Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
376. Jeritan dalam Lorong


__ADS_3

Ammar merasa gelisah karena Dimas tidak kunjung turun ke dalam ruang bawah tanah. Tanpa peralatan. ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memandang kotak berisi instalasi listrik yang rumit itu dengan gusar. Suasana di lorong sangat lengang. Ia sempat mendengar suara langkah kaki di sekitar tempatnya berdiri, tetapi kemudian suara itu menghilang.


Sebenarnya ia tidak terlalu takut, hanya saja ia sedikit cemas karena kondisinya yang belum terlalu baik. Saat ini masih dalam proses pemulihan kaki yang beberapa waktu mengalami cedera. Kalau saja ia diserang secara tiba-tiba, mungkin ia dalam keadaan tidak siap.


Ammar membekali diri dengan sebuah senter kecil sebagai penerang. Sesekali ia menyorotkan senter ke ujung lorong yang gelap, tetapi tak ada apa-apa di sana. Hanya beberapa hewan pengerat yang lewat sambil mengeluarkan suara berdecit. Perasaan Ammar menjadi kecut. Banyak yang berkecamuk di pikirannya, antara kondisi yang terjadi di kastil saat ini, dan tentu saja kondisi Mariah. ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya yang sampai saat ini masih belum jelas di mana rimbanya.


Tiba-tiba dari arah lorong yang berlawanan ia melihat seseorang mendekatinya. Ia segera menyorotkan senter ke arah sosok yang berjalan mendekat itu, untuk memastikan siapa yang datang. Ternyata yang baru datang adalah Juned yang membawa kotak peralatan dan lampu yang lebih besar. Ammar agak heran karena bukan Dimas sendiri yang turun ke ruang bawah tanah.


"Pak Dimas sedang membantu Pak Reno menangani kondisi di kastil karena beberapa ruang di sana dalam keadaan gelap-gulita. Pak Dimas meminta tolong padaku untuk membantu Pak Ammar," ucap Juned sambil menyerahkan kotak peralatan kepada Ammar.


"Baik Juned. Sekarang aku akan fokus memperbaiki jaringan listrik ini. Kamu di sini saja berjaga-jaga. Kalau ada apa-apa, segera bertindak. Ruang bawah tanah ini sangat tidak aman," ucap Ammar.


Juned mengangguk mendengar perintah Ammar. Tanpa membuang waktu yang terlalu lama, Ammar segera membuka kotak jaringan listrik dan mulai mencari letak permasalahan sehingga jaringan listrik padam di kastil. Ia berusaha memusatkan konsentrasi, dengan diterangi lampu besar, sehingga lorong terlihat terang-benderang. Sementara, Juned berdiri di sampingnya sambil melihat-lihat keadaan sekitar lorong yang terlihat suram.


Walau kondisi lorong sekarang terang, bukan berarti mengurangi kesan seram yang ada. Juned dapat melihat dinding lorong yang lembap dan berlumut, terlihat kusam dan suram. Bahkan beberapa pintu bilik yang terbuat dari kayu dan baja, terlihat menakutkan karena mencerminkan hal-hal kelam yang pernah terjadi di masa silam. Juned agak bergidik melihat suasana di lorong. Pikirannya mengelana ke hal-hal mengerikan, seperti penyiksaan dan pembunuhan.


"Tolong ambilkan aku obeng kecil!"


Perintah Ammar membuyarkan khayalan seram Juned. Ia segera mencari obeng kecil dalam kotak perkakas yang diletakkan di lantai. Entah mengapa perasaan Juned menjadi tidak nyaman. Ruangan bawah tanah ini seolah menghipnotis pikiran, seolah ada yang mengendalikannya. Juned segera memberikan obeng yang dimaksud kepada Ammar dengan tangan sedikit bergetar. Hal ini membuat Ammar heran, karena tidak biasanya Juned seperti itu.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa, Jun?" tanya Ammar.


"Tidak apa-apa, Pak. Hanya aku merasakan aura aneh di lorong ini," ucap Juned.


"Aaaarrrgh!"


Tiba-tiba, dari arah lorong yang lain terdengar suara mengerang yang cukup jelas. Suara itu seperti suara orang yang sedang menahan rasa sakit. JunedĀ  semakin merasa gelisah mendengar suara itu. Ammar juga terpaksa mengehentikan pekerjaannya.


"Suara apa itu?" tanya Ammar.


"Entahlah, Pak. Seperti suara orang yang kesakitan, Suara itu sepertinya berasal tak jauh dari lorong ini," jawab Juned dengan suara bergetar.


