
Sebuah mobil SUV warna putih keluaran tahun 90-an melaju agak tersendat menyusuri jalan berliku di punggung bukit yang diselimuti perkebunan teh. Suara dentuman musik terdengar dari dalam mobil, berpadu dengan suara nyanyian fals para penumpangnya. Di dalamnya, terdapat lima remaja belasan tahun tertawa-tawa riang, dengan menenggak cairan memabukkan. Dilihat dari penampilan, jelas mereka adalah para remaja dari kalangan berada, hanya saja tak terlalu terurus sehingga memilih menghabiskan waktu dengan berhura-hura.
Antony, pemuda belasan tahun yang menjadi pengemudi, berambut ikal dengan cat coklat tak teratur, memakai kaca hitam bermerek, bernyanyi mengikuti alunan musik yang berdentum keras. Sementara di sebelahnya, Sonya, seorang gadis belasan tahun dengan rambut dicat pirang, memakai tank top berbahan jeans, asyik menghisap rokok dengan tanpa rasa bersalah. Baginya, masa muda adalah masa terbaik untuk bersenang-senang, tanpa ada aturan.
Di bangku tengah, duduk di sebelah kiri, sahabat dari Antony bernama Ringo, pemuda kurus dengan style sedikit urakan. Rambutnya lurus, sedikit panjang dan tak teratur. Ia memakai pakaian junkies berwarna cerah, lengkap dengan kacamata hitam.
Sedangkan yang duduk di tengah adalah Ben, seorang pemuda rumahan dengan kemeja kotak-kotak, tampak cemas dengan ulah kebrutalan teman-temannya. Paling kanan, Melly, gadis seksi dengan dada besar, terlihat sangat percaya diri memakai kaos ketat dan rok lebar di atas lutut.
Mereka saling berlomba adu suara tak merdu, ketika tape mobil memutar musik ber-genre house music, sambil menggoyang-goyangkan kepala seirama alunan musik. Aroma alkohol dan asap rokok menyesakkan dada. Mereka membuka kaca mobil lebar-lebar, membiarkan udara sejuk perkebunan teh memasuki mobil. Hanya Ben yang terlihat gelisah. Ia tidak biasa terjebak dalam pesta liar seperti ini.
“Jadi tempat berkemah mana yang kamu janjikan? Awas kalau tempatnya nggak keren!” ucap Melly.
“Tenang Mel! Dijamin tempat ini belum pernah dijamah manusia. Sebuah tempat sejuk, alam terbuka yang dikelilingi kebun teh yang romantis. Saking romantisnya, kita bisa bercinta di mana pun kamu mau!” seringai Antony.
“Tutup mulutmu, pedofil! Kau pikir aku ini boneka **** yang bisa kamu mainkan seenak jidatmu? Jangan pernah sentuh diriku yang masih suci ini, atau terpaksa kupotong barangmu!” lontar Melly.
“Wow perawan? Aku tak percaya kau masih perawan Melly! Bukankah kamu pernah cerita ke aku kalau kamu sudah pernah ditiduri oleh Rexy,” cibir Sonya.
“Oya? Wah, gosip panas nih! Seorang Melly ditiduri oleh Rexy? Hahaha. Tak kusangka dirimu sejalang itu, Melly! Jangan munafik mengaku perawan di hadapanku!” tambah Antony.
Melly mendengkus kesal. Ditatapnya arah luar jendela yang menghijau. Sejauh mata memandang, hanya terlihat kebun teh, nyaris tak ada kehidupan.
“Ngomong-ngomong, tujuan kita masih jauh?” tanya Ringo.
“Setengah jam lagi kita akan sampai. Di tengah kebun teh konon ada sebuah pondok kayu kosong. Kita bisa gunakan untuk berteduh apabila hujan turun. Selebihnya kita akan bersenang-senang dalam tenda,” jawab Antony.
“Gila parah kamu ya, Ton! Kok bisa nemu tempat seterpencil ini. Tapi asli keren. Di tempat itu aku harap tidak seorang pun yang bisa menemukan kita. Aku udah muak dengan kehidupan nyata!” keluh Ringo.
__ADS_1
“Tenang! Dijamin kalian bakalan rileks di sana. Bahkan kalau kita mau menyusuri tebing di bawah, akan ada air terjun mini di sana. Letaknya begitu tersembunyi dan belum terjamah manusia. Bahkan saking sepinya kalian bisa mandi di sana sambil telanjang, tanpa khawatir seseorang bakalan ngintip!” ucap Antony.
