
Niken merasa canggung duduk di depan Reno yang menatap dirinya dengan serius. Polisi itu sedang menunggu hasil analisis Niken di sebuah cafe. Wanita muda itu tampak serius, kemudian menyodorkan sebuah nama kepada Reno dengan paras ragu-ragu. Reno menerima kertas itu, kemudian memicingkan mata. Ia kembali menatap Niken dengan penuh tanya.
"Jadi menurutmu nama ini yang akan jadi korban selanjutnya?" tanya Reno.
Niken mengangguk. Reno tersenyum kecil kemudian menyodorkan kembali kertas itu kepada Niken, sembari menggeleng. Mental Niken benar-benar diuji. Untuk sesaat, ia merasa sangat diremehkan.
"Bisa kamu jelaskan padaku mengapa kamu memlilih nama ini?" tanya Reno.
"Tentu. Pertama, aku memilih nama ini karena yang sedang diintai oleh si pembunuh mungkin seorang perempuan. Karena dalam kertas teka-teki itu tertulis nama ratu atau dewi kegelapan. Aku menganalisis semua nama perempuan yang terlibat dalam kasus ini, dengan mengecualikan nama Anita karena dia memang sudah terbunuh. Ada 4 nama tersisa, kurasa nama itu yang paling mendekati dari teka-teki dari pembunuh," terang Niken.
"Ya, lalu bukti apa yang menguatkan?"
"Ratu kegelapan identik dengan kejahatan atau sesuatu yang kelam. Aku mencoba menemukan karakter jahat dalam nama-nama itu, tetapi kurasa aku tak menemukan seseorang yang benar-benar jahat. Jadi kupikir, bisa jadi ratu kegelapan bisa berarti tokoh antagonis dalam sebuah cerita ... atau kalau tidak, ini pasti ada hubungannya dengan sesuatu yang kelam, seperti film horror misalnya. Maka aku pun memilih nama Renita Martin!" papar Niken.
"Analisis yang masuk akal. Mungkin Renita Martin adalah korban yang selanjutnya, tapi belum bisa dipastikan juga. Kadang itu hanya sebuah jebakan. Teka-teki ketiga kemarin si pembunuh memilih nama Hermaphrodite, dan setelah dianalisis memang benar kalau sasarannya adalah Ollan. Untunglah aku dan Dimas cepat bertindak, sehingga pembunuh gagal mengeksekusi Ollan. Walaupun begitu posisi Ollan, belum sepenuhnya aman. Kini, si pembunuh memilih ratu kegelapan untuk korban selanjutnya. Bisa jadi tebakanmu benar. Oke, selanjutnya mari kita cari tahu bagaimana cara ia akan membunuh korbannya? Apakah kamu ada gambaran dari isi teka-teki itu?" tanya Reno.
Niken mengamati kembali kertas yang berisi teka-teki itu, kemudian ia tampak berpikir. Ia mengembalikan kertas itu kepada Reno sambil menggeleng. Ia tidak punya gambaran apa-apa dari kertas teka-teki itu.
"Maafkan aku," gumam Niken.
"Ya, kamu memang harus meminta maaf karena kamu mengambil sesuatu dari rumahku tanpa izin. Itu adalah perbuatan kriminal. Tapi aku tidak marah, aku akan beri kamu kesempatan untuk mengungkap ini kalau itu maumu. Jadi, mohon maaf, aku tidak mau menerima ini. Silakan pecahkan teka-teki itu, karena kamu sudah menemukan sebuah nama yang menurutmu sedang diintai si pembunuh. Jadi, silakan bekerja, Niken. Bukankah itu yang kamu inginkan?" ucap Reno sambil menyodorkan kembali kertas teka-teki itu.
"Bukan ... bukan itu maksudku. Aku hanya .... "
"Jadi apa? Bukankah kamu kecewa karena hanya mendapat peran kecil dari kasus ini? Sekarang aku akan memberikan kesempatan penuh padamu. Kamu bleh lakukan apa saja yang kamu mau. Kasus ini sekarang dalam kendalimu. Silakan kamu tangani kasus ini!"
"Tapi ... aku tetap membutuhkan bantuanmu dan Dimas. Aku nggak bisa menangani ini sendirian," ujar Niken.
