Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
324. Palsu


__ADS_3

Edwin tercekat melihat jasad wanita yang tergeletak di hadapannya. Dia tidak mengenali parasnya, karena ternyata itu bukanĀ  jasad Rosita. Padahal. wanita itu mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakai Rosita pagi ini. Wanita yang tergeletak ini jauh lebih muda, mungkin masih berusia belasan atau awal 20 tahun-an. Ia tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya. Juned juga tampak terkejut melihatnya.


"Kau tetap di sini, biar aku yang melapor ke Pak Amar!" ucap Juned.


"Si-siapa wanita ini? Lalu di mana Rosita?" ucap Edwin.


"Nanti kita akan cari tahu siapa wanita ini!"


Juned setengah berlari menuju ke ruang makan. Di ruangan itu, semua penghuni duduk dengan gelisah, menantikan kekadiran Juned. Mereka menatap Juned yang baru saja dari luar. Suasana berubah mencekam. Mereka berplikir bahwa ada hal buruk terjadi di luar sana. Juned tidak ingin mengacaukan suasana pagi itu. Ia hanya ingin mengatakan peristiwa yang baru terjadi di luar hanya kepada Ammar. Ia mendekati polisi senior itu, kemudian berbisik.


"Kami menemukan jasad wanita di luar." bisik Juned.


Semua yang hadir semakin penasaran dengan apa yang dibisikkan Juned. Ammar berusaha tidak panik dan tetap tenang mendengar penjelasan Juned. Ia hanya menghela napas sejenak, kemudian berusaha menegakkan cara duduknya. Para penghuni kastil yang lain terdiam, tak bereaksi.


"Untuk pagi ini, sarapan akan tertunda. Saya persilakan kalian untuk mencari apa saja yang ada di dapur untuk mengganjal perut kalian. Ada sesuatu yang harus saya selesaikan di luar. Mariah, bisa kau bantu mereka menyiapkan sarapan?" ucap Ammar.


Mariah sebenarnya juga merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Namun, ia paham bahwa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi di luar. Suaminya sengaja membuat agar suasana tidak panik. Ia hanya mengangguk, kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Ada roti dan selai di dapur. Akan kusiapkan buat kalian! Kalian di sini saja. Biar aku yang menyiapkan sarapan!" ucap Mariah.


Suasana di ruang makan masih menyisakan tanda tanya besar. Aditya terdiam, sambil bersedekap, sementara Jeremy dan Ryan juga terlihat bingung, tetapi tidak berkata apa-apa. Lily menengok ke arah Maya, tetapi yang ditengok hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Ammar berjalan menuju halaman samping ditemani Juned, dengan langkahnya yang sedikit berat. Mereka mendapati Edwin yang masih dalam keadaan panik, berjongkok di dekat jasad wanita yang tergeletak penuh darah di bagian kepala. Ammar langsung memeriksa kondisi wanita itu. Ia memastikan bahwa wanita muda itu sudah dalam keadaan tak bernyawa. Wajah wanita itu seperti tidak asing bagi Ammar, seperti pernah bertemu entah di mana. Ia berusaha mengumpulkan memori ingatannya, karena ia seperti mengenal wanita ini sebelumnya.


"Pak Ammar kenal dia?" tanya Juned.


"Aku pernah melihatnya, tetapi lupa di mana," kata Ammar.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?"

__ADS_1


"Langkah kita sudah benar. Kita jaga suasana di kastil ini agar tetap kondusif. Jangan sampai kematian gadis ini menimbulkan kepanikan. Nah, di sini kita ada bertiga. Sementara ini kita amankan jasad gadis ini di dalam ruang bawah tanah dekat dapur. Jangan sampai penghuni lain tahu. Kalian harus bisa jaga rahasia ini," ucap Ammar.


Mereka bertiga sepakat untuk menyembunyikan perihal pembunuhan gadis itu, agar suasana kastil tetap kondusif. Melalui pintu belakang, mereka mengangkat tubuh gadis itu, kemudian membawa menuju dapur. Di dekat dapur ada sebuah tingkap yang menghubungkan dengan ruangan bawah tanah. Ruang bawah tanah ini sudah dikenal dengan baik oleh Ammar, saat memecahkan kasus terdahulu.


Di area dapur, Mariah tengah menyiapkan roti untuk penghuni lain. Ia sedang mengoles beberapa lembar roti saat Ammar, Juned, dan Edwin mengangkat jasad seorang gadis muda menuju ruang bawah tanah. Buru-buru Mariah meletakkan pekerjaannya, kemudian mendekati mereka dengan antusias.


"Astaga! Si-siapa ini?" tanya Mariah dengan panik.


