
Suara berdentum masih menghentak, mengalun dari dalam rumah mewah itu. Para kawula muda bergoyang menggerakan badannya, menikmati alunan musik. Gelas-gelas kristal diangkat tinggi-tinggi, diiring gelak tawa penuh kegembiraan. Semua larut dalam euforia pesta menyambut pergantian tahun.
Gerry Lorenzo, sang tuan rumah berdiri untuk memimpin sorak-sorai, segera disambut meriah oleh semua yang hadir di sana. Kecuali Dinda. Gadis itu hanya berdiri di sudut ruang, menikmati jus sambil mengamati teman-temannya yang asyik bergoyang.
Gerry berdiri dengan penuh percaya diri, ditemani Alma, sang pacar. Mereka mengumbar keromantisan di depan teman-temannya tanpa malu-malu, sehingga membuat sebagian dari para tamu merasa muak.
“Pesta seperti ini memang membosankan ya?” Tiba-tiba ada suara menyapa Dinda dari belakang.
Adinda memalingkan wajah, melihat seraut paras tampan bak bintang Korea. Ia terkejut, karena tidak mengenal pria muda itu. Ia bukan mahasiswa, karena ia tidak pernah tahu siapa dia.
“Oh, iya. Aku lebih suka melihat mereka, daripada harus ikut bergoyang seperti itu,” ucap Adinda.
“Aku juga tidak suka hal yang kayak gitu. Oya, aku Ferdy. Sepupu Gerry. Pasti kamu teman sekampusnya kan?” Pria muda bernama Ferdy itu mengulurkan tangannya.
“Ferdy? Aku Dinda.”
Adinda segera menyambut. Tak lama berselang, mereka larut dalam obrolan ringan sambil menikmati malam.
“Kita ngobrol di luar aja yuk!” ajak Ferdy.
“Baiklah,” sahut Dinda.
Bagi Dinda, ajakan dari seorang pria tampan seperti Ferdy adalah hal luar biasa. Ia segera mengiyakan ketika pria muda itu mengajaknya keluar ruangan.
Sementara di arena pesta, Rasty terlihat sangat gusar. Bagaimana tidak? Ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Rudi, kekasihnya itu berdansa mesra dengan Jenny, mahasiswi seksi dari jurusan lain. Kehadiran Rasty hanya dianggap angin lalu oleh Rudi.
Yang lebih menyakitkan, Jenny tampak tersenyum mengejek melihat Rasty, seolah sesumbar bahwa dia yang memenangkan hati Rudi. Bahkan diam-diam, Jenny mengacungkan jari tengah ke arah Rasty.
“Rasanya ingin kusiramkan jus ke mukanya!” gerutu Rasty, sambil sesekali mencuri pandang ke arah pasangan yang bergoyang erotis di tengah pesta itu.
“Sabar dulu, Ras! Kalau kupikir-pikir Jenny memang lebih seksi daripada kamu. Nggak heran kalau Rudi sama dia. Zaman sekarang, mana ada sih cowok suka sama cewek yang biasa-biasa aja.” Lena berucap.
“Mending kamu cari yang lain aja, Ras! Buat apa juga mengandalkan cowok kayak Rudi. Bikin makan hati. Tuh, si Alex nganggur!” ucap Mira sambil mengarahkan pandangan ke arah seorang mahasiswa lain yang bergoyang lambat-lambat.
Mahasiswa yang disebut Alex itu tampak pendiam, dengan kacamata bulatnya. Ia terlihat cerdas, tetapi sepertinya tak seorang pun mau mendekati. Ia tipikal mahasiswa yang tak banyak teman, tetapi sibuk dengan dunianya sendiri.
“Dih! Mending kamu aja ya, Mir!” cibir Rasty.
Ketiga gadis itu tertawa berderai-derai. Semakin lama, suasana pesta kian hangat. Mereka berpencar mencari kesibukan masing-masing. Ada yang sebagian keluar, tetapi masih ada yang bertahan di dalam rumah elite itu.
Adinda masuk ke dalam karena merasa haus. Ia mengambil segelas cocktail, menenggak sampai habis. Ia tidak menjumpai teman-temannya yang lain di sana.
__ADS_1
“Pada kemana sih mereka?” gumamnya.
Ia hampir tak mengenal para mahasiswa yang ada di tempat itu, karena sebagian besar dari jurusan lain. Semua yang ada di sana terlihat asing. Kepalanya pusing, sehingga ia memerlukan tempat untuk menyendiri dari hingar-bingar musik ini.
***
“Lima ... empat ... tiga ... dua ... satu!”
Hitungan mundur menuju detik-detik pergantian tahun sudah diteriakkan secara beramai-ramai. Tepat jarum jam di angka dua belas, tiupan terompet berkumandang. Sejumlah kembang api meledak di angkasa. Semua berteriak kegirangan.
“Selamat Tahun Baru! Happy New Year!”