“Wah, sayangnya tubuhku tidak akan kuobral semurah itu,” seringai Sonya.
Ben, si pemuda pendiam hanya bisa diam, tak tahu harus bicara apa. Ia biarkan saja teman-teman satu kelasnya di SMA ini berbual mengenai hal-hal yang tidak penting. Entah mengapa ia bisa terjebak dalam rombongan ini. Sonya, gadis berambut pirang itu memang sudah lama mengincarnya. Entah mengapa pula ia langsung mengiyakan ketika ia mengajak berpetualang.
“Kamu nggak bakalan dicari mamamu kan, Ben?” ledek Antony.
“Eh, nggak kok!” jawab Ben pendek.
Melly yang duduk di sebelahnya, menawarkan segelas minuman beralkohol padanya. Sontak ia menggelengkan kepala, menolak tawaran Melly.
“Maaf, aku nggak minum alkohol,” tolak Ben.
“Lho, kenapa? Bukankah ini obat stres yang baik? Hidup ini tidak akan jadi lebih berwarna tanpa kehadiran alkohol. Ayolah, cicipi seteguk saja, dan rasakan kenikmatan dunia bersamamu!” rayu Melly.
Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Antony berjalan melambat. Antony tampak menyeringai seperti menahan sesuatu.
“Adakah toilet di sekitar sini?” tanya Antony.
“Apa kamu gila? Kita sedang berada puluhan kilometer terpisah dari peradaban dan kamu mencari toliet? Toilet terbaik di sini adalah semak-semak, dan gunakan daun sebagai pengganti tisu!” jawab Ringo.
“Baiklah apa boleh buat! Aku akan berhenti sebentar. Aku akan berhenti. Di depan ada jurang. Sepertinya aku harus menyelinap di sana!” ucap Antony.
Mobil berhenti, Antony segera bergegas keluar untuk menyelesaikan hajatnya. Ketika ia membuka resleting celana, pandangannya tertuju ke dasar jurang. Ia sangat terkejut melihat sebuah mobil teronggok di bawah sana dalam keadaan terbalik. Segera ia selesaikan hajat, dan kembali dalam keadaan panik.
“Kawan-kawan! Kalian nggak akan percaya dengan apa yang aku lihat!” ujar Antony bersemangat.
__ADS_1
“Emangnya kamu lihat apa? Setan?” tanya Melly.
“Setan? No way! Aku tidak percaya dengan setan atau apa pun itu. Yang kulihat adalah sesuatu yang nyata. Sebuah mobil ringsek di dasar jurang sana. Aku yakin masih ada penumpangnya, karena aku lihat mobil masih berasap. Pasti kejadiannya baru tadi malam,” tambah Antony.
“Terus kamu mau kita tolongin penumpang itu? Udahlah nggak usah cari masalah! Hidup kita sudah susah, jangan menambah masalah dengan hal-hal yang tidak kita ketahui! Lebih baik kita segera pergi ke lokasi perkemahan, ntar keburu siang!” Melly memberikan pendapat.
“Iya juga sih. Tapi aku merasa tidak enak melihat hal seperti itu. Kasihan orang di dalamnya. Bagaimana kalau ternyata masih hidup dan sangat mengharapkan pertolongan orang yang lewat? Aku memang bukan orang baik, tapi aku tetap manusia yang mempunyai nurani,” ucap Antony lagi.
“Terserahlah! Aku nggak mau ikut-ikut!” dengus Melly.
“Bagaimana teman-teman yang lain?” tanya Antony.
“Kita harus menolong penumpang di dalamnya!” Tiba-tiba Ben bersuara.
Sontak teman-temanya menoleh kepadanya. Sejenak mereka saling memandang.
“Aku nggak bisa ngomong apa-apa kalau Ben sudah berbicara,” sungging Melly.
“Kita harus dengerin Ben. Aku setuju. Kita harus menolong orang yang ada di dalam mobil!” tambah Sonya.
Ringo mencibir sambil berkata,”Kamu berkata begitu karena Ben kan? Huh! Lagakmu aku sudah hapal!”
“Kalau kalian mau membantu segera turun! Para gadis tidak usah turun karena jurang cukup curam. Biar aku, Ringo dan Ben yang melihat keadaan di bawah sana!” kata Antony.
“Oke! Ayo kita bergerak!” sambut Ringo.
***
__ADS_1