Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
310. Petunjuk Arah


__ADS_3

Embun masih melekat di pucik-pucuk daun dan rerumputan, ketika rombongan kecil itu bersemangat untuk menjelajah sekitar kastil. Air terjun yang lokasinya tersembunyi itu sangat menarik perhatian, walau kondisi sebenarnya sedang berduka. Lidya meregang nyawa karena terbunuh kemarin, namun seolah kesedihan itu segera sirna, terganti dengan gelak tawa, seolah tak terjadi apa-apa. Lidya, dikenal sebagai sosok arogan dan suka mencari perhatian, sehingga tak begitu disukai oleh teman-temannya. Kematian Lidya segera dilupakan.


Lily memimpin petualangan kecil itu dengan penuh percaya diri, menerobos kebun teh, hingga sampai di hutan kecil yang letaknya tersembunyi, jauh di belakang kastil. Mereka meninggalkan polisi yang mendapat tugas mengawal kepergian mereka, dengan dalih bahwa mereka akan aman-aman saja tanpa kehadiran polisi. Mereka berpikir, kejahatan tak akan hadir di alam terbuk seperti ini, apalagi mereka berjalan bersama-sama.


Nadine, masih menyimpan rasa cemas yang ia pendam. Namun, karena Rosita yang selalu galak padanya, ia mencoba untuk menikmati pemandangan di sekitarnya. Sementara, yang berjalan paling belakang adalah Farrel Bintang Irawan. Tubuhnya yang agak subur, membuat dia lebih mudah lelah dan ngos-ngosan. Ia sering ketinggalan langkah teman-temannya.


"Ayo Farrel! Kamu bisa!" Edwin memberi semangat sambil memalingkan muka ke belakang.


"Sudahlah! Biarin saja dia!" ucap Rosita, istrinya.


"Nggak tega aku lihat dia, Ros. Farrel itu baik dan lucu. Lugu juga. Kasian aja kalau sampai dia ketinggalan," bela Edwin.


Mendengar perkataan Edwin, Rosita mencibir kecil sambil menggeleng.


"Kamu bilang Farrel itu lugu? Kamu pernah kan cerita waktu SMA dulu dia naksir banyak perempuan, tapi nggak ada seorang pun yang nerima dia. Ya karena dia agak gimana gitu kan? Siapa yang mau sama dia? Padahal dia lucu dan jago ngegombal. Dengar-dengar dia pernah nembak Lidya juga pas kuliah?"


Pertanyaan Rosita yang terdengar bertubi-tubi itu, hanya dijawab dengan sunggingan senyum Edwin. Rosita terlihat sangat modis pagi itu, dengan riasan tipis, topi, rambut dikuncir, dan busana sporty. Kacamata hitam tak lupa disematkan. Ia tampil berkilau bak berlian.


"Jangan mulai bergosip, Sayang. Kalau pun itu benar, itu kan urusan Farrel. Sebagai teman ya kita dukung aja. Kasian juga kan dia lama jomblo. Siapa tahu setelah reuni ini dia bisa nemuin jodoh," ucap Edwin kemudian.


"Sepertinya dia cocok dengan Maya. Maya kan masih sendiri. Jadi kalau dengan Farrel sepertinya cocok saja. Tapi kalau sama Lily jelas Lily-nya nggak mau. Kamu tahu sendiri kan kalau dia seleranya agak tinggi. Mana dia ada getaran kalau sama cowok seperti Farrel," cibir Rosita sambil tertawa.


"Sudahlah, Ros! Jangan begitu juga!" tegur Edwin.


Rosita terdiam. Ia tak ingin berdebat dengan suaminya. Mereka melanjutkan langkah kaki menuju kawasan hutan yang mulai menanjak. Pohon-pohon tumbuh dengan kerapatan sedang, tak terlalu banyak semak belukar, sehingga belum ada kesulitan berarti.


Agak ke belakang dari yang lain, Aditya yang masih tampak berduka, berjalan dalam diam. Matanya tidak fokus melihat jalan di depannya, tetapi ia menyapukan pandangan berkeliling, menatap hamparan pohon-pohon yang tumbuh di sekitar.  Melihat kesendirian Aditya, pasangan Ryan dan Nadine merasa iba. Mereka sengaja menunggu Aditya untuk berjalan bersama-sama.

__ADS_1


"Maaf ya, Dit. Kami berdua sangat berduka banget dengan kehilangan Lidya. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku punya. Sebenarnya kami menolak usul gila Lily ini, tetapi kami tak mau membuat musuh. Nanti malah mereka akan menyalahkan kami. Aku harap, kamu tetap terhibut berjalan bersama kami," terang Nadine.


