Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
369. Menuju Terowongan


__ADS_3

Juned dan Jeremy sudah bersiap dengan perbekalan, sebelum keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam terowongan yang menghubungkan hutan. Misi mereka pada hari itu ada dua, yakni menemukan Niken dan Ryan. Namun, diam-diam Jeremy mempunyai misi sendiri yaitu menemukan Stella. Sebelum berangkat, mereka duduk di beranda depan, mendengar sedikit briefing dari Reno.


"Kalian tidak perlu memaksakan diri untuk menemukan Niken dan Ryan. Kondisi hutan juga sama tidak amannya dengan kondisi kastil. Jadi kalau sudah menjelang sore kalian belum bertemu mereka, segera kembali ke kastil. Jangan memaksakan diri. Tetap waspada, jangan sampai lengah. Kami akan tetap berjaga di sekitar kastil, karena kami sudah mengincar satu nama, hanya saja kami belum bisa mempublikasikannya. Ingat, jangan membahayakan diri kalian sendiri!" pesan Reno.


"Kami akan kembali sebelum gelap. Hutan itu teramat luas untuk dijelajahi, tetapi kami akan fokus di sekitar terowongan, air terjun, dan pondok tua. Kalau kami tak menemukan mereka, maka kami akan segera kembali," ujar Juned.


"Kau sudah membawa alat perlindungan diri?" tanya Reno.


Juned tersenyum sambil membuka rompinya. Di balik rompi itu tersimpan sebuah pistol G2 Elite berkaliber 9 mm yang umum dipakai polisi. Juned cukup terampil dalam menggunakan senjata api, sehingga dia merasa sangat percaya diri memamerkan apa yang ia bawa. Reno balas tersenyum sambil mengangguk, kemudian menoleh ke arah Jeremy.


"Juned akan melindungimu kalau ada apa-apa. Jangan khawatir!" ucap Reno.


Jeremy yang tak mempunyai senjata hanya bisa mengangguk. Dalam hal seperti ini, ia mempercayakan nasib sepenuhnya kepada Juned. Setelah briefing selesai, mereka segera bergerak menuju ruang baca, karena Juned berpendapat bahwa terowongan itu lebih dekat ditempuh melalui ruang baca. Mereka akan masuk ke ruang bawah tanah melalui pintu rahasia yang ada di ruang baca.


Namun, baru saja melangkah hendak pergi ke ruang baca, terlihat Ammar mendatangi mereka dengan raut muka yang menunjukkan kegusaran.


"Kalian melihat Mariah?" tanya Ammar.


"Mariah? Kami tidak melihat siapa pun sejak tadi. Mungkin olahraga pagi atau sedang jalan-jalan," ucap Reno.


"Itu tidak mungkin, Ren. Aku sudah mewanti-wanti Mariah agar tidak keluar kamar dahulu untuk sementara. Aku tadi masuk kamar, dan menemukan ranjang masih dalam keadaan berantakan. Biasanya sebelum dia keluar dia selalu merapikannya. Kamar juga dalam keadaan tak terkunci, padahal aku selalu bilang padanya untuk mengunci kamar sebelum meninggalkan kamar, karena ada dokumen-dokumen tersimpan. Ini malah dibiarkan gitu aja, kan aneh," ucap Ammar.


"Tenang Ammar. Tenang! seseorang pasti pernah berbuat ceroboh dalam hidupnya. Kita cari dulu dia di sekitar kastil. Mungkin saja dia ke belakang atau di ruangan lain di kastil yang luas ini. Kamu nggak usah panik dulu. Oke? Juned, Jeremy, kalian segera berangkat, nanti keburu siang. Biar masalah di kastil ini kami yang urus!" ucap Reno.


Juned dan Jeremy mengangguk. Mereka segera meninggalkan Ammar dan Reno, menuju ruang baca. Sementara Reno dan Ammar langsung bergegas menyisir ruang-ruang dalam kastil.


***

__ADS_1


Mariah perasaannya menjadi kecut. ia kembali dipaksa menelusuri lorong sempit yang dibatasi bilik-bilik berpintu baja di sekelilingnya. Ia melangkah perlahan, sementara sosok di belakangnya  menguntit dengan ancaman pisau menempel di punggung. Bibir Mariah bergetar. Lembaran-lembaran masa lalu yang begitu pahit satu-persatu muncul tanpa mampu ia bendung. Ia pernah merasakan berhari-hari disekap dalam salah satu bilik di ruang bawah tanah ini dalam keadaan kelaparan. Ia masih teringat betul bagaimana perlakuan kasar ia terima selama berhari-hari, hingga meruntuhkan mentalnya.


"Kita mau kemana?" tanya Mariah.


"Jalan saja jangan banyak tanya, dan kamu akan tahu kita akan kemana!" jawab sosok itu dengan nada dingin.


