
Ringo merasakan nyeri yang teramat sangat di lehernya. Luka menganga cukup dalam, mengucurkan darah tiada henti. Tetesannya memercik di daun-daun kering dan tanah basah. Ia hampir tak sadarkan diri, ketika merasakan kedua tangannya diikat, kemudian diseret di sepanjang lantai hutan menuju pondok kayu, tempat yang sama sekali tak diharapkannya.
Kemudian tubuhnya dihempas begitu saja di sudut ruang. Ia melhat sosok berjubah hitam itu mondar-mandir tak jelas apa yang dikerjakan. Ringo berusaha keras membebaskan diri dari ikatan di tangannya, tetapi ternyata tak semudah itu. Ikatan itu terlalu erat, bahkan nyaris membuat pergelangan tangan lecet.
“Apa yang kamu inginkan dari aku?” tanya Ringo memberanikan diri.
Sosok berjubah hitam itu tak menjawab. Ia masuk ke dalam bilik ketiga, kemudian keluar lagi. Ringo tahu, bahwa dalam di dalam bilik ketiga itu terdapat sebuah peti mati. Ia sama sekali tak punya gambaran, apa yang akan diperbuat oleh sosok ini.
“Kalau kamu mau uang, maka aku akan kabulkan permintaanmu. Ayahku seorang pengusaha kaya. Dia pasti akan memberikan uang seberapa banyak yang kamu mau. Bebaskan aku, maka aku janji tak akan mengungkit-ungkit ini lagi.” Ringo mencoba bernegoisasi.
Sosok hitam itu sama sekali tak memedulikan perkataan Ringo, seolah tak mendengar ucapan-ucapannya. Ia sibuk dengan dirinya sendiri. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari sebuah tas kain kumal. Ringo terperanjat. Ia melihat baju, handuk dan sejumlah kosmetik milik Melly yang hilang ada di dalam tas kumal itu.
“Aku bisa membelikanmu yang jauh lebih baik dari itu. Sungguh!” bujuk Ringo lagi.
Lagi-lagi, sosok berjubah itu tak bicara apapun, bahkan menengok ke arah Ringo pun tidak. Ia kembali masuk ke dalam bilik nomor tiga. Ringo menatap berkeliling, sambil menggeser-geser badannya ke samping. Sangat sulit untuk berdiri dalam kondisi tangan terikat. Ia berharap ada keajaiban, seperti dalam game yang pernah dimainkannya. Di dunia virtual, seolah bisa melakukan apa saja. Sayangnya, ini adalah dunia nyata yang tak seajaib dunia fantasi.
Beberapa saat lamanya ia masih memikirkan cara agar bisa lolos dari ikatan. Sosok hitam itu masih berada di dalam bilik, entah apa yang dikerjakannya. Tiba-tiba, sosok itu keluar dengan sebatang kayu, berjalan agak cepat menuju ke arah Ringo.
“Tunggu ... tunggu! Kamu mau ngapain?” tanya Ringo ketakutan.
Duuuk!
Tanpa basa-basi lagi, batang kayu itu mendarat di kepala Ringo. Anak muda itu mengaduh sesaat. Pandangannya berkunang-kunang. Ia merasa ada kabut menyelimuti pandangan, hingga sesaat kemudian ia tak bisa merasakan apa-apa lagi!
***
Melly tidak pernah merasa sepanik ini dalam hidupnya. Ia berlari secepat mungkin menuju ke arah tenda, menjumpai teman-temannya yang sepertinya juga mulai cemas menanti kedatangan Melly dan Ringo.
“Kamu lama banget sih, Mel? Ngapain aja? Kamu enak-enak ya sama Ringo?" cecar Sonya yang sedang berkemas.
Melly tak segera menjawab. Ia bingung harus memulai cerita dari mana. Napasnya tersengal, seolah kehabisan oksigen setelah berlari dari arah hutan. Ia hanya menatap Antony dan Sonya dengan cemas.
__ADS_1
“Kamu habis ngapain sih, Mel? Mana Ringo?” tanya Antony penasaran.
“Tunggu ... tunggu ... boleh minta minum nggak? Aku capek banget. ” Melly menjawab dengan terengah.
Sonya mengernyitkan kening. Paras Melly terlihat pucat seperti dikejar setan. Segera ia mengambilkan sebotol air mineral kemudian memberikan pada Melly. Gadis muda itu segera menenggak air dalam botol hingga tandas.
Setelah mengatur napas, Melly duduk sambil menyelonjorkan kaki. Sonya dan Antony masih menunggu ia bicara. Mereka bertiga duduk, membentuk lingkaran.
“Ada apa sih, Mel?” tanya Sonya.
“Jadi gini ... aku ... aku tadi kan mandi barengan sama Ringo. Pas selesai aku kan mau ganti baju. Ternyata baju dan handukku nggak ada. Aku bingung banget. Sudah kemarin isi tas berceceran di hutan, sekarang baju dan handuk juga hilang. Jelas nggak mungkin kalau binatang kan yang ngambil?”
