Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
291. Regulasi Baru


__ADS_3

Pagi itu terasa berbeda, seolah keceriaan direnggut dari rumah isolasi. Peristiwa yang terjadi semalam begitu mengejutkan seluruh penghuni. Dua orang polisi yang bertugas dibius oleh orang misterius yang sampai kini masih belum diketahui identitasnya. Walaupun kini dua polisi itu telah sadar,  mereka tetap tak dapat mendeskripsikan siapa penyerang yang beraksi tadi malam, karena diserang secara tiba-tiba.


Untuk mencegah hal yang lebih buruk terjadi, Reno meminta salah seorang polisi itu untuk mengantar Ollan pulang ke kediamannya yang berada di kota. Ollan merasa sangat senang mendengar keputusan Reno. Mimpi-mimpi buruk yang selama ini menghantui seolah berakhir. Ia begitu merindukan kamar pribadinya. Pagi itu juga, ia mengemasi barangnya, lalu melenggang meninggalkan rumah isolasi dengan perasaan berbunga-bunga. Tak lupa, ia berpamitan dengan penghuni yang lain.


"Selamat bersenang-senang, Ollan. Beruntung kamu masih selamat malam tadi," ucap Laura sambil tersenyum.


"Ingat Lan, jangan terlalu lama bersenang-senang. Setelah ini selesai, banyak kerjaan untukmu!" Henry menambahkan.


"Semoga selamat sampai tujuan ya, Lan!" pesan Rianti.


Para penghuni lain kembali menuju ruang makan dengan perasaan cemas bercampur gelisah. Kejadian semalam seolah menunjukkan eksistensi si pembunuh, bahwa dia dengan mudah berkeliaran di dalam rumah tanpa sepengetahuan mereka, bahkan bisa melumpuhkan penjaga dengan mudah. Rasa was-was menghantui setiap penghuni yang ada di situ, kecuali si pembunuh tentunya.


Di sela-sela sarapan yang telah disediakan Bu Mariyati, Reno berencana akan mengubah strategi, agar mereka lebih mudah diawasi dan dikendalikan. Sebelum sarapan tadi, Reno telah berdiskusi dengan Ammar tentang rencana baru yang akan diterapkan kepada semua penghuni rumah isolasi. Keduanya telah menyepakati hal baru tersebut, dan rencananya akan mulai diterapkan mulai hari ini.


Selepas makan pagi, semua belum diizinkan meninggalkan meja makan, karena ada sesuatu yang hendak disampaikan Reno. Hal ini tentu membuat mereka makin bertanya-tanya, aturan apalagi yang hendak diterapkan. Mereka menunggu Reno berbicara dengan gelisah.


"Kondisi rumah ini semakin memburuk." Reno membuka pembicaraan.

__ADS_1


Semua antusias mendengar ucapan Reno. Tak ada yang menyela atau berbicara. Mereka fokus menatap polisi yang mulai berbicara itu. Sementara, Bu Mariyati sibuk memberskan meja, sisa-sisa sarapan mereka.


"Tadi malam telah terjadi beberapa peristiwa yang cukup mengejutkan. Peristiwa ini terjadi beruntun, diawali dengan ancaman pembunuhan yang diterima Ollan. Itulah mengapa Ollan harus dipindahkan ke tempat lebih aman. Namun, rupanya rencana itu cepat diendus oleh siapa pun dari kalian yang punya rencana jahat. Ya, pasti itu salah satu dari kalian. Ingat! Aku sudah mengantongi 3 nama dari kalian. Jadi kalau kalian bertindak gila, aku bisa saja bertindak lebih cepat. Selain percobaan pembunuhan Ollan, si penyusup itu juga berhasil melumpuhkan dua orang penjaga dengan menggunakan obat bius. Kami tahu, obat bius seperti ini sangat mudah didapatkan secara online. Obat bius ini sudah disiapkan jauh-jauh hari.  Kami sudah berkoordinasi dengan penjua-penjual online itu, untuk merekap identitas  orang-orang yang membeli obat bius yang berdomisili di kota kita. Data pengiriman mereka cukup akurat, dan aku akan mendapat kabar siang ini. Jadi percuma saja kalian berbuat nekat," ucap Reno dengan nada tegas.