Aditya hanya tersenyum kecil, sambil mengangguk. Ia seperti tidak fokus mendengar perkataan Nadine. Ia terus melangkah tak berbicara sepatah kata  pun. Tatapannya masih menatap sekitar.


"Kalau kamu butuh apa-apa, bisa minta tolong kami, Dit!" sambung Ryan.


Sekali lagi Aditya mengangguk. parasnya nyaris tak menunjukkan ekspresi apa pun.


"Stop dulu kawan-kawan!"


Tiba-tiba terdengar teriakan Lily yang berjalan paling depan. Wanita muda itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengisyaratkan agar semua berhenti berjalan. Semua menghentikan langkah dengan agak bingung, mengapa tiba Lily mengisyaratkan untuk berhenti. Wanita muda itu sudah tampak bingung di tengah jalan setapak yang bercabang empat.


"Ada apa, Ly?" tanya Rosita.


"Sebentar temen-temen. Sepertinya ada yang janggal di daerah sini," kata Lily..


"Dahulu waktu aku ke sini, ada petunjuk arah yang mengarahkan ke air terjun. Petunjuk arah itu terbuat dari kayu dan dengan jelas memberitahukan ke arah air terjun. Bahkan ada jaraknya kurang berapa meter. Petunjuk itu sekarang hilang. Aku lupa, kita harus ke mana. Jadi gimana ini?" tanya Lily terlihat bingung.


Semua terdiam, sementara Lily menunggu usulan dari mereka. Lily menatap sekitar, semua terlihat sama. Hanya ada pohon-pohon yang angkuh berdiri. Suasana juga sepi, tedengar keciap burung-burung hutan di atas pohon.


"Kalau balik aka gimana? Daripada kita tersesat," usul Nadine.


"Jangan gila dong! Masa kita udah jalan sejauh ini suruh balik. Kalau kamu balik, ya balik saja sendiri, jangan ajak yang lain!" gerutu Rosita.


"Gimana kalau kita berpencar saja?" usul Maya Larasati.


"Berpencar gimana, May?" tanya Lily

__ADS_1


"Jadi gini, ini kan ada 3 cabang jalan nih. Nih kita bagi saja masing-masing pasangan untuk menyusuri jalan itu. Kita kasih waktu masing-masing 15 menit, nanti kalau belum ketemu juga air terjunnya, maka semua pasangan harus kembali ke percabangan ini. Bagaimana?" usul Maya.


Mereka terdiam sejenak, berusaha mencerna perkataan Maya. Mereka jalan membentang yang lurus ke depan, terlihat sunyi. Pohon-pohon tumbuh rapat di samping jalan setapak. Demikian pula dengan jalan yang ke arah kiri dan kanan. Lily benar-benar lupa karena ia sudah melewati beberapa belokan, sehingga tidak yakin harus mengarah ke mana. Semua terlihat sama dan membingungkan.


"Terus nanti kalau ada yang sudah menemukan gimana?" tanya Ryan.


"Nah, yang sudah menemukan itu nanti harus segera balik ke percabangan ini dan nunggu yang lain. Baru akan berangkat sama-sama lagi, kalau sudah ngumpul. Sebenarnya, nggak harus menemukan sih, yang penting dengar suara air terjunnya itu sudah jadi petunjuk. Atau kalau nggak, kalau ada aliran sungai, itu bisa jadi acuan juga," terang Maya.


"Oke, aku paham maksud Maya. Bagus sih usulnya. Ada yang mau usulan lain?" tanya Lily.


Semua terdiam, karena otak mereka sedang buntu. Mereka sengaja menyetujui usulan Maya tanpa keberatan apa-apa, karena sudah malas berpikir. Mereka hanya ingin segera sampai ke air terjun. Perjalanan ini sudah membuat mereka penat. Lily segera membagi siapa-siapa yang akan menelusuri jalan itu.


"Oke, gini. Aku, Maya, dan Farrel akan berjalan ke arah lurus ini. Sedangkan Nadine, Ryan, dan Aditya akan berjalan ke arah kiri. Arah kanan, nanti biar pasangan Edwin, Rosita, Jeremy, dan Stella. Bagaimana?" kata Lily.


Mereka tidak banya membantah. Usulan Lily kembali diterima. Setelah berkelompok sesuai petunjuk Lily, mereka berpencar mengikuti arah jalan yang sudah ditentukan selama 15 menit. Berjalan selama 15 menit tidak terlalu jauh, tetapi tidak juga dibilang dekat, karena medan yang dilalui cukup licin dan berbatu. Hari juga semakin siang. Sinar matahari menerobos di antara dedaunan, saat rombongan kecil itu berpencar ke tiga arah berbeda.


***


 


 


 


 


 

__ADS_1


"


__ADS_2