Melly mengehentikan ceritanya sejenak, mengatur napas yang masih naik-turun.
“Terus ... terus ...,” desak Sonya tak sabar.
“Ya kemudian aku bilang ke Ringo kalau bajuku hilang. Ringo juga penasaran, jadi dia masuk ke dalam hutan untuk mencari, siapa tahu ketemu seperti tas ku yang kemarin itu.”
“Aku juga nggak tahu. Hampir satu jam aku nunggu Ringo, tetapi dia nggak kembali-kembali. Pastilah aku cemas. Mau kutinggal, nanti dia nyariin, tapi aku ragu juga masuk hutan itu. Akhirnya kuputuskan untuk masuk hutan, tetapi nggak jauh-jauh agar bisa kembali dengan mudah. Aku panggil-panggil nama Ringo berulang-ulang, tetapi nggak ada jawaban. Nah, pas aku masuk makin dalam, ada sesuatu yang aneh kutemukan,” cerita Melly.
“Aneh? Aneh gimana?” Sonya semakin antusias mendengar cerita Melly.
“Jadi aku menemukan seutas benang yang tajam seperti benang zaman dulu yang dipakai buat main layang-layang. Kalian tahu nggak?”
“Iyalah aku tahu banget. Terus gimana?”
Antony menyahut, teringat akan masa kecilnya saat masih suka bermain layang-layang.
“Benang itu diikat di antara dua pohon, melintang di tengah jalan seolah digunakan untuk menjerat sesuatu. Pas aku kesana, benang itu sudah putus, dan aku melihat ada bekas darah di ujungnya. Bahkan banyak tetesan darah di sekitar situ. Langsung firasatku bilang ada sesuatu yang nggak beres. Aku khawatir Ringo kenapa-kenapa, jadi aku segera lari ke sini,” terang Melly.
Sonya tersenyum mendengar penuturan Melly.
__ADS_1
“Kali aja benang itu digunakan untuk menjerat binatang kayak rusa atau apa gitu,” ucap Sonya.
“Ah nggak mungkinlah! Aku tahu banget benang yang digunakan untuk menjerat binatang. Nggak mungkinlah seperti itu. Sepertinya benang itu sengaja dipasang untuk menjerat manusia,” sangkal Melly.
“Tapi siapa yang pasang benang itu di dalam hutan?” tanya Sonya.
“Hmm. Firasatku sebenarnya sudah tidak enak semenjak tas kamu berhamburan di dalam hutan tadi malam. Aku merasa kita nggak sendirian di sini, seperti ada yang mengintai gerak-gerik kita. Sejujurnya ini buat aku cemas,” ujar Antony.
“Aduh, gimana nih? Yuk kita kembali saja, Ton. Kita balik ke kota ya? Aku nggak mau lama-lama di sini. Serem banget tau. Pokoknya aku nggak mau berada di sini!” ujar Melly dengan cemas.
“Siang ini rencananya kita akan kembali. Tapi kan kita nggak mungkin kembali tanpa Ringo. Jadi gimana?”
“Aduh, gimana ya? Pokoknya kau nggak mau lama-lama di sini deh!”
Antony berpikir sejenak. Ia tak mau gadis-gadis itu dalam bahaya apabila masih berada dalam hutan. Di lain pihak, ia juga mengkhawatirkan Ringo.
“Begini saja, kamu dan Sonya kembali ke kastil dulu bersama Ben. Sementara aku akan mencari Ringo dalam hutan. Bagaimana?” Antony meminta pendapat.
“Aduh jangan! Hutan itu terlihat berbahaya dan seram. Aku takut terjadi apa-apa!” kata Melly dengan gugup.
“Tapi kita nggak punya pilihan lain. Nggak mungkin kita tinggalin Ringo. Ini adalah yang terbaik. Di kastil kalian jauh lebih aman karena di sana ada banyak orang. Aku akan menelisik ke hutan itu. Semoga Ringo ketemu. Kalian nggak usah khawatir, aku akan membawa alat perlindungan diri.”
Antony mengeluarkan sebuah pisau lipat dengan bermacam-macam fungsi, serta sebuah parang yang ia selipkan di pinggang.
“Aku sudah berpengalaman menjelajah gunung dan hutan, jadi jangan khawatir. Aku nggak akan mudah mati kok. Tenang aja!” senyum Antony.
“Jangan bercanda seperti itu!” ucap Melly.
Walaupun berat, akhirnya mereka menyepakati usulan Antony. Mereka tak punya pilihan lain yang lebih bagus. Sonya dan Melly akhirnya kembali ke kastil dengan membawa beberapa perlengkapan berkemah, sedangkan Antony memutuskan untuk memasuki hutan mencari keberadan Ringo.
***
__ADS_1