Mariah mengangguk pelan. Ia hanya mengikuti kemana langkahnya kakinya berjalan. Lorong gelap di ruang bawah tanah ini membuat perutnya mual. Bahkan aroma busuk dan pengap di lorong ini mengingatkan kembali bagaimana ia menjalani masa sulit saat ia disekap.


"Mengapa kamu melakukan ini?" tanya Mariah kemudian.


"Menurutmu kenapa?" Sosok itu balik bertanya.


"Kamu tahu, Suci tidak seburuk sangkaanmu. Dia gadis baik dan bukan seorang pendendam. Dia sama sekali tak menghendaki kamu melakukan ini semua. Suci akan sangat kecewa melihatmu membantai sahabat-sahabatmu sendiri. Menurutmu Suci akan puas dengan apa yang kau lakukan? Tidak! Dia akan marah. Kamu mengatasnamakan Suci untuk berbuat ini semua. Ini sama sekali enggak adil!" ucap Mariah.


"Diam! Tahu apa kau tentang Suci? Aku yang lebih mengenalnya dan aku tahu apa yang dirasakannya, jadi jangan sekali-kali kamu mengajari aku. Lebih baik kamu diam. Kalian semua harus membayar atas segala perlakuan buruk yang telah kalian lakukan di masa lampau. Kamu sama sekali tidak tahu apa yang dirasakan Suci!" bantah sosok itu.


"Kamu lupa aku seorang cenayang? Aku dapat merasakan. Arwah Suci sudah tenang, tapi kamu membuatnya kembali penasaran. Lebih baik kau hentikan saja petualanganmu ini dan menyerahlah. Aku yakin, itu akan lebih baik daripada kamu memaksakan untuk memuaskan ambisimu,"  lanjut Mariah.


Mariah merasakan benda tajam yang menempel di punggungnya makin kuat menusuk, hingga ia merasakan nyeri. Mariah menahan rasa itu sambil menggigit bibir. Ia berusaha untuk tetap tenang.


"Aku tidak akan segan-segan menghabisimu, Mariah! Kamu lah yang harus bertanggungjawab atas semua ini, karena kau adalah pemimpin geng. Kamu bisa saja menghentikan perlakuan buruk yang dilakukan para anggotamu bila kamu mau. Tapi yang ada kamu hanya diam, membiarkan segala kejahatan terjadi di depan mata. Kau lebih keji daripada mereka. Ya, aku memang juga berlaku buruk pada Suci, tetapi itu hanya topengku saja di hadapan kalian, agar aku bisa masuk dalam dunia kalian. Suci tahu itu!" bisik sosok itu di telinga Mariah.


Mariah terdiam mendengar perkataan sosok itu. Mereka berhenti di depan sebuah bilik yang terbuka pintunya. Namun, sebelum mereka berbuat apa-apa, tiba-tiba dari arah lorong lain terdengar langkah kaki dan suara orang bercakap-cakap. Mariah kenal kalau suara itu adalah suara Juned dan Jeremy yang hendak menuju terowongan.


"Tol .... "


Belum sempat Mariah berteriak minta tolong, mulutnya sudah dibekap oleh sosok itu. Mariah segera didorong masuk ke dalam bilik, seraya diancam.

__ADS_1


"Sekali lagi kau bertindak bodoh, maka aku akan memotong lidahmu! Untung Tiara dulu tak mencongkel matamu. Sekarang aku nggak akan segan lagi memotong lidahmu kalau kamu macam-macam!".


Mariah terpaksa tak bersuara. Sayup-sayup suara langkah kaki Juned dan Jeremy menjauhi bilik tempat mereka bersembunyi. Sosok itu masih mengacungkan pisau ke arah Mariah untuk mencegah perempuan itu bersuara.


"Bersuara sekali lagi, maka kau akan habis hari ini juga!"ancam sosok itu.


Sementara, Jeremy dan Juned masih berjalan menyusuri lorong, mencari terowongan yang menghubungkan dengan hutan. Sambil berjalan, Juned bernyanyi-nyanyi kecil untuk menghilangkan rasa tegang. Namun, tiba-tiba  langkah Jeremy terhenti, sambil mengarahkan telunjuk ke depan mulutnya, mengisyaratkan agar Juned tak bersuara.


"Aku seperti mendengar suara perempuan di dekat sini," bisik Jeremy.


"Perempuan? Aku nggak denger apa-apa tuh! Di sini memang angker. Kadang ada suara-suara aneh gitu. Udah yuk kita cepat pergi saja dari sini. Perasaanku nggak enak!"


Juned mempercepat langkah meninggalkan Jeremy, sehingga mau tidak mau Jeremy segera mengikuti langkah Juned untuk mencari terowongan yang dimaksud.


***


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2