"Ya, kami akan membantumu. Kami siap membantumu karena ini berkaitan dengan nyawa seseorang. Katakan padaku! Bantuan apa yang kamu butuhkan?"
Didesak seperti itu Niken terlihat bingung, karena sejujurnya ia memang tak punya gambaran apa-apa dengan kasus ini. Ia hanya tahu sekilas saja. Kekecewaan dan hasrat ingin menunjukkan kemampuan pada polisi lain, membuat dia berambisi ingin mengambil peran penting dalam kasus ini. Niken terdiam beberapa saat, bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Hubungi saja aku kalau kamu butuh bantuan! Selamat malam!"
Reno tersenyum, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah pergi meninggalkan Niken yang makin kebingungan. Bahkan, kini ia merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan, padahal waktu makin sempit. Kalau ia terlambat bertindak, maka korban baru akan jatuh lagi.
***
Kedatangan Dimas dan Ollan di Kampung Hitam disambut sangat baik oleh dedengkot kampung, yakni Raymond dan anggotanya. Semenjak kasus Ferdy, hubungan Raymond dan kepolisian cukup baik. Pihak kepolisian menganggap Raymond Brothers cukup berjasa karena berhasil menyelamatkan Nayya dari ancaman pembunuhan.
Kini ketika sebuah kasus baru muncul kembali, Dimas mendatangi Raymond untuk kembali meminta bantuan kepadanya. Sebagai imbal balik, pihak kepolisian tidak akan menyentuh kasus-kasus kejahatan di masa lampau yang melibatkan Raymond Brothers. Jadi hubungan antara mereka lebih mirip simbiosis mutualisme.
Pria berwajah garang itu menatap Ollan dengan tatapan tajam, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kalau biasanya yang ia tangani adalah perempuan cantik, tetapi mengapa kali ini adalah seorang pria gemulai? Raymond tersenyum kecil melihat Ollan. Sementara Ollan sendiri merasa kurang nyaman. Sebenarnya ia ingin menolak untuk tinggal di sini, tetapi untuk kebaikannya sendiri, terpaksa ia mematuhi apa yang Dimas rencanakan untuknya.
"Dia akan aman di sini. Pak Dimas nggak usah khawatir! Kami akan jaga dia dengan baik!"
"Terima kasih, Ray. Aku nggak ragukan lagi reputasi Raymond Brothers. Aku yakin dia akan aman di sini. Kurasa kalian harus sedikit bersabar sama dia. Maklum, dia belum terbiasa di sini. Aku sudah berpesan padanya untuk membiasakan diri dengan kehidupan keras," kata Dimas.
"Hmm, bukan masalah. Kalau perlu, dia akan kulatih di sini bagaimana menjadi pria sejati hahaha!"
Ucapan Raymond itu disambut tawa Dimas. Sedangkan Ollan tampak jengkel, karena dia dianggap bukan pria sejati. Parasnya berubah manyun. Ia agak khawatir tinggal bersama pria asing berwajah garang ini. Apalagi, Ollan sering mendengar reputasi Raymond Brothers yang kurang baik, sehingga itu menambah rasa khawatirnya.
"Hmm, kurasa Badi jadi lebih santun sekarang. Ia menjadi pribadi baru yang bahkan tak aku kenal. Dan sekarang, dia sedang keluar bersama Nayya," terang Raymond.
"Nayya? Wah jadi mereka .... " Dimas menghentikan kalimatnya.
Setahu Dimas, Nayya ini adalah kekasih Rudi. Lalu mengapa gadis itu keluar bersama Badi? Namun Dimas tak mau berpikir lebih jauh, karena itu sama sekali bukan urusannya.
"Kurasa begitu!" jawab Raymond sambil mengangguk-angguk.
Dimas ikut manggut-manggut. Setelah berbasa-basi sejenak, dan memastikan kondisi Ollan baik-baik saja, Dimas berpamitan meninggalkan Kampung Hitam. ia sedikit lebih tenang, karena walau kampung ini mendapat reputasi kurang baik dari masyarakat kota, Dimas percaya bahwa kampung ini jauh lebih aman daripada kampung lain. Ia percaya Raymond akan mengatasi masalah dengan tepat apabila sesuatu terjadi pada Ollan.
