
Reno membuka berkas yang baru saja ia dapatkan dari Benny. Berkas data identitas para artis dan kru film itu ditaruh dalam sebuah folder besar, lengkap dengan foto-foto mereka. Tak terlalu sulit untuk mendapatkan foto mereka, karena rata-rata mereka adalah orang terkenal yang fotonya banyak bertebaran di media.
Ia sudah memperoleh data tentang Daniel Prawira di kantornya, termasuk data-data mengenai keluarga dan polis asuransinya yang bernilai besar. Kemungkinan motif pembunuhan Daniel masih menjadi misteri. Bisa jadi sutradara itu tewas dibunuh karena dendam, harta, atau bahkan asmara. Atau malah, ini adalah ulah psikopat gila yang membunuh hanya untuk kesenangan. Belum bisa dipastikan.
Reno akan menyelidiki lebih jauh setelah pemakaman Daniel yang rencananya akan dilaksanakan besok. Tentu dua adik Daniel itu akan tiba juga. Dia ingin memastikan siapa sebenarnya Margareth Prawira, nama pemegang hak waris seperti yang tertera dalam polis asuransi. Informasi dari teman-teman Daniel mengatakan bahwa istri Daniel yang bernama Mariana Prawira telah meninggal karena penyakit kanker uterus. Belum diketahui berapa lama mereka menikah. Mereka tak dikaruniai anak hasil dari pernikahan itu.
Reno menutup berkas milik Daniel, kemudian beralih ke berkas lain milik Faishal Hadibrata. Dia adalah seorang aktor cukup terkenal berkat film-film yang dibintanginya selalu sukses, Parasnya yang tampan seperti bule menghiasi lembar-lembar majalah mode, dan ia juga membintangi sejumlah iklan. Beberapa media menyoroti bahwa ia pernah dekat dengan beberapa artis wanita, tetapi tidak ada yang benar-benar resmi menjadi pacarnya.
Dalam artikel lain, ia juga terpergok menghadiri berbagai pesta yang digelar tengah malam di klub-klub tertutup. Reno berusaha menghubungkan Faishal dengan dengan kematian Daniel. Ia mendengar dari salah seorang kru bahwa Faishal sempat mendapat omelan pedas dari korban, sebelum korban dinyatakan meninggal.
“Sepertinya dia yang harus kupanggil pertama kali,” ucap Reno sambil menuliskan nama Faishal dalam sebuah buku agenda.
Lalu ia beralih ke data seorang pria muda bernama Riky Ananda Saputra. Ia adalah asisten sutradara yang bertanggungjawab pada banyak hal. Reno tidak banyak tahu tentang kehidupan pria ini, karena ia memang tak pernah disorot media. Namun, dari data pribadinya ia dapat menelusuri riwayat pekerjaan dan riwayat keluarga.
Ia belum sempat membuka berkas selanjutnya ketika tiba-tiba Niken masuk tanpa permisi, sehingga Reno terkejut.
“Bukankah kubilang kamu harus mengetuk pintu dahulu sebelum masuk?” ucap Reno dengan nada kesal.
“Ups! Iya maaf, Pak Reno. Aku sudah berbicara dengan Pak Kapolwiltabes. Beliau akan memberikan ruangan lain tak jauh dari sini, jadi kita akan mudah untuk berkoordinasi. Ngomong-ngomong, aku sudah mengikuti kasus pembunuhan Daniel Prawira, dan aku memastikan motif pembunuhan sutradara ini adalah asmara,” kata Niken
“Tidak kah itu terlalu terburu-buru untuk menebak motif ini? Dari mana kamu menyimpulkan bahwa motif pembunuhan Daniel Prawira adalah asmara?” tanya Reno penasaran.
“Dari awal kubilang bahwa aku tahu sesuatu yang mungkin anda tidak tahu Pak! Jujur, aku penggemar film-film yang disutradarai oleh Daniel Prawira ini. Kalau menurut pengamatanku, film-film Daniel selalu percintaan yang berujung dengan kejadian tragis. Tak pernah sekalipun berakhir bahagia. Aku menduga, bahwa Daniel sedang memberi tahu publik tentang apa yang dirasakannya. Mungkin ia tidak pernah mempunyai kisah cinta yang berakhir bahagia,” ucap Niken.
“Kurasa dugaanmu itu harus dibuktikan, bukan hanya asal duga. Sebuah film tidak mewakili kehidupan atau pribadi sang sutradara, kecuali kalau film itu adalah kisah nyata,” bantah Reno.
