Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
322. Jasad


__ADS_3

Reno dan Dimas sudah setengah jam berjalan menyusur jalan setapak yang membelah hutan. Mereka sama sekali tak punya pandangan harus mencari kemana, karena hutan terlihat luas. Pohon-pohon besar mengepung di segala penjuru, dengan jalan yang sedikit licin karena lumpur. Cuaca pagi yang tak begitu terik, sangat mendukung digunakan untuk penjejajahan. Matahari tak terlihat, karena tertutup awan kelabu, yang menghampar merata di seluruh permukaan langit. Angin sepoi berhembus, mengeringkan peluh yang mulai mengalir di kening dua polisi tersebut.


"Kemana kita?" tanya Dimas sambil menyeka peluh.


Matahari walau hanya mengintip, membuat cuaca sedikit gerah. Mereka masih berjalan menyusur jalan setapak sempit yang diapit belukar. Misi mereka harus selesai sebelum sore, karena ada urusan yang harus diselesaikan oleh Dimas di kota.


"Ada baiknya kita mengarah ke air terjun, lalu ke arah pondok yang di tengah hutan itu. Aku yakin, mereka tak jauh-jauh dari sana. Semoga kita tidak terlambat, dan mereka berdua diketemukan dalam keadaan hidup," ucap Reno.


Dimas hanya mengangguk. Kali ini, ia hanya menuruti apa yang diperintahkan Reno, karena ia tidak mempunyai gambaran apa-apa dengan kasus ini. Ia juga tidak terlalu ingin melakukan penjelajahan ke dalam hutan, karena ia sudah berencana mencari data ke kota tentang seluk-beluk para penghuni kastil ini. Mereka melanjutkan perjalanan, melewati simpang empat, berlanjut ke kawasan air terjun.


Tak lama, mereka tiba di kawasan air terjun yang terlihat indah. Gemuruh air terdengar saat ratusan kubik air jatuh menimpa batu-batu besar di bawahnya. Percikan-percikan air di sekitar air terjun, membentuk pelangi-pelangi kecil saat tertimpa cahaya matahari. Untuk sesaat, mereka melepas penat sambil duduk di bebatuan, dan minum air dari botol yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.


"Tempat ini memang sempurna. Sepi dan senyap, dan sangat sesuai apabila ada orang berniat jahat, karena akses keluar pun juga cukup susah," ucap Reno sambil meneguk air dalam botol.


Dimas melayangkan pandangan ke sekitar. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia di sekitar sini. Sepi dan sunyi, damai dan mengerikan. Sebenarnya tempat ini sangat nyaman, tetapi mereka tak ingin terlena dengan keindahan air terjun. Mereka harus melanjutkan perjalanan menuju pondok di tengah hutan, sambil menyisir kawasan yang telah dilalui, siapa tahu menemukan petunjuk penting terkait pembunuhan ini. Namun, sepanjang perjalanan yang mereka lalui, mereka tak menemukan petunjuk penting apa pun.


"Menurutmu mereka masih hidup?" tanya Dimas sambil terus berjalan.


"Mungkin. Kamu teringat cerita Maya? Wanita itu mengaku hanya dipukul di bagian kepala, kemudian dibiarkan begitu saja. Menurutmu mengapa Maya ini tidak dihabisi sekalian seperti Lidya dan Farrel? Karena alasan tertentu atau hal lain?" balas Reno.


"Aku sama sekali tak dapat menjawab itu. Aku melihat paras Maya yang sungguh misterius, ada sesuatu yang tersembunyi di balik bola matanya, entah itu apa. Kita harus awasi dia, karena cukup mencurigakan. Semoga tak ada korban jatuh lagi setelah ini." ucap Dimas.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua kini sampai di sekitar pondok di tengah hutan yang lengang. Tak ada yang menduga, kalau ada pondok berdiri di tengah hutan ini. Kondisinya yang cukup tua dan tertutup pohon serta belukar, membuat pondok ini tak mudah ditemukan.


"Menurut Jeremy, ia menemukan Nadine pertama kali di pondok ini dalam keadaan tak berdaya. Kemudian Stella disuruh untuk menjaga Nadine, tetapi malangnya kedua wanita ini malah menghilang. Siapa sebenarnya yang membuat semua jadi serumit ini?"


"Mari kita periksa pondok itu sekali lagi!"

