
Niken mendengar penjelasan dari Herman Sirait dengan saksama. Ia sama sekali tak menduga kalau Anita Wijaya sebenarnya adalah Margareth Prawira. Ini artinya, gadis itu sebenarnya mewarisi banyak harta dari Daniel. Jadi siapa sebenarnya menginginkan kematiannya?
"Anita Wijaya pasti dibunuh karena polis asuransi itu," guman Herman Sirait kemudian.
"Kami belum memastikan motif yang mendasari pembunuhan Anita sejauh ini. tetapi, berdasarkan cerita Anda, aku yakin bahwa Anita dibunuh karena mewarisi banyak uang dari Daniel. Masalahnya sampai kini kami belum melacak siapa sebenarnya yang menginginkan kematian Anita," kata Niken.
Ia lebih memilih berhati-hati dalam berbicara, tak ingin mengumbar lebih jauh rahasia-rahasia yang harusnya hanya boleh diketahui pihak kepolisian. Namun, ia ingin menggali lebih dalam informasi seputar Daniel Prawira. Ia ingin menunjukkan kepada Reno bahwa ia pun mampu ikut serta dalam penyelidikan ini.
"Saranku adalah segera temukan pembunuh Daniel dan Anita. sebab, kalau tidak, bukan tidak mungkin korban baru akan jatuh," kata Herman Sirait.
"Bagaimana bisa Anda berpendapat seperti itu?" tanya Niken makin antusias.
"Aku berpikir bahwa kehidupan Daniel di masa lalu sangat lah rumit. Setelah menikah dengan Mariana, ia berusaha mencari sosok lain yang bisa menggantikan sosok istrinya. Namun, tentu saja dia tak terbuka denganku. Hubunganku dengan dia hanya sebatas klien, jadi dia menceritakan apa saja yang dianggap perlu. Selain itu tidak. Daniel mempunyai banyak kolega dan rekan. Bahkan dia juga mempunyai beberapa musuh. Namun bukan kapasitasku untuk mejelaskan masa lalu itu," kata Herman Sirait.
Niken hanya manggut-manggut. Ia tak tahu harus bertanya apa lagi. ia rasa kali ini cukup. Niken pura-pura melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Ia harus segera menginformasikan hal ini kepada Reno.
"Saya sangat berterima kasih dengan keterangan yang Anda berikan, Pak. Sungguh keterangan yang sangat membantu. Saya mengapresiasi, dan tentu kami akan membantu pula kalau ada hal-hal yang Anda butuhkan," ucap Niken.
"Tunggu ... tunggu! Kamu mau pergi?" tanya Herman Sirait.
"Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, Bang. Nanti kalau ada waktu, boleh lah kita ngobrol lagi," ucap Niken.
Herman hanya mengangkat bahu. Tentu saja, ia tak dapat mencegah kepergian polisi wanita itu. Niken meninggalkan sejumlah uang di meja, untuk membayar minuman yang telah ia minum. Namun, dengan lagak sok ksatria Herman Sirait mencegahnya.
"Tidak! Tidak! Ambil kembali uang itu. Kamu nggak perlu melakukan itu!" ucap Herman.
"Tak apa, Bang! Aku tidak biasa dibayari seseorang. tak perlu risau!"
"No! aku memaksa. Sungguh, kamu tak perlu bayar. Bahkan kalau kamu mau, kamu boleh datang ke Cafe ini kapan pun kau mau, dengan tanpa membayar," ucap Herman sambil memungut uang di meja, dan menyerahkan kembali pada Niken.
__ADS_1
Polisi muda itu menerima uang pemberian Herman, sembari mengernyitkan dahi. Justru perkataan Herman yang terakhir tadi terdengar tidak enak. Ia bukan tipe seseorang yang suka memanfaatkan kemudahan yang diberikan oleh orang lain.
"Bang Her tak perlu melakukan seperti itu. Terima kasih banyak!" tegas Niken.
"Oke,oke. Saya mengerti. Aku tidak ada maksud apa-apa. Semoga sukses mencari pembunuh itu," kata Herman.
"Bang Her tidak pulang?" tanya Niken.
Herman Sirait tersenyum kecil, dan menggeleng.
"Cafe ini milikku. Aku masih ingin di sini," kata Herman Sirait.
