Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
254. Rangkaian Bunga


__ADS_3

Reno dan Dimas tak mau menunggu besok hari untuk mengungkap siapa sebenarnya siapa yang diincar si pembunuh, karena waktu yang mereka punyai sangat terbatas. Malam itu juga, mereka segera menghubungi Gilda Anwar untuk menanyakan terkait identitas wanita yang sedang bersama Faishal Hadibrata. Saat itu Gilda sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, sehingga ia menolak bertemu dengan Reno dan Dimas.


"Maaf ya, bagaimana kalau besok pagi saja, aku hari lelah banget karena kerjaanku numpuk. Beso pagi aku janji segera menemui kalian di kantor. Maaf ya!" tolak Gilda.


Dimas tak mau memaksakan diri, karena ia paham bahwa kondisi fisik yang lelah membuat seseorang akan berpikir tidak jernih. Ia pun sering mengalami hal yang sama. Untuk menyelidiki kasus, diperlukan stamina yang prima, dan tentu saja pikiran yang jernih. Ia segera menginformasikan kepada Reno bahwa Gilda tidak bisa ditemui malam ini.


"Hmm, sepertinya kita harus menunda sampai esok hari," gumam Dimas sedikit kecewa.


"Baiklah, sepertinya kita memang harus segera istirahat malam ini. Mungkin Gilda enggan memberikan informasi pada kita karena kita sering menolak wawancara dengannya. Dia membutuhkan sedikit rayuan darimu, baru dia mau  buka suara," kata Reno.


Dimas tersenyum sinis mendengar ucapan Reno sambil menggeleng. Dia tidak suka karena masih dikaitkan dengan hubungan masa lalunya bersama Gilda Anwar.


"Lebih baik kita berpikir positif. Kondisinya memang lelah karena banyak pekerjaan, dan kita nggak bisa paksa dia. Kurasa sebagai seorang jurnalis, Gilda mengerti bahwa kita nggak bisa sembarangan mengumbar fakta-fakta seputar pembunuhan," terang Dimas.


"Oke, kita berusaha mengerti itu. Aku nggak perlu nunggu informasi dari Gilda. Informasi tidak hanya dari Gilda, tetapi aku akn cari informasi dari sumber lain. Aku cari di internet, siapa gadis yang bersama Faishal itu. Mungkin dia adalah pacar terakhirnya. Kita nggak bisa ngandalin Gilda untuk ini," ucap Reno.


"Baiklah,aku harap media akan memberikan informasi yang akurat," kata Dimas kemudian.


Mereka memutuskan keluar dari cafe karena jarum jam sudah merapat melebihi angka 12 malam. Pihak Cafe sendiri sudah menginformasikan kepada para pelanggan untuk bisa meninggalkan tempat, mengingat mereka harus menutup cafe.


"Kamu istirahat saja, Dim. Biar aku yang mengurus ini. Aku akan mencari info mengenai ini," ucap Reno ketika mereka berdua berada di dalam mobil.


"Kamu yakin bisa mengatasi ini sendiri malam ini?" tanya Dimas.


"Aku sudah biasa begitu, walau sebenarnya banyak masalah bertumpuk. Sore ini masalah baru muncul, dan itu membuatku sangat kesal!" kata Reno.


"Masalah apa lagi?" tanya Dimas.


"Masalah yang berkaitan dengan Ollan. Lama-lama aku jengkel dengan dia, dan aku malas mengurusi dia," keluh Reno.

__ADS_1


"Ollan? Bukankah dia sedang berada di Kampung Hitam? Kurasa dia akan aman saja di sana," ucap Dimas.


"Ya, Dimas. Kalau dia tetap berada di Kampung Hitam, sudah pasti dia akan aman. Masalahnya, Ollan ini kabur dengan cara mengecoh Raymond. Dia kabur saat Raymond membelikan obat untuknya yang pura-pura sakit. Apakah ini bukan hal yang sangat keterlaluan? Aku sudah berusaha melindungi dia dari kejaran si pembunuh, ternyaya dia sendiri yang berbuat ceroboh. Kalau terjadi apa-apa sama dia, aku sudah lepas tangan!" geram Reno.


"Hmm. jadi kita biarkan Ollan begitu saja?"


"Semoga saja si pembunuh nggak tahu Ollan berada di mana sekarang. Aku pun juga nggak tahu dia ada di mana. Sebaiknya kita fokus di teka-teki kelima ini, jangan sampai kita kecolongan lagi. Kita harus melacak kepergian Faishal dan kekasihnya itu pergi," ucap Reno.


"Baik! Mari kita segera bergerak!"


***


Sebuah mobil taksi online melaju agak lambat menuju arah luar kota. Penumpangnya sesosok misterius mengenakan sebuah topi lebar, terdiam tanpa suara. Pengemudi taksi itu juga heran, mengapa penumpang ini hanya diam dan tak berbicara sepatah kata pun. Ia melihat dari spion atas mobil, penumpang itu hanya menundukkan pandangan tanpa suara. Diam-diam ia merasa takut, kalau-kalau penumpang ini bukanlah manusia.