Pesta masih berlanjut, walau sebagian besar mahasiswa telah pulang karena berbagai alasan. Jarum jam sudah menunjuk pukul 02.00. Hanya tinggal segelintir mahasiswa yang masih tinggal. Semua ruangan tampak kacau, berantakan dan penuh dengan sampah.
Rasty baru muncul dari ruang belakang. Ia mendapati Lena yang duduk di sofa sambil bermain ponsel.
“Len, mana Mira dan Dinda? Kita pulang yuk!” ajak Rasty.
“Kalian buru-buru amat! Belum juga pagi!” celetuk Gerry yang sedang merapikan perabotan rumahnya.
Ia membersihkan bekas-bekas kertas dan balon dibantu oleh Alma, kekasihnya. Di bagian lain, terlihat juga Ferdy, sepupunya yang naik ke atas meja untuk melepas balon-balon yang tertempel di sepanjang dinding. Ia tidak ikut mengobrol karena tidak begitu mengenal teman-teman Gerry.
Mereka masih menunggu, ketika tiba-tiba Rudi masuk ke ruangan dengan paras cemas.
“Kalian lihat Jenny nggak?” tanya Rudy.
“Ke neraka kali!” jawab Rasty enteng.
Rudi tak menggubris ucapan Rasty. Ia masih cemas dengan keberadaan Jenny.
“Aku lihat tadi kayak di lantai dua atau di mana yah? Katanya lagi cari udara segar gitu,” tambah Alma.
“Kamu mau ajakin dia pulang, Rud?” tanya Gerry.
“Iya, udah jam dua. Nggak enak ngajak anak orang pulang dini hari,” ucap Rudi.
“Oh, masih punya rasa nggak enak ya! Kirain udah mati perasaan itu,” cibir Rasty.
“Udah deh, Ras. Nggak usah mulai!” bisik Lena.
Dari ruang dalam, muncul juga Alex dengan rambut acak-acakan. Ia melihat semua yang ada di situ dengan heran. Matanya memicing.
__ADS_1
“Habis dari mana kamu, Lex? Kok nggak kelihatan dari tadi?” tanya Gerry.
“Aku ... aku ketiduran di sofa dalam. Pestanya udah selesai?” Alex balik bertanya, sambil memperbaiki letak kacamatanya yang miring.
“Yaelah! Udah pada pulang kali!” sungut Lena.
“Kemana sih Dinda dan Mira?” Rasty mulai gusar.
“Aku juga nggak ngelihat dari tadi,” jawab Gerry.
“Mabuk kali sampai nggak bisa bangun!” cibir Alma.
Rasty mulai bersiap-siap dengan memperbaiki tatanan rambutnya, seraya membuka cermin kecil untuk melihat bayangan wajahnya yang berantakan. Ya, ia tampak berantakan malam itu.
Tak lama berselang, Mira muncul dari pintu depan dengan paras berseri-seri, sehingga membuat Rasty heran.
“Kamu dari mana aja sih? Aku udah mau pulang nih. Lena bisa dihajar ayahnya kalau pulang telat!” kata Rasty.
“Aku tadi habis jalan-jalan di sekitar rumah ini. Ternyata cantik banget ya. Bersyukur loh Ger, kamu punya lingkungan sekeren ini,”kata Miranti.
“Kita akan tempati rumah ini berdua. Iya kan sayang?” ucap Gerry sambil mencium pipi Alma.
Sontak hal itu membuat Miranti tiba-tiba ingin muntah. Ia memalingkan muka melihat adegan itu. Segera ia hempaskan tubuhnya yang agak gemuk ke atas sofa. Lena masih sibuk bermain ponsel, sedang Rasti masih terlihat gusar.
Di sudut lain, Rudi masih duduk dengan gelisah, sambil berkali-kali melihat jam tangan. Ia masih menunggu Jenny yang tak kunjung muncul. Sementara Alex tampak berkelana di sepanjang ruang, mencari sesuatu yang bisa dimakan, karena tiba-tiba perutnya terasa lapar.
Tiba-tiba mereka mendengar suara jeritan perempuan dari ruang dalam.
“Itu suara Adinda bukan sih?” tanya Miranti.
“Iya itu suara Dinda!” jawab Gerry.
Semua yang ada di arena pesta segera menghambur ke arah sumber suara yanga datangnya dari ruangan dalam. Gerry dan Alma menghentikan aktivitas, Rudi dan Alex juga segera bergegas menuju ke sana. Ferdy turun dari meja, menyusul yang lain menuju ke dalam rumah. Di depan kamar mandi, mereka mendapati sosok Adinda yang pucat ketakutan.
“Kenapa Din?” tanya Rasty.
Adinda terlihat panik. Tangannya menunjuk arah kamar mandi. Semua mata memalingkan pandangan ke dalam kamar mandi. Sebuah pemandangan mengerikan terlihat dengan jelas. Sesosok gadis dengan hanya menggunakan pakaian dalam tergeletak di lantai besimbah darah. Sebuah pisau menancap di perutnya!
“Jenny ....” Rudi tercekat mengucap nama kekasihnya.
***
__ADS_1