Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
252. Tempat Baru Ollan


__ADS_3

Setelah mendapat peringatan dari Reno. sepasang suami istri itu kembali ke rumah mereka yang megah. Akibat pemberitaan di media tentang perselingkuhan Henry dengan Laura, hubungan keduanya makin renggang. Sementara, kebencian Rianti pada Laura sudah tak terbendung, bahkan mereka tak lagi saling menyapa apabila bertemu di tempat publik.


Rianti langsung masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Seharian ia beraktivitas di luar rumah, sehingga ia ingin beristirahat sejenak, sebelum nanti malam ia keluar lagi bersama teman-teman sosialitanya. Namun, ia terkejut ketika melihat Ollan dengan santainya sedang merebahkan diri di sofa di depan televisi ruang keluarga. Ollan tidak menyadari kehadiran Rianti. Ia asyik mengganti-ganti saluran televisi menggunakan remote dengan santai.


"Ollan? Ngapain kamu di sini?" tegur Rianti.


"Oh, maaf Bu Rianti. Aku tidak tahu kalau Bu Rianti datang. Aku ... aku sementara numpang tinggal di sini ya Bu. Bang Henry sih yang nyuruh aku sementara untuk tinggal di sini. Katanya daripada aku di villa sendirian kan nggak aman, jadi aku dipersilakan tinggal di sini," terang Ollan sambil buru-buru bangkit. Parasnya tersipu malu.


"Oya? Memang apartemenmu sendiri kenapa, Lan? Kok Henry nggak bilang ke aku ya kalau kamu mau tinggal di sini sementara?" ucap Rianti sedikit sewot.


"Eh, maaf Bu ... aku ... aku bingung sebenernya. Bu Rianti kan tahu sendiri kalau selama ini aku diincar oleh si pembunuh. Jadi Bang Henry bilang, mungkin di sini lebih aman daripada di apartemenku sendirian. Gitu Bu. Mohon maaf kalau Bu Rianti terganggu dengan kehadiranku," kata Olan dengan nada sok polos.


"Kukasi tau kamu ya, Lan! Yang menjadi incaran pembunuhan itu bukan kamu doang. Aku juga. Bang Henry juga. Kamu pikir di sini aman, begitu? Kamu nggak tahu kalau Renita mati di rumahnya yang mempunyai alarm anti maling? Di sini pun, kalau pembunuhnya mau, kamu akan dihabisi juga. Aku saja berpikir untuk tidak tinggal di sini malam ini. Bukan aku keberatan loh, tapi aku mengingatkkan saja, bahwa kami semua mendapat ancaman yang sama denganmu," ucap Rianti.


"Loh, jadi Bang Henry juga mendapat ancaman pembunuhan juga?" tanya Ollan.


Parasnya yang kekanak-kanakan tampak terkejut. Ia tidak menyangka kalau Henry juga mendapat ancaman yang sama dengan dirinya.


"Kamu bisa tanya sendiri ke dia! Oke, silakan saja kalau mau tinggal di sini, tapi kamu layani dirimu sendiri ya. Masalah makan atau apa pun silakan layani dirimu sendiri, karena kamu bukan tamu dan aku sibuk di luar, jadi mungkin kamu akan jarang bertemu denganku. Pada dasarnya aku nggak ada masalah di sini, tapi aku juga nggak bisa jamin keselamatanmmu di sini, karena nyawaku sendiri juga terancam!" tandas Rianti.


"Oh iya Bu. Nggak masalah aku harus menyiapkan kebutuhanku sendiri. kalau perlu, kebutuhan Bu Rianti dan Bang Henry biar aku yang siapkan juga," ujar Ollan.


"Nggak usah, Lan! Aku bisa mengurus diriku sendiri!"


Rianti segera bergegas meninggalkan Olan menuju kamar utama. Di dalam kamar itu, Henry sudah terlebih dahulu masuk. Ia masih kepikiran dengan ucapan Reno mengenai ancaman pembunuhan yang mungkin ditujukan kepadanya. Henry merebahkan diri di ranjang sambil menatap kosong ke arah langit-langit. Ia sedang memikirkan suatu rencana.


"Hen ... kamu kok nggak bilang kalau Ollan mau tingal di sini?" ucap Rianti.


"Emang kenapa? Kamu keberatan? Kasian Ollan nggak ada keluarga. Awalnya tadi aku suruh dia nginap di villa, tetapi dia nolak karena masih trauma dengan kejadian kemarin. Aku nggak tega kalau dia tinggal di apartemen sendirian, jadi ya kupikir nggak ada masalah kalau dia tinggal bersama kita. Lagian, nggak selamanya juga kok dia bersama kita," kata Henry.


"Aku nggak keberatan dia tinggal bersama kita. Tapi aku masih teringat dengan kata-kata Pak Reno, kalau kita berdua mungkin sedang dalam incaran pembunuhan. Itu berarti rumah ini nggak sepeunuhnya aman. Mungkin aku akan jarang di rumah, Hen. Jadi kusuruh Ollan melayani dirinya sendiri," kata Rianti.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Henry.

__ADS_1


"Temanku banyak, dan banyak hotel pula di kota ini. Aku bisa di mana saja. Yang jelas, aku merasa rumah ini terasa nggak nyaman. Bukan karena ada Ollan, tetapi karena ancaman itu," lanjut Rianti.


"Oke, itu terserah kamu Rianti. Kamu boleh pergi kemana pun kamu suka. Tapi aku akan tetap tinggal di sini, karena ini adalah rumahku. Kalau pun aku mati di rumah ini, tak mengapa. Aku tak akan pergi ke mana-mana," ujar Henry.