Semua yang berada di ruang makan saling berpandangan, saling mencurigai. Ammar tetap melihat paras-paras mereka, apakah tersimpan kegugupan atau tidak. Namun, sepertinya mereka yang hadir di situ adalah pemain peran yang andal. Paras-paras mereka seolah tak terpengaruh dengan perkataan Reno.


"Selain itu, Pak Dimas juga akan segera datang ke sini terkait penemuan fakta-fakta terbaru. Aku akan membeberkan fakta-fakta itu dalam beberapa hari ke depan. Tentunya makin cepat makin baik. Kami tahu kalian lelah dan stres dengan kondisi di sini. Namun, kalian patut bergembira. Kalian harus gembira karena semua misteri yang menyelimuti kasus ini akan segera terpecahkan. Walaupun aku juga tahu salah satu dari kalian sedang berharap cemas, karena mungkin dia adalah tersangka pembunuhan itu," lanjut Reno.


"Kami sudah tak sabar Pak! Mari segera kita ringkus pembunuh gila itu!" celetuk Laura tak sabar.


"Wah, nggak asyik dong,Pak! Kamar buat seorang saja sudah sumpek, apalagi untuk dua orang. Sepertinya aturan itu harus dikaji ulang!" protes Riky.


"Maaf Rik, saya tidak sedang menawarkan kenyamanan pada kalian. Pada dasarnya di sini bukan tempat liburan seperti ekspektasimu.  Ini adalah aturan yang harus kalian tepati. Selepas makan pagi ini, saya persilakan kalian untuk mengemasi barang dan perlengkapan kalian, dan segera menuju kamar-kamar yang sudah ditetapkan. Adapun penetapan kamar-kamar sebagai berikut, Riky akan sekamar dengan Guntur, terserah kamar siapa yang kalian pakai, Rianti akan sekamar dengan Laura, sedangkan untuk saat ini Henry akan tetap berada di kamarnya!" ucap Reno.


"Yes!" ucap Henry spontan.


Henry tersenyum senang mendengar keputusan itu. Tentu saja keputusan dari Reno itu menimbulkan kontroversi bagi yang lain. Namun, Reno sadar ia tidak akan memuaskan semua keinginan semua penghuni yang ada di sini. Ia harus membuat keputusan itu.

__ADS_1


"Wah, curang dong, Pak! Enak sekali Bang Henry dapat kamar sendiri!" Lagi-lagi Riky melayangkan protes.


"Boleh tukar kalau kau mau!" ucap Reno.


"Tidak! Tidak! Kurasa itu cukup adil. Seharusnya aku sekamar dengan Ollan, tetapi berhubung Ollan pergi ya aku tinggal sendiri." Henry menolak protes dari Riky.


Riky hanya mendengkus, kemudian melirik sekilas ke arah Guntur. Rekan kerjanya itu seolah tak bereaksi dengan keputusan Reno. Guntur kelihatan setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Reno.


Sementara, protes yang tak kalah pedas juga dilayangkan oleh Rianti karena ia merasa sangat keberatan tinggal sekamar dengan Laura, si musuh bebuyutan, Dalam keseharian saja mereka sudah saling menghindar, lalu mengapa tiba-tiba ini malah dijadikan dalam satu kamar?


"Tidak ... tidak, Pak! Aku tak mau sekamar dengan Laura! Sampai kapan pun aku tak mau sekamar dengan dia!" ucap Rianti dengan emosi.


"Maaf, keputusan ini tak bisa diganggu-gugat. Kalau memang ada masalah pribadi di antara kalian, saya sarankan untuk diredam dulu karena ini menyangkut urusan yang lebih penting. Kita di sini adalah sekumpulan orang dewasa, bukan anak-anak TK yang saling diam apabila ada masalah. Semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Jadi aku tak menerima protes apa pun. Lebih baik semua pihak bisa menerima keputisan ini dengan lebih legowo. Oke, sementara cukup dari saya, silakan  bersiap-siap mulai dari sekarang! Kalau butuh apa-apa silakan berkoordinasi dengan Pak Paiman atau Bu Mariyati!"


Rianti tak bisa berkata apa-apa lago, walau ia diliputi rasa kesal. Namun, tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menerima aturan dari Reno. Ia terlihat kecewa, bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlalu dari ruang makan terlebih dahulu. Sedangkan Laura terlihat tenang, tanpa bantahan apa pun. Ia hanya tersenyum kecil di sudut bibir.


***

__ADS_1


__ADS_2