__ADS_1


Mereka berdua masuk ke dalam pondok itu lagi untuk mengecek hal-hal yang mungkin terlewat di dalamnya. Mereka bersikap waspada, karena bukan tidak mungkin kedatangan mereka sudah diintai seseorang di dalam pondok. Pistol tergenggam masing-masing, sembari menajamkan pandangan dan pendengaran. Suasana dalam pondok yang agak gelap, membuat mereka harus ekstra keras untuk tetap waspada. Beberapa kali mereka dikejutkan dengan kehadiran tikus hutan.


Mereka memeriksa bilik-bilik yang ada  di pondok, namun tak ada yang terlihat mencurigakan.Sampai pada saat mereka membuka pondok ketiga, mereka melihat sesuatu yang mencurigakan di atas meja. Seperti sebuah jasad manusia yang ditutup kain lusuh. Reno dan Dimas tercekat. Sepertinya memang jasad manusia, karena mereka melihat kaki jasad itu tak tertutup sempurna. Jasad itu mengenakan sepasang sepatu kets berwarna putih.


"Siapa orang gila yang menyimpan jasad di tempat ini?" gumam Dimas.


"Mari kita buka! Jasad siapa ini sebenarnya?"


Kedua polisi itu medekati jasad yang terbaring di atas meja, kemudian membuka kain penutupnya dengan perlahan. Mereka menahan napas, saat melihat sosok jasad yang berada di balik kain penutup. Apalagi Dimas. Ia seperti tercekik melihat jasad itu, tak bisa berkata apa-apa. Reno hanya bisa menggeleng=gelengkan kepala. Jasad itu adalah jasad seorang pria tanpa kepala!


***


Rosita membalikkan badan, tak ingin berada lebih lama di loteng gelap itu. Ia terburu-buru mencari tingkap tempat ia masuk tadi, tetapi rupanya terlambat. Seseorang sepertinya menutup tingkap loteng, sehingga ia tak bisa keluar dari loteng. Tingkap loteng itu hanya bisa dibuka dari luar, tentu ini akan semakin menyulitkan.


"Tolong! Tolong bukakan tingkapnya!" pekik Rosita sambil berusaha membuka tingkap.


"Jangan coba-coba!" ancam Rosita.


Ia memasang kuda-kuda sembari waspada, siap memukul sosok di depannya. Sosok itu tak menduga kalau Rosita akan lolos dari cengkeramannya, bahkan melakukan perlawanan. Sosok penyergap itu tak mengucap sepatah kata pun, sembari mundur beberapa langkah.Ia berusaha mencari celah untuk menyergap Rosita, tetapi wanita itu telah siap dengan tongkat di tangannya.


Rosita sadar, untuk keluar dari loteng bukanlah perkara mudah. Ia sedang mencari cara untuk bisa keluar dari sana. Sosok yang mukanya ditutupi kain itu masih memperhatikan gerak-geriknya/ Rosita berpikir, bahwa ia tidak boleh melakukan hal bodoh. Ia harus taktis agar bisa keluar dari loteng ini.


"Sebentar lagi polisi akan datang untuk menyergapmu, jadi jangan sekali-kali kamu melakukan tindaka bodoh!"


Walau merasa terdesak, Rosita bukanlah tipikal wanita yang mudah menyerah begitu saja. Ia terus mengancam dengan menggunakan tongkat logam yang ia bawa. Bahkan kini ia berusaha untuk maju, sementara sosok pembekapnya malah mundur mendekati jendela.


"Kamu nggak akan bisa lari kemana-mana. Sebentar lagi, kedokmu akan terbongkar, dan kamu akan dijebloskan ke penjara atau malah kamu bisa dihukum mati!" ancam Rosita.

__ADS_1


Rupanya, sosok itu juga tak terlalu takut ancaman. Ia hanya berdiri tenang menghadapi gertakan Rosita. Tiba-tiba dengan gerakan cepat sosok pembekap itu malah menerkam  Rosita. Keduanya terjatuh ke lantai kayu, saling bergulingan. Sosok penerkam itu berusaha merebut tongkat yang dibawa Rosita.


Sayangnya Rosita tetap memegang erat tongkat, namun akibatnya ia tidak bisa konsentrasi ketika sosok itu tiba-tiba memukulkan benda tumpul yang ia sembunyikan dari balik bajunya ke kepala Rosita.


Duuk!


"Aaah!"


Wanita itu menjerit pendek, beberapa saat kemudian ia diam tak berkutik!


***


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2