
Firasat tak enak menyergap dua polisi muda yang sedang menyisir kediaman Renita Martin setelah melihat banyak bukti kesadisan pelaku. Mulai dari bercak darah hingga potongan jari ditemukan di dalam rumah Renita. Sayangnya, mereka menemukan keberadaan Renita dan adiknya, serta keberadaan Niken. Kini, mereka segera memeriksa satu ruang yang tersisa, yakni garasi.
Sama seperti yang dilakukan Niken, mereka memeriksa mobil satu-persatu. Keduanya terperanjat ketika melihat mobil ketiga. Di dalam jok bagian tengah mereka melihat sosok perempuan muda bermandikan darah sedang menelungkup tak bergerak. Dimas bahkan sampai menahan napas. Setelah diamati, ternyata jari-jari wanita itu ada yang dipotong sebagian. Kini terjawab, jari-jari siapa yang ada di meja dapur itu.
"Cepat panggil petugas medis dan tim ke sini!" perintah Reno.
Dimas segera melaksanakan apa yang dikatakan Reno. Namun, mereka masih cemas karena belum menemukan dua orang yang lain, yakni Rani dan Niken. Kedua perempuan itu menghilang begitu saja tanpa diketahui rimbanya.
"Siagakan semua personel di seluruh kota. Pembunuh itu pasti belum jauh!"
"Aku khawatir Niken ikut jadi korban kebiadaban pembunuh itu," gumam Dimas dengan sedih.
"Menurutku si pembunuh tidak segegabah itu. Membunuh seorang polisi dibutuhkan nyali tinggi, dan Niken juga bukan polisi sembarangan. Kemungkinan besar, mereka berdua disembunyikan di suatu tempat. berharap saja agar mereka berdua kita temukan dalam keadaan hidup," kata Reno.
Sebentar saja, kepolisian sudah mengerahkan sejumlah personel untuk mengamankan lokasi kejadian pembunuhan itu. Garis-garis polisi mulai dipasang, dan penyisiran lokasi juga mulai dilakukan. Sejumlah mobil polisi diparkir di sekitar lokasi kejadian, dan beberapa saat kemudian petugas medis juga tiba untuk mengevakuasi korban. Dapat dipastikan pula, para pencari berita akan segera datang karena mendengar berita menggemparkan. Di mana ada pencari berita, maka di situ pula ada Gilda dan Wandi.
Berita pembunuhan. seperti ini, walau disembunyikan, tetap saja menjadi viral, menarik para pencari berita untuk berlomba-lomba meliput. Gilda dan Wandi segera tancap gas untuk pergi ke lokasi kejadian, walau hari sudah menjelang pagi. Sayangnya, di sana sudah ada beberapa pencari berita lain yang sudah tiba terlebih dahulu. Paras Gilda berubah kesal melihat para pencari berita lain.
__ADS_1
"Kita selalu saja telat," keluh Gilda.
Wandi tak mau menanggapi keluhan Gilda, karena ia khawatir urusannya akan bertambah panjang. Mereka segera mencari informasi di sana-sini terkait peristiwa pembunuhan itu. Para wartawan lain juga melakukan hal yang sama. Mereka membuat catatan-catatan awal dan memotret sana-sini.
Seperti biasa, Reno dan Dimas memilih untuk bungkam sebelum mengetahui secara pasti motif yang melatarbelakangi. Mereka sengaja menghindari kejaran para pencari berita yang begitu menggebu. Mereka tak berniat memberikan klarifikasi apa pun. Apalagi Dimas. Parasnya tampak tertekuk lesu, karena Niken menghilang. Sebenarnya, dalam hati ia ingin menyalahkan Reno karena melepas Niken sendirian dalam menangani kasus ini. Ya, memang Niken pernah sesumbar bahwa ia dicap hebat dalam kasus sebelumnya, namun tetap saja ia orang baru di kota ini.
Secara senioritas, jelas pengalaman Niken jauh di bawah Reno. Namun, karena sifat Niken yang sedikit jumawa, ia kadang menyombongkan kemampuannya dalam memecahkan kasus-kasus yang sebenarnya kasus-kasus biasa. Kini, Niken merasakan akibat kesombongannya. Ia benar-benar tak berkutik ketika dihadapkan kasus berat seperti ini.
Dimas menyimpan kejengkelan itu di dalam hati, tidak berani protes pada Reno karena sudah terlanjur terjadi. Bagaimanapun, ia tidak mampu menyembunyikan kegusaran yang terlihat di parasnya. Ia berjalan meninggalkan Reno begitu saja, sehingga membuat Reno sedikit heran dengan perubahan sikap pada Dimas. Sepengetahuannya, Dimas tidak pernah bersikap seperti ini kepadanya. Ia ingin bertanya kepada Dimas, tetapi kemudian ia urungkan saja niat itu. Mungkin Dimas butuh waktu untuk sendiri sejenak atau mungkin ia sedang dalam keadaan lelah. kalaupun ada perbedaan pendapat. ia berusaha untuk mengalah. Ia sadar usia Dimas lebih muda daripada dia. Usia muda cenderung belum bisa mengelola emosi dengan baik.