"Baklah Hen. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan kita berdua atau pun dengan Ollan," ucap Rianti sambil menghela napas.


"Kau mau pergi lagi malam ini?"


"Ya. Aku ada undangan mendiskusikan rencana  acara doa bersama untuk Renita, kemungkinan acaranya di hotel, mungkin sekalian aja aku nggak pulang. Maaf."


Henry manggut-manggut. Dalam hati, ia malah lebih nyaman kalau Rianti tidak pulang, karena saat ini ia tengah tergila-gila kepada Laura Carmellita. Ia mulai lelah menghadapi Rianti. Jalan satu-satunya adalah membiarkan istrinya itu melakukan apa yang ia sukai.


***


Di sebuah gang sempit kawasan padat penduduk, terdapat sebuah rumah kos megah berlantai dua. Bangunan rumah kos itu bercat ungu cerah, karena memang diperuntukkan hanya khusus untuk wanita. Yang tinggal di sana berbagai kalangan, mulai dari kalangan pekerja wanita sampai dengan artis kelas teri yang baru saja merintis karier. Melani tinggal di lantai dua rumah kost itu, dengan kamar yang menghadap jalan raya.


Saat ini ia sedang duduk di atas kasurnya, sambil memeluk guling. Masih terpikirkan peristiwa di kamar hotel, saat Faishal mendorongnya hingga tersungkur. Perlakuan kasar Faishal masih menyisakan rasa sakit di hati. Sesungguhnya ia menyesal bertemu pria itu. Ya, dia memang mempunyai selera tinggi terhadap laki-laki. Berbekal kemolekan tubuh dan paras yang lumayan cantik, ia mendapatkan simpati dari para pria kaya dan terkenal, termasuk Faishal Hadibrata, sang aktor terkenal bermuka dua itu.


Di hadapan para fans-nya, Faishal terkenal ramah dan murah senyum, tetapi watak aslinya dia adalah pria angkuh dan kasar. Melani sadar akan hal itu. Namun, kini hubungannya semakin jauh bersama Faishal. Ia sudah sulit lepas dari ikatan perasaannya dengan Faishal. Sayang ketika ia mulai menyadari, semua sudah terlambat.


Ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Segera ia merapikan rambut sejenak, kemudian dia membuka pintu. Tampak seorang perempuan lain yang tinggal di seberang kamarnya, berdiri di depan pintu.


"Mel, ada yang nyariin tuh di bawah!" kata perempuan itu.


"Siapa Dil?"


"Biasa, siapa lagi kalau bukan .... " Perempuan bernama Dilla itu tersenyum penuh arti.


"Faishal?"


"Iya lah. Siapa lagi? Tuh banyak temen-temen pada ngerubutin dia di bawah. Minta foto lah, minta tanda tangan lah. Kamu beruntung banget ya bisa dapetin cowok ganteng dan terkenal macam dia. Udah sana temuin!"


Melani tersenyum kecut. Setelah merapikan diri sebentar, ia turun untuk menemu Faishal yang sedang menunggu di beranda depan. Ia sedang sibuk melayani permintaan berfoto bersama penghuni kos wanita itu. Aturan kos ini, pengunjung pria dilarang masuk, sehingga Faishal hanya bisa menunggu di luar. Sebenarnya, Faishal pernah menyuruh Melani untuk tinggal bersamanya di apartemen, tetapi Melani menolak.

__ADS_1


"Shal," sapa Melani,


Setelah puas berfoto bersama aktor pujaannya, para wanita itu membubarkan diri. Melani duduk di kursi rotan, di seberang Faishal.


"Aku kesini untuk minta maaf, sekaligus berterimakasih, " ucap Faishal sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna merah.


"Ap-apa ini?" tanya Melani keheranan, sambil menerima kotak itu.


"Hadiah kecil dariku untukmu. Maafkan sikapku saat di hotel karena aku memang dalam keadaan panik. terima kasih karena kamu sudah mengundang Riky ke hotel. Dia sudah bayar semuanya padaku, tak tahu uang dari mana aku tak peduli. Yang jelas, aku sangat senang hari ini, dan aku berubah pikiran. Aku baru menyadari bahwa aku tidak mau kehilanganmu. Mungkin akan benar-benar menikahimu, Mel!" ucap Faishal.


Melani kehilangan kata-kata. ia tidak tahu harus berkata apa, karena perasaannya bercampur-aduk menjadi satu. Matanya berbinar-binar penuh kegembiraan, tetapi di satu sisi ia juga merasa khawatir karena Faishal yang masih suka berlaku kasar. Ia masih terdiam, bingung harus berkata apa.


"Mari kita rayakan kegembiraan ini, Mel! Berkemaslah! Kita akan liburan di sebuah villa!" ucap Faishal dengan gembira.


"Villa? Kamu menyewa sebuah villa, Shal?"


"Mengapa harus menyewa kalau aku bisa menempati villa secara gratis? Aku sudah bicara dengan Henry Tobing. Dia bilang villa-nya kosong dan nggak ada yang menempati. Dia bilang, kalau aku mau, pakai saja. Villa Henry itu bagus banget pemandangannya, jadi nggak ada salahnya kalau kita nginap di sana sehari dua hari," ucap Faishal.


"Tapi .... " Keraguan masih terpancar dari mata Melani.


"Ah, nggak usah tapi-tapi. Malam ini juga kita berangkat ke sana. Semua beres. Please. Mel. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Jangan kecewakan aku ya Mel!" pinta Faishal.


Melani mengangguk pelan, menerima permintaan Faishal.


***


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2