Ammar meletakkan telunjuk di mulut, mengisyaratkan agar Mariah tidak panik. Mariah melihat paras gadis yang digotong oleh mereka bertiga, kemudian sontak ia merasa kaget, sambil menutup mulut. Ia merasa mengenali gadis itu.


"Kara? Ini Kara!" ucap Mariah.


"Kara? Kara siapa?" tanya Juned.


"Oh iya! Aku baru ingat bahwa gadis ini adalah Kara. Makanya aku seperti tidak asing dan pernah melihat di kastil ini, Kara adalah gadis yang biasa bersih-bersih kastil ini, tetapi dia tidak tinggal di sini. Ia datang ke kastil ini seminggu dua kali, dan hari ini adalah jadwalnya membersihkan kastil," terang Ammar.


Tak ada waktu untuk menjelaskan, karena memang semua belum jelas. Ammar sendiri belum tahu kronologis kejadiannya. Ammar dan Juned segera membawa jasad gadis itu masuk ke dalam ruang bawah tanah yang gelap.Edwin sempat terpana sebelum masuk ke dalam ruangan bawah tanah. ia tidak menyangka bahwa di bawah kastil itu ada sebuah ruangan luas yang penuh dengan bilik-bilik mengerikan. Ia terpaku, membayangkan kengerian yang pernah terjadi di ruang bawah tanah ini.


"Ayo cepat! Jangan bengong!" tegur Juned.


Edwin tersadar dari lamunannya. Ia segera turun ke dalam ruang bawah tanah mengikuti Ammar dan Juned. Mereka membawa jasad gadis bernama Kara itu ke sebuah bilik yang ada ranjang besi usang di dalamnya. Mereka meletakkan jasad itu di sana dengan hati-hati.


"Sampai kapan jasad ini akan disimpan di sini?" tanya Juned.


"Siang nanti Dimas akan pergi ke kota. Aku akan minta pihak medis untuk mengevakuasi jasad gadis ini. Paling tidak, kita bisa menjaga suasana di sini agar sedikit lebih tenang," kata Ammar sambil menutupi jasad gadis itu dengan selembar selimut usang yang banyak bertumpuk di lemari usang di sudut ruang.


"Aku masih belum bisa merasa tenang!" kata Edwin.


"Kita akan caro Rosita setelah ini," ucap Juned.

__ADS_1


"Bagaimanapun kita harus menemukan dia. Terakhir dia bilang padaku akan masak nasi goreng di dapur, tapi sekarang menghilang begitu saja. Bukankah itu aneh? Sekarang seoranf gadis mati tanpa tahu penyebabnya. Pikiranku bisa gila memikirkan ini!" ucap Edwin.


Edwin sedikit emosi, tetapi Ammar masih berusaha tenang. Panik yang berlebihan tentu saja akan mempengaruhi suasana hati. Ammar memilih untuk tiak bereaksi dengan sikap Edwin. Sementara, Juned melihat sekeliling ruangan bilik itu. Ia agak bergidik, karena bilik itu memang tampak menyeramkan.


"Tempat apa ini, Pak sebenarnya?" tanya Juned.


"Tempat ini sudah ada zaman kolonial. Tak perlu kau pertanyakan," jawab Ammar singat.


"Aku ingin segera naik. Aku merasa tidak nyaman berlama-lama di sini!" ucap Edwin.


Ammar mengangguk pertanda setuju. Setelah dirasa cukup, ketiga pria itu segera naik ke atas. Edwin merasa gelisah, karena tidak nyaman berada berlama-lama dalam ruang bawah tanah itu. Belum lagi ia melangkah, tiba-tiba ia berteriak dan tak sengaja memegang pundak Juned dengan kasar.


"Ada apa?" tanya Juned.


"Aku ... aku melihat seseorang berkelebat di lorong sana!" kata Edwin.


"Siapa? Kamu jangan berkhayal! Ruang bawah tanah ini lama tidak dipakai, dan tidak ada seorang pun yang ada di sini!" ucap Juned.


"Iya beneran! Aku melihat seseorang dalam kegelapan, seperti menyelinap di ujung lorong. aku nggak mungkin salah lihat!" Edwin ngotot mempertahankan pendapatnya.


"Cukup! Kalian tidak perlu berdebat! Aku tadi sempat melihat ada bungkus makanan ringan di lantai dekat bilik sana. Mungkin ada tikus yang membawa bungkus itu, tetapi sepetinya tidak. Aku juga curiga ada orang di dalam ruang bawah tanah sini. Mari kita periksa ke dalam sana!" potong Ammar.


"Apa aku juga ikut?" tanya Edwin.


"Terserah kau!"


"Ba-baik. Aku ikut!"


***

__ADS_1


__ADS_2