Juned agak ragu menerima perintah Ammar, tetapi ia mengangguk juga. Walaupun degup jantungnya berdetak tak beraturan, ia beranikan diri untuk melangkah menuju ujung lorong yang gelap, mencari sumber suara jeritan dalam lorong yang belum diketahui darimana asalnya.


***


Empat orang wanita dan tiga orang pria duduk mengelilingi sebuah meja besar di ruang baca dengan perasaan tegang. Suasana agak redup, karena sore sudah menjelang. Mereka adalah penghuni kastil yang tersisa hingga saat ini. Mereka siap mendengarkan pemaparan dari Dimas, yang berjanji akan mengungkap pelaku kekacauan di kastil selama ini. Dimas tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkah ke sebuah tempat lilin raksasa yang ada di ruang baca itu.


Ia menyalakan lilin-lilin yang ada di ruang baca, karena suasana sudah meredup pertanda malam akan segera tiba. Semua penghuni kastil tampaknya masih sabar menunggu. Namun, paras mereka jelas terlihat tidak tenang dan gelisah karena harap-harap cemas. Reno juga memasang tampang dingin, seperti bongkahan es di kutub selatan. Suasana menjadi tegang dan hening, hanya terdengar suara langkah Dimas.

__ADS_1


Sesudah menyalakan lilin, Dimas tidak kembali duduk. Ia melangkah mondar-mandir di ruangan itu sambil mengusap dagunya.


"Kalian menunggu?" ucap Dimas kemudian.


Para penghuni kastil saling berpandangan. Perasaan tak nyaman semakin menggerogoti. Dimas seolah sengaja mengulur waktu, mempermainkan perasaan. Ketegangan semakin terasa.


"Baiklah, aku akan menjelaskan asal-muasal kasus ini berawal. Ya, aku memang tak berada di tempat ini saat kasus pertama mulai terjadi. Namun, aku sudah mendapat laporan tentang semua kronologis kejadian dan semua data-data tentang kalian semua. Jadi, aku akan memulainya dan kuharap kalian mendengar dengan saksama," terang Dimas.


Polisi muda itu mengambil sebuah map di atas meja, kemudian membuka isinya sambil mengernyitkan dahi.


"Kasus ini berawal dengan berkumpulnya sejumlah orang yang tujuan awalnya adalah reuni. Total yang hadir di kastil ini adalah 12 orang, termasuk Mariah dan Bang Ammar. Kasus dibuka dengan ditemukannya seorang dari teman kalian, yakni Lidya yang tewas di kamar mandi kolam renang dalam keadaan mengenaskan. Hasil otopsi mengatakan bahwa Lidya ditusuk dan disabet benda tajam berukuran besar seperti parang, dengan jumlah 8 luka bacokan di area perut dan dada. Karena kuatnya sabetan itu, bahkan membuat perut Lidya robek dan sebagian isi perutnya terburai. Ia tewas dalam hitungan menit karena kehabisan darah. Waktu kejadian diperkirakan siang menjelang sore, saat penghuni kastil yang lain sedang beristirahat. Menurut laporan, orang yang terakhir bersama dia adalah Aditya, suaminya sendiri. Saat itu Aditya masuk ke dalam kastil untuk mengambil krim tabir surya. Selain itu, menurut kesaksian Aditya, ia mengatakan bahwa Lily juga sempat menghampiri mereka di kolam renang. Benar kan Lily?" tanya Dimas sambil mengarahkan pandangan ke arah Lily.


"Iya, Pak. Saya memang melihat pasangan itu sedang menghabiskan waktu di kolam renang. Aku sengaja membawakan jus jeruk dingin untuk mereka, karena kupikir aku bisa bergabung. Tapi ternyata mereka berdua membutuhkan privasi, jadi aku mengurungkan niatku. Aku kembali ke kamar untuk beristirahat," ucap Lily.


"Ya, setelah itu kejadian mengerikan terjadi. Seseorang mungkin sudah mengawasi gerak-gerik pasangan itu, sehingga saat Aditya masuk ke dalam kastil, Lidya segera dihabisi. Kami juga menemukan fakta bahwa krim tabir surya itu sebenarnya tidak ketinggalan, melainkan sengaja dicuri agar Aditya mengambil ke dalam kastil. Kami menemukan krim tabir surya itu dalam tempat sampah saat menyisir tempat kejadian. Nah, itulah awal dari kasus ini. Pembunuhan seorang seorang wanita muda di toilet kolam renang dengan cara yang sangat sadis. Menarik bukan?" ungkap Dimas sambil tersenyum sinis.


Semua masih antusias mendengar penuturan Dimas. Rasa penasaran semakin menguat. Siapa kira-kira dalang dari segala kekacauan ini?


***

__ADS_1


__ADS_2