Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
283. Investigasi Pagi


__ADS_3

Para penghuni rumah isolasi sudah berkumpul di ruang depan, menunggu para polisi yang akan bertanya seputar kejadian mengejutkan kemarin. Sayangnya, saat itu Dimas tak ikut karena ia harus kembali ke kota karena ia akan mengecek kondisi Niken yang masih terbaring sakit. Selain itu ia juga akan memastikan kondisi Widya, Rani dan Faishal di rumah sakit. Reno dan Ammar akan mengadakan investigasi seputar Widya pagi ini.


Para penghuni sudah menempati kursi-kursi yang disediakan, menunggu dengan paras cemas, tetapi ada juga ang terlihat santai. Reno dan Ammar memasuki beranda depan, dengan sejumlah catatan dan setumpuk berkas. Mereka akan mencatat hal-hal yang perlu direkam, dan mencocokkan hal-hal yang saling berkaitan. Kedua polisi itu duduk berhadapan dengan para penghuni, sambil memasang paras serius.


"Kami akan meminta konfirmasi mengenai keberadaan kalian selama dua jam sebelum kejadian Widya bunuh diri, atau tepatnya setelah makan siang. Seperti yang telah kita ketahui bersama, kemarin sore Widya kami temukan hampir tewas karena bunuh diri. Namun, mungkin juga itu bukan bunuh diri. Ada seseorang yang mengkondisikan seperti bunuh diri. Untuk itu, informasi sekecil apapun penting bagi kami."


Reno membuka pembicaraan dengan nada serius. Semua penghuni mendengarkan dengan saksama. Paras mereka sedikit tegang. Sementara Ammar menatap gerak-gerik tubuh mereka, menilai bahasa tubuh yang tidak sadar mereka lakukan. Ia sangat yakin, gerakan-gerakan itu tak dapat berdusta, bahkan dapat mencerminkan kejujuran seseorang.


"Mungkin dimulai dari kamu, Riky!" tunjuk Reno.


Riky terhenyak mendengar namanya disebut pertama kali. Ia sama sekali tak menduga. Ia memperbaiki cara duduknya, kemudian menarik napas.


"Aku ... aku beristirahat di kamar sambil membaca buku. Setelah itu aku mandi dan turun ke bawah untuk persiapan jalan sore. tak ada yang spesial. Semuanya berjalan normal," jawab Riky takut-takut.


"Membaca buku? Aku tak tahu kalau kamu suka membaca?" tanya Reno.


"Aku membawa beberapa buku tentang motivasi dan pengembangan diri. Bagaimana cara meningkatkan rasa percaya diri di depan orang lain," ucap Riky.


"Kau ada masalah dengan rasa percaya diri?" cecar Reno.


Riky gelagapan, ia merasa gugup apabila diberondong pertanyaan seperti itu. Ia hanya bisa terdiam tak menjawab. Reno tak lagi melanjutkan pertanyaan itu, seraya beralih ke pertanyaan lain.


"Bagaimana hubunganmu dengan Widya? Apakah cukup dekat?"


"Ya, kami cukup dekat. Kami sahabat baik. Widya sering membantuku menyelesaikan pekerjaan, dan ia juga sering bercerita kepadaku tentang hal-hal pribadi," ucap Riky.


"Apa kamu tahu kalau Widya menyukaimu?"


"Ti-tidak. Kurasa Widya tidak menyukaiku. Kami memang akrab, tapi kurasa hanya sebatas teman," ucap Riky.

__ADS_1


"Kamu salah, Riky! Dia menyukaimu. Kami menemukan buku harian milik Widya di kamarnya, dan hampir setiap hari ia menuliskan perasaannya kepadamu. Aku tak tahu kamu yang tak peka atau sengaja mengabaikannya. Yang jelas, Widya menyukaimu," tutur Reno.


"Oh .... "


Riky tak berkata apa-apa lagi, tetapi raut mukanya seolah tak senang apabila membahas masalah itu. Ia hanya bisa terdiam, tak memberi pernyataan apa pun. Reno kemudian mengalihkan pandangannya terhadap Guntur.


"Bagaimana dengan kamu, Guntur?" tanya Reno.


"Aku saat itu juga berada di kamar. Tak ada saksi, tetapi aku sedang mengetik di laptop. Aku sengaja membawanya karena ada naskah film yang harus kuselesaikan. Baru saat menjelang sore aku turun untuk persiapan jalan. Kulihat di bawah masih sepi, aku datang pertama kali. Baru kemudian kulihat yang lain bergabung, dan Riky paling terakhir bergabung," ucap Guntur.


"Tak ada yang mencurigakan? Atau mungkin Widya bercerita mengenai sesuatu padamu?"