"Oh .... "
***
Ollan merasakan kegelisahan luar biasa. Ternyata suasana siang dan suasana malam adalah hal yang sangat jauh berbeda. Di siang hari, ia bisa melihat pemandangan indah dari balkon ke sekitar villa, dan bisa merasakan angin lembut yang bertiup membelai rambut. Namun, malam ini terasa sangat mencekam. Ia melihat dari arah jendela ke luar, tetapi yang terlihat hanya gelap. Apalagi, diesel tak berfungsi maksimal, jadi tidak semua lampu dinyalakan Suara binatang malam menjerit-jerit terdengar di kejauhan membuat perasaan Ollan menjadi kecut.
Pada akhirnya, ia kembali membuka ponsel untuk segera menghubungi polisi, karena semakin lama semakin tidak nyaman. Bahkan, satu pesan kembali masuk. Sebuah pesan misterius dengan nomor asing.
Aku melihatmu, Sayang. Pintu dan jendela tak akan bisa menghalangiku untuk masuk.
Ollan makin gelisah, ia segera menghubungi nomor Reno, sambil mondar-mandir di dalm kamar. Suasana terasa menegangkan. Sayang, beberapa kali ia menghubungi nomor Reno, rupanya tak diangkat. tentu saja hal itu membuatnya semakin cemas. Ia hanya membagikan lokasi terakhirnya di nomor Reno, seraya berharap polisi itu akan segera membaca pesannya itu. Selain membagikan lokasi, ia juga menulis pesan singkat.
Mungkin ada seseorang yang akan mencelakai saya malam ini. Mohon bantuannya!
Praang!
Tiba-tiba ia mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Jantungnya terasa mau lepas.Ollan merasa bingung, tak tahu harus berbuat apa. ia ingin mengecek ke dapur, tetapi nyalinya menciut. Ia segera menutup pintu kamar, dan menguncinya.
__ADS_1
Klik!
Ia segera mencari sesuatu di dalam kamar untuk dijadikan senjata pertahanan diri apabila ada orang yang berusaha mencelakainya. Namun, rupanya tak ada apa-apa di kamar itu, karena memang villa sudah lama tak ditinggali.
"Sial!" umpatnya.
Tiba-tiba ia mendengar suara gagang pintu digerak-gerakkan, seperti suara orang yang berusaha masuk kamar. Ollan semakin tegang. Rasa panik melanda seketika. Ia ingin sembunyi, tetapi sembunyi di mana? Ia bingung. Beberapa saat kemudian, suasana kembali tenang. Gagang pintu juga telah berhenti bergerak.Namun, belum hilang rasa paniknya, tiba-tiba lampu villa padam. Suara diesel berhenti. Ini artinya ada orang yang dengan sengaja mematikan diesel. Kini villa itu diliputi kegelapan total!
***
Di dalam kantor polisi, Reno tampak sedikit frustasi. Reno dan Dimas telah menghubungi semua teman Ollan ,tetapi mereka tidak tahu di mana keberadaan pria itu. Hal itu membuat Reno menjadi gusar. Ia letakkan ponsel di mejanya, kemudian berniat keluar untuk mencari udara segar. Dimas hanya terdiam, sambil berpikir.
"Apakah kamu perlu minum kopi malam ini?" tanya Dimas.
"Entahlah, aku bingung kemana lagi harus melacak keberadaan Ollan," jawab Reno.
Tiba-tiba teleponnya bergetar. Sebuah pesan masuk tiba-tiba. Reno segera mengecek ponsel, dan ia tampak berbinar-binar, ketika melihat isi pesan Ollan yang membagikan lokasi menggunakan aplikasi ponsel.
"Ini lokasi terkini yang dibagikan Ollan! Dia mengatakan bahwa ... astaga! Ada seseorang mengincarnya. Cepat, Dim! Kita harus segera kesana!" ajak Reno.
Dimas dan Reno setengah berlari menuju mobil, kemudian berpapasan dengan Niken yang baru saja pulang dari pertemuan dengan Herman Sirait.
"Buru-buru amat! Mau kemana?" tegur Niken.
"Nanti kami akan kami jelaskan!" ucap Dimas cepat.
"Tunggu! Aku membawa berita mengenai Margareth!"
Namun perkataan Niken itu nyaris tak terdengar. Kedua polisi itu segera bergerak cepat menuju mobil. Mereka tidak ingin terlambat barang satu detik, karena posisi Ollan sepertinya fatal.
__ADS_1
***