Ollan mendapat jatah kamar yang dulu pernah ditempati Nayya. Tentu saja, bukan kamar berkelas seperti di apartemen atau tempat kos yang terdahulu. Sebuah ranjang tua dan lemari kecil disediakan untuk menyimpan baju. Di dalam kamar itu, tercium sedikit bau kurang sedap karena memang tak terawat. Ollan mendadak merasa mual, berasa ingin muntah.
__ADS_1
"Kau kenapa? Hamil?" tanya Raymond sambil menatap tajam ke arah Ollan.
"Eh, nggak Bang. Mungkin masuk angin." Ollan beralasan.
Dalam waktu tak terlalu lama, segelas teh panas langsung tersedia untuk Ollan. Anak buah Raymond mendapat perintah untuk segera membuatkan teh panas. Ollan merasa tidak enak, karena takut merepotkan. Bahkan Ollan tak menyangka akan mendapat layanan seperti itu.
"Sudah makan?" tanya Raymond.
Ollan hanya mengangguk. Ia merasa tak lapar malam ini, karena memang tadi sudah makan banyak bersama teman-teman gaulnya. Dimas sudah mewanti-wanti untuk sementara ia dilarang menghubungi siapa pun kecuali Reno atau Dimas. Bahkan, ia juga dilarang menghubungi Niken. Kalau perlu apa-apa, ia disarankan menyampaikan pada Raymond. Tentu, ini akan menjadi semacam mimpi buruk untuknya, tetapi ia akan berusaha untuk menerima keadaan ini.
***
Di atas sebuah jembatan yang sepi, seorang wanita muda tampak gelisah menunggu seseorang. Berkali-kali ia mondar-mandir sambil bersedekap. Padahal, malam makin larut. Suasana sekitar tampak sepi, bahkan tak ada kendaraan melintasi jembatan. Sesekali dilihatnya ke bawah jembatan yang dialiri sungai. Alirannya tampak gelap, nyaris tak terlihat apa-apa.
Sebuah mobil tiba-tiba datang, kemudian berhenti di sisi jalan dekat jembatan. Seorang pria tinggi dan gagah turun dari mobil, mendekati wanita muda itu. Si wanita muda tersenyum lega melihat kedatangan pria itu.
"Untunglah kamu segera datang, Faishal! Aku takut berada di sini sendirian," ucap wanita muda itu.
"Sebenarnya aku sibuk hari ini, Mel! Tapi kusempatkan untuk menemuimu karena ada hal penting yang harus kusampaikan padamu," ucap pria yang tak lain adalah Faishal Hadibrata.
"Jadi ... apakah ini artinya kita akan menjalin hubungan kembali? Apakah kau mau menikahiku?" tanya wanita muda yang bernama Melani itu penuh harap.
"Mungkin, Mel. Mungkin, tapi ada sesuatu yang harus kamu lakukan sebelumnya," ucap Faishal.
"Apa ini semacam tugas?" tanya Melani.
"Ya, ini semacam tugas untukmu. Aku ingin mendekati pria ini, dan mengambil sesuatu yang ia ambil dariku. Aku sudah kehilangan cara, jadi mungkin dia akan lebih tertarik kalau seorang wanita yang bicara dengannya. Aku tak bisa bersikap lembut, karena aku pasti marah bila berhadapan dengannya . Aku nggak mau tahu gimana caranya, yang jelas aku mau dia kembalikan punyaku!" ucap Faishal sambil menyerahkan sebuah foto kepada Melani.
"Ini kan ....?" Melani menerima foto dari Faishal. Ia amati sejenak foto itu, seraya terkejut.
"Ya, tentu kamu kenal dia karena dia adalah teman SMA mu kan? Ini akan lebih memudahkanmu Mel. Artinya, kamu tidak perlu melakukan pendekatan yang gimana-gimana padanya. Aku butuh bantuanmu, setelah itu kita akan bicarakan tentang hubungan kita. Bagaimana?"
__ADS_1
Melani terdiam, namun karena ia dalam posisi yang lemah, ia hanya bisa mengangguk perlahan. Faishal tersenyum gembira karena rencananya berhasil. Ia mengelus rambut Melani seraya bergumam,"Gadis pintar!"
***