“Ya, itu mungkin dugaanku saja. Menurutku, Daniel ini adalah tipe setia dan bertanggungjawab terhadap istrinya. Saat Mariana, istrinya tengah sakit kanker, ia menghabiskan waktu di rumah sakit untuk merawatnya, hingga sang istri meninggal. Bahkan, ia menunda semua proyek film yang sedang digarapnya, agar benar-benar bisa maksimal merawat istrinya. Sayangnya takdir berkata lain ....”
“Ngomong-ngomong, kamu pernah mendengar nama Margareth Prawira?”
“Margareth Prawira? Tidak. Aku tidak pernah dengar. Ada apa dengan nama itu?” tanya Niken.
“Sebuah polis asuransi atas nama Daniel Prawira menyebutkan ahli waris dari sutradara itu adalah Margareth Prawira. Tetapi kita semua tahu bahwa dia tidak punya anak. Jadi siapa sebenarnya Margareth Prawira itu?”
“Hmm. Ini menarik. Aku akan cari nama Margareth itu. Kalau melihat nama Prawira di belakangnya, sudah pasti dia mempunyai hubungan darah dengan Daniel. Anda tak perlu cemas, Pak. Biar saya yang mengurus nama Margareth ini. Anda fokus saja ke hal lain,” ucap Niken.
“Oke, Niken. Tugas pertamamu adalah mengungkap misteri nama Margareth. Aku akan kembali menganalisis data mereka satu-persatu, sebelum membuat undangan untuk pemanggilan.” Kata Reno.
__ADS_1
“Aku pasti dapat mengerjakan ini dengan baik. Ngomong-omong, Bapak makan siang di mana?” tanya Niken.
“Aku belum tahu akan makan siang di mana. Bahkan kadang aku tidak makan siang karena kesibukan yang padat. Mengapa kamu bertanya tentang makan siangku? Apakah kamu akan traktir?” seloroh Reno.
“Maafkan aku mengecewakanmu, tetapi tidak secepat itu untuk mentraktirmu. Aku hanya bertanya saja. Bolehlah kapan-kapan kita makan siang bersama, tetapi tidak untuk hari ini,” ucap Niken sambil tersenyum.
Senyum Reno tersungging. Ia merasa Niken ini penuh misteri dan ia belum mengenali karakter wanita ini dengan baik. Mungkin ia perlu waktu untuk itu.
Selepas berbicara dengan Niken, Reno merapikan berkas di meja kerjanya. Waktu menunjukkan hampir pukul 12 siang, waktunya untuk mengisi perut. Sebenarnya Silvia menawari untuk makan siang di rumah, tetapi Reno khawatir tidak punya waktu untuk itu. Entah berapa kali tidak makan siang di rumah. Hal itu memang membuat Silvia kecewa. Namun, wanita itu menyadari bahwa suaminya adalah seorang abdi negara yang tugasnya banyak, sehingga ia bisa memaklumi.
Reno berjalan melangkah keluar dari kantor polisi, ketika seorang gadis muda hampir menabraknya. Ia berjalan terburu-buru.
“Oh, maaf!” ucap gadis muda itu.
Reno menatap paras gadis muda itu. Sungguh, ia terlihat tak asing karena sering muncul di adegan film. Wajahnya kadang juga muncul di acara infotainment. Sayangnya, Reno tak hapal nama artis-artis yang sering muncul di media. Ia hanya tahu bahwa gadis ini adalah seorang artis.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Reno.
“Pak Reno Atmaja? Kebetulan sekali. Saya ... saya Anita Wijaya. Saya ingin membicarakan hal penting dengan Anda,” kata Anita.
“Oh, tentu. Tapi ... saya baru saja istirahat untuk makan siang. Mungkin .... “
Anita berkata dengan sangat serius, membuat Reno mengernyitkan dahi. Gadis ini memang pandai berakting di layar lebar, tetapi tak mungkin dia bercanda di saat seperti ini. Reno segera melihat sekeliling. Di kantor polisi itu masih banyak polisi yang berlalu-lalang.
“Oke ... oke. Tapi kurasa kita tidak bisa bicara di sini. Ikuti aku!”
Reno mengisyaratkan Anita untuk mengikuti polisi itu. Anita tak menunggu perintah dua kali. Teror bunga yang berisi bangkai tikus itu sungguh membuatnya takut, dan ia merasa harus melapor pihak berwajib agar mendapat perlindungan, dan merasa sedikit lebih tenang.
***
Di sebuah rumah mewah berlantai tiga, terdapat sebuah ruang kerja yang cukup luas. Ruangan itu dilengkapi lemari kaca berisi buku-buku tebal, dan juga satu set sofa warna hijau lumut, senada dengan warna karpet berbahan rasfur dan wallpaper ruangan.