Lokasi kejadian ditangani sepenuhnya oleh personel kepolisian. Reno fokus pada hal-hal yang lain. Hanya saja, untuk bukti-bukti yang bisa difoto, segera ia simpan dalam ponsel. Termasuk kertas teka-teki yang ia temukan di samping potongan jari-jemari di meja dapur. Sebenarnya ia merasa agak trauma dengan kertas teki-teki ini, sebab walau ia dapat memecahkan sebagian isi teka-teki, toh tetap saja korban tewas tanpa bisa dicegah. Pembunuh itu terlalu licik, dan sengaja mempermainkan polisi.
***
Tak jauh dari komplek perumahan mewah itu, ada sebuah rumah kosong yang mangkrak pembangunannya. Rumah besar itu terletak di seberang jalan, berhadapan dengan rumah Renita. Sebenarnya kondisinya masih bagus, tetapi karena lama tidak dihuni, kondisi rumah menjadi terlihat angker dan menyeramkan. Si sosok pembunuh tak bisa pergi jauh-jauh. Setelah menghabisi Renita dan melumpuhkan Niken, ia mengurusi Rani. Ia berhasil membawa Niken dan Rani ke dalam rumah besar di seberang jalan.
Rani masih dalam keadaan terikat dan pingsan, sementara ia juga mengikat Niken agar tak banyak bergerak. Si pembunuh sadar yang ia hadapi adalah seorang polisi, oleh karena itu bisa saja ia melawan. Ia mengikat erat kaki dan tangan Niken yang masih tak sadarkan diri. Setelah selesai mengurus dua perempuan itu, ia melihat dari arah jendela, ke arah seberang jalan.
__ADS_1
Dari lantai dua rumah itu, ia bisa mengawasi kerumunan polisi dan wartawan di rumah Renita. Mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya si pembunuh begitu dekat. Walaupun begitu, si pembunuh tetap waspada, karena siapa tahu ada yang melihat keberadaannya di dalam rumah seberang jalan ini. Tak ada penerangan listrik di dalam, sehingga kondisi begitu gelap. Ia melirik ke arah dua tawanannya yang masih tergeletak di lantai.
Sebenarnya ia merasa bingung juga, apakah dia harus menghabisi mereka, seperti ia menghabisi Renita, atau membiarkan saja. Namun, paling tidak, saat ini kedua perempuan itu tak bisa bergerak-gerak karena diikat erat. Beberapa saat, tampak Rani bergerak sedikit. Ia membuka mata, mendapati dirinya dalam sebuah ruangan kosong yang gelap. Matanya memicing karena takut. Ia ingin berteriak keras, namun mulutnya masih terbekap dengan lakban hitam. Ia hanya bisa menangis.
Rani masih terbayang bagaimana si pembunuh itu mengeksekusi kakak perempuannya dengan sadis. Ia hanya bisa memejamkan mata ketika kejadian itu terjadi. Ia menggeser tubuhnya ke samping, mendapati sosok Niken yang juga terbaring di lantai. Ia tak tahu siapa sosok itu, tetapi ia hanya ingin selamat. Lamat-lamat dalam kegelapan ia melihat sosok itu berdiri di depan jendela, mengamati kondisi rumah di seberang. Rani baru sadar kalau dia dibawa di seberang rumahnya sendiri. Kalau saja ia tak terikat seperti ini, pasti dia akan berontak dan meminta pertolongan.
Si pembunuh rupanya menyadari kalau Rani sudah sadar. Ia memalingkan muka ke arah gadis belia itu, sembari tersenyum.
"Tenang, giliranmu belum tiba," gumam si pembunuh.
"Mmmmh"
Rani tak bisa bersuara apa-apa. ia hanya menatap si pembunuh dengan tatapan penuh kebencian. Di saat yang sama, Niken juga mulai bergerak. Ia merasakan kepalanya begitu nyeri karena pukulan benda keras. Ia membuka mata perlahan, mendapati ruangan asing yang gelap. Ia ingin bergerak, tetapi kedua tangan dan kakinya terbelenggu. Ia hanya bisa menggerakan bola mata ke kanan dan ke kiri.
Dilihatnya sosok asing di depan jendela, menatap seberang jalan dengan antusias. Niken menyadari kalau sebenarnya mereka berada tak jauh dari rumah Renita, sehingga dengan cukup mudah pembunuh itu membawa dirinya kemari. Didukung suasana malam yang cukup sepi, sehingga sempurna sudah rencana si pembunuh itu.
Dalam kegelapan, ia tak bisa melihat dnegan jelas siapa sebenarnya sosok yang berdiri di depan jendela itu. Ia palingkan pandangannya ke samping, ternyata di situ ada pula sosok Rani yang masih ketakutan, Niken menghela napas, bersyukur karena si pembunuh tidak berbuat buruk pada adik Renita itu. Hanya saja, kondisinya setali tiga uang dengan dirinya. Ia dalam keadaan terikat dan terplester mulutnya.
__ADS_1
Walau terikat, Niken memutar otak bagaimana caranya agar bisa lolos dari ikatan dan keluar dari tempat gelap ini. Nalurinya sebagai seorang polisi, ia harus melindungi orang-orang tak bersalah di sekitarnya. Rasa iba menyeruak ketika melihat Rani yang sedang gemetar ketakutan.
***