukan-tumpukan buku Daniel. Banyak buku tentang sinematografi dan dunia perfilman di mejanya. Tiba-tiba mata Reno tertumbuk pada sebuah kartu ucapan ulang tahun yang diselipkan di salah satu buku. Reno membuka kartu ulang tahun berwarna biru laut itu.


Selamat Ulang Tahun My Sunshine! Love you, Re.


Re? Siapa Re?


Banyak pertanyaan berputar-putar di benak Reno. Semua masih menjadi misteri. Ia bingung, apa sebenarnya motif kematian sutradara terkenal ini? Dilihatnya keluar ruangan. Tampak di ruang tengah, para kru dan artis sedang didata oleh Benny. Satu-persatu ia mengamati orag-orang yang ada di situ. Ia merasa seperti de javu.


“Pembunuhan ini seperti berulang. Ada seseorang dari mereka yang tengah memainkan skenario pembunuhan. Sepertinya Daniel ini adalah korban awal. Firasatku mengatakan akan ada korban berjatuhan lagi setelah ini. Sepertinya aku memang dipaksa untuk tidak istirahat. Dimas harus membantuku lagi kali ini!”


***

__ADS_1


__ADS_2