Seorang pria sedang menulis sesuatu di buku agenda dengan serius, sementara seorang pria lain tengah bermain ponsel di sofa.
“Hari ini ada jadwal apa, Lan?” tanya pria yang sedang menulis.
“Ntar malam,Bang! Baru saja aku dikabari Mas Riky kalau ntar malam kita diundang di acara makan malam di Paragon Resturant. Ada hal penting juga yang akan dibicarakan,” ujar pria yang sedang bermain ponsel itu.
__ADS_1
Henry Tobing, aktor yang cukup senior itu menghentikan kegiatan menulis, kemudian menutup buku agendanya.
“Atas nama siapa Riky mengundang?” tanya Henry.
“Sepertinya sih ... Pak Govind Punjabi, Bang!”
“Kalau produser tua itu yang mengundang, aku yakin pasti suasana bakal nggak benak. Dia kan hanya bisa marah-marah gitu,” keluh Henry.
“Jadi Abang nggak datang? Kalau Abang nggak datang biar kuinfokan ke Mas Riky sekarang,” ucap Ollan.
“Nggak apa-apa, biar aku datang saja. Oya, apakah Rianti tahu undangan itu?” tanya Henry setengah berbisik.
Henry kadang merasa agak risih apabila segala aktivitasnya diikuti oleh Rianti, sang istri. Entahlah, perempuan itu terlihat sangat posesif dan pencemburu berat. Ia menerapkan banyak aturan pada Henry saat bermain film. Ia melarang suaminya untuk beradegan mesra dengan artis wanita lain. Padahal, profesi Henry mengharuskan ia untuk bertemu dengan artis wanita yang cantik-cantik.
Setiap bulan, Rianti mendapat jatah uang perawatan tubuh dari Henry dengan jumlah yang tak sedikit. Kadang jadwal Rianti tak kalah sibuk dari suaminya. Ia ikut arisan sosialita yang diikuti artis-artis wanita. Tak tanggung-tanggung, arisan itu bernilai puluhan juta dan biasa diselenggarakan hotel berbintang lima. Selain arisan, Rianti kadang sibuk menghabiskan waktu di pusat kebugaran atau salon.
“Pastilah Bu Rianti tahu, Bang! Ia kan selalu menanyai aku tentang jadwal-jadwal Abang. Aku kan juga nggak mungkin bohong sama dia,Bang!” jawab Ollan.
“Aduh!” keluh Henry.
“Jangan khawatir, Bang! Aku sudah menanyakan ke Mas Riky, dan Mas Riky bilang tidak apa-apa kalau Bu Rianti ikut. Toh, Bu Rianti sudah cukup dikenal pula oleh rekan-rekan Abang. Nggak ada masalah lah itu, Bang!” ucap Ollan.
“Masalahnya bukan itu, Lan. Masalahnya ... aduh! Susah diungkapinnya,” ucap Henry.
“Aku tahu apa yang ada di pikiran Abang kok!” tebak Ollan sambil tersenyum penuh arti.
“Jangan nebak sembarangan, Lan. Emang kamu tahu apa yang aku pikirkan?” tanya Henry penasaran.
“Bang Henry ... Bang Henry! Jangan dikira aku nggak tahu ya! Abang sepertinya kan lagi berusaha mendekati Laura Carmellita kan? Aku bisa melihat itu loh, Bang. Bener kan?” tebak Ollan.
Sontak paras Henry memerah. Tebakan Ollan itu seratus persen benar. Bagaimana bisa manajernya itu tahu?
“Kok kamu nebak gitu sih, Lan?” Henry masih berusaha mengelak.
“Alah, nggak usah bohong lah! Aku tahu dari cara Abang melihat Laura. Terus bahasa tubuh Abang saat mengobrol dengan Laura kelihatan banget. Jangan salah loh, Bang. Gini-gini, aku dulu belajar ilmu psikologi manusia.”
Henry tak menanggapi perkataan Ollan. Ia sadar, bahwa rasa sukanya pada Laura pasti akan ketahuan juga. Apalagi kalau yang mengetahui Ollan, pasti berita itu akan cepat menjalar. Ia hanya berharap agar Ollan tak menceritakan hal itu pada istrinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Henry bangkit dari tempat duduknya, ia menyelipkan sebuah amplop ke kantong kemeja Ollan. Pria muda itu tersenyum renyah saat menerima amplop itu. Yah, itu pasti berisi sejumlah uang, untuk uang tutup mulut, agar rahasia seseorang tetap terjaga.
***