Si penumpang taksi itu mengeluarkan sebuah catatan berisi daftar nama. Ia mencoret nama-nama yang ada di dalam catatan itu. yang perama ia coret adalan nama 'Zeus si Dewa Matahari'. Kemudian ie menyunggingkan senyum misterius. Kemudian ia tersenyum, kembali sebuah nama is coret lagi, yakni 'Snow White'.Ia masih tersenyum. Lalu, ia kembali mencoret sebuah nama 'Quenn of The Darkness'.


"Hermaphrodhite? Tunggu giliranmu!" gumamnya.


"Ke-kembaliannya?" ucap pengemudi taksi itu takut-takut.


Penumpang taksi itu hanya menggeleng, kemudian turun dari mobil. Pengemudi taksi tak ingin bertanya-tanya lagi. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat itu. Villa yang berdiri di perbukitan itu kelihatan gelap dan menyeramkan. Si pengemudi taksi bergegas pergi, enggan membuat masalah. Ia berharap uang yang diterimanya dari si penumpang misterius tadi tidak berubah menjadi daun.


Penumpang taksi itu melangkah perlahan menuju villa kuning pucat itu sambil tersenyum. Di otaknya seperti terbersit sebuah rencana yang sudah dirancang sebelumnya. Ia kembali melihat catatan yang tadi dibawanya.


"Romeo dan Juliet!" gumamnya.


***


Satu jam setelah penumpang taksi misterius itu tiba di villa kuning pucat, sebuah mobil lain juga tiba di tempat itu. Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara turun dari dalam mobil, langsung masuk menuju villa, tanpa sadar sepasang mata mengawasi dari balik pohon besar di samping villa.

__ADS_1


Setelah sampai di villa yang berwarna kuning pucat, Faishal dan Melani mendapati villa dalam keadaan gelap sehingga mereka harus menyalakan diesel agar lampu-lampu villa dapat menyala. Faishal sudah beberapa kali berkunjung ke villa itu, sehingga sudah hafal letak ruangan yang ada di dalamnya. Sedangkan Melani baru kali pertama berkunjung ke villa ini. Bak seorang pemandu ruangan, Faishal mengenalkan ruangan-ruangan pada Melani.


Setelah berkeliling villa dan sekitarnya, mereka duduk di ruang tengah sambil membongkar perbekalan yang mereka bawa. Melani langsung meletakkan pakaian ke lemari dalam kamar, dan perbekalan makanan di rak dapur. Sedangkan Faishal duduk bersantai sambil memilih-milih majalah yang ada di bawah meja.


"Kamu suka kan tempat ini?" tanya Faishal.


"Lumayan. desain villa ini cukup menarik, dan sepertinya memang jarang ditempati. Aku melihat debu di mana-mana dan itu membuatku bersin-bersin. Besok pagi aku akan menyapunya agar terlihat lebih bersih. Suasananya sunyi banget, sehingga cocok untuk menenangkan diri," kata Malani yang sedang duduk di karpet sambil melipat beberapa baju.


"Kita akan tinggal paling nggak dua hari lah. Kita nggak bisa lama-lama juga karena aku ada kerjaan juga. Paling tidak di tempat ini kita bisa menenangka pikiran dan terbebas dari rutinitas harian yang padat. Makany aku sengaja matikan ponsel agar tak ada yang gangguin," kata Faishal.


"Aku juga nggak ada kerjaan, jadi aku ikut saja. Kamu mau teh nggak? aku akan buat teh di dapur. sekaligus mengecek apakah kompornya berfungsi atau nggak. Aku khawatir kalau gas buat memasaknya habis, jadi kita harus pikirkan itu sedari sekarang," kata Melani.


"Iya, buatkan aku teh dengan gula sedikit ya. Aku akan baca beberapa majalah. Sepertinya cukup menarik. Oya,  aku tadi lupa nggak  beli cemilan. Jam segini nggak ada supermarket buka ya. Ada sih, tapi agak jauh ke kota," kata Faishal.


"Besok saja belinya sekalian beli beberapa perlengkapan yang kurang. Aku akan buatkan teh dulu," ucap Melani sembari melangkah menuju dapur.


Melani menyalakan kompor, dan ternyata kompor itu menyala. Ia tersenyum lega karena sepertinya kompor berfungsi dengan normal. Ia mengambil sebotol air mineral dari lemari, kemudian menuangkannya ke dalam panci. Kemudian ia menyiapkan dua cangkir teh, sambil menunggu air mendidih. Dari dapur, ia bisa melihat pemandangan sekitar villa, tetapi sayangnya kegelapan malam menyelimuti sekitar.


Ia melihat-lihat perabotan apa saja yang ada di dapur. Semuanya terlihat lengkap. Ada bebepara set alat makan, alat memasak, celemek, bahkan ada sebotol minyak goreng. Semua tersusun rapi di rak dapur. Ia melihat pula ada sebuah kulkas ukuran kecil, tetapi tak ada apa pun di dalamnya.


Mata Melani tertumbuk pada sebuah rangkaian bunga yang tersusun sangat menarik di meja dapur. Sepertinya rangkaian bunga itu masih segar, seolah ucapan selamat datang bagi para penghuni di villa. Melani tertarik untuk mengambil rangkaian bunga dalam vas plastik tersebut, kemudian mengambilnya. Ia mendapati sebuah kartu ucapan cantik dalam rangkaian  bunga itu bertuliskan ;


Selamat Datang Romeo & Juliet.


***


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2