"Aku juga cukup dekat dengan Widya. Sebelum dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dia pernah bercerita tentang rasa sukanya kepada Riky, dan masalah keuangan yang mencekiknya. Namun, aku tak pernah mengira kalau hal itu memicu dirinya untuk berbuat nekat," ucap Guntur dengan paras sedih.


"Apa kau menyukai Widya?"


"Apa yang diketahuinya darimu?" selidik Reno.


"Oh, tidak ada! Ya, hanya rahasia-rahasia kecil yang tak penting. Kurasa itu adalah hal biasa dalam persahabatan. Kami biasa minum kopi bertiga dan bercerita mengenai hidup masing-masing. Kurasa itu adalah hal yang sangat normal," ucap Guntur tergagap, sambil berusaha tersenyum.


Reno manggut-manggut, sementara Ammar menatap tajam ke arah mata Guntur, seolah mengorek kebenaran di baliknya. Ammar merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik mata itu. Guntur tak berani untuk balas menatap Ammar. Ia mulai gelisah, mencoba menunduk.


"Persahabatan kalian cukup unik. Sangat menarik ketika seorang wanita bersahabat dengan dua orang pria yang misterius seperti kalian. Widya, seorang wanita yang tertutup, dan mungkin hanya dengan kalian saja ia cukup terbuka. Entahlah. Nanti semua ini akan terjawab di akhir," kata Reno.


"Ta-tapi kurasa rasa suka Widya kepada Riky, hampir semua orang tahu, karena sering menjadi gosip di kalangan artis. Hanya saja Riky kurang peka, atau pura-pura tak tahu. Kurasa semua yang hadir di sini juga tahu kalau Widya menyukai Riky," lanjut Guntur sambil mengarahkan pandangan ke arah semua yang hadir di tempat itu.


Reno hanya manggut-manggut, kemudian menuliskan sesuatu di catatannya.


"Sekarang aku beralih pada Laura Carmellita, artis yang sedang naik daun belakangan. Banyak penggemar memujamu di luar sana. Tentu itu adalah prestasi yang luar biasa dalam karirmu. Kulihat hubunganmu dengan Widya cukup dekat. Apakah itu benar?" tanya Reno sambil beralih menatap Laura Carmellita.

__ADS_1


Wanita cantik itu tersenyum, berusaha bersikap semanis mungkin di depan mereka. Pamornya sebagai seorang artis dengan reputasi baik harus dipertahankan.


"Sebenarnya aku dan Widya jarang bertemu karena kesibukan, tetapi terakhir aku bertemu dia kemarin, kami masih mengobrol dengan sangat baik. Ya, aku akui bahwa aku sempat mengunjungi dia di kamarnya. Aku melihat hal tak biasa, dia sedikit cemas dan takut. Namun, aku sama sekali nggak mikir kalau dia bakalan nekat akan mengakhiri hidupnya. Ini membuatku sangat prihatin. Kami memang kadang mengobrol, tetapi menurutku Widya sedikit tertutup kepadaku. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan," papar Laura.


"Kalian hanya mengobrol saat di kamar Widya?" tanya Reno.


"Ya, kami hanya mengobrol dan aku mengajaknya untuk ikut jalan-jalan, walau ia sedikit enggan. Aku berpikir dia sedang sakit, karena memang aku melihat ia tak ceria seperti biasanya. Pada akhirnya dia turun bersamaku, sebelum mendengar teriakan Bu Mar dari arah dapur," terang Widya.


"Setelah itu? Apa kamu berjumpa dengan Widya lagi?"


"Tidak, Pak! Itu adalah perjumpaan terakhirku dengan Widya. Setelah makan siang, aku berada di dapur untuk membantu mencuci piring kotor, karena Bu Mariyati masih sakit kepala akibat pukulan wajan. Jadi aku berinisiatif untuk mencuci piring di dapur, sampai menjelang sore, kemudian aku bersiap naik ke kamar untuk persiapan jalan sore," tutur Widya.


"Ada yang tahu kalau kamu mencuci piring di dapur, Laura?" tanya Reno lagi.


"Tentu tidak, karena rumah dalam keadaan sepi. Tapi kalau saja piring-piring itu bisa berbicara, tentu dia akan membenarkan ceritaku. Anda bisa lihat piring-piring itu dalam keadaan bersih, padahal Bu Mar sedang sakit kepala. Bisa ditanyakan nanti pada Bu Mar," lanjut Laura.


"Oke, Laura. Kami akan mengeceknya nanti," kata Reno.


Laura menarik napas lega, seraya tersenyum. Dari sudut matanya ia dapat melihat Rianti yang terlihat kesal. Mungkin wanita itu ingin sesuatu yang buruk terhadap dirinya. Laura tak mempedulikan itu. Dalam hati, ia merasa puas karena dapat menjawab semua pertanyaan dari Reno dengan cukup baik. Ia berusaha mendongakkan kepala dengan sedikit angkuh, sambil tersenyum penuh kemenangan.


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2